Sinergi Ulama-Umaro Membangun Bangsa

Ahad, 27 Januari 2013 lalu, al-hamdulillah penulis dan beberapa kawan pesantren berkesempatan menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Propinsi Banten Periode 2012-2016, di Gedung Islamic Center Serang Banten. Yang menarik, kegiatan ini dirangkai dengan Silaturahmi Kiai Muda Banten, kegiatan yang bisa jadi baru kali ini diselenggarakan. Tujuannya untuk mensinergikan visi-misi kiai muda Banten dalam membangun masyarakatnya.

Gagasan mensilaturahimkan kiai-kiai muda dari seluruh wilayah Banten yang diprakarsai Ketua PW GP Ansor Banten, H. Ahmad Imron, ini penting diapresiasi. Banyak nilai maslahat yang penting dicatat. Diantaranya, sebagaimana terungkap dalam percakapan singkat penulis dengannya menjelang pelantikan, Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur ini menyatakan keinginannya untuk menjadikan GP Ansor sebagai organisasi kemasyarakatan yang hidup dan bergerak dinamis di tengah masyarakat.

Dalam ungkapan analogisnya, H. Imron mengatakan, dulu PW GP Ansor Banten ibarat gerbong kereta yang diam tak bergerak. Padahal di dalamnya penuh sesak penumpang dari berbagai latar belakang. Ia ingin menggerakkan gerbong itu dan kini sedikit demi sedikit mulai merangkak jalan. Diantara caranya, ia menggerakkan penumpangnya yang berlatar belakang kiai muda pesantren, supaya bisa bersinergi dalam mewujudkan visi-misi kemasyarakatannya.  

Beberapa “Fardhu ‘Ain” Kiai Muda
Pemuda, dalam hal ini kiai-kiai muda, memiliki potensi besar untuk mengubah wajah dunia. Pengakuan atas potensi ini, misalnya, dinyatakan oleh Syeikh Ahmad Syatho’ Dimyathi. Dikatakannya. inna fi yadi asy-syubban amral ummah // wa fi aqdamihim hayataha. Sesungguhnya, di tangan pemudalah persoalan umat digenggam dan di telapak kaki merekalah kehidupan umat dititipkan. Petuah bijak ini menyiratkan pesan penting, bahwa maju-mundurnya bangsa atau umat, tergantung pemudanya. Pemudanya visioner, kemajuan bangsa pun akan cepat terwujud. Pemudanya loyo, bangsapun akan loyo, layu dan ambruk. Peran vital pemuda inilah yang tengah diingatkan kembali oleh Syeikh Syatho.  

Petuah bijak inilah, yang barangkali menginspirasi orang cerdas semacam Bung Karno. Dengan visinya yang segar dan cita-citanya yang membubung tinggi untuk mewujudkan kemakmuran bangsa, Presiden Pertama Republik Indonesia ini lantas mengumandangkan slogan: berilah aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncang dunia. Bagi Bung Karno, pemudalah yang dinilai mampu megemban amanat menggoncang dunia ini, dalam pengertiannya yang positif. Tak perlu banyak. Asalkan mereka berintegritas tinggi dan bervisi kebangsaan sejati, goncangan-goncangan itu akan terus terjadi tiada henti. Termasuk kategori pemuda, adalah ulama-ulama muda. Ulama muda dari organisi masyarakat (ormas) apapun, harus mengambil peran dalam proses pewujudan kemajuan bangsa, dalam kapasitasnya sebagai agent of change.  

Setidaknya ada lima point penting, yang menjadi “fardhu ain” untuk dilakukan ulama muda. Pertama, ulama muda harus mendalami kearifan-kearifan ulama terdahulu dalam membangun bangsa ini. Bangsa ini didirikan oleh sesepuh-sepepuh kita, yang memiliki visi kebangsaan luhur. Bagaimana peran vital mereka dalam pendirian negara kesatuan ini, sejarah telah mendokumentasikannya dengan baik. Mereka berhasil menghadirkan bangsa yang berbasis keragaman dalam ketunggalan. Warisan kearifan ini harus dilestarikan dan terus disebarkan ke seluruh penjuru negeri oleh ulama muda.

Kedua, ulama muda tidak semestinya membatasi diri pada tradisi salafi an sich. Adaptasi dan akulturasi terhadap kemodernan, harus menjadi bagian dari rencana dan program pengabdiannya pada bangsa. Kendati basik keilmuannya tradisional, kitab kuning, namun bukan berarti hal-hal yang modern lantas diabaikan. Ulama muda ideal dituntut mampu menghadirkan kehidupan yang kokoh secara tradisi dan berperadaban modern. Fazlur Rahman menyatakan, pembaruan akan terjadi dengan topangan akar tradisi yang kokoh dan adaptasi yang baik pada kemodernan. Pertahankanlah hal lama yang baik dan adopsilah hal baru yang lebih baik. Inilah sprit al-muhafadhoh ala al-qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-jadidi al-ashlah.

Ketiga, ulama muda idealnya mampu menjaga independensinya dalam proses demokratisasi yang tengah terjadi di negeri ini. Mereka lah penjaga gawang nilai-nilai kebangsaan. Jika penjaga gawang memperlihatkan keberpihakannya pada lawan atau kelompok tertentu, maka tunggulah saatnya gawang itu bobol. Dalam skala nasional, tahun 2014 akan menjadi tahun berat bagi ulama muda. Dengan kapasitasnya sebagai bagian penting masyarakat, mereka akan “diseret-seret” untuk dan oleh kepentingan politik tertentu. Insya Allah, dengan independensi yang kokoh, godaan atau “ujian keulamaan” itu bisa dilalui, sehingga mereka bisa memainkan peran lebih luas lagi.

Bahwa pilihan politik adalah hak, kita semua sepakat. Cukuplah pilihan itu disimpan rapi untuk dirinya dan tidak usahlah diperlihatkan secara luas, yang dampaknya justru akan menghadirkan antipati pihak-pihak yang berseberangan. Bendera ulama muda adalah islam ramah lingkungan atau Islam rahmatan lil ‘alamin, bukan selainnya. Inilah yang dipesankan Abu al-Wafa’ Ibn ‘Aqil; politik (intinya) adalah upaya menghadirkan kebaikan (al-mashlahah) dan menjauhkan kemafsadatan (al-mafsadah). Dan itu bisa dilakukan melalui peran-peran kebangsaan yang tidak terkotak-kotak oleh baju tertentu.

Keempat, dalam proses pembangunan bangsa, sinergi seluruh komponen bangsa penting dikedepankan. Ibarat kapal yang berlabuh, masing-masing penumpang dan ABK-nya harus punya tujuan sama dan cara pengelolaan kapal yang juga sama. Tidak bisa berjalan masing-masing. Dan diantara sinergi yang paling penting adalah sinergi dua kelompok besar umaro dan ulama, dengan kapasitas, kewenangan dan tugasnya masing-masing. Umaro menempati garda depan untuk mengurus persoalan teknis kesejahteraan dan ulama bertugas menginjeksi nilai-nilai luhur pada pos-pos moralitas. Ulama juga harus peduli pada kebijakan umaro, karena inilah tugas wa tawa shau bi al-haqq. Jika kebijakan umaro tidak pro umat, maka mendiamkannya tak ubahnya “setan bisu”. Itu sebabnya, sinergi umaro dan ulama tidak bisa diabaikan, karena menjadi kunci kesejahteraan bangsa. Baginda Nabi Muhammad SAW mengingatkan, ada dua kelompok besar, yang jika keduanya baik, maka baik pulalah bangsa; dan jika keduanya rusak, maka rusaklah bangsa. Mereka adalah ulama dan umaro. Yang satu menjadi kontrol bagi lainnya.

Kelima, karena ulama muda membawahi banyak lapisan masyarakat, bergaul akrab dengan mereka, dan posisinya di grass root, maka dalam proses pelaksanaan program-programnya, umaro perlu menjadikan mereka sebagai mitra dan “kepanjangan tangan”nya untuk menebar kemaslahatan dan untuk mewujudkan insan kamil; sosok mumpuni secara intelektual dan luhur secara moral. Insya Allah, ulama muda berkomitmen tinggi memajukan bangsa dan akan terus mengawal kebijakan pemerintah selama berorientasi pada kemaslahatan umat (al-mashalih al-ra’iyyah). Inilah wujud ketaatan ulama muda pada Allah, Rasul dan ulil amri. Mudah-mudahan, silaturahim antara ulama muda dengan umaro ini lebih bergairah lagi ke depannya.

Andai saja lima point itu bisa dijalankan dengan baik, tak mustahil, harapan Ketua PW GP Ansor untuk menjadikan organisasi kaum nahdliyyin ini laksana “gerbong yang bergerak” benar-benar akan terlaksana. Upaya mewujudkan kemaslahatan bagi umat pun akan bisa ditunaikan. Wa Allah a’lam.[]

* Pengajar di Pondok Pesantren Qothrotul Falah dan Penggiat Halqah Remaja Triple Ing Community (triping.com) Cikulur Lebak Banten

Lebak, 28 Januari 2013