Menjadi Remaja Produkti

KETIDAKJELASAN tujuan hidup selain egoisme dan apatisme, sepertinya cukup mewakili ratapan orang-orang yang tidak peduli dengan masa depan generasi muda. Mereka telah tenggelam dalam berbagai gaya hidup dan pola pergaulan yang hanya mencerminkan kenikmatan sesaat dan syahwat duniawi semata. Dekadensi moral yang sangat memperhatinkan terjadi di mana-mana.

Generasi muda kita telah terbenam dalam anggapan bahwa masa muda adalah masa penuh bunga dan kecerian, penuh permainan dan kesombongan. Bahkan, ketika negara ini hampir tenggelam dalam problematika yang begitu komplek, para remaja hanya menonton dari kejauhan, seakan seluruh permasalahan yang menimpa negara ini tidak memiliki hubungan sama sekali denganya. Sepertinya mereka tidak sempat memikirkan solusi dalam mengatasi problematika yang sangat rumit. Maka kita sebagai generasi penerus harus bersiap-siap memperjuangkan negara kita ini untuk kita bawa ke dalam keadaan yang lebih baik lagi.1)

Untuk Apa Masa Mudamu?
Perhatikanlah baik-baik sabda Rasulullah SAW berikut ini: “Tidaklah kaki manusia bergeser nanti pada hari kiamat dari hadapan Tuhannya, sebelum ditanya tentang empat hal: 1) tentang umurnya dipergunakan untuk apa; 2) Masa mudanya dihabiskan untuk apa; 3) Hartanya didapat dari mana dan dibelanjakan ke mana; 3) Apa yang dilakukan dengan ilmunya.”2)

Hadis di atas dikutip oleh Amr Khaled dalam karyanya, Buku Pintar Akhlak. Lihatlah bagaimana masa muda disebutkan secara khusus oleh Rasulullah SAW, padahal ia adalah sebagian dari umur itu sendiri. Apa maknanya? Tentu saja ini menunjukkan betapa pentingnya masa muda itu. Masa yang seharusnya dijadikan sebagai kunci kesuksesan, bukan masa yang disia-siakan begitu saja. Keberhasilan kita di waktu tua, adalah karena kerja keras kita di waktu muda. Karena itu, sebagian orang menyatakan: lebih baik kehilangan masa muda dari pada kehilangan masa depan. Ingatlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu!

Sesuai keterangan Hadis di atas, maka kelak Allah SWT akan menanyakan masa muda kita; untuk apa masa mudamu? Bagaimana kita harus menjawabnya? Maka jawaban yang tepat adalah dengan mempergunakan masa muda kita untuk hal-hal yang positif; menjalankan seluruh perintah Allah dan meninggalkan segala larangannya, pun bekerja keras untuk kebaikan semua manusia. Jika ini sudah kita lakukan dengan baik, maka kita akan mudah menjawab pertanyaan Allah SWT itu.

Penghambat Jalan Sukses
Mencermati perilaku remaja sekarang, tidak ada kata yang layak diucapkan kecuali prihatin atas apa yang mereka lakukan sebagai wujud moralitas mereka. Begitu rendahnya moralitas mereka sampai-sampai banyak di antara mereka yang tidak peduli akan masa depannya. Kebiasan merokok, berpoya-poya, nongkrong bareng teman di pinggir jalan, subhana Allah, terus-terang kita bertanya; pendidikan moral apakah yang mereka terima di sekolah mereka, sehingga ketika mereka keluar dari sekolahnya mereka berperilaku seperti itu? Tentu saja ini tidak terjadi pada seluruh remaja, namun tidak sedikit yang demikian.

Tentang remaja yang acuh pada masa depannya, Ali Mustafa Yaqub menuliskan dalam karyanya, Makan Tidak Pernah Kenyang, bahwa mereka tidak peduli bahwa di Indonesia masih ada lima puluh juta rakyat miskin. Belum lagi mereka yang melakukan kebiasan jelek, tampaknya bagi mereka yang penting happy dan “enjoy your life”. Orang lain terganggu dan sebagainya, itu bukan urusan mereka. Sekali lagi kita bertanya; pendidikan moral apakah gerangan yang menyebabkan mereka menjadi manusia-manusia egois yang hanya mementingkan diri sendiri?3)  

Karena hal-hal itulah semua, remaja sekarang tidak memikirkan lagi masa depannya mereka akan menjadi apa. Dengan kebiasaan jelek mereka, akhirnya mereka sendiri yang membunuh atau menghancurkan masa depannya. Tidak ada ceritanya, orang yang membuang-buang masa mudanya lantas otomatis mereka menjadi orang yang super sukses. Sebab itu, kita selagi mempunyai waktu yang panjang atau luang, mari kita manfaatkan waktu kita untuk menabung demi masa depan kita. Tanpa menabung, kita tidak akan merasakan kebahagiaan di dunia ini, apalagi mampu membahagiakan orang lain.  

Hidup Sekali Harus Berprestasi
Dikatakan oleh Amr Khaled dalam Buku Pintar Akhlak, banyak remaja berkeyakinan, bahwa jika kita memintanya untuk berkomitmen dengan ajaran agamanya dan konsisten dengan Islam, maka ini berarti ia harus melakukan i’tikaf (berdiam diri penuh khusyuk) di masjid dan konsisten untuk membaca al-Qur’an, berzikir dan melakukan shalat terus-menerus. Kemudian ia tidak peduli dengan sekolahnya atau kuliahnya dan menjadikan dalam daftar prioritas hanya dengan mempelajari ilmu agama secukupnya. Titik! Jelas yang demikian ini merupakan kekeliruan besar dan kesalahan yang nyata. Berprestasi di bangku sekolah atau kuliah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari Islam.4)

Dalam karyanya, Propethic Learning: Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian, Dwi Budiyanto menuliskan: “Kita diajarkan untuk bisa menjadi muslim   pembelajar.” Semangat kita dalam belajar adalah semangat untuk mendayakan kemampuan yang ada dalam diri kita.5)

Remaja Harus Mempunyai Visi-Misi
Seorang yang mau mengembangkan dirinya tentu memerlukan sebuah arah ke mana ia akan melangkah. Bila kita mempunyai visi-misi yang mengarahkan belajar kita, tentunya visi-misi ini juga akan mengarahkan kita untuk semakin mampu dan mau untuk berbagi-bagi dengan orang lain.

Dalam karyanya Remaja Membangun Kepribadian, Anas WS menceritakan kisah yang menarik dan menggugah kesadaran kemanusiaan kita. Ia menceritakan seorang anak kecil yang mampu menyelamatkan warga desanya saat tsunami menimpa Aceh. Anak ini mengingatkan apa yang dikatakan gurunya. Apa yang ia pelajari dari gurunya saat belajar Geografi begitu mengesan untuknya. Apa yang dipelajari di kelas, membuat ia mengerti tanda-tanda akan terjadinya tsunami. Menjelang tsunami menimpa Aceh, ia mengalami hal-hal yang sama seperti yang dikatakan gurunya. Saat itu tanda-tanda yang ia pelajari selama ini benar-benar terjadi. Maka ia meminta kepada warga desanya untuk menyelamatkan diri. Semua warga segera menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi. Mereka selamat karena anak kecil ini.6)

Bagaimana seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah, dia sudah mampu menjadi seorang yang berguna untuk warga desanya. Dengan ketekunannya dalam belajar di bidang Geografi, ia menjadi seorang pahlawan bagi warga desanya. Bayangkan, andaikan anak kecil itu tidak memahami gejala-gejala akan datangnya tsunami, apa yang akan teradi pada warga desanya itu? Inilah contoh kecil seorang remaja yang memiliki visi kuat untuk kebaikan orang lain. Semoga kita semua termasuk remaja-remaja yang bisa berguna bagi masyarakat, khususnya keluarga kita dan umumnya warga bangsa. Syaratnya, dari sejak dini kita harus memiliki visi-misi yang jelas dalam menjalani kehidupan ini.  

Bercermin Pada Generasi Pertama
Kebanyakan pergerakan dan perjuangan menuju perubahan terjadi melalui tangan dan perjuangan para  pemuda. Sekarang mari kita bersama-sama merujuk kepada generasi pertama, yaitu orang-orang yang hidup pada zaman Rasulullah Saw. Mereka, diantaranya adalah Zaid bin Tsabit.

Meski usianya masih relatif sangat muda, 13 tahun, dan badannya juga kecil, tapi dia sudah bisa menghapal al-Qur’an. Ia juga tekun membaca dan menulis. Di usia 13 tahun, Zaid, sapaan namanya, mendapatkan tugas yang sangat berat. Tugasnya adalah menulis ayat-ayat al-Qur’an. Setiap kali ayat-ayat al-Qur’an turun, Zaid pun menulisnya. Ia pun menjadi salah seorang penulis yang sangat masyhur. Bahkan dia menjadi Ketua Penulisan al-Qur’an pada zaman Abu Bakar dan Usman bin ‘Affan.

Waktu itu, ketika ia mengumpulkan al-Qur’an dalam satu kitab khusus, usianya baru 21 atau 22 tahun saja. Kalau ia hidup di zaman kita sekarang ini, barangkali ia belum memperoleh gelar sarjana dari fakultasnya. Namun demikian, di pundaknyalah diletakkan sebuah tugas penting yang tidak akan mampu dilakukan oleh profesor dan guru besar terkemuka.7)

Itu hanyalah sebuah contoh bagi kita untuk bisa mengikuti jejak beliau. Kita ini diciptakan sama. Kenapa kita tidak bisa seperti beliau, walaupun kita tidak bisa mengumpulkan atau merapikan ayat-ayat al-Qur’an, namun masih banyak yang harus kita rapikan, termasuk negara kita ini yang telah lama terpuruk dari segala sisinya, baik ekonomi, moralitas, hukum dan sebagainya.

Dalam kontek pemuda di Indonesia, mari kita bercermin kepada seorang tokoh yang bernama Bung Karno yang telah memperjuangkan negara kita ini dari penjajahan yang meresahkan negara kita hingga kita bisa merasakan seperti apa negara merdeka itu. Saat itu, usia Bung Karno juga relatif muda. Itu sebabnya, ia mengatakan: berikan aku sepuluh pemuda, akan aku goncang dunia. Dalam sejarah negeri ini, kita juga mengenal Sumpah Pemuda, yang diselenggarakan ada 10 Oktober, yang harus selalu kita ingat akan perjuangan pemuda-pemuda untuk terus mengobarkan bendera Merah Putih di negeri pertiwi ini.   

Semua itu bukan perjuangan yang gampang untuk meraihnya, karena nyawa mereka sendiri yang menjadi taruhannya. Untuk itu, sudah sepatutnya kita mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita dan sudah seharusnya kita mengenang jasa-jasa para pemuda yang telah menyelamatkan negeri kita tercinta ini. Jangan pernah sekali-kali terlintas dalam pikiran kita untuk melupakan perjuangan maha berat yang mereka jalani guna menegakkan kemerdekaan negeri ini.

Tanda-tanda Remaja Produktif
Di kalangan rejama, ada yang mampu berkarya dan ada yang sulit untuk mengembangkan potensi. Orang yang mempunya potensi dalam hal apapun harus segara menjadikannya sebagai bekal masa depannya. Karena semua manusia itu pada umumnya mampu. Tidak ada yang tidak mampu selagi ia mau berusaha untuk mendapatkan apa yang ia harapkan. Pada umumnya, Tuhan memberikan pikiran kepada manusia, seperti memberikan rizki, dimana tuhan akan memberikannya ketika ia mau berusaha untuk mendapatkannya. Tuhan tidak akan membiarkan ciptaan-Nya terpuruk dalam kesengsaraan dalam hidupnya.

Di bawah ini, kita akan menjadi saksi di mana seorang remaja yang mempunyai tanda-tanda remaja produktif yang harus segera dikembangkan untuk kehidupannya nanti. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan, yang dimaksud “produktif” adalah mampu menghasilkan sesuatu, mendatangkan dan memberikan hasil manfaat dan berkarya di usia muda.8) Dengan demikian, remaja yang pruktif adalah remaja yang mampu menghasilkan sesuatu yang positif bagi banyak orang, apapun bentuknya, juga bisa memberikan kemanfaatan untuk mereka, di usianya yang masih remaja.

Wuryanto, dalam the Touch of Super Mind menyatakan, sebenarnya manusia memang dianugerahi kekuatan pikiran yang sangat dahsyat dan bisa dimanfaatkan untuk kehidupannya dengan baik. Anugerah pikiran itu terletak di dalam otaknya. Kita bisa melakukan apapun dengan pikiran kita. Seperti keinginan kita untuk meraih cita-cita kita yang paling tinggi, menjadi lebih baik dan lebih bahagia dalam kehidupan kita. Mantan Presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln, pernah berkata: “Pada umumnya, kebahagian yang dirasakan orang sesuai dengan bagaimana mereka mengatur pikiranya.” Dengan demikian, siapapun yang bisa mengendalikan pikirannya maka dia akan menjadi orang yang bahagia.9)

Tidak mudah mengatur pikiran kita, karena secara ilmiah sudah diketahui bahwa pikiran manusia dibagi dalam dua kategori besar, yaitu pikiran sadar dan pikiran bukan sadar/bawah sadar. Kemudian juga, otak kita mempunyai tingkatan frekuensi/gelombang (brain wave) sesuai dengan aktivitas otak. Dalam perjalan ilmiah, akhirnya diketahui bahwa pada tingkatan frekuensi/gelombag otak ada otak beta dan alpha; theta dan delta. Yang mana hal itu terlihat jelas dengan pengukuran lewat alat electroencephalograp yang lebih dikenal EEG.10) Jika kita mampu mengatur kategori pikiran kita dan mengelola frekuensinya dengan baik, maka kita akan menjadi orang yang bahagia dan sukses.

Mengapa Harus Menjadi Remaja Produktif?
Bayangkan jika kita menjadi seorang remaja yang tidak berguna dan tidak dibutuhkan di lingkungan kita, maka kita bagaikan sampah yang tidak mempunyai arti sama sekali. Karenanya sebagai seorang remaja, kita harus segera mengambil ancang-ancang untuk menjadi seorang remaja yang berguna dan dibutuhkan untuk lingkungan sekitar kita. Dengan menjadi remaja produktif, kita akan menemukan banyak makna kehidupan ini. Pertanyaannya: kenapa kita kita harus menjadi seorang remaja produktif dan bagaimana caranya?

Jawaban untuk pertanyan ini adalah karena hanya dengan menjadi remaja produktiflah kehidupan yang sedang kita jalani menjadi berarti, bermakna, bermanfaat dan dibanggakan oleh banyak orang. Dengan menjadi remaja produktif, kita dituntut untuk menelusuri hidup kita, mengemukakan potensi-potensi, kelebihan-kelebihan diri, untuk kita wujudkan dalam potret diri kita yang seutuhnya.11)

Semua orang ingin merasakan kehidupan bahagia dan bisa membahagiakan orang yang ada di sekitarnya. Kita semua bisa membayangkan betapa pentingnya menjadi seorang yang benar-benar manusia, yaitu orang yang bermanfaat untuk sesamanya. Untuk itu, tak ada alasan lain kecuali kita harus menjadi remaja yang produktif.

Kita Diciptakan untuk Menjadi Remaja Produktif
Ada penjelasan menarik yang disampaikan oleh Imam Ratroso dalam karyanya Remaja Unggul Kamukah Itu? Ia menuliskan, masih ingatkah dengan terbentuknya diri kita tatkala dalam masa kandungan? Dijelaskan, bahwa kita -- atas kuasa tuhan -- tercipta melalui proses pertemuan sel seks pria (spermatozoa) yang dihasilkan ayah kita dengan sel seks wanita (sel indung telur) yang dimiliki ibu kita. Dalam satu kali pertemuan kedua sel itu, kemungkinan terjadi pembuahan atau terciptanya  manusia adalah 1.300 triliun. Bila terjadi pembuahan, maka pasangan kedua sel itu telah berhasil melalui proses penyeleksian dan mengalahkan 299 triliun pasangan sel seks lainnya. Bila telah terjadi pembuahan, maka boleh dikatakan bahwa pasangan sel yang kemudian menjadi janin itu adalah bibit produktif/unggul. Bibit terbaik dibandingkan dengan pasangan sel seks lainnya. Berarti sebenarnya semua manusia yang ada di muka bumi ini telah menjadi manusia-manusia  produktif pilihan Tuhan untuk menjadi  manusia pengelola bumi dan kehidupan. Dan itu termasuk kita tentunya.

Coba kita renungkan lagi lebih dalam. Tidak mungkin Tuhan menciptakan segala sesuatu tanpa ada maksudnya. Tidak mungkin Tuhan mengadakan sesuatu dalam keadaan sia-sia, termasuk kehadiran kita sekarang ini di muka sebagai remaja, tentu saja ada maksudnya. Tugas kitalah untuk menemukan untuk tujuan apa sejatinya kita diciptakan. Persoalannya; paham dan sadarkah kita dengan kenyatan ini? Bahwa kita sejak awal sudah diinginkan Tuhan untuk menjadi remaja produktif? Bahwa kita tidak punya alasan lagi merasa minder, kurang percaya diri, malas atau takut menghadapi kehidupan. Bahwa Tuhan pun sedang menyaksikan bagaimana kita mempertanggungjawabkan anugerah-Nya ini dengan perbuatan dan karya nyata yang bermanfaat bagi orang lain. Wa Allah a’lam.[]  

Cikulur, 17 Februari 2013

END NOTE
* Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 22 Februari 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
** Aktivis Triple Ing Community, Pengurus Pondok Baca Qi Falah dan Siswa Kelas XI IPS SMA Qothrotul Falah asal Cikeusal Serang Banten.
1)    Raghib As-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman (Solo: Pustaka Aqwam, 1995), h. 128.

2)    Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak (Jakarta: Pustaka Zaman, 2010), h. 382.
3)    Ali Mustafa Yaqub, Makan Tidak Pernah Kenyang (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2010), h. 199.
4)    Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak, h. 387.
5)    Dwi Budiyanto, Prophetic Learning: Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian (Yogjakarta: Pro-U Media, 2007), h. 897.
6)    Anas WS, Remaja Membangun Kepribadian (Jakarta: Nobel Edu Media, 2008), h. 22.
7)    Raghib As-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman, h. 101.
8)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 1386.
9)    Wuryanto, the Touch of Super Mind (Jakarta: Gramedia, 2006), h. ix.
10)    Wuryanto, the Touch of Super Mind, h. ix.
11)    Imam Ratroso, Remaja Unggul Kamukah Itu? (Jakarta: Nobel Edu Media, 2008), h. 42-43.

DAFTAR PUSTAKA
Amr Khaled. Buku Pintar Akhlak. Jakarta: Pustaka Zaman, 2010.
Anas WS. Remaja Membangun Kepribadian. Jakarta: Nobel Edu Media, 2008.
As-Sirjani, Raghib. Menjadi Pemuda Peka Zaman. Solo: Pustaka Aqwam, 1995.
Dwi Budiyanto. Prophetic Learning: Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian. Yogjakarta: Pro-U Media, 2007.
Imam Ratroso. Remaja Unggul Kamukah Itu?. Jakarta: Nobel Edu Media, 2008.
Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
Wuryanto. the Touch of Super Mind. Jakarta: Gramedia, 2006.
Yaqub, Ali Mustafa. Makan Tidak Pernah Kenyang. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2010.