Manusia Diciptakan untuk Capek*)

Oleh KH. Achmad Syatibi Hambali


Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Asyhadu an la ilaha illa Allah wahdahu la syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Amma ba’du. Faya ayyuha al-hadhirun, ittaqu Allah haqqa tuqatih wala tamutunna illa wa antum muslimun.

Asatid/Asatidzah, Koordinator MPS, Kepala SMA, Kepala MTs, Dewan Guru, dan anak-anakku Santriawan Santriawati rahimakumullah.

Mari kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga malam hari ini tepatnya malam Rabu hari yang ke-17 Ramadhan, kita dapat berkumpul di tempat ini untuk memperingati Nuzulul Qur’an (turunnya al-Qur’an). Dengan memperingatinya, mudah-mudahan kita semua mendapat rahmat dari Allah SWT.

Shalawat beserta salam semoga senantiasa tercurahkan pada Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan juga kepada kita sekalian sebagai umatnya yang senantiasa istiqamah melaksanakan dan mengamalkan segala syariatnya.

Selama 15 hari atau 16 hari, kita mengisi Ramadhan dengan berbagai macam aktivitas atau kegiatan. Ada yang mempelajari al-Qur’an di bawah komando Ustadz Udong Khudori dan Ustadz Ahmad Hudaedi. Ada yang mengkaji kitab kuning dibawah bimbingan Ustadz Agus Faiz Awaluddin, Ustadz Aang Abdurohman dan Ustadz Sufyan Sadeli. Dan masih banyak aktivitas lainnya, yang insya Allah semuanya positif dan bermanfaat untuk para santri. Mudah-mudahan apa yang telah kita pelajari dan kita kaji di bulan Ramadhan ini berkah buat kita semuanya.

Saya sendiri pernah mengikuti pengajian oleh Ustadz Agus. Kitab yang dikaji adalah Qami’ al-Thughyan karya Syeikh Nawawi Banten. Saya pernah mengikutinya dua sampa tiga kali. Pesertanya adalah Kelas VII yang mau naik Kelas IX MTs yang berjumlah 38 orang putra-putri.

Al-Hamdulillah, saya tanya ke Ustadz Agus, tamat tidak? Beliau pun menjawab al-Hamdulillah tamat. Ada juga yang mengikuti pengajian dengan Ustadz Aang dan Ustadz Sufyan. Saya hanya pernah mengikuti pengajian dengan Ustadz Agus dan  bahkan saya sempat menjadi badal (pengganti) nya. Kalau tidak salah 2 atau 3 bait.

Mudah-mudahan meskipun kalian merasa belum bisa, tapi kalian semua mendapatkan keberkahan. Ketika rapat dengan dewan guru, saya bilang santriawan dan santriawati melaksanakan pengajian kitab ini, yakni pengajian tamat. Ngaji yang penting tamat.

Insya Allah, ketika kita menjadi santri, itu untung semuanya, karena ketika kalian belum menjadi santri tentunya kalian tidak akan mendapatkan pembelajaran seperti ini. Karena itulah, ketika kita ketika menjadi santri, pasti kita akan merasakan capek, lelah, kurang tidur, dan tidak enak makan. Mudah-mudahan dengan kekurangan-kekurangan itu, semua ini bisa menjadi obat buat kalian semua menjadi berkah.

Yang penting kalian semua ikhlas betul-betul dan juga niat yang benar dalam hati untuk belajar menuntut ilmu. Sebab saya yakin kalian datang ke pondok bukan untuk enak-enakan, akan tetapi untuk menimba ilmu. Sebab ketika kita menimba ilmu, itu tentunya tidak dengan enak-enakan. Kekurangan yang ada itu hal biasa. Dengan serba kekurangan itu akan membawa berkah untuk kalian semua.  

Kita mencari pangkat yang tinggi, mencari kemuliaan, itu harus dengan capek. Harus dengan susah. Harus dengan payah. Yang jadi orang sekarang, itu semua dulunya capek. Coba kalian masuk jadi TNI. Digenjotnya bukan main fisiknya doing tapi semuanya. Karena itulah, santri tidak boleh cengeng. Santri harus tangguh. Dan semua kegiatan ini merupakan salah satu pembelajaran untuk mempunyai jiwa yang tangguh dan kuat, sebab kalian ini calon pemimpin semuanya.

Mungkin ada juga yang jadi ulama, sebab tidak semuanya jadi pemimpin. Mungkin ada juga yang menjadi politisi dan lain sebagainya. Jadi harus capek dulu. Allah menciptakan manusia untuk capek. Syekh Ja’far al-Shadik mengatakan: man thalaba ma lam yukhlaq at’aba nafsah wa lam yurzaq. Ini ada dalam Syarh al-Hikam. Orang yang mencari sesuatu yang Allah tidak ciptakan, maka sama saja merepotkan diri sendiri. Kemudian Syekh Ja’far ditanya: apa itu? “al-Rahah fi al-dunya/leha-leha di dunia”, jawabnya.  

Karena itulah, kita harus capek. Jika kita ingin berhasil maka capek dulu. Saya katakan di awal tadi, mudah-mudahan capeknya kalian itu menjadi obat buat kalian. Mudah-mudahan bisa menjadi senang kelak. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian. Itu kata pepatah leluhur kita.

Selain ngaji kitab kuning, al-Hamdulillah saya perhatikan  banyak yang tadarus al-Qur’an. Ada yang sudah tamat tiga kali? Empat kali? Semoga minimal tamat sekali untuk bekal untuk kita, karena al-Qur’an itu kalamullah. Membacanya bermanfaat dan ibadah bagi kita, walaupun kita tidak memahaminya. Biasakan al- Qur’an kita baca bahkan terus kita pelajari. Karena itulah jangan pernah berhenti untuk terus belajar al-Qur’an dan tafsirnya. Dan jangan sampai meninggalkan kewajiban-kewajiban yang sudah diperintahkan oleh Allah.

Anak-anakku semua, insya Allah kalian besok akan pulang. Sampaikanlah salam saya kepada kedua orang tua kalian. Mohon jaga wibawa pondok. Jangan sampai di rumah tidak puasa dan tidak terawih. Laksanakan aktivitas yang biasa dilaksanakan di pondok.

Kita sekarang sudah menjadi santri, maka harus berakhlak santri. Tidak boleh kita melawan orang tua kita, karena itu dosa. Kita harus taat terhadap orang tua dan membuat orang tua bangga. Santri harus berakhlak karimah sebab Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak. Dan nanti datang lagi ke pondok harus tepat waktu.

Itu saja yang saya sampaikan. Kurang lebihnya saya mohon maaf.

Wa Allah al-muwaffiq. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.  

*) Sambutan Pengasuh pada Nuzulul Quran dan Perpulangan Santri pada Ramadhan 1437 H, 21 Juni 2016 di Lapangan Ponpes Qothrotul Falah.