Anak, Ortu dan Guru Harus Kompak

Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

al-Hamdulillah wa al-syukru lillah wala haula wala quwwata illa billah. Amma ba’du. Faya ayyuhal hadhirun; ittaqullah haqqa tuqatih wa la tamutunna illa wa antum muslim.

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad Saw, beserta keluarga, shahabat dan kita semua selaku umatnya yang senantiasa istiqamah menjalankan syariatnya. Amin!

Bapak-Ibu jamaah rahimakum Allah

Al-Hamdulilah dalam kesempatan kali ini kita bisa bertemu kembali, bemuwajahah dan bersilaturahmi dalam pengajian bulanan yang biasa kita laksanakan di mejlis yang mudah-mudahan diberkahi oleh Allah ini. Ini merupakan anugerah yang sangat luar biasa, yang patut kita syukuri. Syukur karena kita sudah diberikan nikmat sehat wal afiat dan umur yang panjang.

Umur adalah bagian dari rahasia Allah. Tidak ada seorangpun yang tahu kapan ajal akan datang. Mengapa demikian? Karena jika kita mengetahui kapan ajal akan datang, mungkin kita  akan berleha-leha hidup di bumi ini. Kita berangapan, umur kita misalnya sepuluh tahun lagi. Maka yang sembilan tahun kita gunakan untuk main-main atau berleha-leha. Kemudian barulah yang setahun itu kita gunakan untuk bertobat, karena tahu ajal sudah semakin dekat. Padahal Allah selalu memantau gerak-gerik hamba-Nya. Mulai dari dilahirkan sampai ajal menjemputnya. Karena itu, Allah merahasiakan batasan umur manusia, agar manusia senantiasa beribadah dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Anugerah dari Allah yang lain adalah nikmat sehat wal afiat. Dengan sehat, kita bisa merasakan nikmatnya hidup. Karena sehat adalah nikmat yang sangat mahal. Walaupun banyak harta yang kita miliki, itu tidak akan terasa berharga bila kondisi badan kita tidak produktif sesuai fungsinya. Tidak hanya sehat jasmani, tapi ruhani kitapun harus sehat. Kita harus lebih menjaga keimanan. Jangan sampai iman kita terjebak oleh hal-hal yang bisa merugikan diri kita.  Sebab, iman  manusia bisa berubah. Kadang naik kadang turun. Naik di kala manusia menyadari bahwa ibadah adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri pada Allah Swt. Namun terkadang di lain kesempatan hal yang dibenci Allahpun dilakukan. Itulah yang namanya iman yang turun. Karena itu, Bapak dan Ibu tentunya kita harapkan mudah-mudahan kita senantiasa mendapat bimbingan dari Allah SWT, agar setiap aktivitas kita mendapat ridha-Nya.

Bapak-Ibu yang saya hormati

Sebenarnya berkumpulnya kita di sini bukan untuk ngaji, karena saya yakin Ibu dan Bapak sudah sering mengikuti pengajian di kampungnya. Kita di sini sharing dalam membentuk anak-anak agar mempunyai ilmu yang manfaat dan menjadi anak yang berguna baik bagi dirinya maupun orang lain.  Syarat untuk mencari ilmu itu ada tiga; pertama, keinginan anak yang tinggi. Kedua, dukungan orang tua. Dan ketiga, gurunya. Karena itu, kita harus kompak dalam mendidik anak. Sebab, anak adalah tanggung jawab kita. Baik- buruknya anak itu akan mencerminkan bagaimana orang tua mendidik dan membimbingnya.

Dengan kehadiran Bapak-Ibu di sini, pasti anak akan merasa diperhatikan. Bukan sekedar dikasih uang jajan semata, tapi juga diberikan perhatian dan sentuhan kasih sayang. Karena kasih sayang orang tua akan selalu melekat di hati sang anak. Mudah- mudahan dengan kumpulnya kita di sini bisa mempererat tali silaturahmi dan ke depan anak-anak kita bisa sukses menggapai cita-citanya.  

Keberhasilan akan tercapai jika satu sama lainnya saling mendukung. Anak semangat belajar, sedangkan orang-tuanya tidak mendukung. Itu sama saja seperti kita berjalan denga satu kaki. Begitupun  sebaliknya. Terkadang orang tua mendukung, segala kebutuhan anak dipenuhi, tapi anak tidak ada semangat belajar. Orang tua mendukung anak semangat belajar, tapi gurunya loyo, sama saja bohong. Jadi, semuanya harus saling mendukung satu sama laiya, baik itu dari anak, orang tua, terutama gurunya yang harus memberikan suri tauladan yang baik pada anak.           

Insya Allah kami selaku pembimbing akan selalu berusaha mengarahkan anak-anak kepada hal-hal yang positif. Karena salah satu visi kami itu menciptakan generasi penerus yang berkualitas dan berakhlakul karimah. Mudah-mudahan santri di sini bisa lebih nyaman belajar di pondok tercinta ini, tentunya itu tidak lepas dari usaha Bapak-Ibu semua yang selalu mendorong dan memotivasi anak-anaknya agar selalu istiqamah sampai kesuksesan dan prestasi berada dalam genggaman mereka.

Bapak-Ibu yang Dihormati

Dalam melaksanakan aktivitas atau beramal, itu dibutuhkan empat perkara. Pertama, niat. Niat adalah bagian dari rencana kita yang paling utama, sebelum kita melaksanakan apa yang kita niatkan. Segala sesuatu yang kita lakukan akan menjadi nilai ibadah bila diniatkan semata-mata karena Allah. Misalnya, Bapak kita niat jadi pedagang karena ingin mencari nafkah buat keluarga, untuk menyekolahkan anak dan menjaga kehormatan diri, itu nantinya akan menjadi nilai ibadah bukan untuk bersaing dan ria. Karena itu, tatalah perilaku dengan niat yang baik, karena urusan dunia akan bernilai ibadah jika diiringi dengan niat yang baik.

Kedua, ilmu pengetahuan. Tujuan kita menyekolahkan anak-anak kita yaitu untuk mempunyai ilmu, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Sebab, sesuatu tanpa ilmu bagai pohon tak berbuah. Begitupun dengan kita. Segala sesuatu yang kita lakukan jika tidak disertai dengan ilmunya, tidak akan mendapatkan hasil yang maksiamal. Seperti bertani, jika kita tidak tahu bagaimana cara bertani yang baik, maka hasilnyapun tidak akan sesempurna apa  yang kita bayangkan. Apalagi dalam urusan ibadah, pasti harus dengan ilmunya. Shalat harus dengan ilmunya. Ngaji harus dengan ilmunya. Haji harus dengan ilmunya. Apalagi zaman sekarang ini zaman yang serba canggih. Semuanya harus dengan uang. Namun hal itu jangan sampai mengubah pandangan kita. Ilmu harus tetap  diutamakan dan uang bukanlah segalanya.

Terkadang masih ada orang yang pergi haji, tapi tidak memikirkan ilmunya, namun malah sibuk mempersiapkan bekal tanpa memperhitungkan ilmunya, sehingga ketika melaksanakan haji hanya ikut-ikutan saja, tidak pernah menghitung berapa sa’i yang dilakukannya. Contoh lain yaitu shalat, yang menjadi tiangnya agama. Tiang yang rapuh tidak akan kuat menahan beban di atasnya.

Begitupun dengan shalat. Shalat yang rapuh tidak akan meberikan ketenangan pada diri kita. Rapuh di sini yaitu rapuh karena shalatnya tidak ditata dengan baik dan tidak diperhatikan rukun-syaratnya. Pada dasarnya shalat adalah perintah Allah yang mempunyai keistimewaan-keistimewaan tertentu. Dalam shalat Allah berikan kesempatan kepada manusia untuk beramal, mengadu, memohon do’a dan mendapat ketenangan dari segala permasalahan. Maka dari itu, gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya untuk mencari ilmu. Dalam Hadispun dikatakan: “Barang siapa yang menginginkan dunia harus dengan ilmunya. Barangsiapa yang menginginkan akhirat harus dengan ilmunya. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya harus dengan ilmunya”. Dengan Hadis ini sudah jelas bahwa salah satu untuk mencapai kebahagiaan harus dengan ilmu.

Bapak-Ibu yang dihormati

Salah satu kebahagiaan kita yaitu hidup dengan keberkahan, berkah ilmu dan berkah segalanya. Keberkahan itu akan datang jika kita pandai bersyukur kepada Allah SWT. Mungkin kebanyakan dari kita  berprofesi sebagai petani, yang bisa mendapat hasil setelah tiga bulan dari penanaman. Memang jauh jika kita bandingkan dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tapi bukan itu yang kita cari. Menjadi petani adalah pekerjaan paling utama. Mengapa? Karena padi yang ditanam oleh para petani tidak hanya menghidupi pemiliknya. Hewan seperti burungpun bisa merasakan nikmatnya padi yang terhampar hijau di sawah. Yang terpenting para petani bisa mengikhlaskan padinya, sehingga bisa menjadi nilai ibadah. Itu mungkin salah satu manfaat jadi petani. Mudah-mudahan Bapak-Ibu yang berprofesi sebagai petani selalu mengikhlaskan padi-padinya dimakan burung, keong dan yang lainnya, sehingga Bapak-Ibu bisa merasakan keberkahan atas  nikmat Allah yang didapatkan dengan ikhtiar yang kuat.

Hidup itu butuh proses dan kerja keras. Sekarang ambil contoh kenapa Haji Ibing (panggilan KH. Achmad Syatibi Hambali, ed.) bisa di sini untuk bersilaturahmi di hadapan Bapak-Ibu semua. Itu semua karena Allah selalu mendengar do’a-do’a saya ketika saya mondok dulu sekitar tahun 70-an. Pertama saya mondok di Cangkudu, kemudian pindah ke Sukabumi. Pada tahun 80 saya dinikahkan dengan orang Sarian Cikulur. Setelah proses yang lama, jadilah saya sekarang ini. Jangan lihat saya sekarang, tapi lihatlah proses yang dilalaui saya dulu. Kareana itu, kita harus selalu sabar dalam segala hal. Dikatakan Imam al-Gazali: “Sabar itu kunci keberhasilan”. Dengan sabar, insya Allah keberhasilan akan dicapai.

Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Atas segala kekurangan, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Wa Allah al-muwaffiq ila aqwam al-thariq. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

*Tausiah Pengasuh pada Pengajian Bulanan Wali Santri, Sabtu, 5 Mei 2016, di Majelis Puteri Pondok Pesantren Qothrotul Falah.