Manusia Saling Membutuhkan

Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

al-Hamdulillah wa al-syukru ‘ala ni’ami Allah. La haula wa la quwwata illa bi Allah. Amma ba’du!  

Fa qala Allah ta’ala fi al-Qur’an al-Karim wa huwa ashdaq al-qailin. A’udzu bi Allah min al-syaithan al-rajim; Syahru Ramadhana al-ladzi unzila fih al-Qur’an hudan li al-nas wa bayyinat min al-huda wa al-furqan. al-Ayah!


Para asatidz dan asatidzah, anak-anakku, santriawan dan santriawati yang saya cintai dan banggakan.

Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan. Yang besar butuh yang kecil dan yang kecil butuh yang besar. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Manusia senantiasa membutuhkan komunikasi. Karena itu, mereka saling membutuhkan yang tentunya perlu ada aturan-aturan dalam berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Sampai-sampai Rasulullah Saw bersabda dalam Hadisnya: innama buitstu li utammima makarim al-akhlak/saya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Berbicara tentang akhlak, tentu saja kaitannya tidak hanya antara Allah Swt dengan manusia atau habl min Allah, tetapi juga bagaimana kita memiliki akhlak yang baik antar sesama. Jangan saling menyakiti! Keberadaan kita di tengah-tengah orang lain haruslah membuat mereka nyaman. Itu sebabnya, dalam sebuah Hadisnya, Rasulullah Saw bersabda: laisa minna man lam yarham saghirana wa ya’rif syarafa kabirina/bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lemah dan tidak menghormati yang lebih tua.

Itu menunjukkan adanya keterkaitan antara manusia yang satu dengan yang lain. Yang besar butuh yang kecil dan yang kecil butuh yang besar. Yang besar tidak akan menjadi besar kalau tidak ada yang kecil. Karena itu, ketika kita menjadi besar, kita tidak boleh mengabaikan yang kecil. Menganggap orang lain tidak ada apa-apanya, itu tidak boleh. Ibarat satu tubuh, manusia yang satu dengan yang lain saling membutuhkan. Orang jadi guru karena ada murid. Orang jadi murid karena ada guru.

Saya nih, Haji Syatibi dianggap gagah misalnya, itu menurut orang kecil atau lemah. Kata orang besar, Haji Syatibi tidak ada apa-apanya. Itulah manusia! Karena itu, kita sebagai manusia harus saling mengayomi yang satu dengan yang lain, apalagi di tengah-tengah pondok ini. Tentunya semua adalah saudara. Keberadaan kita di pondok harus bisa membuat nyaman orang lain. Harus belajar dari diri sendiri. Bagaimana caranya? Kalau kita disakiti orang, perasaan kita gimana? Kalau sudah tahu rasanya, tentunya kita jangan menyakiti orang lain.

Kalau milik kita diambil orang, pasti kita tidak enak. Karena itu, jangan sekali-kali kita berani mengambil hak orang lain. Kalau kita menyakiti orang lain dia tidak enak, maka kita jangan melakukannya. Keberadaan kita harus membuat orang lalin nyaman, enak dan tenang, karena itu kita harus mempunyai akhlak yang baik. Akhlak itu untuk sesama kita. Jangan jadi orang cemberut saja. Orang akan bingung menghadapi kita nantinya. Kita juga semestinya wa tawashau bil haq wa tawashau bi al-shabr.

Itu saja barangkali tausiah saya malam ini. Semoga ada manfaatnya. Semoga ibadah kita pada bulan puasa ini diterima oleh Allah Swt. Puasa siang, malam tarawih dan tambah dengan ngaji al-Qur’an, semoga semuanya diterima Allah Swt.  Amin!

Ushikum wa nafsi bi taqwa Allah. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

*Ceramah Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah setelah shalat tarawih berjamaah, Ahad, 12 Ramadhan 1434 H/ 21 Juli 2013, di Majelis Putera Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.