Mendoakan Non-Muslim

PERTANYAAN:
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Semoga Pak Kiai dan keluarga besar Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten dalam keadaan sehat wal afiat. Amin!

Pak Kiai yang saya hormati dan saya banggakan. Saya ingin bertanya tentang status hukum orang Islam yang mendoakan orang yang berbeda agama atau non-muslim. Pertanyaan saya: bagaimana hukum orang muslim mendoakan non-muslim supaya masuk Islam? Dan bagaimana hukum orang muslim mendoakan keselamatan non-muslim di akhirat kelak?

Itu saja pertanyaan saya Pak Kiai. Semoga Pak Kiai berkenan memberi penjelasan kepada saya. Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

PENANYA
Devis Maredona,
Lebak Banten




JAWABAN
Wa'alaikumussalam, Wr. Wb.

al-Hamdulillah, saya dan keluarga besar Pondok Pesantren Qothrotul Falah sehat selalu. Mohon doanya juga, semoga keluarga besar Pondok Pesantren Qothrotul Falah tetap semangat menjalani aktivitas sehari-hari. Semoga juga, Sdr Devis dan keluarga senantiasa diberi-Nya kesehatan dan kesuksesan. Amin!

Terima kasih atas pertanyaannya. Insya Allah, saya akan memberikan penjelasan sesuai kemampuan saya dan semoga penjelasan saya ada manfaatnya. Pertanyaan Sdr Devis ini penting diberi penjelasan, karena seringkali ditanyakan oleh masyarakat, terutama masyarakat yang sering bergaul dengan orang-orang non-muslim.

Dalam konteks hubungan sosial-kemasyarakatan, pergaulan antara orang muslim dengan non-muslim (apapun agamanya) tidak dilarang oleh Islam. Rasulullah SAW juga berhubungan dengan orang-orang non-muslim dalam hal ini. Bahkan, konon beliau pernah berhutang kepada non-muslim. Selain itu, berhubungan dengan mereka juga bisa menjadi media untuk mengenalkan kerahmatan Islam kepada mereka, sehingga akan timbul rasa simpati di hati mereka dan tidak muncul aneka dugaan negatif kepada Islam.

Namun dalam konteks ibadah-ritual, antara yang muslim dan non-muslim harus ada pemisahan yang jelas. Ketika yang non-muslim beribadah, yang muslim haram mengikutinya. Demikian pula sebaliknya, ketika yang muslim menjalankan ibadah, maka yang non-muslim tidak boleh mengikutinya. Ini karena menyangkut keyakinan, yang sifatnya sangat pribadi antara hamba dengan Tuhan-nya. Masing-masing punya aturan yang tegas. Dengan pemisahan yang jelas ini, maka tidak akan terjadi campur aduk antara keyakinan yang berbeda-beda. Ini yang ditegaskan oleh Allah SWT melalui firmannya: "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku." (Qs. al-Kafirun: 6). Akan lebih jelas lagi, jika kita membuka keterangan perihal sebab turun (sabab al-nuzul) Surah al-Kafirun ini.

Terkait doa-mendoakan non-muslim, pertanyaannya, apakah doa itu wilayah sosial-kemasyarakatan atau wilayah ibadah-ritual? Insya Allah, kita semua mengerti, bahwa doa itu identik dengan masalah ibadah-ritual, karena menyangkut hubungan antara hamba dengan Tuhan-nya. Apalagi ada pernyataan, bahwa al-du’a mukhul ibadah (doa itu otaknya ibadah). Ini menunjukkan, doa itu ibadah, yang karenanya tidak bisa diberikan atau diniatkan untuk sembarang orang.

Sdr Devis yang baik. Terkait pertanyaan Sdr Devis, maka ada dua hal yang penting disikapi; mendoakan orang non-muslim supaya masuk Islam dan mendoakan mereka supaya masuk surga atau selamat di akhirat. Untuk yang pertama, mendoakan mereka supaya masuk Islam, insya Allah itu tidak apa-apa, karena Rasulullah SAW sendiri pernah berdoa untuk keislaman Umar bin al-Khattab dan Abu Jahal bin Hasyim, saat keduanya masih jahiliah dan masih sangat membenci Islam.  

Konon saat itu, tepatnya pada malam Kamis, Rasulullah SAW berdoa: “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan salah seorang dari dua orang yang lebih Engkau cintai; Umar bin Khattab atau Abu Jahal bin Hisyam”. Doa yang diriwayatkan oleh Khabab bin al-Art ini menunjukkan kebolehan mendoakan orang non-muslim supaya masuk Islam, dengan harapan dia akan baik dengan Islam dan Islam bertambah mulia dengannya. Dalam perkembangan sejarahnya, Umar bin al-Khattab yang diberi hidayah oleh Allah SWT untuk memeluk Islam dan menjadi benteng kokoh penyebaran Islam. Sementara Abu Jahal tetap dalam kejahiliahannya dan konsisten membenci Islam.

Jika doa yang demikian dibolehkan, maka berbeda halnya dengan doa yang kedua, mengharapkan kebaikan atau keselamatan bagi non-muslim di akhirat nanti. Soal akhirat, biarlah Allah SWT yang memutuskan. Dan kita tidak usah memintakan kebaikan buat mereka di akhirat kelak, karena tidak pantas kita mendoakan orang yang tidak mengikuti atau mengingkari ajaran Allah SWT. Cukup kita mendoakan supaya mereka diberi hidayah saja dan tidak boleh mendoakan keselamatan buat mereka. Itu sebabnya, orang muslim tidak diperkenankan mengucapkan salam (dalam arti keselamatan) buat mereka. Termasuk juga, jika ada non-muslim mengucapkan salam, kita tidak perlu menjawabnya. Atau jawab saja, wa ‘alaikum, yang tidak mengandung doa keselamatan.  

Demikian jawaban yang bisa daya berikan. Semoga jawaban saya bisa dipahami. Amin! Wa Allah a’lam bi al-shawab.[]

Cikulur, 28 Juni 2012