Pondok Pesantren Mencetak Remaja yang Berkualitas

SEIRING perkembangan zaman, umat manusia semakin jauh dari ajaran Islam. Banyak sebab yang melatarbelakanginya. Untuk itu, perlu kita ingatkan, bahwa ajaran Islam itu sangat penting bagi kehidupan umat manusia, terutama umat Islam. Dan diantara tempat pembelajaran Islam, adalah pondok pesantren, baik salafiyah maupun modern. Salah satu cara untuk mendekatkan kita dengan ajaran Islam, adalah dengan masuk pondok pesantren yang di negeri ini jumlahnya ribuan. Insya Allah, pondok pesantren mampu mencetak remaja yang berakhlak mulia, berukhuwah islamiah dan menjadikan anak yang shalih atau shalihah.

Namun, diakui atau tidak, tidak banyak remaja sekarang yang berminat masuk pondok pesantren. Alasannya beragam. Diantaranya, seiring perkembangan zaman yang semakin modern, para remaja sekarang lebih gemar mengikuti tren-tren kehidupan artis-artis terkenal, meniru gayanya, entah itu dari kepribadian ataupun lainnya. Lebih gemar bermain-main dengan teknologi modern, semisal Laptop, HP, FB, Twitter, internet, dll, dari pada memegang dan membuka lembaran al-Qur’an maupun kitab kuning.

Apa Itu Pondok  Pesantren?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pesantren atau pondok adalah asrama atau tempat murid-murid atau santri-santri belajar agama,1) dalam hal ini agama Islam. Bisa diartikan juga pesantren adalah tempat sekumpulan manusia yang sedang menuntut ilmu agama Islam, yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT(taqarruban ila Allah). Biasanya seorang santri lulusan pesantren banyak dipakai oleh masyarakat, dalam hal apa saja, karena mereka dinilai cenderung lebih bermutu dan berbobot dibandingkan lulusan sekolah non-pesantren (formal). Di pesantren, mereka dididik untuk beribadah secara ketat dan disiplin.

Misalnya, shalat harus berjamaah dan tepat waktu, mengaji harus disiplin, harus berani tampil dalam muhadhoroh untuk mengasah mental, harus berlatih mandiri dalam segala hal (bebersih, makan, dll). Sementara di sekolahan formal, biasanya siswa-siswi hanya mendapatkan materi dan belajar saja ala kadarnya, tidak memakai metode kedisiplinan yang ketat sebagaimana di pondok pesantren. Biasanya juga, di pondok pesantren, santri-santri itu dipaksa untuk mandiri. Ada istilah yang populer di pesantren: “Bisa karena biasa, biasa karena dipaksa, maka akan bisa”.

Tujuan Pondok Pesantren
Setiap lembaga pendidikan memiliki tujuannya masing-masing, tak terkecuali pondok pesantren. Tujuan pondok pesantren adalah mengakses pendidikan yang bermutu dan berbobot, agar bisa mencetuskan alumni yang baik dan bagus (berkualitas lahir dan batin). Pengaruh pendidikan inilah yang bisa menjamin lulusannya memiliki kemampuan dan nilai-nilai yang bermanfaat ketika melanjutkan pendidikan atau menempuh hidup yang riil ataupun ketika terjun ke masyarakat.

Untuk itu, dalam buku Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren, dijelaskan bahwa pondok pesantren menerapkan proses pembelajaran yang berorientasi  terhadap pencapaian standar kompetensi lulusan yang merujuk pada empat pendekatan yaitu :
1) Materi pembelajaran yang memperkuat relijiusitas (keberagamaan) dan kecakapan hidup (life skill).
2) Pengorganisasian secara tematik.
3) Proses pembelajaran yang bersifat induktif.
4) Penilaian kompetensi.2)

Dalam buku Praksis Pembelajaran Pesantren dituliskan, pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan mempunyai tujuan yang dirumuskan dengan jelas sebagai acuan-acuan program-program pendidikan yang diselenggarakannya.3) Prof. Mastuhu – intelektual muslim yang banyak meneliti dunia pendidikan Islam termasuk pesantren – menjelaskan, bahwa tujuan utama pondok pesantren adalah untuk mencapai hikmah atau wisdom (kebijakan) berdasarkan pada ajaran Islam yang diajarkan untuk meningkatkan pemahaman tentang arti kehidupan serta realisasi dari peran-peran dan tanggung jawab sosial. Setiap santri diharapkan menjadi orang yang wise (bijaksana) dalam menyikapi segala pernik kehidupan ini. Dalam bahasa pesantren, wise bisa dicapai ketika santri menjadi orang yang alim (intelektual), shalih (berkepribadian luhur), dan nasyir al-‘ilm (penyebar/penebar pengetahuan).4)

Dijelaskan Mastuhu, secara harfiah orang yang ‘alim adalah yang mengusai ilmu, ahli, cendikiawan dan atau sarjana. Dalam konteks pesantren kriteria ke-alim-an itu berkaitan dengan ajaran agama. Secara harfiah seorang yang ‘alim adalah orang yang peka akan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, baik yang tersurat di dalam al-Qur’an maupun yang berupa kenyataan dalam hidup ini, orang yang memiliki potensi untuk memahami yang tampak dan gejala-gejala di baliknya, sehingga ilmunya berguna untuk memahami kenyataan, memprediksi dan mengendalikannya.5)

Tujuan yang paling utama dari pondok pesantren adalah kesalehan, karena berpijak kepada Hadis Nabi Muhammad Saw; “innama bu’itstu li utammima makarima al-akhlak/sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.” Maka para pengasuh pondok pesantren, sebagai ulama pewaris para nabi (waratsah al-anbiya’),  terpanggil untuk meneruskan perjuangan Nabi Muhammad Saw untuk meluruskan akhlak manusia. Dalam membentuk kepribadian masyarakat melalui para santrinya, para pengasuh pondok pesantren mengharapkan para santrinya memiliki integritas kepribadian yang tinggi (shalih).6)

Namun persoalannya, pada era globalisasi yang maju pesat ini, siswa-siswi yang menuntut ilmu di pondok pesantren baik modern ataupun salafiyah lebih sedikit dibandingkan dengan yang sekolah di luar pondok pesantren (formal), dengan alasan-alasan yang sudah disinggung di atas. Sebagai data lapangan, misalnya  di tahun 2006-2007 silam, perbandingan orang yang sekolah di luar pondok pesantren dengan yang di dalam  pondok pesantren berbanding  57,80% (di luar) 42,20% (di pondok pesantren).7) Apalagi ada asumsi, jika belajar di pesantren maka peluang kerja menjadi sempit, maka lebih banyak lagi yang tidak mau bersekolah di pesantren.

Proses Pembelajaran di Pondok Pesantren

Materi pendidikan di pondok pesantren pada hakikatnya bertumpu pada pengajaran ilmu-ilmu keislaman, seperti akhlak, nahwu, sharaf, aqidah, fiqih, hadits, tasawuf, tafsir dan al-Qur’an. Di pondok pesantren juga dikenal dua istilah yaitu: 1) ta’lim (pengajaran) dan 2) tarbiyah (pendidikan). Secara terminologis, ta’lim mempunyai makna seorang guru menyampaikan ilmu dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan. Sedangkan tarbiyah diartikan sebagai usaha transfer ilmu pengetahuan dari seorang guru kepada siswa, kemudian mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan nyata dan mendapat bimbingan dari para ustadz atau guru.8)

Jika dibandingkan, tarbiyah itu lebih luas pemaknaannya dibandingkan ta’lim. Ta’lim biasanya ditemukan di sekolah formal atau di sekolah luar non-pesantren. Berbeda dengan di pondok pesantren, selain ta’lim di pondok pesantren juga ada tarbiyah. Dengan demikian, model pembelajaran di pondok pesantren lebih komplit dibanding di luar pesantren. Dari kenyataan ini, berarti kita yang hidup di pondok pesantren mempunyai dua kelebihan ta’lim sekaligus tarbiyah. Dengan dua model pengajaran ini, mudah-mudahan kita (para santri) bisa menjadi remaja yang baik, bermutu dan berbobot, baik secara lahir mapun batin.

Ada beberapa pembelajaran khas di pondok pesantren yang penting diangkat atau diuraikan dalam artikel ini. Misalnya pengajian kitab kuning, yang tidak pernah ada di lembaga-lembaga manapun di dunia ini selain pesantren. Apa kitab kuning? Kitab kuning selalu dikonotasikan sebagai kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama klasik atau kitab-kitab kontemporer yang bermuatan ajaran-ajaran klasik. Disebut kitab kuning karena umumnya kitab-kitab itu ditulis di atas kertas yang berwarna kuning.9)

Tujuan utama pengajian kitab kuning adalah untuk mendidik calon-calon ulama. Sedangkan bagi para santri yang hanya dalam waktu singkat tinggal di pesantren, mereka tidak bercita-cita menjadi ulama, akan tetapi bertujuan untuk mencari pengalaman dalam hal pendalaman perasaan keagamaan. Di situlah kitab kuning menyediakan kekayaan pengetahuan keagamaan.

Dalam kegian pembelajaran, pondok pesantren umumnya melakukan pemisahan tempat antara pembelajaran santri putra dan santri putrid. Tujuannya agar tidak terjalin hubungan percintaan antara mereka sebelum waktunya. Namun pada beberapa pesantren ada yang menyelenggarakan kegiatan pendidikan secara bersama (co education), antara santri putra dan santri putri dalam satu tempat yang sama dengan diberi hijab (pembatas). Di situlah mereka mempelajari kitab-kitab kuning sebagai materi pembelajaran utama di pondok pesantren dengan seksama, dibimbing oleh guru-guru yang menguasai keilmuan di bidangnya.

Secara sederhana, materi kitab kuning yang diajarkan di pesantren dapat dikelompokan menjadi sembilan bidang yaitu tajwid (ilmu baca al-Qur’an), tafsir (penjelasan ayat al-Qur’an), ilmu tafsir (pengetahuan tentang al-Qur’an tentang sabab al-nuzul dll), ‘aqidah (keimanan), hadits (perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad Saw), akhlak/tasawuf (moral yang baik), fikih (hukum Islam), ushul fikih (dasar-dasar penetapan hukum fikih) dan nahwu-shorof (gramatika bahasa Arab).

Hanya saja, karena materi-materi itu tertuang dalam kitab kuning yang tidak dikarang oleh ulama Indonesia dan tidak menggunakan Bahasa Indonesia, maka ada kelemahan tersendiri secara garis besarnya. Misalnya, jenis dan jumlah materi serta tingkat pembahasan kitab-kitab kuning yang umumnya bukan disusun oleh ulama Indonesia itu belum tentu sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan kemampuan santri. Namun dengan penjelasan yang memadai dari para guru, maka kesenjangan itu bisa teratasi.

Atas dasar itu, beberapa pesantren telah melakukan pembaharuan kitab-kitab yang dipelajari oleh para santri itu dan tidak sepenuhnya mengambil dari kitab-kitab ulama saja, melainkan disesuaikan dengan menangguhkan materi-materi yang belum dianggap perlu dan menambahnya dengan muatan-muatan baru berdasarkan kekhususan dan kebutuhan tertentu. Selain itu materi pembelajaran ditambah dengan ilmu-ilmu umum serta keterampilan keterampilan khusus.

Seorang kiai yang memimpin pesantren kecil biasanya mengajar sejumlah kecil santri dengan beberapa kitab dasar dengan berbagai kelompok mata aji (pengajaran). Pada pesantren besar, para kiai mengkhususkan diri pada mata-mata aji tertentu saja. Para kiai sebagai pembaca dan penerjemah kitab tersebut bukanlah sekedar membaca teks, tetapi juga memberikan pandangan-pandangan (interpretasi) pribadi, baik mengenai isi maupun bahasa dari teks; dan itu biasanya disampaikan secara luas dan komprehensif.

Generasi Berkualitas
Dengan melihat proses pengajaran di pondok pesantren yang menyentuh aspek lahir maupun batin santri, dengan model pembelajaran ta’lim dan tarbiyah, maka santri benar-benar digembleng lahir-batin untuk menjadi sosok yang kokoh baik lahiriah maupun batiniah. Belum lagi dengan model kedisiplinan yang diterapkan dalam segala bidang, maka ini akan menjadikan santri sebagai insan yang care terhadap urgensi waktu.

Itu sebabnya, dalam banyak kasus kita lihat, jika tempatkan di tengah-tangah masyarakat, santri lebih kokoh dan tahan banting menghadapi segala macam jenis kehidupan dibandingkan dengan yang bukan santri. Bahkan mereka lebih banyak dipakai oleh masyarakat untuk segala urusan kemasyarakatan. Untuk itu, siapapun yang hendak dan berkeinginan melihat anaknya menjadi anak yang berkualitas lahir dan batin, maka pondok pesantrenlah tempatnya. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 4 April 2013

END NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 5 April  2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Aktivis Triple Ing Community (Triping.Com), Pengurus Pondok Baca Qi Falah dan Siswa Kelas XI-IPA SMA Qothrotul Falah.
1)  Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 866.
2) Deperteman Agama Republik Indonesia, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren (Jakarta: Depag RI, 2008), h. 14.
3) M. Dian Nafi’, dkk. Praksis Pembelajaran Pesantren (Yogyakarta: ITD, FP dan YS, 2007), h. 49.
4) Mastuhu, “Principles of Education in Pesantren” dalam Manfred Oepen, et al. (ed), The Impact of Pesantren in Education and Community Development in Indonesia (Jakarta: P3M, FNS, TUB, 1988), h. 206.
5) Mastuhu, “Principles of Education in Pesantren”, h. 206.
6) M. Dian Nafi’, dkk. Praksis Pembelajaran Pesantren, h. 50.
7) Deperteman Agama Republik Indonesia, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren (Jakarta: Depag RI, 2008), h. 9.
8) Tim Pekapontren, Potensi Ekonomi Pondok Pesantren di Indonesia (Jakarta: Depag RI, 2004), h. 9.  
9) Ali Mustafa Yaqub, Islam Masa Kini (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), h. 185.


DAFTAR PUSTAKA

1. Ali Mustafa Yaqub. Islam Masa Kini. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001.
2. Deperteman Agama Republik Indonesia. Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren. Jakarta: Depag RI, 2008.
3. Deperteman Agama Republik Indonesia. Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren. Jakarta: Depag RI, 2008.
4. M. Dian Nafi’, dkk. Praksis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta: ITD, FP dan YS, 2007.
5. Mastuhu. “Principles of Education in Pesantren” dalam Manfred Oepen et al. (ed). The Impact of Pesantren in Education and Community Development in Indonesia. Jakarta: P3M, FNS, TUB, 1988.
6. Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
7. Tim Pekapontren. Potensi Ekonomi Pondok Pesantren di Indonesia. Jakarta: Depag RI, 2004.