MENYEMPROT LISTERIN SAAT PUASA

PERTANYAAN
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Salam hormat Pak Kiai. Semoga Pak Kiai dan keluarga senantiasa diberi-Nya kesehatan. Amin!
Pak Kiai, kalau kita sedang berpuasa, kan mulut kita biasanya berbau tidak sedap. Kalau misalnya kita ngobrol dengan rekan, saudara atau tetangga, rasanya tidak nyaman dengan kondisi seperti itu. Malu, Pak Kiai. Kalau kata anak sekarang, tidak pede. Karenanya, banyak yang menggunakan pencuci atau penyemprot mulut rasa, seperti Listerine, biar aroma mulutnya berbau wangi. Pak Kiai, penggunaan penyemprot mulut saat berpuasa ini bagaimana hukumnya menurut Islam? Merusak puasa apa tidak?

Semoga Pak Kiai berkenan menjawabnya. Terima kasih atas penjelasannya.

 

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

PENANYA
Devis Maredona,
Mahasiswa, Cikulur Lebak Banten




JAWABAN
Wa'alaikumussalam, Wr. Wb.

Terima kasih atas doanya. al-Hamdulillah, saya dan keluarga sehat-sehat saja. Semoga Devis beserta keluarga di Cikulur Lebak juga senantiasa sehat dan sukses menjalankan aktivitas sehari-hari. Amin!

Betul Devis, orang berpuasa itu mulutnya berbau. Sering bikin tidak nyaman kalau sedang ngobrol. Ini sebenarnya ada hikmahnya. Orang berpuasa itu harus berlatih menahan diri dari makan dan hawa nafsu, termasuk menahan diri dari berbicara yang tidak bermanfaat atau malah mudharat. Kalau mulut kita bau, kan kita tidak bebas berbicara dan kita akan hati-hati. Ini akan mengurangi dosa-dosa ucapan kita.

Rasulullah SAW menyatakan: famu al-shoimi athyabu min rih al-misk. Mulut orang yang berpuasa itu bagi Allah SWT lebih wangi dari pada minyak misik. Tentunya bukan wangi secara lahir, melainkan secara batin. Ini karena orang yang berpuasa, mulutnya ditahan dari berbicara yang tidak manfaat, terus digunakan bertadarus al-Qur’an, dipakai berdzikir pada Allah SWT, dan amalan salih lainnya. Inilah yang membuat aroma mulut kita wangi di hadapan Allah SWT secara batin, kendati secara lahir aromanya tidak sedap.  

Hanya saja, kita kan manusia biasa, yang seringkali masih terkurung oleh hal-hal yang lahir. Makanya, ketika mulut kita beraroma tidak sedap, kita merasa tidak nyaman pada saudara-saudara kita. Lalu kita menggunakan pewangi mulut, baik yang caranya disemprotkan maupun yang dikumur-kumurkan (asalkan zatnya tidak terbuat dari cairan yang haram/najis). Menurut hemat saya, kalau caranya disemprotkan, maka lebih baik dihindari saja, karena kuatir ada cairan pewangi yang tertelan dan masuk ke dalam perut kita. Disemprotkan itu kan tekanannya keras sekali, sehingga tidak mustahil zatnya melewati tenggorokan kita. Karenanya, menghindari yang seperti ini lebih afdhol dan lebih aman.

Tapi kalau pewangi mulut itu dikumur-kumurkan, yang tekanan airnya bisa kita kendalikan, insya Allah tidak apa-apa. Ini seperti halnya kita kumur-kumur menggunakan air pada saat berwudhu, ketika kita sedang berpuasa. Namun demikian, kalau kumur-kumurnya berlebihan, sampai kepalanya didongak-dongakkan, maka juga kuatir airnya tertelan dan merusak puasa kita. Karenya, yang dibolehkan adalah berkumur-kumur yang sekedarnya saja.  

Devis, sebenarnya kita tidak perlu risih dengan bau mulut kita. Itu wajar-wajar saja, karena kita sedang menjalankan ibadah puasa. Apalagi yang mulutnya bau bukan hanya kita sendirian, melainkan semua orang yang menjalankan puasa Ramadhan. Insya Allah kondisi “bau mulut berjamaah” ini dimaklumi oleh saudara-saudara kita.

Demikian penjelasan saya. Semoga bisa dimengerti dan ada manfaatnya. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 4 Agustus 2011