Seks Bebas di Kalangan Remaja Kian Mengkhawatirkan

Lain dulu lain sekarang. Remaja sekarang lebih berani dalam bergaul, bahkan kadang-kadang terkesan tanpa batas. Jangankan norma dan nilai-nilai moral yang berkembang di masyarakat, aturan agamapun ditabrak sebagai sebuah pengatur kehidupan manusia. Fenomena maraknya perilaku seks tanpa ikatan pernikahan atau seks bebas di kalangan remaja seakan tak bisa dibendung. Tidak perlu repot-repot bicara angka. Pemandangan tersebut sangat mudah dijumpai, terutama di kota-kota besar. Bahkan kini kampung-kampung pun sudah mulai ketularan kebebasan di kota-kota itu.

Banyak faktor yang mempengaruhinya. Tayangan pornografi dan porno aksi yang tiadak pernah ada matinya muncul di layar kaca atau layar lebar menjadi salah satu sebabnya. Selain itu, kepatuhan terhadap ajaran-ajaran agama yang kian menurun merupakan faktor lain yang cukup besar pengaruhnya. Akibatnya, gaul bebas yang mengarah pada seks bebas kian populer di lingkungan remaja. Yang tidak ikut dianggap kampungan dan ketinggalan zaman. Jika ini dibiarkan terus-menerus, maka sedikit kemungkinan harapan kita untuk menciptakan remaja yang unggul sebagai generasi masa depan. Masalahnya, apakah mampu para remaja sekarang beradaptasi dengan perkembangan zaman?

Makna Seks
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, seks memiliki beberapa makna; 1) jenis kelamin; 2) hal yang berhubungan dengan alat kelamin seperti senggama; 3) berahi.1) Seks juga bermakna sebuah eksistensi manusia yang di dalamnya mengandung aspek emosi, cinta, aktualisasi atas tubuh yang lain.2) Dalam konteks ini, seks merupakan ruang kebudayaan manusia untuk mengekspresikan dirinya terhadap yang lain dengan arti yang sangat kompleks. Menurut Irwan H. Hidayana, seks sangat terkait dengan kehidupan kita sebagai manusia yang memiliki hasrat.3) Artinya, seks adalah sesuatu hal yang hakiki dan merupakan hak dasar manusia. Di samping Irwan H. Hidayana, Husein Muhammad dalam artikelnya yang berjudul Islam, Seksualitas dan Budaya, menyatakan, seks sebagai fitrah manusia baik laki-laki maupun perempuan harus dikelola sebaik-baiknya.4)

Dari pernyataan di atas dapat diungkapkan pengetahuan tentang seks, bahwa seks merupakan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia yang harus disyukuri. Tapi apabila dikaitkan dengan generasi sekarang, terutama di kalangan remaja, seks sudah tidak lagi dihargai secara mulia. Dari kata seks lantas berubah menjadi seks bebas (maksudnya berhubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan yang tidak halal) yang bernilai negative, yang sudah lazim kita temui, terutama di kota-kota besar. Pada dasarnya, seks diawali dari hawa nafsu yang tak terkendali.

Para ahli psikologi zaman dahulu berpendapat bahwa “tingkah laku manusia dipengaruhi oleh nafsu,”  yaitu nafsu menentang diri sendiri (egosentros), nafsu berjuang (polemos), nafsu beraurat (eros) dan nafsu suci (religious).5) Dalam Islam dikenal empat nafsu yaitu, lawwamah, amarah, sufriyah dan muthmainnah. Hawa nafsu yang kerap menempel pada diri remaja adalah hawa nafsu sufriyah, yakni hawa nafsu untuk mengumbar aurat, padahal aurat adalah perhiasan yang harus kita jaga baik-baik dan tidak semestinya ditampakkan kepada orang lain kecuali dengan haknya. Dalam al-Qur’an, dikatakan; ‘’Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu tampaklah dari keduanya aurat-auratnya; dan mulailah dari keduanya menutupi aurat-auratnya. Dan mulailah dari keduanya menutupinya dengan daun-daun yang ada di surga. Dan durhakalah Adam pada Tuhan dan sesatlah ia. (Qs. Thaha [20]: 21).

Berdasarkan ayat di atas, aurat (sesuatu jika terlihat membuat kita malu) haruslah ditutup sebaik-baiknya sehingga tidak tampak oleh pandangan-pandangan orang yang bukan mahramnya, sebagaimana Adam dan Hawa juga menutupinya dengan dedaunan surga. Nenek moyang kita saja ketika auratnya terlihat, mereka merasakan malu yang luar biasa, lantas mereka ingin menutupi rasa malu itu dengan menutup auratnya menggunakan dedaunan seadanya. Maka sudah seharusnya, kita sebagai anak cucunya juga meniru perilaku luhur mereka untuk menutup aurat kita, bukannya malah mengumbarnya sebebas-bebasnya untuk ditatap oleh mata yang tidak halal menatapnya.

Revolusi Seks Bangku Sekolah
Remaja merupakan generasi masa depan. Masa depan bangsa dan negara terletak di pundak remaja dan menjadi tanggung jawab generasi muda. Karenanya, jika remaja berkembang dan meningkatkan kualitas hidupnya hingga menjadi lebih baik lagi, maka masa depan bangsa dan negara ini juga akan baik. Tetapi bila kita lihat pada situasi sekarang, remaja sudah tidak peduli akan kewajibannya, seperti shalat, baca al-Qur’an, hormat pada orang tua dan mencari ilmu. Yang mereka pikirkan hanyalah kesenangan-kesenangan sesaat menuruti hawa nafsunya. Hal inilah yang seringkali membuat mereka salah arah dan hancur masa depannya. Dalam Qs. al-Jatsiyah ayat 23 Allah SWT berfirman: “Maka pernahkah kamu memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahinya?” Tapi mayoritas remaja saat ini benar-benar telah tersesat ke zaman yang baru, zaman yang jauh dari nilai-nilai luhur agama, termasuk dalam bidang seks bebas. Menurut seksolog Wimpie Pangkahila, pandangan masyarakat tentang seks memang telah berubah jauh. Seks tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang sakral untuk dibicarakan. Dulu  jika ada wanita yang hamil di luar nikah dianggap kecelakaan. Sekarang, orang menikah dengan perut buncit menjadi hal biasa.6)

Gelombang kebenaran seks terasa kian menggelora setelah internet membumi pada pertengahan 1990-an. Diikuti teknologi telepon yang kian canggih. Keduanya memberikan fasilitas baru bagi pergaulan tanpa batas. Internet bukan cuma menyuguhkan gambar-gambar seronok lewat situs-situs pornonya, namun juga menjadi media untuk mencari kawan baru dengan semangat mesum. Gambar-gambar gadis lokal di internet kadang tampak dalam adegan panas dengan pasanganya. Itu menunjukkan, bahwa kebebasan baru telah timbul; seks terang-terangan. Revolusi seks yang mencuati di Amerika serikat dan eropa pada akhir 1960-an. Seolah sudah merambat ke negeri ini. Melalui perantara teknologi, informasi, dan sarana yang makin canggih.

Terlepas dari perdebatan soal itu, sesungguhnya memang sudah menjadi pengetahuan umum bahwasanya di zaman sekarang ini yang disebut sebagai seks pra-nikah sudah jamak dilakukan oleh siswa-siswi menengah pertama sampai perguruan tinggi. Hal ini dibuktikan oleh Komisi Nasional Perlindungan anak yang juga pernah merilis data hasil survei di 12 kota besar di Indonesia pada 2007, di mana 62, 7 % remaja yang duduk di bangku SMP pernah berhubungan intim dan 21,2 % siswi SMA pernah menggugurkan kandungannya. Selain itu, hasil riset Syrone tahun 2004 juga membuktikannya. Riset dilakukan di empat tempat/kota yakni Jakarta, Surabaya, Bandung dan Madura. Dari 450 responden, 44 % mengaku  berhubungan seks pertama kali pada usia 16-18 tahun. Bahkan 16 responden mengenal seks sejak usia 13-15 tahun. Sebanyak 40 % responden melakukannya di tempat kos dan 20 % lainnya di hotel.7)

Sungguh celaka para remaja mengidentifikasi kebebasan seks dengan pergaulan modern yang serba bebas. Padahal, menurut seksolog Naek L. Tobing, seks bebas adalah kehidupan primitive. Menurutnya, seks bebas terjadi sebelum agama-agama dunia lahir. Ketika peradaban makin maju dan ilmu pengetahuan berkembang, seks bebas ternyata terbukti membawa banyak persoalan.8) Jika hal ini terus berkembang di kalangan remaja, maka bagaimana nasib bangsa kita ke depannya? Dalam suatu mahfudhat dikatakan: inna fi yadd al-syubban amr al-ummah wa fi aqdamin hayataha / Sesungguhnya di tangan remajalah maju mundurnya umat dan di pundaknya pula hidup dan matinya umat.9)   

Survey Yang Bikin Miris
Miris rasanya jika kita melihat gaya hidup remaja Indonesia saat ini. Gaya hidupnya semakin bebas, termasuk dalam aktivitas seksual yang sudah dianggaap biasa. Selain hasil survey yang telah disebutkan di atas, hal ini dibuktikan dengan data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2010, yang menyebutkan bahwa 54 % remaja di Surabaya Jawa Timur sudah kehilangan kegadisannya. Demikian juga di kota-kota lain seperti Medan 2 % remaja puterinya kehilangan kegadisan dan di Bandung angkanya mencapai 47 %. Sementara untuk di daerah Jabodetabek 51 % usia belasan tahun yang sudah kehilangan keperawanan.

Hal yang lebih mengejutkan bisa kita temukan di Yogyakarta. Hasil penelitian di sana, dari 1160 mahasiswa, sekitar 37 % mengalami kehamilan sebelum menikah. Hal ini secara tidak langsung berhubungan dengan resiko terhadap HIV/AIDS. Data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yang dirilis pada pertengahan 2010 menunjukkan bahwa jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif. Persentase pengidap usia 20-29 tahun (48,1 %) dan usia 30-39 tahun (30,9 %). Kasus penularan HIV/AIDS terbanyak heteroseksual (49,3 %) dan IDU atau jarum suntik (40,4 %).10)

Bahkan 80 % remaja di Ponogoro pernah melakukan hubungan seks pranikah. Demikian data dari hasil survei secara acak selama kurun waktu 6 bulan terakhir tahun 2010, yang disampaikan oleh Ketua Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) Kabupaten Ponogoro, pada Jum’at, 17 Desember 2010. Data angka di atas sangat mengejutkan. Angka persentasenya sangatlah tinggi. Angka persentase itu berarti dapat dibaca sebagai empat orang gadis dari lima orang gadis yang ada di Ponogoro sudah pernah melakukan seks pranikah. Data angka persentase itu sangat jauh di atasnya, yaitu data angka persentase di kalangan remaja Jabotabek yang sekitar  51 %, sebagai mana data yang dirilis oleh BKKBM. Namun, data angka persentase di Ponogoro itu masih di bawahnya data angka persentase di kalangan mahasiswi Yogyakarta yang mencapai 97,05 %, sebagaimana yang dirilis oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan Serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) pada 2002 yang lalu. LSCK PUBISH menemukan fakta dari 1.660 orang responden yang tersebar di 16 perguruan tinggi di Yogyakarta, 97,05 % dari responden itu mengaku kehilangan keperawanannya dalan periodesasi waktu kuliahnya. Lalu, dari 1.660 responden itu 73 % dari mereka mengaku melakukan aktivitas seksnya tersebut, 63% mengaku melakukannya di tempat kos teman pria partner seksnya, 14 % di tempat kosnya sendiri, 21 % di losmen atau hotel kelas melati dan 2 % di tempat-tempat wisata.11)

Biasanya, respon pertama yang timbul atas dirilisnya data angka presentase semacam itu adalah soal tingkat validitasnya. Ujungnya bermuara ke soal penolakan atas representasi data sampling tersebut untuk mewakili komunitas secara keseluruhan. Singkat kata, data itu dianggap terlalu tinggi angka presentasenya, sehingga diragukan validitasnya dan dianggap tidak menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Atau dalam arti kata lain, data itu tidak boleh dipakai untuk menjeneralkan untuk semua kondisi dan situasi remaja.  Telepas dari perdebatan soal itu, sesungguhnya memang sudah menjadi pengetahuan umum bahwasanya di zaman sekarang ini yang disebut sebagai seks pra nikah itu sudah jamak dilakukan oleh siswa/i sekolah menengah pertama sampai para mahasiswa/i perguruan tinggi.

Selaras dengan asumsi dan data tersebut di atas, konon pada tahun 2007 pernah dirilis hasil survey Durex dan Harris Interactive yang menunjukkan bahwa usia rata-rata kehilangan keperawan di Indonesia itu sekitar 19,1 tahun. Angka usia di Indonesia itu berada di urutan ke 9 dari Negara Asia yang disurvey, yaitu Malaysia (23 tahun), India (22,9 tahun), Singapore (22,8 tahun), China (22,1 tahun), Thailand (20,5 tahun), Hongkong (20,2 tahun), Vietnam (19,2 tahun), Jepang (19,4 tahun), dan Taiwan (18,9 tahun). Namun, angka usia di Indonesia itu masih di atasnya usia rata-rata di 27 negara Eropa yang sekitar 16 tahun, dengan usia tertinggi di Spanyol yang sekitar 19,2 tahun dan usia terendah Iceland yang sekitar 15,6 tahun, maupun juga di Amerika Serikat yang sekitar 18 tahun.12)

Dari data-data di atas dapat disimpulkan bahwa sekarang sudah semakin sulit menemukan gadis yang masih perawan. Sama sebangun, juga berarti semakin sulit menemukan perjaka yang masih perjaka dan beberapa kalangan menengarai bahwa ke masa depan, hal yang sulit ditemukan itu akan menjadi bertambah semakin sulit lagi. Hal-hal inilah yang membuat kita semua miris, karena menunjukkan akhlak remaja yang kian hari kian memburuk dan kian tidak mengindahkan ajaran-ajaran agamanya. Mereka lebih senang bergaul semaunya tanpa terikat oleh ajaran-ajaran luhur, yang sejatinya untuk kebaikan mereka sendiri, baik di dunia maupun akhirat.

Kenakalan Remaja, Salah Siapa?
Setiap orang pasti pernah salah ataupun lupa, tak terkecuali para remaja sekarang. Pergaulan yang sedang dijalani para remaja saat ini sudah melampaui batas kewajaran, seperti merokok, narkoba dan seks bebas. Dan ini menjadi masalah yang harus diselesaikan. Setiap permasalahan niscaya ada penyebab dan ada penanggulangannya. Dalam pergaulannya, para remaja mungkin bisa saja dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu, entah itu dari dirinya sendiri ataupun orang lain. Di bawah ini beberapa faktor penyebab pergaulan seks bebas yang terjadi di kalangan remaja, seperti dituliskan oleh Aidh al-Qarni dalam bukunya Jadilah Pemuda Kahfi.13)

Pertama,  lemahnya iman. Kita sering sekali dihadapkan pada hal-hal yang akan melemahkan uman. Kita sering dihantam badai syahwat. Dihadapkan dengan obsesi-obsesi keduniaan. Kita  juga sering diserang berbagai pemikiran yang merusak setiap pagi dan sore hari. Segala tantangan itu dapat kita temukan di berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Kebanyakan ulama menyebutkan, amal saleh termasuk iman. Hasan Basri mengatakan; “Iman bukan sekedar keindahan dan hanya sekedar harapan belaka. Tapi iman adalah sesuatu yang tertancap di dalam hati dan dibenarkan oleh perbuatan.” (HR. Malik bin Anas dalam al-Muwaththa’). Iman adalah amal perbuatan. Barangkali kita akan merasa heran seorang remaja yang mengaku bahwa dia mencintai Allah SWT dan Rasul-Nya, namun dia melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan pengakuannya. Dia sering tidur tatkala adzan subuh, mencela dan melaknat kedua orang tua. Sesungguhnya remaja yang seperti itu dianjurkan untuk bertaubat nasuha.

Kedua, pergaulan yang kurang terkontrol. Dalam al-Qur’an Allah SWT berfirman: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertaqwa”. (Qs. al-Zukhruf: 67). Salah seorang ulama berkata: Waspadalah terhadap teman yang jahat, karena sebenarnya dia sangat berbahaya. Apalagi di zaman sekarang ini, tidak sedikit orang yang jahat, termasuk teman sendiri. Maka pandai- pandailah memilih teman. Teman yang jahat masuk dari berbagai celah pintu masuk. Diantaranya dia bisa masuk lewat fitnah. Pada jilid pertama dari Kitab al-Fatawa, Ibnu Taimiyyah menyatakan: “Maka kamu adalah tawanannya. Barang siapa yang butuh kepadamu akan menjadi tuannya. Barang siapa yang kamu butuh kepadanya, maka kamu adalah tawanannya. Barang siapa orang yang kamu merasa cukup darinya, maka kamu akan menjadi teman (partner).” Jadi, seorang teman ketika bergaul dengan kita dia bisa berpotensi menjadi tawanan kita. Tak jarang, teman bisa membuat kita lebih baik dan tak sedikit pula teman yang justru membuat kita terjerumus dalam keburukan.

Ketiga, kurangnya bimbingan orang tua. Bimbingan orang tua sangat penting, karena merekalah pelindung dan penganyom. Orang tua harus bisa tegas terhadap anak-anaknya. Sekarang banyak kasus kenakalan remaja yang terjadi karena kelalaian orang tua. Orang tua tidak bisa membatasi kapan anak harus keluar dan kapan berada dalam rumah. Remaja sekarang sudah pintar dalam beralasan, sehingga jika orang tua tidak tegas bisa memberikan peluang pada anak untuk berperilaku seenaknya. Jadi, dalam hal ini orang tua juga sangat berperan dalam membimbing anak agar tidak salah langkah dalam bergaul.

Keempat, faktor lingkungan. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap kehidupan kita. Lingkungan yang tidak baik akan membawa kita pada hal-hal yang negatif. Pada saat ini harus diakui, dahsyatnya serbuan budaya Barat mampu menjauhkan para remaja muslim dari masjid dan majlis pengajian. Dampaknya, hilangnya jati diri pada diri para remaja. Tidak hanya itu, praktik kekerasan, kriminalitas juga menggejala. Fenomena itu melahirkan problem sosial yang meresahkan masyarakat, yaitu kenakalan-kenakalan remaja.          

Jika keempat hal di atas bisa diantisipasi dengan baik oleh orang tua dan anak, maka insya Allah kenakalan remaja yang kian hari kian mengkhawatirkan itu bisa dihindari dan dicegah. Karenanya, sejak saat ini kita sebagai remaja harus pandai-pandai memilih teman dan lingkungan bergaul, sehingga kita tidak terjerumus pada perilaku yang salah dan melanggar ketentuan agama, yang ujungnya merugikan diri kita sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa ini. Demikian pula orang tua, sudah semestinya mereka lebih ketat lagi mengontrol pergaulan anak-anaknya. Bagi kita kalangan remaja, ingatlah bahwa masa depan bangsa dan negara ini berada di tangan dan pundak kita. Kita baik, bangsa dan negara akan baik. Kita buruk, bangsa dan negara pun akan turut buruk. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 26 Maret 2013

*) Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 29 Maret 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Aktivis Triple Ing Community (Triping.Com), Pengurus Pondok Baca Qi Falah dan Siswi Kelas X-B SMA Qothrotul Falah.
1) Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 1014.
2) AD Kusumaningtyas, “Memahami Seluk Beluk Seksualitas”, dalam Majalah Swara Rahima, No. 40 Th. XII. Desember 2012, h. 6.
3) AD Kusumaningtyas, “Memahami Seluk Beluk Seksualitas”, h. 6.
4) Husein Muhammad, “Islam, Seksualitas dan Budaya”, dalam Majalah Swara Rahima, No. 40 Th. XII. Desember 2012, h. 23.
5) Idri Shaffat, Indahnya Puasa Ramadhan (Jakarta: Lintas Pustaka Publisher, 2008), h. 3.
6) IPPNU, “Seks Bebas Makin Beringas”, Majalah Lensa, h. 5.
7) IPPNU, “Seks Bebas Makin Beringas”, Majalah Lensa, h. 5.
8) IPPNU, “Seks Bebas Makin Beringas”, Majalah Lensa, h. 5.
9) Majalah Swara Rahima, No. 40 Th. XII. Desember 2012, h. 36.
10) http://www.kampungtki.com/baca/22420
11) http://www.kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2010/12/22/80-gadis-tak-lagi-perawan-326500.html
12) http://www.kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2010/12/22/80-gadis-tak-lagi-perawan-326500.html
13) Aidh al-Qarni, Jadilah Pemuda Kahfi (Solo: Aqwam, 2007), h. 57-62.

DAFTAR PUSTAKA
1. al-Qur’an al-Karim
2. AD Kusumaningtyas. “Memahami Seluk Beluk Seksualitas”. Majalah Swara Rahima, No. 40 Th. XII. Desember 2012.
3. Aidh al-Qarni. Jadilah Pemuda Kahfi. Solo: Aqwam, 2007.
4. http://www.kampungtki.com/baca/22420
5. http://www.kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2010/12/22/80-gadis-tak-lagi-perawan-326500.html
6. Husein Muhammad. “Islam, Seksualitas dan Budaya”. Majalah Swara Rahima, No. 40 Th. XII. Desember 2012.
7. Idri Shaffat. Indahnya Puasa Ramadhan. Jakarta: Lintas Pustaka Publisher, 2008.
8. IPPNU. “Seks Bebas Makin Beringas”. Majalah Lensa.