Punya Wudhu, Dicium Istri

PERTANYAAN:
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Semoga Kiai sekeluarga dalam keadaan sehat wal afiat. Amin!

Kiai, maaf mengganggu. Saya Roby, di Lebak Banten. Saya ingin bertanya. Jika seorang istri mencium tangan suami yang punya wudhu, apakah wudhu suami itu batal apa tidak?

Itu saja pertanyaan saya kiai. Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

PENANYA
Roby,
Lebak Banten




JAWABAN
Wa'alaikumussalam, Wr. Wb.

al-Hamdulillah, saya dan keluarga sehat selalu. Semoga Sdr Roby juga sehat dan senantiasa sukses menjalankan aktivitas sehari-hari. Amin!

Terima kasih atas pertanyaannya. Insya Allah, saya tidak terganggu dan insya Allah dengan senang hati saya akan menjawab pertanyaan Sdr Roby semampu saya. Mudah-mudahan ada manfaatnya.   

Terkait pertanyaan Sdr Roby, sebetulnya yang penting dilihat, itu bukan soal mencium atau tidak menciumnya, melainkan persentuhan kulit antara suami dan istri. Karena sebenarnya, tema besar terkait batal atau tidaknya wudhu, itu lebih pada persentuhan kulit antara suami istri (lebih luasnya antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya). Dan dalam hal ini, sesuai pertanyaan Sdr Roby, persentuhan itu kebetulan terjadi antara istri dan suaminya, lantaran istri mencium tangan suaminya yang dalam keadaan suci setelah berwudhu.

Menanggapi batal tidaknya wudhu karena persentuhan kulit antar lawan jenis, maka para ulama berbeda pandangan. Perbedaan ini sebenarnya berangkat dari penafsiran atau pemahaman pada Qs. al-Ma’idah: 6. Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan (aw lamastum an-nisa), lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).”

Perbedaan pandangan ulama itu bermula ketika memahami kata aw lamastum an-nisa. Lamasa – dalam Bahasa Arab – itu maknanya apa? Ternyata, ada yang menyatakan, maknanya “menyentuh” dan ada yang menyatakan maknanya  “berhubungan badan/jima’”. Bagi yang menyatakan menyentuh, maka wudhu menjadi batal jika terjadi persentuhan kulit antara lawan jenis. Sebaliknya, bagi yang menyatakan maknanya berhubungan badan, maka yang membatalkan wudhu ya berhubungan badannya itu, bukan menyentuh kulit. Jika hanya sentuhan, menurut pandangan ini, berarti wudhunya tidak batal.

Imam al-Syafii dan Ibn Hazm, menukil komentar Abdullah bin Mas’ud menyatakan, persentuhan kulit itu secara mutlak membatalkan wudhu. Imam Abu Hanifah, Muhammad bin al-Hasan Asy Syaibani, Ibnu 'Abbas, Thowus, Hasan al-Bashri, 'Atho', dan Ibnu Taimiyah menyatakan, persentuhan kulit itu secara mutlak tidak membatalkan wudhu. Sedang Imam Malik bin Anas dan Imam Ahmad bin Hanbal lain lagi. Beliau menyatakan, menyentuh wanita membatalkan wudhu jika dilandasi syahwat. Dengan demikian jelas, masing-masing imam memiliki pandangannya yang mandiri tentang persentuhan kulit laki-laki dan perempuan.

Soal istri mencium tangan suami yang punya wudhu, maka jika menggunakan pendapat Imam al-Syafii dkk, tentu saja batal. Sebaliknya, kalau menggunakan pandangan Abu Hanifah dkk, atau Imam Malik dkk, tidak batal. Namun demikian, alangkah baiknya jika dalam masalah agama, kita berlaku hati-hati atau memilih pandangan yang hati-hati. Menurut hemat saya, pendapat yang paling hati-hati adalah yang dianut Imam al-Syafii. Inilah yang dimaksud dengan al-ifta min haitsu al-dalil wa al-amal min haitsu al-ihtiyath (berfatwa itu haruslah berlandaskan dalil, namun beramal itu haruslah berlandaskan kehati-hatian).

Memang benar, 'Aisyah r.a. menyatakan, Nabi Muhammad SAW pernah mencium sebagian istrinya, lalu ia pergi shalat dan tidak berwudhu lagi. ‘Urwah bertanya pada 'Aisyah, “Bukankah yang dicium itu engkau?” 'Aisyah pun tertawa. Tentang Nabi SAW mencium ‘Aisyah, terjadi khilafiyah (perbedaan pandangan) di kalangan ulama. Sebagian memahami riwayat ini apa adanya, yang lantas memuncullkan pandangan mencium istri/suami (sentuhan kulit) tidak apa-apa. Namun yang lainnya memahami, sebagaimana kebiasaan wanita Arab, saat itu ‘Aisyah mengenakan cadar di mukanya, sehingga yang dicium beliau bukan langsung kulit pipinya, melainkan cadarnya. Dengan demikian, beliau langsung shalat tanpa wudhu lagi, karena tidak terjadi persentuhan kulit antara dirinya dengan ‘Aisyah.

Itulah perbedaan pandangan yang terjadi. Masing-masing insya Allah memiliki argumennya. Namun untuk kehati-hatian, lebih baik kita memilih pandangan yang menyatakan, persentuhan kulit itu membatalkan wudhu. Karenanya, jika istri ingin mencium tangan suaminya yang dalam keadaan berwudhu, maka lebih baik tangan suaminya ditutupi oleh surban/kain atau sejenisnya, yang dapat menghalangi persentuhan langsung antara kulit istri dan suaminya. Ini untuk menjaga batalnya wudhu suami.

Itu jawaban yang bisa saya sampaikan. Semoga bisa dipahami dan semoga kita bisa berhati-hati dalam menjalankan ajaran-ajaran agama. Amin! Wa Allah a’lam bi al-shawab.[]

Cikulur, 7 Juni 2012