Tauhid Uluhiyah dan Rububiyah

PERTANYAAN:
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Semoga Pak Kiai dan keluarga senantiasa sehat dan lancar menjalani aktivitas sehari-hari. Amin!

Pak Kiai, diantara ajaran agama yang pertama kali harus dipelajari adalah ketauhidan. Ketika membaca buku-buku tentang ketauhidan, seringkali saya mendapatkan istilah tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Pak Kiai, yang ingin saya tanyakan, apa maksud istilah tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah itu?

Demikian pertanyaan saya Pak Kiai. Semoga Pak Kiai berkenan menjawabnya untuk mencerahkan diri saya khususnya, dan para pembaca umumnya. Terima kasih banyak atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

PENANYA
Abdurohman DMG
Lebak Banten




JAWABAN
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

al-Hamdulillah, saya dan keluarga sehat selalu dan masih tetap beraktivitas sebagaimana biasanya. Semoga Sdr Abdurohman dan keluarga juga demikian. Amin!

Sdr Abdurohman yang diberkahi Allah SWT. Memang benar, ketauhidan adalah ajaran agama yang paling pokok untuk dipelajari. Inilah pondasi hidup kita dan inilah dasar agama yang biasa disebut ushuluddin. Ilmu apapun yang kita kuasai, tanpa dipondasi oleh ketauhidan, maka tidak ada nilainya. Namun demikian, bukan berarti ilmu-ilmu yang lain tidak penting. Semua pengetahuan itu penting, hanya saja secara prioritas, ketauhidan itu ada di peringkat teratas untuk dipelajari.

Syeikh Nawawi Banten, dalam karyanya al-Futuhat al-Madaniyah fi al-Syu’ab al-Imaniyah, hal. 26, menuliskan peringkat ilmu yang harus kita pelajari; yakni ushuluddin, tafsir, hadis, ushul fiqh, fiqh dan alat atau nahwu. Ulama kebanggaan kita ini juga menempatkan ushuluddin atau ketauhidan/keimanan sebagai ajaran yang pertama kali harus dipelajari. Itu menunjukkan betapa pentingnya ilmu ini.

Imam Zain al-‘Abidin al-‘Alawi al-Husaini, dalam karyanya al-Ajwibah al-Ghaliyah fi ‘Aqidah al-Firqah al-Najiyah, hal. 3, juga menuliskan hal yang sama. Dikatakannya, awwalu ma yajibu ‘ala al-mukallaf ma’rifatullah alladzi aujadahu min al-‘adam ila al-wujud (kewajiban pertama bagi mukallaf adalah mengerti Allah, yang telah menciptakannya dari ketiadaan menjadi ada/wujud). Ini juga menunjukkan betapa pentingnya ketauhidan.

Kaitannya dengan tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah, maka istilah ini memang senantiasa muncul dalam karya-karya yang mengulas ketauhidan. Apa maksud keduanya? Pertama, tauhid uluhiyah. Tauhid ini maksudnya adalah memahami atau mengetahui Allah SWT berdasarkan dalil naqli, baik al-Qur’an maupun Hadis. Seperti diketahui, informasi tentang Allah SWT banyak sekali terdapat di sana. Tentang keesaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan sebagainya. Inilah cara mengimani Allah yang paling simpel, karena cukup dengan membaca ayat-ayat al-Qur’an dan Hadis saja. Memahami Allah SWT melalui jalan naqli ini, dalam bahasa Imam Zain al-‘Abidin al-‘Alawi al-Husaini, disebut min jihat al-sam’i wa al-naqli (melalui mendengar secara turun-temurun dan penukilan riwayat, baik dari al-Qur’an maupun Hadis).

Kedua, tauhid rububiyah. Tauhid ini maksudnya adalah memahami atau mengetahui Allah SWT melalui perenungan pada ayat-ayat kauniah atau alam semesta. Dengan merenungi alam semesta ini, misalnya merenungi penciptaan gunung, langit, manusia, lautan, binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya, maka kita akan mengetahui kebesaran Allah sebagai Dzat yang menciptakan semuanya. Dalam bahasa Imam Zain al-‘Abidin al-‘Alawi al-Husaini, ini disebut memahami Allah min jihat al-nadhar al-‘aqli (melalui perenungan akal).

Terkait memahami Allah melalui alam semesta ini, Imam Zain al-‘Abidin mengutip bait syair, yang berbunyi;

Fa ya ‘ajabaa kaifa yu’sho al-ilah # am kaifa yajhaduhu al-jahid
wa fi kulli syai’in lahu ayatun # tadullu ‘ala annahu al-wahidu
wa lillahi fi kulli tahrikatin # wa taskinatin atsarun syahidun

(Betapa mengherankan, bagaimana mungkin Tuhan dimaksiati #
Atau bagaimana mungkin seseorang mengingkari-Nya
Padahal, di setiap sesuatu terdapat tanda bagi-Nya #
Yang menunjukkan bahwa Dia-lah Dzat Yang Satu
Dan bagi Allah, setiap gerak #
dan diam terdapat tanda-tanda yang menjadi saksi bagi-Nya).

Sdr Abdurohman, dengan demikian, baik membaca ayat-ayat al-Qur’an maupun ayat-ayat alam semesta sama-sama penting dilakukan untuk menemukan Allah SWT. Jika keduanya sudah ditempuh, maka ketauhidan akan kian menancap kuat dalam hati dan diri kita. Hanya membaca ayat-ayat al-Qur’an dan tidak merenungi ciptaan-Nya, maka ketauhidan kita akan kurang kokoh, begitu pula sebaliknya. Karena itu, untuk kesempurnaan ketauhidan, keduanya hendaklah dijalani secara beriringan.  

Inilah jawaban yang bisa saya sampaikan. Semoga bisa dimengerti dan semoga ada manfaatnya. Amin! Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 29 November 2011