Mau Martabat Tinggi? Harus Capek!

al-Hamdulillah wa ‘ala ni’ami Allah. Asyhadu an la Ilaha illa Allah wahdahu la syarika lah. Wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Amma’ ba’du. Faya ayyuhal hadhirun ittaqullah haqqa tuqatih wa la tamutunna illa wa antum muslimun.

Santriawan dan santriawati yang dimuliakan Allah Swt.

Saya merasa terharu, karena tahun ini kita berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu tidak ada tahfidz al-Qur’an, tapi tahun ini al-hamdulillah ada. Mudah-mudahan bacaan-bacaan al-Qur’an ini bisa membawa barakah untuk kita semuanya. Sebab al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah) – tentu  bukan berarti saya mengecilkan ilmu-ilmu yang lain. Untuk tahfidz al-Qur’an ini pembinanya Ustadzah Nurul Amanah dan Ustadzah Ratu Mawaddah. Saya sampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada keduanya.

al-Hamdulillah, tahun ini bukan hanya hafalan Amil, Jurumiyyah, Imrithi atau Fath al-Qarib yang ditampilkan, melainkan juga tahfidz atau hafalan ayat-ayat al-Qur’an. Ini membuat kegiatan kita di pesantren ini semakin lengkap. Tinggal kalian (para santri, red.) mau memilih kegiatan atau program apa; apakah program tahfidz, kitab kuning atau program yang lainnya.

Selain itu,  saya bangga bukan hanya karena tahfidznya saja atau ilmu-ilmu lain yang diajarkan di pesantren ini, tapi juga karena al-hamdulillah kita sudah bisa mengeluarkan satu buku karya santri. Inilah kebanggaan saya. Mudah-mudahan itu menjadi modal, bekal dan pemicu untuk lebih meningkatkan belajar kita ke depan. Sebab supaya berhasil, belajar itu harus mau capek. Tanpa capek, kita ttidak akan menjadi orang yang berhasil.

Anak-anakku sekalian yang dirahmati Allah Swt.

Dalam salah satu kitab yang kita pelajari setiap malam Ahad, yakni Ta’lim al-Muta’allim, disebutkan bahwa bi qadr al-kaddi tahtasib al-ma’ali. Kalau kita ingin mencapai derajat yang tinggi, maka kita harus susah payah. Harus siap menerima arahan ustadz dan ustadzah.

Saya ingin cerita perjalanan hidup saya waktu kecil. Orang tua saya, ayah ibu saya, mendidik saya dengan keras. Kalau anak-anak sekarang nggak ada yang dididik sekeras didikan ibu dan ayah saya ketika mendidik saya dulu. Saya sering dihukum oleh mereka. Sampai-sampai kalau saya punya keinginan, saya nggak dikasih sebelum saya menyetorkan hafalan kitab kuning.

Saat saya masih duduk di bangku SD, teman-teman saya sudah memakai jam tangan. Saya juga ingin memilikinya. Kalau ingin sesuatu, saya selalu bilang ke ibu, karena nggak berani bilang ke ayah. Saya bilang; Bu, teman-teman sudah pakai jam. Ibing hayang (kepingin, red.) jam, Bu. Kata Ibu; ntar dibilangin ke Abah. Setelah itu saya dipanggil Abah. Kata beliau; Bing, ibing hayang jam? Muhun, Bah, jawab saya. Kata beliau lagi; Bing, lamun hayang pakai jam, talar Jurumiah, nanti setor ke Abah. Kalau sudah hafal baru dibelikan. Mangga, Bah, jawab saya. Saya pun menghafalkan Jurumiyyah dari al kalamu huwa al-lafdhu al-murakkabu  sampai terakhir. Setelah selesai, saya laporan ke Abah. Jadi yang hafalan itu tidak hanya kalian. Saya juga begitu ketika masih SD dengan ayah saya. Setelah Jurumiyyah berhasil saya hafalkan, Abah besoknya memanggil paman saja, Haji Emed. Abah nyuruh paman untuk mengajak saya ke Rangkasbitung membeli jam. Waktu itu jam Kastel merknya. Namanya anak kecil, yang penting saya pakai jam.

Ayah saya memang keras mendidik anak-anaknya. Kalau habis maghrib saya nggak ngaji tajwid, saya biasanya diguyur pakai air. Pernah habis maghrib saya main dengan teman-teman. Waktu itu main bebentengan. Beres shalat, pas waktu ngaji saya nggak ada. Orang tua saya nyari-nyari. Saya datang dan beliau tanpa ngomong lagi langsung memegang tangan saya. Ternyata Ibu saya sudah menyiapkan air di kendi. Tangan saya dipegang Ayah saya dan Ibu saya mengguyur dengan air. Saya kuyup oleh air. Habis itu saya terus ngaji dengan Ayah saya. Jadi, setiap saya nggak ngaji, pasti hukumannya diguyur. Yang lebih sakit waktu itu, ketika shubuh saya nggak ngaji. Saya dicari-cari dan saya menginap di rumah kawan. Saya datang ke rumah, saya dicancang (diikat, red.) di tiang rumah sambil berdiri. Keras sekali ayah saya! Dan saya ditinggal begitu saja oleh Ayah. Saya menangis. Karena kecapean, barulah saya berhenti menangis. Itulah kerasnya didikan orang tua saya.

Para santri yang dimuliakan Allah Swt.

Justru pada saat Ibu saya sakit dan dirawat di rumah sakit, saya bilang ke Ibu: Bu doain Ibing. Ibing pingin beli mobil. Ada uangnya?, tanya Ibu. Gak Bu! Doa Ibu, mudah-mudahan Ibing ada rejeki. Eh, ternyata Ibu ngitung-ngitung uang, katanya buat tambahan beli mobil saya. Kata Mang Medi (driver yang biasa menemani Kiai Ibing, red.), Ibu bilang supaya saya cepat-cepat beli mobil. Kasian katanya, karena sewaktu kecil habis diguyurin air oleh Ibu.

al-Hamdulillah dengan didikan yang begitu keras dari orang tua, saya sakarang bisa bersama-sama kalian. Kalau saya dulu dibebaskan untuk melakukan apa saja, mungkin saya nggak bisa bersama-sama kalian. Karena itulah, kalian di pesantren ini jangan cengeng. Tidak ada hukuman yang seberat hukuman orang tua saya. Paling-paling kalian hanya dibotak. Kalau santri puteri paling-paling disuruh mengenakan kerudung merah. Kalau kulitnya cocok dengan warna merah, itu malah tambah cantik. Ya nggak?

Saya memahami, mungkin kalian merasakan bahwa di pondok ada hukuman. Kalau kita ingin berhasil, maka harus belajar. Dan hukuman itu merupakan pendidikan. Makanya kalau ingin menjadi orang yang berhasil, ikutilah aturan yang ditetapkan. Hadapi persoalan yang ada di pondok ini dengan jiwa besar. Sebab, yang namanya orang itu nggak akan lepas dari persoalan dan persoalan itu memang harus ada, karena akan menjadi motivasi dalam belajar kita. Insya Allah kalian akan menjadi orang yang sukses. Amin!

Anak-anakku sekalian yang diberkahi Allah Swt.

Sekali lagi saya ingin mengatakan, saya bangga. Tahun ini, disamping kita bisa mengeluarkan buku Konsultasi Maya yang awalnya dari website www.qothrotulfalah.com, kita juga bisa mengeluarkan buku karya santri. Banyak kalangan pendidikan yang memberikan apresiasi kepada santri kita. Saya harapkan, mudah-mudahan buku ini tidak menjadikan kita sebagai santri sombong, sehingga lupa diri. Itu harus menjadi motivasi lebih lagi untuk meningkatkan kemampuan ilmu kita. Sebab ilmu Allah itu banyak sekali yang harus kita kuasai, baik itu ilmu agama maupun yang lainnya. Agama harus dikejar, umum pun dikejar, untuk menambah kadar keimanan kita pada Allah Swt.

Dalam akhir Qs. al-Kahf dikatakan, kalau pepohonan di daratan menjadi kalam dan lautan menjadi mangsinya untuk menuliskan ilmu Allah Swt, sungguh tidak akan habis ilmu Allah untuk dicatat. Untuk itu, semangat belajar kita harus terus ditanamkan. Sekolah ada batasan; SD, SMP/MTS, SMA/Aliyah, S1, S2, S3, selesai. Namun belajar tidak ada batasan. Belajar itu sampai akhir hayat, dengan banyak membaca buku karya ulama dan sebagainya.

Jadi, belajar itu tidak di bangku sekolah saja. Sendiripun kita bisa belajar. Di perjalanan kita bisa belajar. Melihat kejadian apapun, juga kita bisa belajar. Kegagalan yang kita alami juga pembelajaran. Berarti banyak cara untuk belajar. Mudah-mudahan kalian memiliki semangat membara dan motivasi yang tinggi dalam belajar. Itulah inti amanat saya.

Para santri yang dimuliakan Allah Swt.

al-Hamdulillah,k pada hari ini kalian telah mengadakan hafalan. Ini harus diikuti secara seksama. Jangan dianggap ini tidak penting. Ini sangat penting, sebab bagaimana kita mempunyai ilmu, kalau ilmu itu tidak ada dalam hati. Semoga talaran, karena hokum-hukum ada di kita. Dan harus ada dalam hati. Dari sekarang, dari yang kecil dulu seperti  Amil, Jurumiyah, Imritihi, lalu Alfiyah, dll.

Ketika dulu saya ingin hafal Alfiyah, modal saya mondok hanya Jurumiyah. Ketika sayan ingin hafal Alfiyah yang ribuan bait, maka saya berusaha melakukannya. Terus terang, saya ini banyak main. Tapi kalau saya mau berangkat main, saya nulis bait dulu di kertas. Misalnya beberapa bait. Di perjalanan, saya lihat catatan bait itu. Ada teman saya yang kaget dan bertanya di mana saya menghafalnya. Sebab, saya kelihatan jarang menghafal. Tapi saya punya prinsip saya harus hafal. Makanya ketika diajak main, saya selalu membawa catatan. Setidaknya tidak dua bait.

Kalau ke Cikole misalnya, saya tetap belajar, tapi nggak ketahuan sama teman saya. al-Hamdulillah lama-lama hafal. Banyak yang kaget karena caranya seperti itu. Sekarang sudah banyak lupa, karena jarang dipakai. Yang namanya yaqulu, itu sebelum ngaji harus diulang-ulang dulu. Imrithi juga sebelum ngaji dihafal semua. al-Hamdulillah pada waktu itu hafal semua.

Itulah cerita untuk memotivasi kita semuanya. Jangan mengira mencari ilmu itu enak. Itulah riwayat hidup saya yang tidak pernah leha-leha, terumata ketika ada Ayah saya yang keras. Karena itulah, kalau di pondok ini sedikit agak keras, tujuannya untuk kemanfaatan. Hukuman bukan untuk kepentingan ustadz atau pondok, tapi untuk kepentingan kalian semua. Semoga kalian berhasil menjadi orang-orang sukses!

Bagaimana yang berhasil? Apa ukuran keberhasilan itu gemerlapnya dunia? Ukuran keberhasilan itu bukan mobil atau rumah mewah, melainkan kemanfaatan pada orang lain. Khair al-nas anfa’uhum li al nas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Ini menurut saya ukuran orang yang berhasil. Banyak orang yang mobilnya mewah, tapi hanya untuk dirinya. Rumah mewah, juga hanya untuk pribadinya dan nggak memberikan kontribusi untuk masyarakat. Keberhasilan kalian itu pengertiannya memberikan manfaat kepada masyarakat.

Itu saja tausiah yang bisa saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.

*Sambutan Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah pada Muhafadzah Kitab Kuning dan al-Qur’an, Tahun Pelajaran 2013-2014, Sabtu, 31 Mei 2014, di Lapangan Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.