Puasa Lidah

Di bawah ini adalah cerita masa lampau yang aktual hingga saat ini. Cerita seorang wanita yang gagal memuasakan lidahnya.

Suatu hari, Rasulullah Saw mendengar seorang wanita yang berpuasa sedang memaki-maki budaknya. Seketika, beliau pun mengambil makanan dan menyodorkan kepadanya seraya bekata: “Makanlah!!”

Wanita itu menjawab: “Maaf, saya sedang berpuasa ya Rasulullah!.”

Mendengar hal itu, Rasulullah berkata lagi; “Apakah itu yang disebut puasa?”

Puasa bukan hanya menahan makan dan minum, melainkan alat untuk menghalangi manusia agar tidak berteman akrab dengan kemaksiatan. Lidah memang tak bertulang, tak bersenjata, tak mengerikan, bahkan tak mengandung zat-zat yang membahayakan. Namun dahsyatnya, ternyata ia bisa menjadi sumber bencana kemanusiaan yang sangat mengerikan. Benang kusut permusuhan, pertikaian dan konflik yang terjadi saat ini, mayoritas berawal dari “Mmanis”nya lidah.

Lidah itu bapaknya silet, kakeknya pisau dan uyutnya golok, karena ia mampu menebas segala yang tidak bisa ditebas oleh benda tajam lainnya. Bahkan luka yang dihasilkan lidah lebih perih dari sayatan sebilah bambu. Ibaratnya, jika satu tembakan meledak, maka satu nyawa bakal melayang. Tetapi bila lidah terlampau tajam, maka orang sekampung, senegara bahkan sedunia akan merasakan hidup sengsara dan merana.

Sebagai seorang mukmin, tentunya kita tahu berperilaku yang baik. Ketika kita tidak bisa mengucapkan hal-hal yang baik dan berfaedah untuk khalayak umum, maka janganlah berbicara dan memilihlah untuk diam. Tetapi jika kita merasa mampu berbicara baik dan benar plus bermanfaat untuk banyak orang, maka bicaralah!

Dalam Hadis dikatakan: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan perkataan yang baik atau lebih baik diam.”

Parahnya lagi, banyak orang yang berpuasa hanya untuk sekedar menutup mulutnya dari masuknya makanan dan minuman. Sementara pada kesempatan lain mulutnya terbuka kala mengumbar fitnah, caci maki serta menghina orang lain.

Imam Al-Ghazali mengatakan; “Puasa lisan merupakan puasa khusus, yaitu puasa yang praktiknya lebih sulit ketimbang puasa perut.”

Bahkan beliau menilai, untuk mendapatkan derajat tersebut, ada dua hal yang harus kita hindari: berbuat yang tidak ada manfaatnya dan berkata yang keji dan kotor.

Bayangkan, di sela waktu luang menjelang berbuka tiba, banyak orang yang mengaku berpuasa, tetapi masih kumpul rame-rame untuk bergunjing, gosip dan sebagainya. Sebaliknya, sedikit yang berkumpul untuk mengucapkan hal-hal berguna seperti memperbanyak dzikir kepada Allah Swt, dan lain-lain.

Menimbang edannya zaman sekarang, semoga bukan hanya tempat maksiat dilarang, melainkan lidah-lidah yang nakal pun harus segera dibasmi agar dapat berpuasa dari caci maki, membuka aib orang lain dan mengumbar janji-janji kosong. Bahkan jika perlu, puasa lidah harus dikampanyekan agar orang-orang terhindar dari bencana lidah. Termasuk bagi para penceramah yang begitu indah merangkai kata tentang amalan-amalan yang berguna bagi kehidupan sehari-hari, sementara diri dan keluarganya jauh dari nilai-nilai yang ia anjurkan untuk jama’ahnya.

Dan berbahagialah orang yang mampu menahan kelebihan bicaranya dan memberikan kelebihan hartanya. Sebaliknya, celakalah orang yang sibuk dengan keburukan orang lain, sehingga membuatnya lupa aibnya sendiri.[]   

*Santri Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah asal Koncang Cikulur Lebak