Mendekati Ilahi Melalui Seni

KEHIDUPAN ini rasanya kering jikalau tidak diisi hiburan. Apapun hiburan itu. Pada umumnya, manusia menghibur dirinya dengan seni, baik seni rupa, lukis, pahat maupun musik. Dan yang terbanyak diminati adalah seni musik. Dalam makalah singkat ini, penulis ingin mengurai singkat tentang seni secara umum dan seni musik secara khusus, termasuk hukumnya.  

Apa Itu Seni?

Seni adalah penjelmaan rasa indah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar, indera penglihat atau perantaraan gerak. Inna Allaha jamil yuhibbu al-jamal (Sesungguhnya Allah itu indah. Dia menyukai keindahan).1) Habib Muhammad Luthfi bin Ali, Mursyid Tarikat Syadziliyyah asal Pekalongan Jawa Tengah menyatakan;  “Apapun di dunia ini yang menimbulkan bunyi, misalnya desau angin yang menerpa pepohonan, gemerisik daun-daun yang rontok dari rantingnya, itu adalah keindahan.”2) Sedangkan menurut pakar Tafsir Indonesia M. Quraish Shihab, seni merupakan ekspresi ruh dan budaya manusia yang mengandung dan mengungkapkan keindahan.3)

Seni, yang bermakna keindahan, itu jenisnya beragam. Apa yag dijelaskan di atas, itu sifatnya masih umum. Misalnya, ada seni pahat, seni lukis, seni wayang, seni rupa, termasuk seni musik. Dalam makalah ini, secara khusus insya Allah akan diuraikan tentang seni musik. Pertanyaannya: apakah gerangan yang dimaksud seni suara atau seni musik? Di di dalam Tafsir al-Mishbah, M. Quraish Shihab menuliskan, musik adalah nada atau suara yang disusun sedemikian rupa, sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan. Musik telah lama dikenal manusia dan digunakan untuk berbagai keperluan selain hiburan, mengobarkan semangat, bahkan menidurkan bayi.4)

Seni Islam Tak Harus Bahasa Arab

Dengan banyaknya jenis seni musik, sesungguhnya jenis musik mana yang sesesuai degan ajaran Islam? Apakah misalnya, seni musik yang berbahasa Arab dengan gambusnya? Ataukah seni musik berbahasa Jawa dengan serulingnya? Atau yang seperti apa? Dalam hal ini, saya ingin mengulas perihal seni musik yang sejalan dengan nafas Islam.

Saya teringat ungkapan Candra Malik. Dalam wawancaranya dengan koran Duta Masyarakat yang berjudul Musik Religi yang Universal, ia mengatakan; “Arab tidak selalu sama dengan islam dan Islam tidak selalu sama dengan Arab.”5) Walaupun suaranya menggunakan Bahasa Arab, namun jika isinya tidak sejalan dengan ajaran Islam, maka ia bukanlah seni Islam. Sebaliknya, walaupun bukan dengan Bahasa Arab, tapi kalau sejalan dengan ajaran Islam, maka itu yang dinamakan seni yang Islami.

Dengan demikian, ketika musik dianggap universal dan agama juga seharusnya universal, maka definisi musik religi Islam bukan selalu rebana, gambus atau shalawatan. Musik religi bisa apapun bentuknya dan bisa dimainkan dengan siapapun tanpa mengenal latar belakang agamanya. Bahkan, dalam karyanya Kidung Sufi, Candra Malik menampilkan musik religi Islam dengan iringan musik jazz, pop, regge, rap dan juga suluk wayang kulit.6) Sebab itu, keliru jika ada yang berpandangan bahwa Arab itu identik dengan Islam, rebana identik dengan Islam, pun gambus identik dengan Islam. Musik Islami adalah musik yang nafasnya tentang ajaran-ajaran yang mendekatkan diri pada Sang Khalik. Apapun bahasa dan medianya.

Fenomena Musik Di Kalangan Remaja

Suatu hal yang biasa bagi remaja mendengarkan alunan-alunan musik, karena kehidupan remaja saat ini sepertinya tak bisa lepas dari musik. Buktinya, konsumen musik terbanyak tetap saja remaja, baik laki-laki maupun perempuan. Tentu, fenomena ini sah-sah saja, karena siapapun membutuhkan hiburan, termasuk mendengarkan musik. Namun, apakah fenomena ini mendatangkan kebaikan bagi remaja? Ini yang penting disinggung di ruang ini.

Diakui atau tidak, musik terkadang menjadi pintu pembuka kenegatifan. Biasanya, orang yang suka musik, lebih-lebih gila musik lahir batin, dia akan sering menghadiri acara pertunjukan musik/konser. Walaupun dengan menghabiskan dana yang tidak sedikit. Belum lagi, biasanya pertunjukan musik itu disponsori oleh rokok. Kalau beli tiket, dapat rokok gratis. Malah jadinya merokok kan? Belum lagi kalau acaranya bertempat di klub malam, pasti mereka juga menjual minuman alkohol.7)

Banyak sekali contoh lain yang bisa kita lihat dalam perkembangan musik remaja serta dampak buruknya. Syair-syair yang dilantunkan lebih banyak tentang cinta. Bahkan kata-kata yang diungkapkannya pun sangat tidak pantas bagi kaum remaja untuk mencontoh atau menirukannya. Lihat saja penyanyi-penyanyi band dan semisalnya. Sekian banyak lagu yang dibuat mayoritas tentang cinta.

Tidak hanya itu, bahkan jika pencinta musik tersebut menghadiri konser band kesukaannya, hanya karena ingin menatap sang idola, terkadang banyak diantaranya yang rela meninggalkan kewajiban mereka terhadap Allah. Meraka lupa shalat, bercampur dengan lawan jenis yang bukan mahram, rela berdesak-desakan tanpa hirau kondisi dirinya, pun mereka rela mengeluarkan uang berapapun jumlahnya untuk membeli tiket konser yang disukai. Bahkan sering ada yang pingsan akibat berdesak-desakan. Apakah semua itu tidak merugikan diri kita? Kewajiban kepada Allah malah kita tinggalkan dan kita masuk dalam lubang kemaksiatan yang sudah jelas hukum dan dosa?

Inilah fenomena kecintaan pada musik yang sangat menggelisahkan, karena meminggirkan ajaran-ajaran agama. Belum lagi kini bermunculan nyanyian-nyanyian yang liriknya seronok dengan penyanyi yang berpakaian juga seronok, yang seharusnya tidak pantas didengar atau dinonton anak-anak. Bagaimanakah pandangan Islam tentang fenomena musik yang meresahkan keimanan kita ini?

Bolehkah Kita Menikmati Musik?

Kiranya sangat baik, untuk menyikapi fenomena di atas, kita merujuk pada al-Qur’an sebagai sumber ajaran kita. Allah SWT berfirman dalam Qs. Luqman ayat 6: “Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu sebagai olok-olokan. Mereka itu memperoleh azab yang menghinakan.”  

Turunnya ayat ini terkait seorang musyrik yang bernama al-Nadhar bin Harits yang membeli budak wanita. Apabila ia mendengar akan ada orang yang hendak masuk Islam, maka al-Nadhar memanggil budak wanita itu dan menyuruhnya memberikan makanan dan minuman sambil menyanyikan lagu-lagu. al-Nadhar kemudian berkata kepada orang yang hendak masuk Islam tersebut: “Nyanyian ini lebih bagus dari ajakan masuk Islam yang diserukan Muhammad”. Atas dasar inilah para ulama sebagiannya berpendapat mendengarkan nyanyian itu haram.8)

Berdasarkan ayat di atas juga, Islam melarang umatnya untuk menikmati dan mengekspresikan tindakan-tindakan yang telah secara tegas dilarang oleh agama. Jika kata-kata yang dipergunakan tidak berguna, bahkan menyesatkan atau menjauhkan manusia dari jalan Allah, maka hukumnya haram. Nyanyian-nyanyian yang membuat manusia terlena atau menghayalkan hal-hal yang tidak patut, maka kesenian ini haram pula hukumnya.9)

Namun demikian, hal ini bukan berarti alasan untuk menolak seni musik secara umum. Yang dikecam dan ditolak di sini adalah yang kata-katanya tidak berguna, sehingga menjadi alat untuk menyesatkan manusia. Jadi, masalahnya bukan terletak pada nyanyiannya,melainkan pada dampak yang ditimbulkannya.10) Larangan terhadap musik hanya tertuju kepada kategori yang dianggap menimbulkan kegairahan sensual jasmani yang sering ditautkan dengan mengingat Allah.musik dalam bentuk dan irama apa saja yang mengantar kepada pendangkalan spiritual, apalagi pelanggaran moral dan agama. Maka hal ini tidak diperdebatkan lagi, semua sepakat mencegah dan menganjurkan untuk menghindarinya.11)

Dalam sejarahnya, Rasulullah Saw tidak melarang nyanyian yang tidak mengantar kepada kemaksiatan, seperti lagu-lagu yang dinyanyikan oleh kaum Anshor dalam menyambut kedatangan beliau.

Thala’al badru ‘alaina # min tsaniyyatil wada’
Wajabasy syukru ‘alaina # ma da’a lillahi da’

(Telah muncul purnma untuk kita # dari Lembah Wada’
Kita harus bersyukur # terhadap ajakannya kepada Allah)

Nyayian ini merupakan sebentuk kecintaan dan tanda syukur atas kehadiran Muhammad, yang karenanya tidak terlarang dinyanyikan. Ada juga nyanyian yang mengajak kita untuk merenungkan kematian. Bukankah merenungkan kematian itu ajaran Islam? Misalnya nyanyian yang dilantunkan oleh Raja Dangdut H. Rhoma Irama dalam lagunya yang berjudul Sebujur Bangkai.

Badan pun tak berharga
Sesaat ditinggal nyawa
Anak istri tercinta
Tak sudi lagi bersama
Secepatnya jasad dipendam

Secepatnya jasad dipendam
Karena tak lagi dibutuhkan
Diri yang semula dipuja
Kini bangkai tak berguna

Dari kamar yang indah
Kasur empuk tilam putih
Kini harus berpindah
Terkubur dalam perut bumi

Kalau selama ini
Diri berhiaskan
Emas intan permata
Bermandi cahaya

Tetapi kali ini
Di dalam kuburan
Gelap pekat mencekam
Tanpa seorang teman

Terputuslah..
Pergaulan..
Terbujurlah…
Sendirian…
Diri terbungkus kain kafan

Wajah dan tubuh indah
Yang dulu dipuja-puja
Kini tiada lagi
Orang sudi menyentuhnya
Jadi santapan cacing tanah

Jadi santapan cacing tanah
Sampai yang tersisa kerangka
Begitulah suratan badan
Ke bumi dikembalikan

Kebanyakan manusia
Terlena sehingga lupa
Bahwa maut kan datang
Menjelang…..

Dengan demikian, nyanyian yang dihalalkan adalah nyanyian yang bersih dari unsur kemaksiatan, sebagaimana lagu yang dinyanyikan Bang Roma di atas. Misalnya juga, yang dihalalkan adalah nyanyian yang syairnya memuji sifat-sifat Allah Swt, mendorong orang meneladani Rasulullah, mengajak bertaubat dari kemaksiatan, mengajak menuntut ilmu dan selainnya.12) Menurut Imam al-Ghazali (w. 505 H), larangan bermusik harus dilihat dari konteksnya. Artinya, tidak semua musik diharamkan. Ulama-ulama yang melarang musik, biasanya menamai musik sebagai alat al-malahi (alat-alat yang melalaikan dari kewajiban). Dalam konteks inilah, musik menjadi haram atau makruh. Tetapi jika musik mendorong kepada yang baik, maka dianjurkan. Lagu-lagu Barat sekalipun, siapaun penyanyinya, muslim atau bukan, jika isinya mendorong ke arah kebaikan, maka dibolehkan.13)

Sebaliknya, apabila nyanyian itu mengandung kata-kata yang tidak sejalan dengan ajaran Islam, maka harus ditolak.14) Lalu, apa kreteria nyanyian yang haram? Nyanyian haram yaitu nyanyian yang disertai kemaksiatan atau kemungkaran, baik berupa perkataan (qaul), perbuatan(fi’il) atau sarana (asyya’). Misalnya nyanyian itu disertai khamr (minuman keras), penampakan aurat, ikhtilath (campur-baur pria-wanita) atau syairnya bertentangan dengan syara’. Misalnya mengajak pacaran, dsb.

Ada juga sebagian ulama berpendapat, mendengarkan nyanyian itu  tidak haram secara mutlak. Sebab yang dimaksud itu perkataan yang melalaikan dari ibadah kepada Allah Swt dan berbuat kebajikan. Apabila tidak melalaikan dari beribadah dan amal kebajikan, maka tidak diharamkan.15) Pengasuh Pondok Pesantren Qothrotul Falah yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak 2012-2017, KH. Achmad Syatibi Hambali mengatakan: “Semua yang menjadikan kita jauh dari jalan Allah Swt, apalagi sampai meninggalkan shalat, apapun alasannya, maka itu tidak diperbolehkan, baik karena musiknya atau selainnya”.16)

Toleransi Lewat Seni

Saya ingin mengutip kisah Candra Malik, seorang penyanyi sufi. Dalam musik religinya, ia mengajak gitaris Dewa Budjana yang merupakan penganut Hindu yang taat untuk terlibat dalam karyanya. Dalam salah satu lagunya, ia juga memadukan paduan suara gereja dari Bandung untuk menyanyikan lagu Syahadat Cinta. Artinya, nuansa religi seharusnya menjadi kesempatan yang terbuka bagi siapapun untuk berkarya bersama.

Tidak seharusnya, atas nama Islam semua jenis musik dilarang, karena sesungguhnya Muhammad Saw itu diturunkan ke muka bumi sebagai Rasul Allah, bukan Rasul Islam, bukan juga Nabi Allah, apalagi Nabi Islam, melainkan ia sebagai karunia bagi alam semesta. Muhammad bukan hanya sebagai rahmatan lil muslimin, namun sebagai rahmatan lil ‘alamin,17) yang karenanya juga mentolerir seni sebagai media silaturahim antar berbagai golongan, seperti yang dicontohkan Candra Malik dengan Dewa Budja atau dengan Paduan Suara Gereja.

Ini sekedar bukti kecil bagi kita, bahwasannya Islam merupakan anugerah Allah yang bisa dinikmati oleh siapapun, sebagaimana dikatakan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur; “Islam yang ramah, bukan yang marah”. Hal sama dikatakan Kiai muda dari Ponpes al-Mizan Ciborelang Majalengka, KH. Maman Imanul Haq Faqih, bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, yang mencintai sesama walaupun berbeda. “Islam kami adalah Islam yang selalu mengajak tersenyum kepada semua hamba Allah. Islam kami adalah Islam yang menyembah Allah Rabbul ‘alamin. Islam kami adalah Islam yang tanpa kebencian,” jelas Kang Maman.18) Bahkan Kang Maman termasuk kiai muda yang cerdas dan lihai menciptakan seni, semisal Tarian Azan dan Tarian Qi Buyut. Inilah islam, yang toleran terhadap seni dan mengizinkan seni sebagai media kebersamaan.

Maka dari itu, janganlah kita jadikan musik sebagai jalan menuju kebencian antar golongan, kemaksiatan dan jalan menjauhi Allah Swt. Jadikanlah musik sebagai sarana untuk meningkatkan ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan), wujud rasa kerinduan dan kecintaan kita kepada Allah dan para Rasul-Nya! Juga, jadikanlah musik sebagai bahasa jiwa kita untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta jagat raya ini. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 12 Februari 2013

END NOTE
* Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 15 Februari 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
** Aktivis Triple Ing Community, Penyiar Radio Qi FM 107.07 dan Siswi Kelas X-B SMA Qothrotul Falah asal Cikeusal Serang Banten.
1) “Islam dan Seni”, www.kangridwan.wordpress.com/2011/06/10
2) Nurul H. Maarif, dkk. “Mursyid Musisi Pengawal Tarekat” dalam Ragam Ekspresi Islam Nusantara (Jakarta: the Wahid Institute, 2007), h. 80.
3) M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung: Mizan, 2009), h. 385.
4) M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah (Ciputat: Lentera Hati, 2009), Jilid X, h.283.
5) Duta Masyarakat, Minggu, 27 Januari 2013, h. 4.
6) Duta masyarakat, Minggu, 27 Januari 2013, h. 4.
7) http://jurukunci4.blogspot.com/2012/09/5-dosa-besar-saat-masa-remaja
8) Ali Mustafa Yaqub, Fatwa-fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005), h. 264.
9) “Islam dan Seni”, www.kangridwan.wordpress.com/2011/06/10.
10) M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, h. 396.
11) Alwi Shihab, Islam Inklusif (Bandung: Mizan, 1418 H), h. 233.
12) Abdurrahman al-Baghdadi, Seni dalam Pandangan Islam (Ttp.: Tth.), h. 64-65.
13) M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Jilid X, h. 284.
14) M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, h. 396.
15) Ali Mustafa Yaqub, Fatwa-fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal, h. 264.
16) Wawancara penulis dengan KH. Ahmad Syatibi Hambali di kediamannya, Minggu, 10 Februari 2013.
17) Duta Masyarakat, Minggu, 27 Januari 2013, h. 4.
18) Nurul H. Maarif, dkk. “Menggugah Toleransi Lewat Seni” dalam Ragam Ekspresi Islam Nusantara, h. 56.

DAFTAR PUSTAKA

al-Qur’an al-Karim
“Islam dan Seni”. www.kangridwan.wordpress.com/2011/06/10
al-Baghdadi, Abdurrahman. Seni dalam Pandangan Islam. Ttp.: Tth.
Duta Masyarakat. Minggu, 27 Januari 2013.
http://jurukunci4.blogspot.com/2012/09/5-dosa-besar-saat-masa-remaja
Nurul H. Maarif, dkk. “Mursyid Musisi Pengawal Tarekat” dalam Ragam Ekspresi Islam Nusantara. Jakarta: the Wahid Institute, 2007.
Shihab, Alwi. Islam Inklusif. Bandung: Mizan, 1418 H.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah. Ciputat: Lentera Hati, 2009.
Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Qur’an. Bandung: Mizan, 2009.
Wawancara dengan KH. Ahmad Syatibi Hambali, Minggu, 10 Februari 2013.
Yaqub, Ali Mustafa. Fatwa-fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2005.