Usai Shalat Mendengar Adzan

PERTANYAAN:
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Semoga Pak Kiai dan keluarga besar Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten senantiasa dalam keadaan sehat wal afiat. Semoga juga, senantiasa sukses menjalankan aktivitas sehari-hari. Amin ya Rabb al-‘alamin!

Pak Kiai, Aminah mau bertanya. Misalkan kita shalat wajib yang lima waktu dan sudah masuk waktunya, tapi kita belum mendengar adzan, lalu setelah kita selesai shalat, barulah kita mendengar adzan, itu hukum shalatnya bagaimana? Contoh saja shalat ‘Isya, terkadang ada adzannya dan terkadang tidak ada adzannya. Misalnya, setelah selesai shalat ‘Isya, kita baru mendengar adzan. Status shalat yang sudah kita lakukan bagaimana Pak Kiai? Apa perlu diulangi lagi?

Itu saja pertanyaan saya Pak Kiai. Semoga Pak Kiai berkenan menjawabnya. Tak lupa, saya ucapkan terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
PENANYA
Siti Aminah,
Cileles Lebak Banten




JAWABAN

Wa'alaikumussalam, Wr. Wb.

al-Hamdulillah, saya dan keluarga besar Pondok Pesantren Qothrotul Falah masih senantiasanya diberi-Nya kesehatan dan kemudahan menjalankan aktivitas sebagaimana biasanya. Semoga Sdr. Aminah juga senantiasa diberi-Nya kesehatan dan kelancaran dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Amin ya Rabb al-‘Alamin!

Sdr. Aminah yang baik di Cileles. Terima kasih atas pertanyaannya yang penting ini. Insya Allah, dengan senang hati saya akan berusaha menjawabnya sesuai kemampuan saya. Semoga, jawaban saya ini bisa memberikan kejelasan atas pertanyaan yang Sdr. Aminah sampaikan melalui rubrik Konsultasi Agama di www.qothrotulfalah.com, sehingga Sdr. Aminah tidak lagi ragu jika telah selesai shalat lalu baru mendengar adzan.   

Sdr. Aminah dan para pembaca lainnya yang dirahmati Allah SWT. Tentang ketentuan waktu pelaksanaan shalat wajib yang lima ini, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin.” (Qs. an-Nisa’: 103). Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman: “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikan pula shalat Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan oleh malaikat.” (Qs. al-Isra’: 78).

Selain ayat-ayat al-Qur’an di atas, ada juga Hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang waktu pelaksanaan shalat wajib. Riwayat dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash menyebutkan, suatu saat Rasulullah SAW  ditanya tentang waktu shalat wajib yang lima. Beliau menjawab: “Waktu shalat fajar adalah selama belum terbit sisi matahari yang awal. Waktu shalat Dhuhur apabila matahari telah tergelincir dari perut (bagian tengah) langit selama belum datang waktu Ashar. Waktu shalat Ashar selama matahari belum menguning dan sebelum jatuh (tenggelam) sisinya yang awal. Waktu shalat Maghrib adalah bila matahari telah tenggelam selama belum jatuh syafaq. Dan waktu shalat ‘Isya adalah sampai tengah malam.” (HR. Imam Muslim).

Sdr. Aminah yang dirahmati Allah SWT. Apa makna yang bisa kita petik dari ayat-ayat dan Hadis di atas? Maknanya adalah bahwa shalat wajib itu, baik Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib maupun ‘Isya, pelaksanaannya tergantung pada waktu. Ini yang disebut kitaban mauqutan (kewajiban yang ada ketentuan waktunya). Shalat Shubuh baru wajib dilaksanakan, kalau sudah masuk waktunya. Shalat Dhuhur juga demikian. Ashar, Maghrib dan ‘Isya pun begitu. Baru wajib dijalankan setelah masuk waktunya. Karenanya, pelaksanaan shalat wajib itu semata-mata tergantung pada waktu, tidak tergantung pada ada atau tidaknya adzan. Ada adzan atau tidak, kalau waktunya sudah masuk, ya wajib shalat.

Soal adzan itu sendiri, itu sifatnya sunnah. Itu hanya penanda bahwa waktu shalat telah tiba. Penanda itu boleh ada dan boleh saja tidak ada. Karenanya, apabila kita shalat fardhu tidak didahului oleh adzan atau tidak mendengar adzan sama sekali, maka shalat kita tetap sah hukumnya, asalkan sudah masuk waktunya. Andaikan setelah selesai shalat kita baru mendengar adzan dari sebuah masjid, karena barangkali kita shalatnya di rumah, maka shalat kita pun tetap sah dan tidak perlu diulangi lagi. Shalat kita sudah cukup, sebab sudah masuk waktu. Apalagi, tak jarang adzan itu diakhirkan. Misalnya yang dilakukan Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Untuk Dhuhur misalnya, setelah selesai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) baik MTs maupun SMA pada pukul 12.30, baru adzan dikumandangkan, padahal waktu shalat sudah masuk beberapa puluh menit. Dan itu tidak masalah.

Sebaliknya, misalnya kita mendengar adzan, namun adzannya belum masuk waktu shalat, maka itu juga tidak benar. Jika karena mendengar adzan lalu kita shalat, padahal adzannya belum masuk waktu, maka shalat yang kita lakukan juga tidak sah. Sekali lagi, pelaksanaan shalat itu tergantung masuknya waktu, bukan tergantung adzan. Kalau shalat sebelum waktu, jangankan keseluruhannya, takbiratul ihram-nya belum masuk waktu saja, maka shalat kita tidak sah. Misalnya kita shalat Dhuhur, masih belum masuk waktunya, kita sudah mengucapkan “Allah akbar” sambil mengangkat tangan. Walaupun belum satu rakaat, maka shalat Dhuhur kita tidak sah dan karenanya harus diulangi lagi.  

Dengan demikian jelas, pelaksanaan shalat itu tergantung masuknya waktu, tidak tergantung adanya adzan. Ada adzan atau tidak, jika waktunya sudah masuk, maka shalat tetap wajib dilaksanakan. Sebaliknya, jika kita mendengar adzan sekalipun, namun jika waktunya belum masuk, maka shalat kita tidak dianggap alias tidak sah.

Inilah jawaban yang bisa saya sampaikan. Semoga Sdr. Aminah dan para pembaca yang budiman bisa memahaminya. Semoga kita bisa lebih khusyu’ dan khudhu’ lagi dalam menjalankan ajaran-ajaran agama. Amin! Wa Allah a’lam bi al-shawab.[]

Cikulur, 16 Agustus 2012