Penurunan Relijiusitas Remaja

YULIKUSPARTONO, dalam karyanya Aku Bisa, menuliskan bahwa remaja yang merupakan penerus bangsa dan secara lebih spesifik adalah penerus agama Islam, ternyata betul-betul sudah (semoga saja tidak benar) banyak yang meninggalkan kewajibannya, termasuk diantaranya tidak menunaikan shalat yang merupakan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Penciptanya. Astaghfirullah!

Diceritakannya, ketika ia berbagi pengalaman bersama siswa-siswi, mahasiswa-mahasiswi dan juga karyawan-karyawati tentang materi Live is Choice, ia menyempatkan diri bertanya;  “Hayooo jujur, siapa yang pagi ini tidak menunaikan shalat subuh?” Sebuah pilihan dalam hidup yang saat Anda terbangun dari tidur atau tepatnya dibangunkan oleh Sang Pemilik hidup, setelah bangun kita sudah di hadapan sebuah pilihan “bersyukur atau tidak”. Shalat bukanlah pilihan. Shalat adalah kewajiban bagi umat muslim,1) apalagi sudah baligh. Namun, ternyata jawabannya di luar dugaan saya. Saya takjub dan kaget luar biasa, karena sebagian dari peserta training menunjukkan tangannya, bahwa mereka tidak menunaikan shalat Subuh dan shalat fardhu lainnya. Seolah mereka tidak merasa berdosa dan malu.

Masih menurut Yulikuspartono, ia mengakui meraka jujur. Itu cukup membanggakan. Hanya, yang ia ragukan jawaban mereka; apakah ini jujur atau apakah mereka sudah sedemikian mudahnya meninggalkan shalat, sehingga tanpa rasa malu dan berdosa mereka mengangkat tangannya? Ia, seperti diceritakannya, sempat tertegun sejenak, bertanya dalam hati dan ingin marah luar biasa, karena sesungguhnya mereka sedang menghancurkan agamanya, Islam. Ini bukan cuma salah mereka, tapi bisa jadi kesalahan kita semua. Di rumah, ada orang tua, kakak-adik atau famili.

Di lingkungan sekolah ada guru, teman atau sahabat. Bisa jadi mereka juga sering meninggalkan shalat. Ayah dan ibu pun tidak lagi menghiraukan anaknya yang belum shalat. Mereka tidak saling mengingatkan untuk menunaikan kewajiban shalat. Bukannya saat Subuh mereka ada di rumah dan saat itu orang tuanya juga sedang di rumah? Jadi, jangan-jangan ayah, ibu atau anggota keluarganya yang lain, juga tidak melaksanakan shalat Subuh. Astaghfirullah. Yulikuspartono lantas mengutip Hadis yang menyatakan: “Siapa meninggalkan shalat, maka sesungguhnya ia sedang merobohkan pilar agamanya. Dirikanlah shalat karena sesungguhnya shalat adalah tiang agama, pencegah perbuatan yang keji dan mungkar.”2)

Apa yang diceritakan oleh Yulikuspartono, memang benar adanya. Sangat mudah kita menemukan generasi muslim yang begitu enjoy ketika tidak menjalankan ketaatan pada Tuhan-Nya. Mereka tak jarang mengakuinya dengan bangga dan bahkan jujur. Fenomena ini benar-benar sangat memprihatinkan, karena kita sebagai generasi muslim telah lalai menjalankan kewajiban Allah SWT. Karena itu, mulai detik ini kita harus mengoreksi sikap keberagamaan kita yang selama ini cenderung merosot.

Tujuan Awal Penciptaan Manusia
Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Ini dijelaskan melalui firman-Nya dalam Qs. Adz-Dzariyat: 56: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku.” Ayat ini menjelaskan, Allah SWT tidak menciptakan jin dan manusia untuk satu manfaat yang kembali kepada-Nya. Ia tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar senantiasa beribadah kepada-Nya. Inilah tujuan dasar penciptaan manusia, yang semestinya senantiasa dijadikan sebagai acuan dalam menjalani kehidupan ini.

M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menuliskan, Sayyid Quthb menjelaskan bahwa ibadah bukan hanya terbatas pada pelaksanaan tuntunan ritual, karena jin dan manusia tidak menghabiskan waktu mereka dalam pelaksanaan ibadah ritual belaka. Allah tidak hanya mewajibkan mereka melakukan hal tersebut. Dia mewajibkan kepada mereka aneka kegiatan lain yang menyita sebagian besar hidup mereka. Memang, kita tidak mengetahui persis apa batas-batas aktivitas yang dibebankan kepada jin. Tetapi, kita dapat mengetahui batas-batas yang diwajibkan kepada manusia, yaitu yang dijelaskan dalam al-Qur’an tentang penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi. Ini menuntut aneka ragam aktivitas penting guna memakmurkan bumi.

Tugas kekhalifahan itu termasuk di dalamnya adalah ibadah. Dengan demikian, hakikat ibadah mencakup dua hal pokok. Pertama, kemantapan makna penghambaan diri kepada Allah dalam hati setiap insan. Kedua, mengarah kepada Allah dengan setiap gerak pada nurani, pada setiap anggota badan dan setiap gerak dalam hidup. Semua hanya mengarah kepada Allah secara tulus. Dengan demikian, terlaksana makna ibadah dan menjadikan setiap amal bagaikan ibadah ritual.3)

Dalam al-Qur’an dan Tafsirnya dijelaskan, ayat ini menegaskan bahwa Allah tidak menjadika jin dan manusia melainkan untuk mengenal-Nya dan agar menyembah-Nya. Dalam kaitan ini, Allah SWT berfirman: “Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (Qs. at-Taubah/9: 31). Maka, setiap makhluk baik jin maupun manusia wajib tunduk kepada peraturan Tuhan dam merendahkan diri terhadap kehendak-Nya. Ayat tersebut mengingatkan perintah mengingat Allah Swt dan memerintahkan manusia agar melakukan ibadah kepada-Nya.4)

Sayangnya, seperti dituliskan oleh A’idh al-Qarni dalam karyanya Menuju Puncak, umat Islam sekarang – terutama golongan remajanya – tidak mengindahkan perintah shalat. Enggan menuju seruan hayya ‘alash shalah (marilah kita mendirikan shalat), hayya ‘alal falah (marilah kita menuju kemenangan). Menurut A’idh al-Qarni, ketika umat Islam mulai enggan melakukan shalat Subuh dengan berjamaah, saat itu pulalah mereka telah keluar dari bingkai kesatuan umat Islam dan tidak mungkin bisa bertahan melawan musuh serta meraih kemenangan yang didambakan. Kemenangan hanyalah dari Allah dan umat Islam yang taat adalah mereka yang terbiasa melaksanakan shalat Subuh berjamaah pada waktunya. Karena itu, tidak ada tidur setelah fajar menyingsing.5)

Beberapa Kasus dan  Faktor Penurunan Relijiusitas Remaja
Yang dimaksud relijiusitas dalam artikel ini, seperti dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah pengabdian pada agama atau kesalehan.6) Menurut al-Qur’an, jati diri manusia yang paling asasi adalah manusia sebagai makhluk relijius, spiritual atau ruhani. Man is a spirit being. Tanpa ruhani, manusia tak ubahnya seperti tumbuh-tumbuhan atau hewan. Kehadiran ruhani yang pada dasarnya baik, mempunyai misi memimpin seluruh organ tubuh dan jiwa untuk berbuat kebaikan dan menyebarkan kasih Tuhan kepada seluruh alam.7) Dengan demikian, yang penulis maksudkan dengan penurunan relijiusitas remaja dalam artikel ini adalah pengabdian pada agama atau kesalehan di kalangan remaja yang sudah mulai menurun, tidak terlalu taat dan cenderung lebih mengabaikan kewajiban-kewajiban agamanya. Penurunan inilah yang menjadi titik fokus tulisan ini.

Salah satu penurunan relijiusitas remaja yang sering kali kita lilhat adalah jarang sekali mereka melaksanakan ibadah shalat, puasa, dan dangkal sekali pengetahuan tentang ilmu agamanya. Salah satu contohnya, adalah di masjid jarang sekali ada remaja yang shalat berjamaah, karena remaja sekarang lebih mementingkan nongkrong di jalanan dari pada di masjid.8) Padahal Allah telah menciptakan manusia dengan dua unsur yaitu akal (pikiran) dan hawa nafsu. Tetapi di zaman sekarang ini remaja lebih cenderung mengutamakan hawa nafsunya dibandingkan akal pikirannya, sehingga tanpa disadari remaja telah membenarkan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan.9)

Pada dasarnya, hawa nafsu itu sendri adalah anugerah Tuhan kepada manusia. Sebagai sebuah anugerah, maka tentulah tidak sia-sia Allah memberikannya kepada manusia. Akan tetapi, yang perlu diingat, bahwa di dalam hawa nafsu itu ada aspek-aspek yang jika di-blow up secara berlebihan, justru dapat membuat manusia jadi liar dan tak terkendali.10) Memang Rasulullah Saw bersabda: “Jika kamu sudah tidak merasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” Tetapi Imam Nawawi menjelaskan dalam karyanya Syarah Arbain Nawawiyah, jika kamu sudah tidak merasa diawasi oleh Allah SWT, maka turuti saja keinginanmu dan lakukan sesukamu. Riwayat Hadis ini adalah perintah bernada ancaman, bukan memperbolehkan. Tetapi remaja sekarang malah salah mengartikan riwayat tersebut.11)

Itu hanya beberpa kasus penurunan relijiusitas remaja. Jika kita telusuri lebih dalam lagi, maka akan ditemukan lebih banyak lagi kasus-kasus lainnya yang menjelaskan hal ini. Inilah yang harus menjadi keprihatinan bersama. Jika kewajiban agamanya saja sudah diabaikan, bagaimana dengan hal-hal lainnya? Makanya tidak heran, jika akhlak merekapun kian hari kian merosot, karena hal-hal yang seharusnya mereka laksanakan justru diabaikan. Shalat misalnya, itu akan membentuk pribadi yang luhur dan berakhlak mulia. Jika shalat ditinggalkan, maka akhlak yang luhur sulit terbentuk.

Sedangkan faktor yang menyebabkan penurunan relijiusitas remaja, salah satunya adalah budaya asing, paham-paham asing dan minimnya pengetahuan tetang agama.12) Termasuk juga beberapa media. Salah satunya media televisi. Biasanya banyak acara televisi, terutama tayangan sinetron yang tidak mengedepankan nilai-nilai pendidikan agama. Tetapi, hanya sekedar mengejar sisi rating dan bisnis semata. Akibatnya, banyak sinetron yang menayangkan film bertemakan cinta remaja dan itu biasanya ditonton oleh remaja kita, sehingga timbul keinginan untuk meniru apa yang terjadi dalam cerita sinetron itu.13)

Tayangan seperti itu, sudah tentu memberikan dampak yang sangat besar bagi kalangan remaja. Apalagi tayangan cerita seperti itu disiarkan pada jam sibuk, sehingga sebagian besar remaja menontonnya. Imbasnya sudah tentu kepada penurunan moral keagamaan generasi muda. Selain tayangan televisi, media lainnya yang menyebabkan terjadinya penurunan relijiusitas remaja adalah HP dan internet. Keduanya juga berperan merusak sisi keberagamaan generasi muda. Dengan HP, anak-anak akan mudah mengakses berbagai informasi, tidak terkecuali hal-hal yang negative. Begitu juga warnet, yang ternyata situs-situs porno tidak semuanya diblokir, dan sebagian warnet masih dengan sangat mudah untuk diakses.14) Hal-hal ini juga akan menjadikan anak-anak muda lalai pada kewajiban agamanya. Mereka lebih senang berlama-lama di depan HP atau warnet, dari pada berlama-lama di dalam masjid atau di depan al-Qur’an. Sebab itu, inilah saatnya kita bahu-membahu menyelamatkan generasi muda dari cengkraman bahaya.

Kita harus mengarahkan remaja untuk melakukan hal-hal yang positif baik bagi diri maupun masyarakatnya. Jangan sampai mereka kian jauh dari ajaran agama. Apalagi, remaja itulah yang kelak akan menjadi penanggungjawab kehidupan ini. Mereka harus mulai memikirkan masa depannya. Dalam sebuah syair Arab disebutkan: “laisal fataa man yaquul kaana abiy # walakin al fataa man yaquul haa ana dza” (Pemuda bukanlah mereka yang bangga dengan karya bapak moyangnya. Pemuda adalah mereka yang tampil menunjukkan usaha dan karyanya sendiri).15) Jika mereka terus-menerus melalaikan ajaran agamanya, padahal itu untuk kepentingan dirinya, maka generasi yang hidup di masa sekarang sama halnya tidak bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Mencegah Penurunan Relijiusitas Remaja
Banyak cara untuk mencegah penurunan relijiusitas remaja. Tentunya peran orang tua sangat penting sekali dalam hal ini, termasuk dengan cara mengawasi, memberi pemahaman dan penanaman nilai-nilai agama agar generasi muda sekarang selamat dari pengaruh seperti itu. Ada juga cara lain yang bisa mencegah penurunan relijiusitas remaja, antara lain sebagai berikut:

1.    Merasakan Kehadiran Allah
Mereka yang bertanggungjawab dan cerdas secara ruhaniyah, akan merasakan kehadiran Allah di mana saja mereka berada. Karena tentu saja, perasaan kehadiran Allah di dalam qalbu tidak datang begitu saja, melainkan harus dilatih melalui keheningan batin. Anda tidak mungkin menangkap bayangan di atas air yang deras. Tetapi, tengoklah gambar wajah Anda yang utuh ketika air tenang, bening dan tidak ada riak sedikit pun. Begitu juga dengan melatih qalbu untuk merasakan kehadiran Allah. Ia hanya mungkin diperoleh ketika keadaan jiwa dalam kondisi kontemplatif, bening dan menarik diri. Rasulullah bersabda: “Beribadahlah engkau seakan-akan engkau melihat Allah. Jika engka tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Allah senantiasa melihatmu.”16)

2.    Berdzikir dan Berdo’a
Dzikir memberikan makna kesadaran sendiri ”aku di hadapan Tuhanku”, yang kemudian mendorong dirinya secara sadar dan penuh tanggungjawab untuk melanjutkan misi hidupnya yang dinamis, yaitu memberi makna melalui amal-amal saleh. Dzikir bukan hanya sekedar ritual, tetapi sebuah awal dari perjalanan hidup yang aktual.17) Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah. Lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada dirinya mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Qs. al-Hasyr: 19).

3.    Memiliki Kualitas Sabar
Janganlah diartikan bahwa sabar adalah sebuah kondisi fatalisme (pasrah total), seakan-akan tidak mau berbuat apa-apa kecuali berdiam diri menyerah dan berputus asa. Sabar berarti terpatrinya sebuah harapan yang kuat untuk menggapai cita-cita. Dalam Bahasa Arab, asa dapat diartikan sebagai cita-cita atau harapan, sehingga orang yang berputus asa berarti orang yang kehilangan harapan atau terputusnya cita-cita. Sabar berarti tidak bergeser dari jalan yang mereka tempuh. Sabar berkaitan pula dengan masa depan,18) sebagaimana firman-Nya: “Bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar”. (Qs. al-Mu’min: 55).

4.    Cenderung Melakukan Kebaikan
Orang-orang yang bertakwa (bertanggungjawab) adalah tipe manusia yang selalu cenderung kepada kebaikan dan kebenaran (hanif). Sabda Rasulullah Saw: “Jadikan hidup hari ini lebih baik dari hari kemarin dan jadikan hari esok lebih baik lagi dari hari ini”. Seakan-akan menembus qalbunya dan menjadi hiasan nuraninya setiap detik. Mereka merasakan kerugian yang dahsyat ketika waktu berlalu begitu saja tanpa ada satu pun kebaikan yang dilakukannya. Dalam hal ini, Allah mengaitkan antara takwa dan perbuatan baik. Allah SWT berfirman: “Siapa yang bertakwa dan melakukan kebaikan.” (Qs. al-A’raf: 35). Bertakwa atau bertanggungjawab berarti berupaya sekuat tenaga untuk melaksanakan kewajiban sedemikian rupa, sehingga menghasilkan kinerja yang terbaik.19)

Kewajiban Memaknai Kehidupan
Shohibul Faroji dalam karyanya Menuju Pencerahan Ruhani mengibaratkan perjalanan hidup manusia bagaikan kisah penyelam mutiara. Seorang penyelam mutiara dalam melaksanakan tugasnya selalu dibekali tabung oksigen yang terpasang di punggungnya. Pada saat ia terjun menyelam, niatnya bulat ingin mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya. Tetapi begitu ia berada di bawah permukaan laut, ia mulai lupa pada yang harus dicarinya. Mengapa? Ternyata pemandangan di dalam laut sangat mempesona. Bunga karang yang melambai-lambai seolah-olah memanggilnya. Ikan-ikan hias yang berwarna-warni yang saling berkejaran dengan riangnya membuatnya terpesona. Ia pun lalu terlena ikut bercanda ria melupakan tugas semula untuk mencari tiram mutiara yang berada jauh di dasar laut sana.

Hingga pada suatu saat, dia terkejut manakala disadarinya oksigen yang berada di punggungnya tinggal sedikit lagi. Timbullah rasa takutnya. Tak terbayangkan olehnya bagai mana kemarahan majikannya kelak bila ia muncul ke permukaan tanpa membawa tiram mutiara sebanyak yang diharapkannya. Maka dengan tergopoh-gopoh ia berusaha mencari tiram mutiara yang ada di sekitarnya. Namun sayang, kekuatan fisiknya sudah lemah, energinya sudah habis terkuras bercanda ria dengan keindahan alam bawah laut.

Akhirnya isi tabung oksigennya benar-benar habis, sehingga walaupun tiram mutiara yang diperolehnya sangat sedikit, ia mau tidak mau harus muncul ke permukaan. Malangnya lagi, karena tergesa-gesa dia tidak sempat mengikat kantongnya dengan baik, sehingga tersenggol ikan yang bersileweran di sampingnya, tiram mutira yang sudah didapatnya dengan susah payah itu sebagian tertumpah keluar.

Di permukaan majikannya telah menunggu. Begitu dilihatnya isi kantong si penyelam tidak berisi tiram mutiara sebagaimana yang ia harapkan, maka tumpahlah caci makinya. Dan saat itu juga si penyelam dipecat tanpa pesangon sedikitpun! Tentu saja dapat kita bayangkan, bagaimana gundahnya perasaan si penyelam. Dengan penuh rasa penyesalan,si penyelam berusaha meminta maaf dan kesempatan ulang untuk menyelam kembali; “Tuan, ijinkanlah aku untuk menyelam kembali. Pasti aku akan mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya”. Namun dengan tegasnya majikan menolak; “Percuma engkau aku beri kesempatan, ternyata engkau hanya pandai membuang-buang oksigen saja!”.

Kisah ini merupakan metafora dari hakikat kehidupan kita di dunia. Tabung oksigen adalah perlambangan jatah umur manusia. Tiram mutiara merupakan pahala yang harus kita kumpulkan. Juga merupakan simbol dari ma’rifatullah yang perlu dicari dengan sungguh-sungguh. Dan tiram mutiara yang tumpah mengumpamakan pahala yang hilang karena riya’. Sedangkan keindahan yang ada di dalam lautan merupakan lambang godaan-godaan kenikmatan duniawi dengan harta, tahta dan kenikmatan lainnya. Sudah cukuplah tiram mutiara yang kita peroleh, sehingga apabila suatu saat kita harus muncul ke permukaan menemui majikan kita, Allah Swt? Dia ridha menerima kita atau tidak?  Apalagi Allah SWT telah berfirman dalam Qs. al-Ankabut: 64: “Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui.”20)

Jika para remaja tidak bisa memaknai kehidupannya dan lupa pada tujuan awal penciptaannya, dan bahkan terlena dengan keindahan duniawi, maka ia akan menjadi seperti penyelam yang lupa mendapatkan mutiara, sementara oksigen kian menipis dan majikan telah menunggunya di permukaan. Apakah remaja-remaja yang seperti ini akan mendapatkan bonus dari majikannya kelak? Atau justru mendapat sanksi? Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 24 Februari 2013

END NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 1 Maret 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Aktivis Triple Ing Community, Pengurus Pondok Baca Qi Falah, Aktivis PMR dan Siswi Kelas X-B SMA Qothrotul Falah.
1)    Allah SWT berfirman: Laksanakanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula shalat) shubuh. Sungguh, shalat Subuh itu (disaksikan) malaikat.(Qs. al-Isra’: 78).
2)    Yulikuspartono, Aku Bisa (Jakarta: Raih Asa Sukses, 2012), Cet. Ke-3, h. 82-83.
3)    M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah (Ciputat: Lentera Hati, 2009), Jilid XIII, h. 112-113.
4)    Tim Pentafsir Depag RI, al-Qur’an dan Tafsirnya (Jakarta: Lembaga Percetakan al-Qur’an Departemen Agama, 2009), Jilid IX, h. 488.
5)    A’idh al-Qarni, Menuju Puncak (Solo: Aqwam, 2005), h. 21-22.
6)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 944.
7)    Komarudin Hidayat, Psikologi Beragama (Bandung: Hikmah Popular, 2006), h. 101-102.
8)    Wawancara Penulis dengan Guru Sosiologi, Romo Kamilin di sela-sela waktu istirahat mengajarnya, di SMA Qothrotul Falah, Minggu, 03 Februari 2013.
9)    Wawancara Penulis dengan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak, K.H. Achmad Syatibi Hambali di kediamannya, Minggu, 02 Februari 2013.
10)    Abu Azka Fathin Mazayasyah, Siasat Setan (Yogyakarta: Ramadhan Press, 2007), h. 57.
11)    Imam Nawawi, Syarah Arba’in Nawawiyah (Jawa Timur: Akbar Media, 2009), h.115.
12)    Wawancara Penulis dengan Guru Sosiologi, Romo Kamilin di sela-sela waktu istirahat mengajarnya di SMA Qothrotul Falah, Minggu, 17 Februari 2013.
13)    “Kemerosotan Akhlak di Kalangan Remaja,” www.kangahmad.wordpress.com/2011/06/10.
14)    “Kemerosotan Akhlak di Kalangan Remaja,” www.kangahmad.wordpress.com/2011/06/10.
15)    Saiful A. Imam, the Agent of Change (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2005), h.108.
16)    Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Jakarta: Gema Insan, 2001), h.14.
17)    Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, h.17-18.
18)    Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, h.29.
19)    Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, h.33.
20)    Shohibul Fahroji, Menuju Pencerahan Ruhani (Ciputat: Islamic Learning Center, 2007), h.33.

DAFTAR PUSTAKA

1.    al-Qur’an al-Karim
2.    “Kemerosotan Akhlak di Kalangan Remaja.” www.kangahmad.wordpress.com/2011/06/10.
3.    A’idh al-Qarni. Menuju Puncak. Solo: Aqwam, 2005.
4.    Imam Nawawi. Syarah Arba’in Nawawiyah. Jawa Timur: Akbar Media, 2009.
5.    Komarudin Hidayat. Psikologi Beragama. Bandung: Hikmah Popular, 2006.
6.    Mazayasyah, Abu Azka Fathin. Siasat Setan. Yogyakarta: Ramadhan Press, 2007.
7.    Saiful A. Imam. the Agent of Change. Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2005.
8.    Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah. Ciputat: Lentera Hati, 2009.
9.    Shohibul Fahroji. Menuju Pencerahan Ruhani. Ciputat: Islamic Learning Center, 2007.
10.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
11.    Tim Pentafsir Depag RI. al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Lembaga Percetakan al-Qur’an Departemen Agama, 2009.
12.    Toto Tasmara. Kecerdasan Ruhaniah. Jakarta: Gema Insan, 2001.
13.    Wawancara dengan Romo Kamilin, Minggu, 03 Februari 2013.
14.    Wawancara K.H. Achmad Syatibi Hambali, Minggu, 02 Februari 2013.
15.    Yulikuspartono. Aku Bisa. Jakarta: Raih Asa Sukses, 2012.