MENGAMALKAN YANG TIDAK DIKETAHUI

PERTANYAAN

Assalamu’alaikum, Wr. Wb.
Semoga Pak Kiai dan keluarga senantiasa diberi-Nya kesehatan. Amin!
Salam ta’dhim Pak Kiai. Saya seringkali mendengar istilah “jangan mengamalkan apa yang tidak kamu ketahui” dari para penceramah agama. Pak Kiai, saya mohon penjelasan, apa sesungguhnya maksud ungkapan itu!
Semoga Pak Kiai berkenan menjelaskannya. Terima kasih atas responnya.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.


PENANYA

Oktavia Andriani,
Mahasiswi Akbid Politeknik Bandung Jawa Barat




JAWABAN
Wa'alaikumussalam, Wr. Wb.  

Terima kasih atas doanya. Syukur pada Allah SWT, saya dan keluarga masih senantiasa diberi-Nya kesehatan dan kelancaran menjalankan kegiatan sehari-hari. Semoga Dik Oktavia dan keluarga juga demikian adanya. Amin!

Memang benar, banyak dai yang mengungkapkan pernyataan ini, baik di media televisi, koran, mimbar-mimbar maupun majelis-majelis taklim. Tentu saja, apa yang disampaikan oleh mereka, memiliki makna yang mendalam, karena tidak mungkin mereka mengatakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya. Hanya saja, tentunya tidak semua yang mendengarnya bisa langsung memahami dan meresapi maknanya, mengingat ungkapan itu yang ringkas dan padat.

Dik Oktavia yang diberkahi Allah SWT. Maksud ungkapan itu, adalah ketidakbolehan kita mengamalkan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu ilmunya. Kalau kita ingin mengamalkan sesuatu, maka kita harus tahu ilmunya terlebih dahulu. Misalnya, kita ingin mendirikan shalat, maka kita harus tahu ilmunya, yaitu rukun dan syaratnya shalat. Kalau kita mengerjakan shalat tanpa tahu rukun dan syaratnya, dalam bahasa Sunda ini disebut sosolatan (shalat-shalatan). Shalat yang main-main. Teu puguh arah namanya. Begitu juga kalau mau mengerjakan puasa, zakat, haji, dan lainnya, kita juga harus tahu ilmunya.

Kenapa harus tahu ilmunya? Karena kalau kita mengerjakan sesuatu tidak tahu ilmunya, maka pekerjaan kita tidak ada nilainya dan tidak diterima oleh Allah SWT. Dalam kitab Zubad karangan Ibn Ruslan dikatakan: wa kullu man bi ghairi ilmin ya’malu // a’maluhu mardudatun la tuqbalu. Setiap orang yang mengamalkan sesuatu tanpa ilmu // maka amalnya ditolak, tidak diterima. Itu namanya amal-amalan, bukan amal yang sesungguhnya. Jelas sekali, kan?

Itu sebabnya, Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Rasulullah SAW bersabda; mencari ilmu itu wajib bagi setiap kaum muslim. Dasar kewajiban ini, karena Islam menginginkan umatnya mengerjakan sesuatu berlandaskan ilmu yang diketahuinya, sehingga apa yang dikerjakan sesuai dengan al-Qur’an dan Sunah Rasulullah SAW. Sebab, ilmu tanpa amal ibarat pohon tak berbuah dan amal tanpa ilmu sama halnya perbuatan yang sia-sia.

Demikian jawaban singkat saya, semoga Dik Oktavia bisa memafhuminya. Semoga juga, Dik Oktavia senantiasa mengerjakan amalan-amalan agama dengan didasari ilmunya. Mudah-mudahan penjelasan saya ini ada manfaatnya. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 4 Agustus 2011