Istri Jauh dari Agama

PERTANYAAN:
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Semoga Ustadz selalu dalam perlindungan Allah SWT. Amin!

Ustadz, saya mempunyai istri yang masih muda dan al-Hamdulillah sudah dikaruniai seorang anak perempuan berusia satu bulan. Saya masih tinggal bersama orang tua istri, karena istri tidak mau saya ajak tinggal di rumah orang tua saya. Keluarga istri saya, mohon maaf, jauh dari ajaran agama Islam, sehingga ketika saya menegur istri saya dengan ajaran-ajaran Islam, Ibu mertua saya selalu ikut-ikutan wangsulan (Bahasa Jawa: nimpalin).

Biasanya, kata-kata yang sering membuat saya sakit hati adalah “sithik-sithik doso (dikit-dikit dosa)” dan “sithik-sithik gowo agomo (dikit-dikit bawa agama)”, sehingga saya kurang dihargai dan dihormati istri saya. Ketika saya minta “dilayani”, istri saya kadang menolak. Dia lebih mengutamakan kepentingan bersih-bersih rumah dari pada melayani saya.

Pertanyaan saya, apakah saya perlu menceraikan istri saya Ustadz? Karena hampir setiap hari saya sakit hati dan berusaha bersabar. Atas jawabannya saya sampaikan terima kasih.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

PENANYA
Nur Cahyo,
Jogjakarta




JAWABAN
Wa'alaikumussalam, Wr. Wb.

al-Hamdulillah, saya dan keluarga masih senantiasa di bawah perlindungan Allah SWT. Semoga Mas Nur Cahyo dan keluarga juga demikian adanya. Juga, senantiasa sukses dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Amin!

Mas Nur Cahyo, setiap rumah tangga senantiasa mengalami ujian-ujian, yang jika berhasil dilalui, insya Allah akan menjadikan keluarga itu kokoh dan kuat. Ujian-ujian itu bentuknya banyak, termasuk yang terkait dengan kualitas agama istri dan keluarganya. Inilah ujian yang sedang dialami Mas Nur Cahyo, yang harus dihadapi dengan kepala dingin, hati tenang, kesabaran dan penuh kepasrahan kepada Allah SWT.

Yang lebih berat lagi, barangkali karena yang “jauh dari agama” bukan hanya istri, melainkan juga keluarganya. Lebih-lebih, Mas Nur Cahyo tinggal di rumah mereka, yang sering wangsulan tidak positif, sehingga Mas Nur Cahyo sering tidak dihargai. Mas Nur Cahyo terkepung dalam keluarga yang berisi orang-orang yang “jauh dari agama” (sebetulnya saya juga belum paham, maksud “jauh dari agama”nya itu seperti apa). Ini tentu bukan persoalan mudah untuk dihadapi. Namun mudah-mudahan, seiring waktu, Allah SWT membukakan pintu kebaikan bagi Mas Nur Cahyo dan keluarga, jika Mas Nur Cahyo sabar menjalaninya.

Mas Nur Cahyo di Jogjakarta yang saya hormati. Ibarat bahtera atau kendaraan, keluarga itu hanyalah alat yang kita gunakan atau kita tumpangi untuk mencapai tujuan. Tujuannya sendiri tiada lain adalah sakinah, mawaddah dan rahmah. Tujuan ini tercapai atau tidak, itu sangat tergantung pada para penumpang di atasnya. Jika penumpangnya memiliki tujuan yang sama, tentu saja tujuan akan lebih mudah diraih. Namun jika penumpangnya memiliki tujuan berbeda, ya tentu saja tujuan akan sulit dipenuhi. Itu sebabnya, dari awal, antara suami dan istri harus memiliki tujuan yang sama dan tradisi yang tidak bertentangan. Lebih-lebih tradisi agama, karena inilah kunci kebahagiaan sesungguhnya, baik di dunia maupun di akhirat. Dan insya Allah, istri yang paham agama, tidak akan menolak ajakan suaminya untuk berhubungan selagi dia dalam situasi yang normal.

Melihat pernyataan Mas Nur Cahyo, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, insya Allah adalah keluarga yang pondasinya agama. Itu sebabnya, Rasulullah SAW senantiasa mewanti-wanti: fadhfar bi dzati al-din taribat yadak (carilah yang kuat agamanya, maka kamu beruntung). Dalam pandangan beliau, keberuntungan atau kebahagiaan rumah tangga, itu sangat tergantung pada agama. Hanya orang beragamalah yang tahu bagaimana cara berumah tangga dengan sebaik-baiknya.

Kedua, karena pondasi kebahagiaan keluarga adalah agama, maka sangat baik apa yang telah dilakukan Mas Nur Cahyo terhadap istri yang “jauh dari agama”. Itu sudah tepat. Itulah kewajiban suami, yang harus terus dijalankan dengan penuh kesabaran. Suamilah yang bertanggungjawab atas “keselamatan” istrinya di dunia dan akhirat, selama istri itu menaati suaminya. Allah SWT mewanti-wanti: qu anfusakum wa ahlikum naran (selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka). Hanya agamalah yang bisa menyelamatkan diri dan keluarga kita, termasuk istri. Makanya, untuk menanamkan agama kepada istri, Mas Nur Cahyo harus terus berupaya lahir dan batin.

Ketiga, untuk menyadarkan istri, perlu ada upaya-upaya ekstra. Misalnya, kalau menggunakan urutan dalam al-Qur’an, pertama-pertama melalui hikmah (keteladanan yang adiluhung), lalu melalui mauidhah hasanah (nasihat-nasihat yang baik), lantas wa jadilhum bi allati hiya ahsan (diskusi dengan cara yang elegan). Ajak istri berdialog tentang visi misi berumah tangga dan tujuan yang hendak dicapai. Istri itu kan ibarat “tulang bengkok”, yang meluruskannya tidak boleh langsung dipaksakan, melainkan tahap demi tahap. Jangan terlalu keras juga. Bisa patah. Harus lunak. Apalagi istri kan tidak mau disinggung soal dosa dan dosa. Strategi penyampaiannya barangkali perlu ditata kembali.

Keempat, tentang boleh tidaknya menceraikan istri yang “jauh dari agama”. Mas Nur Cahyo, Islam itu agama yang rahmat bagai umatnya. Insya Allah, Islam senantiasa memahami problem-problem yang dihadapi pemeluknya, termasuk problem dalam rumah tangga. Mas Nur Cahyo, ibarat mesin yang rusak, sebaiknya Mas Nur Cahyo perbaiki dulu mesin itu. Memperbaikinya bisa dilakukan oleh Mas Nur Cahyo sendiri, atau bisa dimasukkan ke bengkal. Ya, misalnya, ajak ke kiai, ustadz atau orang yang dianggap tua. Minta mereka menasihati, misalnya. Siapa tahu, istri Mas Nur Cahyo akan mendengarkan dan berubah. Ini untuk menghindari perceraian, karena perceraian itu halal tapi Allah tidak suka (abghadhul halali ‘inda allah al-Thalaq). Sebab, cerai akan menghilangkan tujuan rumah tangga mendapatkan sakinah, mawaddah dan rahmah. Apalagi Mas Nur Cahyo baru dikaruniai anak berusia satu bulan. Kasian kalau anak sekecil itu harus menghadapi kenyataan perpisahan orang tuanya begitu cepat.

Mas Nur Cahyo, saya tidak ingin membicarakan kemungkinan boleh tidaknya bercerai. Itu pintu terakhir, yang jangan dulu dibuka, kecuali terjadi situasi gawat darurat. Cari dulu pintu-pintu keluar lainnya. Bagi saya, jika masih dimungkinkan mempertahankan biduk rumah tangga, pertahankan saja dulu dengan berbagai cara. Toh, mudah-mudahan istri Mas Nur Cahyo tidak melakukan hal-hal yang sangat jauh dari agama atau yang diharamkan agama secara mutlak. Insya Allah, dia hanya perlu sedikit bimbingan dan penyadaran.   

Yang juga perlu diperhatikan, ada baiknya Mas Nur Cahyo mencari tahu kenapa istrinya jauh dari agama, sampai-sampai enggan diajak berhubungan. Mungkin Mas Nur Cahyo perlu menunjukkan perhatian yang lebih lagi sebagai suami, sehingga baik istri dan Mas Nur Cahyo sendiri, sama-sama saling menata diri. Tidak salahnya, kedua belah pihak saling introspeksi untuk mencari titik temu yang terbaik.

Demikian jawaban yang bisa saya sampaikan. Semoga bisa dipahami dan bermanfaat. Semoga pula, keluarga Mas Nur Cahyo mendapat keberkahan, sakinah, mawaddah dan rahmah. Amin! Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 11 Mei 2012