Tayamum untuk Shalat Jamak

PERTANYAAN:
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Kepada Mama Kiai Ibing yang saya hormati dan kagumi. Semoga Mama Kiai sekeluarga dalam keadaan sehat wal afiat. Amin!

Sebelumnya saya minta maaf untuk menyampaikan dan mohon konsultasi kepada Mama tentang tayamum untuk shalat jamak. Permasalahannya, ketika kita shalat jamak, apakah kita harus tayamum dua kali?  

Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT membalasnya.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
PENANYA
Ideb Ju
Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.




JAWABAN

Wa'alaikumussalam, Wr. Wb.

al-Hamdulillah, saya dan keluarga sehat selalu dan masih tetap beraktivitas sebagaimana biasanya. Semoga Sdr Ideb Ju juga demikian halnya. Amin!

Terima kasih banyak atas pertanyaan yang disampaikan. Ini pertanyaan yang penting, karena menyangkut persoalan ibadah, walaupun dalam konteks Indonesia barangkali hal ini sangat jarang terjadi, mengingat kekayaan air yang berlimpah di negeri ini. Namun sebagai permasalahan fikih, yang tidak mustahil akan kita hadapi, maka baik sekali jika kita mengetahui duduk persoalan ini sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu kita benar-benar tidak mendapati air, sementara ibadah tetap harus dijalankan tanpa kompromi.

Terkait pernyataan yang disampaikan, ada beberapa hal yang penting direspon. Pertama, terkait posisi tayamum. Pada intinya, tayamum itu pengganti wudhu, jika dalam kondisi tidak ada air (faqd al-ma’) atau terlarang terkena air karena sakit/luka. Hatta, misalnya, jika kita tidak mendapati air hingga sepuluh tahun, maka tayamum tetap bisa dilakukan. Ini berdasarkan Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bazzar dari Abu Hurairah. Rasulullah Saw menyatakan: Debu itu (alat) wudhunya kaum muslim, sekalipun ia tidak mendapati air selama 10 tahun. Jika ia mendapati air, maka bertakwalah pada Allah dan usaplah kulitnya (dengan air). (HR Imam al-Bazzar).

Tayamum ini diniatkan untuk mempermudah kesulitan umat Islam. Ketentuannya dijelaskan dalam al-Qur’an (Qs. al-Maidah ayat 6) dan banyak Hadis Nabi Muhammad Saw. Dalam al-Qur’an misalnya, Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Ia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmak-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. al-Maidah: 6). Karenanya, posisi tayamum dalam konteks Islam jelas keabsahannya sebagai pengganti wudhu untuk kepentingan kesahan shalat.

Kedua, tayamum untuk satu shalat. Dalam hal ini, ada dua pandangan yang berbeda. Yang menyatakan tayamum boleh untuk beberapa shalat dan yang menyatakan tayamum hanya untuk satu shalat. Sebenarnya, baik dalam al-Qur’an maupun Hadis sahih, tidak ada ketentuan bahwa satu tayamum hanya berlaku untuk satu shalat, sehingga satu tayamum tidak bisa digunakan untuk dua shalat atau lebih. Memang benar, ada Hadis Nabi Muhammad SAW dari Abdullah bin ‘Abbas yang berbunyi: “Termasuk sunnah, seseorang tidak shalat dengan tayamum kecuali untuk sekali shalat, lalu dia bertayamum lagi untuk shalat lainnya.” (HR Imam al-Daruquthni). Dalam kitab Bulugh al-Maram (hal. 38), Ibn Hajar al-‘Asqalani menyatakan, riwayat Imam al-Daruquthni ini dhaif jiddan (lemah sekali), yang karenanya tidak layak dijadikan dalil agama. Kelemahan ini terjadi pada perawi bernama al-Hasan bin 'Imarah, seorang perawi yang lemah sekali.

Karena itu, sesungguhnya tidak ada dalil yang sahih tentang ketentuan satu tayamum hanya berlaku untuk satu shalat. Apalagi, dalam catatan kaki Kitab Bulugh al-Maram dijelaskan, wa tsabata anna al-tayammuma yaqumu maqam al-ma’ (jelas, tayamum itu menempati posisi air/wudhu), yang karenanya berlaku hukum wudhu. Maka, segala hal yang ada dalam hukum wudhu, juga otomatis terdapat dalam tayamum. Misalnya, diperbolehkan melaksanakan beberapa shalat dengan satu tayamum, sebagaimana diperbolehkan melaksanakan beberapa shalat dengan satu wudhu. Juga boleh melakukan shalat jama' dan jama’ qashar dengan satu tayamum selama belum berhadats.

Dengan demikian, jika Sdr Ideb Ju ingin shalat beberapa kali, baik shalat fardhu maupun sunnah, dengan menggunakan satu tayamum, insya Allah tidak apa-apa dan benar sesuai ajaran Islam, selama Sdr Ideb Ju masih dalam keadaan suci alias tayamumnya belum batal oleh hal-hal yang membatalkannya. Termasuk juga, tentunya, sebagaimana wudhu, satu tayamum bisa digunakan untuk shalat jamak, baik jamak taqdim maupun ta’khir.

Namun demikian, ada juga ulama yang berpendapat, satu tayamum hanya berlaku untuk satu shalat dan tidak lebih. Dalam Kitab Hasyiyah al-Bujairimi (jilid I, hal. 169 dan 170) karya Syeikh Sulaiman bin Muhammad bin ‘Umar misalnya, dinyatakan bahwa tayamum hanyalah bersifat thaharah dharurah (persucian darurat), yang karenanya hanya berlaku untuk satu shalat saja, sesuai kadar kebutuhannya. Dengan kata lain, terlarang menggunakan satu tayamum untuk dua shalat. Sifatnya yang darurat ini, mengharuskan ia digunakan hanya seperlunya saja. Barangkali seperti kebolehan makan babi dalam kondisi darurat, maka yang dibolehkan hanya secukupnya saja dan tidak boleh melebihi kadar kebutuhan.

Inilah jawaban singkat yang bisa saya sampaikan. Pada intinya, ada yang mengatakan bahwa tayamum bisa dipakai untuk satu shalat atau lebih dan ada yang menyatakan tayamum hanya berlaku untuk satu shalat. Yang jelas, kalau kita bicara keutamaan, tentu saja lebih utama jika kita menggunakan satu tayamum untuk satu shalat, sebagaimana keutamaan menggunakan satu wudhu untuk satu shalat. Insya Allah, inilah yang lebih baik, jika tidak merepotkan kita. Semoga jawaban saya bisa dipahami dan bermanfaat. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 24 Mei 2012