Etika Berbusana Remaja Muslim

PADA ZAMAN MODERN INI, zaman yang mulai kebarat-baratan, banyak remaja muslim yang tampak cuek dengan cara berbusana/berpakaian yang baik. Bahkan sebagian dari mereka merasa malu memakai busana yang islami. Di zaman yang mulai mengikuti orang-orang Barat, kaum muslimah khususnya, kerap kali mengumbar auratnya. Yang semestinya mereka malu karena telah menampakkan kehormatannya kepada orang lain, tetapi sekarang terbalik, malah mereka lebih malu dan merasa ketinggalan zaman jika tidak mengikuti tren zaman sekarang. Meskipun tidak semuanya begitu.

Tren dan perubahan zaman memang tidak bisa dihindari dan juga sangat mempengaruhi kalangan remaja muslimah. Banyak juga remaja yang menutupi auratnya dan memakai jilbab atau kerudung. Tetapi sering kali itu belum memenuhi kriteria yang telah ditentukan oleh Islam. Inilah yang membuat kekeliruan, perbincangan dan permasalahan di kalangan remaja sekarang ini.

Pengertian Pakaian
Pakaian adalah barang tertentu untuk menutupi anggota tubuh seseorang dari sengatan matahari dan dinginnya malam dengan memakai baju, celana dll. Definisi pakaian secara singkat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah barang apa yang dipakai (baju, celana, dll.).1) Pengertian pakaian tadi belum sepenuhnya menutupi aurat, baik aurat laki-laki maupun perempuan. Dalam masyarakat jarang sekali kita melihat mereka yang memakai pakaian dengan menutup auratnya, melainkan malah sekedarnya atau asal-asalan saja.

Memang benar, seperti diungkapkan di atas, zaman sekarang ini remaja banyak mengikuti gaya dan tren orang-orang Barat. Dalam karyanya, Jadilah Wanita yang Paling Bahagia, ‘Aidh bin ‘Abdullah al-Qarni mengatakan, jangan sekali-kali Anda terpedaya oleh pemikiran dan pakaian Barat. Semuanya adalah tipuan belaka untuk menjerumuskan kita secara perlahan, agar kita menjauhi agama kita.2) Nah, secara tidak langsung dan dengan perlahannya budaya Barat mengajak kita untuk bermaksiat dan untuk tidak lagi taat terhadap perintah Allah SWT, yang kalau kita fikir secara logika, itu semua akan sangat merugikan kita, karena dapat menghantarkan kita ke lubang yang sangat perih yaitu nerakanya Allah SWT. Apakah kita mau seperti itu?

Fungsi Pakaian

Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan pakaian yang baik untuk kita dan pakaian itu memiliki banyak fungsi. Dapat ditemukan fungsi pakaian dalam al-Qur’an dari sekian banyak ayat yang berbicara tentang pakaian. Misalnya, Qs. al-A’raf [7]: 26 yang artinya: “Wahai putra-putri Adam, sesungguhnya kami telah menurunkan kepadamu pakaian yang menutup auratmu dan juga (pakaian) bulu (untuk menjadi perhiasan) dan pakaian taqwa yang paling baik.

M. Quraish Shihab, dalam karyanya Wawasan al-Qur’an menjelaskan, ayat di atas setidaknya menjelaskan dua fungsi pakaian, yaitu sebagai penutup aurat dan sebagai perhiasan. Tetapi ada ulama yang mengatakan, bahwa ayat di atas menjelaskan tentang fungsi pakaian yang ketiga, yaitu fungsi taqwa. Maksudnya, pakaian dapat menghindarkan seseorang terjerumus ke dalam bencana dan kesulitan, baik bencana duniawi maupun ukhrawi.3)

Adapun ayat lain yang menjelaskan fungsi pakaian, yaitu fungsi pemeliharaan terhadap bencana dan dari sengatan panas dan dingin.4) Fungsi pakain ini diambil dari Qs. al-Nahl [16]: 81: Dia (Allah) menjadikan untuk kamu pakaian yang memelihara kamu dari sengatan panas (dan dingin), serta pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Fungsi pakaian yang terakhir diterangkan dalam Qs. al-Azhab [33]: 59: Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang mukmin agar mengulurkan atas diri mereka jilbab-jilbab mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka lebih mudah untuk dikenal (sebagai wanita muslimah atau wanita merdeka atau wanita baik-baik), sehingga mereka tidak diganggu oleh lidah atau tangan usil. Ayat ini menugaskan Nabi Muhammad SAW agar menyampaikan kepada istri-istrinya, anak perempuannya, serta wanita-wanita mukmin, agar mereka mengulurkan jilbab mereka.5)

Persoalannya, pada zaman sekarang ini, banyak remaja muslim memakai jilbab hanya untuk dijadikan perhiasan saja, bukan semata-mata karena mentaati perintah Allah SWT. Inilah ironisnya, jilbab hanya diniatkan untuk “main-main” yang tidak memiliki nilai ritual sama sekali, juga tidak diniatkan sebagai identitas kemuslimannya, sebagaimana telah diterangkan dalam banyak ayat al-Qur’an.

Fenomena Berbusana Remaja
Saat ini, hal biasa bagi remaja mengikuti tren dan gaya masa kini, karena sebagian remaja saat ini beranggapan bahwa dirinya merasa gagah jika tidak ketinggalan perkembangan zaman. Salah satu contoh dari sekian banyak perubahan zaman saat ini adalah model busana/pakaian remaja. Salah satu contohnya yaitu para wanita zaman ini sudah banyak yang cara berpakaiannya tidak wajar. Banyak yang berpakain namun terlihat auratnya. Bercelana atau memakai rok, namun kelihatan bagian lutut ke atas, yang seharusnya tidak baik untuk diperlihatkan. Tentu ini menjadi fenomena besar yang harus diatasi. Apakah ada sisi positifnya dari fenomena ini?

Kenegatifan dan dampak buruk yang diketahui bisa muncul malah ibarat ditantangin dan dilakukan. Para wanita yang memakai pakaian yang seksi atau yang agak terbuka bahkan setengah telanjang dikaitkan dengan beberapa kasus seperti pemerkosaan, pembunuhan, penculikan dll. Karena wanita yang memakai rok mini atau pakaian seksi banyak yang mengundang para lelaki hidung belang untuk melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya.

Pendapat wanita mengapa ia memakai rok mini atau pakaian yang seksi, penuh berbagai alas an. Ada yang bilang: “Kalau memakai pakaian serba panjang di siang hari terasa panas banget. Ini kan hak saya untuk memakai pakaian seperti ini. Kenapa kamu yang sewot? Orang tua saya aja tidak sewot”. Begitu banyak pendapat yang disampaikan oleh para wanita yang memakai pakaian seksi itu.

Pendapat para lelaki tentang wanita yang memakai pakaian seksi juga beragam. Ada yang bilang: “Lebih bagus karena bisa melihat tubuh wanita”. Ada tanggapan lain lagi: “Wanita yang memakai pakaian seksi terlihat lebih menantang.” Tapi ada tanggapan yang bagus juga: “Saya tidak menyukai wanita yang mengenakan pakaian seksi, karena itu tidak bagus dan juga melanggar ajaran agama.”6)

Terkait dengan menutut aurat ini, dalam Qs. al-A’raf: 22, Allah SWT berfirman: Setelah mereka merasakan (buah) pohon (terlarang) itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Dalam memahami ayat ini, M. Quraish Shihab menjelaskan, bahwa ide membuka aurat adalah ide setan dan karenanya tanda-tanda kehadiran setan adalah “keterbukaan aurat”. Dari ayat tadi para ulama menyimpulkan bahwa pada hakikatnya menutup aurat adalah fitrah manusia yang diaktualkan pada saat ia memiliki kesadaran. Dikisahkan pada ayat itu, Adam dan Hawa setelah melanggar titah Allah SWT, maka nampaklah auratnya. Lantas keduanya ingin menutupinya, bukan sekedar mengambil satu lembar daun untuk menutu auratnya (karena jika demikian pakaiannya adalah mini), melainkan sekian banyak lembar daun agar melebar dengan cara menempelkan selembar daun di atas lembar lain, sebagai tanda bahwa pakaian tersebut sedemikian tebal, sehingga tidak transparan atau tembus pandang.7) Karenanya, jika ada remaja muslim yang tidak menutup auratnya sebagaimana Adam dan Hawa menutupnya, maka berarti ia telah mengabaikan ajaran nenek moyang dan agamanya sendiri.

Fenomena Jilbab Remaja dan Kewajiban Mengenakannya
Salah satu anjuran al-Qur’an agar seseorang tidak didominasi oleh hasrat dan energi seks adalah dengan memelihara pandangan dan perintah untuk mengenakan jilbab. Secara umum, perintah ini terintegrasi dengan kesadaran penuh seorang mukmin untuk selalu bertobat dan menyucikan diri. Jilbab itu sendiri berasal dari Bahasa Arab yang artinya pakaian yang luas atau lapang. Jilbab harus menutupi kepala, leher, tengkuk dan dadanya. Memakai jilbab adalah peraturan dari Allah SWT yang dikhususkan bagi seluruh wanita muslimah, apakah dia keturunan bangsawan ataukah rakyat jelata, yang hidup di kota atau di desa.8) Pokoknya siapa yang mengaku dirinya muslimah, maka harus mengikuti peraturan yang termaktub dalam Qs. al-Ahzab ayat 59: Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang mukmin agar mengulurkan atas diri mereka jilbab-jilbab mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka lebih mudah untuk dikenal (sebagai wanita muslimah atau wanita merdeka atau wanita baik-baik).

Dalam buku Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad karya Moenawar Chalil disebutkan, ayat di atas diturunkan karena pada saat para istri Nabi Muhammad SAW, putri beliau dan kaum perempuan bangsa Arab umumnya, sebelum Islam datang, memakai baju kurung dengan kerudung yang dilepaskan dari kepala terulur ke belakang dan belahan baju dada yang di muka tinggal terbuka, sehingga terlihat belahan dadanya dengan tujuan agar kelihatan dadanya dan perhiasan yang dipakaianya seperti kalung yang ada di lehernya. Pakaian seperti itu menyebabkan mereka kadang-kadang diganggu oleh kaum lelaki yang tidak mempunyai kesopanan.9) Dengan mengenakan jilbab, maka kehormatan seorang wanita akan lebih terjaga.

Namun kini, kita melihat banyak wanita muslimah, terutama para remajanya, yang memakai jilbab bukan didasari oleh hatinya dan bukan karena mentaati perintah Allah SWT, melainkan mereka hanya mengikuti tren dan hanya ingin menutupi sifat aslinya saja. Ini sudah banyak contohnya di lingkungan kita, seperti para artis, anggota dewan sampai seorang yang terkena kasus narkoba, korupsi, atau menjadi tersangka, mereka menutup sifat aslinya dengan mengenakan jilbab. Sekarang ini banyak model jilbab yang membuat remaja ingin membeli dan memakainya, mulai dari warna, pernak-pernik dll. Dan itu dijadikan ajang pamer dan membuat dia menjadi riya.

Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kita termasuk ke dalam dua golongan penghuni neraka, yaitu kaum yang membawa-bawa cemeti laksana ekor sapi yang digunakan untuk memukul orang (maksudnya, para kaki tangan penguasa yang zalim) dan kaum wanita yang berpakaian, tetapi terlihat auratnya, cenkok dan jalannya melenggak lenggok, sedangkan kepalanya seperti puncuk onta yang miring (karena rambutnya dimodel sedemikian rupa). Mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium dari jarak sekian.”10)

Dengan demikian, seorang wanita muslimah tidak semestinya berlenggak-lenggok seperti onta, yang mengundang birahi lelaki, karena hal itu akan membahayakan kehidupannya di akhirat nanti. Islam telah mengatur cara berpakaian bagi muslimah, yang karenanya harus diikuti dengan sepenuh hati, apalagi tujuannya untuk kebaikannya sendiri baik di dunia maupun di akhirat.

Selain itu, Allah SWT menciptakan seorang wanita sebagai perhiasan bagi seorang laki-laki serta di dalam dirinya mengandung banyak aurat yang harus ditutupi. Aurat wanita itu sendiri adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan dua  telapak tangan. Dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari ‘Aisyah, Rasulullah Saw bersabda: Hai Asma’,  sesungguhnya perempuan itu apabila ia telah dewasa atau sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini (sambil menunjuk wajah dan tangan).”11)

Karakteristik Pakaian Islami
Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub dalam karyanya 25 Menit Bersama Obama menjelaskan, pakaian yang menutup aurat itulah pakaian yang baik. Tapi tidak sedikit wanita sudah merasa tertutup auratnya dengan memakai pakaian serba panjang dan menutup tubuhnya, padahal sebenarnya belum memenuhi syarat atau kriteria pakaian yang menutup auratnya atau pakaian yang islami. Islam tidak pernah mengamanatkan bentuk pakaian tertentu bagi umatnya. Yang ada hanya pemberian kriteria saja yaitu 4T: Tutup aurat, Tidak transparan (tembus pandang), Tidak ketat dan Tidak menyerupai pakaian lawan jenis. Apabila 4 kriteria ini sudah terpenuhi, maka pakaian model bajing loncat atau granat muncrat, itu sudah sesuai dengan ketentuan Islam.12)

Hal yang penting dicermati dari 4T, misalnya pengertian yang kedua, yaitu tidak transparan atau tembus pandang. Ini sering terjadi pada para wanita yang memakai pakaian panjang, tapi tipis alias transparan, sehingga warna kulitpun tampak jelas. Penulis ibaratkan orang yang memakai pakaian seperti ini, seperti kue yang dibungkus dengan plastik putih, sehingga kue itu terlihat warna dan bentuknya. Pakaian wanita juga tidak boleh ketat. Selain para wanita gemar memakai pakaian transparan, ada juga yang gemar memakai pakaian yang ketat, sehingga terlihat lekuk tubuhnya. Ini Penulis ibaratkan seperti lontong atau lepet, karena lepet ini bentuknya menonjol. Orang yang memakai pakaian ketat seperti ini, lejing, lepis dan semacamnya pasti terlihat lekuk tubuhnya dan menonjolkan bagian tubuh tertentu. Yang terakhir adalah tidak menyerupai lawan jenis. Wanita tidak boleh memakai pakaian laki-laki, begitupun sebaliknya.

Dalam karyanya, Jadilah Wanita yang Paling Bahagia, ‘Aidh bin ‘Abdullah  al-‘Qarni mengutip Hadis, yang artinya: “Allah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita menyerupai kaum pria.”13) Dan sebenarnya, seperti dijelaskan oleh Sufiyan Sadeli, salah satu Ustadz di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, untuk memakai pakaian secara islami tidak perlu baju mahal, bermerk bagus atau mewah. Yang terpenting pakaiannya sopan, tidak berlebihan dan yang terpenting menutup aurat, sesuai kondisi dan tidak mengundang sahwat.14) Pakaian yang dipakai juga haruslah longgar dan tidak sempit atau ketat, sehingga bentuk tubuh terlihat jelas dan pakaian juga tidak boleh bermegah-megahan atau mewah-mewahan, karena akan melalaikan kita. Ini sesuai firman Allah SWT dalam Qs. At-Takasur ayat 1: Bermegah-megahan telah melalaikan kamu semua.

Adapun di dalam Mushaf al-Burhan Edisi Wanita karya Nandang Burhanudin dijelaskan, salah satu persyaratan pakaian muslimah yang syar’i adalah pakaian tersebut bukanlah perhiasan. Yang dimaksud dengan pakaian yang menjadi perhiasan yang tidak boleh dipakai oleh seorang muslimah ketika keluar rumah adalah (1) Pakaian yang terdiri dari berbagai warna (warna warni). (2) Pakaian yang dihias dengan garis berwarna keemasan atau berwarna perak yang menarik perhatian laki-laki yang masih normal.15)

Penulis suatu ketika bertanya kepada seorang Ustadz Pondok Pesantren Qothrotul Falah, yaitu Ustadz Sufiyan Sadeli; apakah pantas wanita muslimah memakai celana jeans? Beliau menjawab; “Tidak pantas, karena tidak sesuai dengan syariat islam. Itu hukumnya makruh.”16) Tetapi dalam karyanya Jilbab dan Wanita, Baidlowi Syamsuri menyatakan bahwa celana panjang pada umumnya adalah pakaian bagi kaum laki-laki. Seandainya ada wanita yang memakai celana panjang, hendaknya dipilih mode atau corak khusus yang lazim dipakai kebanyakan wanita.17) Ini menunjukkan kebolehan mengenakan celana bagi wanita, dengan syarat yang sesuai dengan kondisi mereka.

Dampak Positif Berjilbab
Seorang wanita yang memakai jilbab dengan didasari taqwa kepada Allah SWT karena memang ini adalah perintah-Nya sehingga ia memakainya tidak dengan paksaan, atau alasan lainnya, maka insya Allah ini akan mencerminkan akhlak mulia. Ia tidak mudah diganggu oleh laki-laki yang berhidung belang. Ia tidak akan tergelincir ke jalan yang haram semisal perzinaan. Jika seorang wanita memakainya karena panggilan ajaran agama, perintah Allah SWT yang harus ditunaikan, dengan demikian wanita yang berjilbab secara benar (maksudnya didasari taqwa kepada Allah SWT) dapat memberikan nilai positif dan pengaruh besar untuk melakukan kebajikan. Sebaliknya, dengan menanggalkan jilbab dapat membuka peluang besar untuk melakukan bermacam- macam kemaksiatan.

Wahai wanita muslimah di mana saja berada, pakailah selalu pakaian kehormatanmu, pakain islami, niscaya kalian akan selamat dari jalan kemaksiatan, kehormatan akan terjaga dan kalian akan dikenal sebagai wanita yang salihah.18) Wa Allah a’lam bi al-shawab.[]

Cikulur, 6 Maret 2013

END NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 8 Maret 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Aktivis Triple Ing Community, Penyiar Radio Qi FM 107.07 dan Siswi Kelas X-B SMA Qothrotul Falah.
1) Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 813.
2) ‘Aidh bin ‘Abdullah al-‘Qarni, Jadilah Wanita yang Paling Bahagia (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005), h. 300.
3) M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an (Bandung: Mizan, 2003), Cet. ke-XIV, h. 160.
4) M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, h. 160.
5) M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, h. 160-161. Baidlowi Syamsuri, Wanita dan Jilbab (Surabaya: Anugerah, 1993), h. 169.
6) Bernadus Imam Haryanto, “Skandal Wanita Menggunakan Rok Mini dan Pakaian Seksi”, http.//h4ryn4py.blogspot.com/2012/artikel-pancasila.html, Sabtu, 28 April 2012.
7) M. Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, h. 156.
8) Baidlowi Syamsuri, Jilbab dan Wanita, h. 168-169.
9) Moenawar Chalil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad (Jakarta: Gema Insani Press, 2011), Jilid II, h. 224.
10) Nandang Burhanudin, Mushaf al-Burhan Edisi Wanita (Bandung: Media Fitrah, 2011), h. 89.
11) Baidlowi Syamsuri, Jilbab dan Wanita, h. 176.
12) Ali Mustafa Yaqub, 25 Menit Bersama Obama (Ciputat: Pustaka Darus-Sunnah, 2011), h. 51. Tentang kreteria berpakaian yang mengedepankan 4T, lihat juga: Ali Mustafa Yaqub, Haji Pengabdi Setan (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006), h. 124.
13)  ‘Aidh bin ‘Abdullah  al-‘Qarni, Jadilah Wanita yang Paling Bahagia, h. 300.
14) Wawancara dengan Sufiyan Sadeli, Selasa, 29 Januari 2013, di Kelas X-B SMA Qothrotul Falah.
15) Nandang Burhanudin, Mushaf al-Burhan Edisi Wanita, h. 56-58.
16) Wawancara dengan Sufiyan Sadeli, Selasa, 29 Januari 2013, di Kelas X-B SMA Qothrotul Falah.
17) Baidlowi Syamsuri, Jilbab dan Wanita, h. 178-179.
18) Baidlowi Syamsuri, Jilbab dan Wanita, h. 194.

DAFTAR PUSTAKA
1.    al-Qur’an al-Karim
2.    al-‘Qarni, ‘Aidh bin ‘Abdullah. Jadilah Wanita yang Paling Bahagia. Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2005.
3.    Baidlowi Syamsuri. Wanita dan Jilbab. Surabaya: Anugerah, 1993.
4.   Bernadus Imam Haryanto. “Skandal Wanita Menggunakan Rok Mini dan Pakaian Seksi”. http.//h4ryn4py.blogspot.com/2012/artikel-pancasila.html, Sabtu, 28 April 2012.
5.    Moenawar Chalil. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad. Jakarta: Gema Insani Press, 2011.
6.    Nandang Burhanudin. Mushaf al-Burhan Edisi Wanita. Bandung: Media Fitrah, 2011.
7.    Shihab, M. Quraish. Wawasan al-Qur’an. Bandung: Mizan, 2003.
8.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
9.    Wawancara dengan Sufiyan Sadeli, Selasa, 29 Januari 2013
10.    Yaqub, Ali Mustafa. 25 Menit Bersama Obama. Ciputat: Pustaka Darus-Sunnah, 2011.
11.    Yaqub, Ali Mustafa. Haji Pengabdi Setan. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006.