Mengimani Urgensi Buku

Beberapa waktu lalu, saya hadir di sebuah kampus untuk menemani mahasiswa kuliah. Sesuai jadual, mata kuliah pertama dimulai pukul 07.30. Saya pun hadir lebih awal dari jadual. Menit demi menit saya menunggu. Ketika memasuki pukul 08.00, barulah satu dua mahasiswa hadir. Perkuliahan pun tertunda setengah jam lebih; yang akhirnya disepakati, ke depan perkuliahan dimulai pukul 08.00. Kesepakatan inipun, lagi-lagi dilanggar, (barangkali) karena faktor ketidakdisiplinan.

Tak selesai di situ. Di kampus satunya, malah lebih tragis lagi. Hingga dinanti beberapa lama, ternyata yang ditunggu tak kunjung hadir, kecuali satu dua mahasiswa. Perkuliahan pun diurungkan. Alasannya, masih minggu pertama dan masih suasana libur, belum “in”. Tragisnya lagi, menurut informasi kawan, ada universitas terkenal di Propinsi Banten, yang salah satu fakultasnya mengeluarkan kebijakan unik; perkuliahan jam pertama dimulai pukul 10.00. “Kalau dimulai pukul 07.30, mahasiswa banyak yang tidak hadir,” ujarnya.

Ketika kejadian demi kejadian ini saya utarakan pada salah satu kawan alumni salah satu Universitas terkemal di Belanda, dia berkomentar ringan: “Inilah cermin mentalitas dan etos akademik mahasiswa kita. Di Belanda, mahasiswa yang menunggu dosen. Tapi di Indonesia, dosen yang menunggu mahasiswa.”   

Itulah, nyatanya. Tidak hanya di satu dua, melainkan di banyak kampus. Dan sering kita melihat perkuliahan yang tertunda hanya karena mahasiswa harus ditunggu – selain (terkadang) karena dosen yang telat hadir. Untuk meminimalisirnya, semua pihak harus bekerja keras, terutama pihak dekanat/rektorat dengan membuat kebijakan yang terbaik.

Meng-intimi Buku
Apa yang saya ceritakan di atas, hanyalah satu dari banyak hal yang harus dibenahi dari pendidikan kita. Karena mahasiswa itu identik dengan tradisi akademik luhur, maka sejatinya tulisan ini lebih menitikberatkan pada relasi antara mahasiswa dengan buku-buku yang seharusnya menjadi referensi akademiknya. Nyatanya, ini kelemahan serius lainnya, para mahasiswa kini tak lagi akrab dengan buku, lebih-lebih jika di kampus tidak disediakan referensi yang memadai.

Indikasi ketidakakrabkan mahasiswa dengan buku ini cukup banyak, antara lain, makalah yang kering isi dan referensi, argumentasi yang tidak sarat referensi, juga ketidakakraban mereka dengan judul-judul buku yang seharusnya dibaca, dan banyak lagi. Kesadaran mereka bahwa “buku itu jendela dunia” dan “sejatinya kita hidup di tengah peradaban teks” cukup baik, namun amaliahnya minimal. Itu sebabnya, dalam diskusi-diskusi mahasiswa, sering kali tidak muncul adu argument yang memadai.

Atas dasar itu, tulisan ini bertujuan meneguhkan kembali keimanan kita pada (urgensi) buku dan untuk men-charge baterai keimanan kita pada buku yang mulai melemah, mengikis dan bahkan menghilang. Pertanyaannya: bagaimana men-charge-nya?

Pertama, jika benar-benar memahami urgensi buku, maka kita harus meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mewujudkan keyakinan kita dalam perbuatan. Jika hati kita meyakini, namun amaliah kita enggan membacanya, maka keyakinan kita menjadi tidak ada nilainya. Inilah yang banyak terjadi, nyatanya.

Jika kita tanya mahasiswa satu persatu; apakah buku penting bagi Anda? Mereka semua akan menjawab serempak; penting! Itu jawaban di mulut. Namun jika dalam praktiknya mereka tidak melakukan pembacaan pada buku, maka “syahadat”nya menjadi tidak bermakna. Buku tidak (hanya) untuk diyakini di hati, melainkan untuk dibaca dan diamalkan.

Kedua, jika kita mengimani urgensi buku, maka kita harus menjadikannya sebagai tempat “bergantung” bagi masa depan hidup kita – ini konteknya bukan menyaingi Allah SWT sebagai tempat bergantung yang sesungguhnya (Allah al-shamad). Dalam pikiran dan hati kita harus senantiasa tertanam keyakinan, bahwa selain karena izin Allah SWT, segalanya bisa sukses karena arahan buku. Bukulah jendela ilmu dan peradaban dunia.

Ketiga, jika kita mengimani urgensi buku, maka kita harus menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan kita, yang tak terpisahkan. Ke mana dan di manapun, buku harus menjadi tentengan. Jika perlu, jadikanlah buku sebagai “isteri”/“suami” kedua atau bahkan “isteri/suami” pertama sebelum istri/suami yang sesungguhnya. Dengan demikian, kedekatan kita dengan buku benar-benar intim. Keintiman ini penting, sebab ditengarai, banyak mahasiswa yang gagal skripsi lantaran ketidakintiman mereka dengan buku referensi dan perpustakaan.

Keempat, jika kita mengimani urgensi buku, maka kita harus menjadikannya sebagai kebutuhan sehari-hari, sebagaimana makan. Jika kita tidak makan sekali saja, maka kita akan gelisah dan serasa ada yang kurang. Hendaknya, perlakukan kita pada buku sama halnya dengan perlakuan kita pada makan. Jika kita tidak membaca buku sekali saja dalam sehari, selayaknya kita gelisah karena ada asupan gizi intelektual yang tidak terpenuhi. Herannya, jika sekali saja tidak makan, kita gelisah berkepanjangan. Namun berkali-kali tidak membaca buku, kita tenang-tenang saja tiada beban. Padahal, dengan modal bukulah, kita bisa makan enak dan tidur nyenyak.

Kelima, jika kita mengimani urgensi buku, maka meninggalkannya menjadikan kita “kafir”. Tidak mau membaca buku, karenanya, sejajar dengan pengkhiatan padanya. Inilah yang pernah disampaikan Pemenang Nobel Sastra tahun 1987, Joseph Brodsky. “Membakar buku adalah sebuah kejahatan. Tapi ada yang lebih jahat dari itu, yakni tidak membaca buku,” katanya. Dengan demikian nyata, membaca buku adalah kebaikan dan meninggalkannya adalah kejahatan terburuk. Bahkan Jean-Paul Sartre memiliki pernyataan yang lebih ekstrim lagi. “Telah kutemukan agamaku. Tak ada yang lebih penting dari buku. Aku memandang, perpustakaan sebagai tempat ibadahku,” ujarnya.

Jika demikian halnya, masihkah kita menganggap buku-buku itu tidak penting dan layak disepelekan? Semoga, keimanan kita pada buku membuat hati kita bergetar ketika bersentuhan dengannya. Wa Allah a’lam.[]

*Pengajar Ponpes Qothrotul Falah dan Pendiri Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.  

Radar Banten, Selasa, 24 April 2012