Mengorek Telinga Saat-Puasa

PENANYA
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Salam ta’dhim, Pak Kiai. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi Pak Kiai dalam setiap aktivitasnya. Amin!
Pak Kiai, saya sering melihat orang yang berpuasa mengorek-orek telinganya.

Kelihatannya, mereka menikmatinya dan tidak berfikir tentang puasanya, apakah masih sah atau sudah batal. Karena itu, melalui mimbar yang berkah ini, saya ingin mendapat penjelasan lebih rinci dari Pak Kiai tentang hukum mengorek-orek telinga pada siang hari bulan puasa.  

Semoga Pak Kiai berkenan memberi penjelasan, sehingga saya dan kaum muslim umumnya, mempunyai rujukan yang jelas tentang mengorek-orek telinga saat berpuasa itu. Terima kasih.

 

 

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

PENANYA
Asep Taftazani,
Mahasiswa, Pandeglang Banten



JAWABAN
Wa'alaikumussalam, Wr. Wb.

Saudara Asep Taftazani yang dirahmati Allah SWT. al-Hamdulillah, saya dan keluarga masih senantiasa diberi-Nya kesehatan. Semoga Asep juga demikian adanya dan masih terus semangat menimba ilmu di kampus. Amin!

Benar Asep, banyak saudara kita yang punya kebiasaan mengorek-orek telinganya. Sekali nggak dilakukan, telinganya terasa gatal-gatal. Konon katanya, kebiasaan ini bisa bikin lupa segalanya. Sampai-sampai, seperti disampaikan Asep, saat berpuasapun kebiasaan korek-korek telinga ini tetap dijalankan di siang hari bulan puasa. Ada yang korek-koreknya pakai cotton but, bulu ayam, atau alat sejenis lainnya.

Untuk mengetahui hukumnya, tentu saja tidak bisa serta-merta diputuskan ini halal atau haram, boleh atau tidak. Kiranya perlu juga dilihat terlebih dahulu bentuk dan sejauh mana korek-korek telinga itu dilakukan. Misalnya, kalau korek-korek telinga itu hanya sebatas luar lubang telinga (daun telinga) saja, maka tentu saja dibolehkan dan tidak mengganggu puasanya. Ini sama halnya dengan bebersih biasa saja, karena daun telinga kita mungkin ada kotorannya.

Korek-korek yang demikian, tentunya berbeda dengan korek-korek yang sampai masuk ke dalam-dalam lubang telinga, apalagi sampai menusuk-nusuk gendang telinga. Kalau korek-korek yang seperti ini, hukumnya tidak boleh, karena sama halnya memasukkan sesuatu ke dalam lobang batalnya puasa. Jika ini dilakukan, maka puasa kita menjadi batal. Tentu saja sayang sekali, kalau puasa kita rusak gara-gara kebiasaan mengorek-orek telinga.

Karenanya, ketika sedang berpuasa, sebaiknya kita meninggalkan kebiasaan mengorek-orek telinga ini. Kuatir, puasa kita menjadi batal. Nanti kalau sudah lebaran, silahkan kebiasaan yang tertunda selama bulan Ramadhan ini dilanjutkan lagi, tanpa perlu kuatir puasanya rusak. Namun penting juga diingat, mengorek-orek telinga harus dilakukan dengan hati-hati dan menggunakan alat-alat yang lembut, supaya tidak terjadi kerusakan pada gendang telinga kita. Banyak kejadian, saudara kita pendengarannya terganggu karena mengorek-orek telinga dengan tidak hati-hati. Kita sendiri yang akan rugi tentunya.

Demikian penjelasan sederhana yang bisa saya berikan. Semoga bisa dimengerti dan bermanfaat. Terima kasih. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 4 Agustus 2011