Seharusnya Remaja Lebih Memilih Persaudaraan daripada Permusuhan

REMAJA zaman sekarang sangatlah menghawatirkan. Banyak masalah yang ditimbulkan mereka; mulai dari kekerasan atau perkelahian antar remaja, penyalahgunaan obat-obatan terlarang/narkotika, pergaulan bebas dan lain-lain.

Diantara yang sedang marak saat ini adalah kekerasan di kalangan remaja. Perkelahian atau yang sering disebut tawuran, kerap kali terjadi diantara pelajar maupun yang bukan pelajar. Bahkan bukan hanya pelajar SMU/sederajat, tapi sudah melanda kampus-kampus baik negeri maupun swasta. Ada yang menyatakan bahwa berkelahi adalah hal yang wajar bagi para remaja. Benarkah?

Arti Kekerasan
Menurut Lydia Harnila Martono dan Satya Joewana dalam buku Menangkal Narkoba dan Kekerasan, kekerasan dimaknai sebagai perbuatan keras yang merusak dan merugikan. Perbuatan itu dapat ditujukan pada orang lain atau benda milik orang lain. Kekerasan dilakukan dengan menggunakan kekuatan, ancaman, atau paksaan baik dengan menggunakan alat maupun tanpa alat.1) Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kekerasan adalah perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cidera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.2)

Berdasarkan penjelasan di atas, yang pasti kekerasan itu suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok yang dampaknya merugikan orang lain, terutama secara fisik dan itu dilarang baik oleh agama maupun negara. Ada beberapa bentuk kekerasan sebagaimana dijelaskan Lydia Harnila Martono dan Satya Joewana, mulai dari yang ringan sampai yang berat. Termasuk kekerasan, yaitu mencubit, memukul, menendang, menganiaya, menusuk dengan senjata tajam, mencuri, merampok, menodong dan membunuh. Kekerasan juga dapat berbentuk kata-kata dan sikap, seperti mengancam, mengolok-olok, menghina, melecehkan, mengejek dan memfitnah.3)

Dampak kekerasan, diantaranya menyebabkan orang lain terganggu, tidak senang, merasa tidak aman dan takut. Kekerasan juga dapat mengundang permusuhan, dendam dan kebencian. Kekerasan juga merupakan pelanggaran terhadap kebebasan seseorang dan hak asasi manusia, yaitu hak seseorang untuk diperlakukan secara manusiawi. Itu sebabnya, kekerasan bertentangan dengan hukum agama yang mengajarkan kepada manusia untuk mengasihi sesamanya.4)

Fakta Kekerasan di Bangku Sekolah
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dan Medan, kekerasan sering terjadi. Data kekerasan di Jakarta misalnya yang dikeluarkan oleh Bimas Polri Metro Jaya tahun 1992, tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 orang pelajar. Tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar dan 2 anggota Polri dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian atau tawuran di tiga tempat sekaligus.5) Dan tidak mustahil, data kekerasan ini kian hari kian meningkat dengan peningkatan jumlah korbannya tentu saja.

Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa kekerasan – dalam hal ini tawuran – lebih banyak terjadi di kalangan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat. Mereka adalah para pelajar yang seharusnya mengedepankan intelektualisme ketika menghadapi persoalan, bukannya lebih mengedepankan otot. Ini menunjukkan, kendati mereka setiap harinya duduk di bangku sekolah, mereka tetap tidak bisa melepaskan diri dari tradisi kekerasan. Benar belaka, data itu hanya mencerminkan sebagian saja pelajar yang terlibat tawuran. Namun hal itu sudah mengkhawatirkan kita semua.  
Dampak Kekerasan di Bangku Sekolah
Jelas bahwa kekerasan anak sekolah ini merugikan banyak pihak, baik diri mereka maupun masyarakat sekitar. Paling tidak ada empat kategori dampak dari kekerasan anak sekolah ini. Pertama, pelajar dan keluarganya yang terlibat perkelahian jelas mengalami dampak negatif pertama kali bila mengalami cedera atau bahkan tewas. Kedua, rusaknya fasilitas pribadi atau umum seperti kaca toko, kendaraan pribadi dan kendaraan umum seperti bis, kereta dan lain-lain. Ketiga, terganggunya proses belajar di sekolah. Keempat, yang paling dikhawatirkan para pendidik adalah berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Para pelajar itu meyakini bahwa kekerasan adalah cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka dan karenanya memilih untuk melakukan apa saja agar tujuannya tercapai. Akibat yang terakhir ini jelas memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap kelangsungan hidup bermasyarakat di Indonesia.6)

Penyebab Terjadinya Kekerasan di Sekolah
Pertanyaannya, sesungguhny apa yang menjadi sebab terjadinya kekerasan di kalangan remaja? Sering dituduhkan, anak sekolah yang melakukan kekerasan berasal dari sekolah kejuruan, berasal dari keluarga dengan ekonomi yang lemah. Namun ternyata, data kekerasan yang terjadi di Jakarta tidak mendukung hal ini. Dari 275 SMA/sederajat yang sering terlibat kekerasan, 77 di antaranya adalah sekolah menengah umum. Begitu juga dari tingkat ekonominya, yang menunjukkan ada sebagian pelajar yang sering terlibat kekerasan berasal dari keluarga mampu secara ekonomi. Tuduhan lain juga sering dialamatkan ke sekolah yang dirasa kurang memberikan pendidikan agama dan moral yang baik. Begitu juga pada keluarga yang dikatakan kurang harmonis dan sering tidak berada di rumah.7)

Padahal penyebab perkelahian anak sekolah tidaklah sesederhana itu. Tidak cukup hanya menggunakan asumsi-asumsi tanpa dibarengi data-data lapangan yang valid. Terutama untuk kekerasan yang terjadi di kota-kota besar, masalahnya sedemikian kompleks, meliputi faktor sosiologis, budaya, psikologis, juga kebijakan pendidikan dalam arti luas (kurikulum yang luas). Dan bisa jadi, masih banyak faktor lain yang turun menjadi pemicu terjadinya kekerasan ini. Bisa juga, antara satu kota dan kota lainnya, terdapat keragaman pemicunya.

Secara psikologis, kekerasan yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja. Kenakalan remaja, dalam hal kekerasan digolongkan dalam dua jenis kenalan anak-anak, yaitu yang situasional dan sistematik. Pada dilekuensi situasional, kekerasan terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan” mereka melakukan kekerasan seperti berkelahi ataupun tawuran. Keharusan itu muncul akibat adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat. Sedangkan dilekuensi sistematik terjadi ketika para remaja yang melakukan kekerasan seperti berkelahi ataupun tawuran itu berada dalam suatu organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu yang harus diikuti anggotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, mereka bangga kalau dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.8)

Faktor-Faktor Psikologis Penyebab Kekerasan Remaja

Ada beberapa faktor psikologis yang menyebabkan terjadinya kekerasan di kalangan remaja.9) Pertama, faktor internal. Remaja yang terlibat kekerasan biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi dan semua rangsangan dari lingkungan yang makin lama makin beragam. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang, tapi pada remaja yang terlibat kekerasan seperti berkelahi, mereka kurang mampu mengatasinya, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang/pihak lain pada setiap masalahnya dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalahnya. Pada remaja yang sering berkelahi, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustasi, memiliki emosi yang labil tidak peka terhadap perasaan orang lain dan memiliki perasaan rendah diri yang kuat.

Kedua, faktor keluarga. Rumah tangga yang dipenuhi kekerasan (entah antar orang tua atau orang tua pada anaknya) jelas berdampak pada anak. Anak, ketika menginjak remaja, belajar bahwa kekerasan adalah bagian dari dirinya, sehingga wajar kalau ia melakukan kekerasan pula. Sebaliknya, orang tua yang terlalu melindungi anaknya, ketika remaja tumbuh sebagai individu yang tidak mandiri dan berani mengembangkan identitasnya yang unik. Begitu bergabung dengan teman-temannya, ia akan menyerahkan dirinya total terhadap kelompoknya sebagai bagian dari identitas yang dibangunnya.

Ketiga, faktor sekolah. Sekolah pretama-tama bukan dipandang sebagai lembaga yang harus mendidik siswanya menjadi sesuatu. Tetapi sekolah terlebih dahulu harus dinilai dari kualitas pengajarannya. Karena itu, lingkungan sekolah yang tidak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, tidak adanya fasilitas praktikum dan sebagainya) akan menyebabkan siswa lebih senang melakukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-tamannya. Dalam hal ini, sekolah hanya satu dari sekian masalah pendidikan, dimana guru jelas memainkan peranan paling penting. Sayangnya, guru lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang sebenarnya juga menggunakan cara kekerasan (walau dalam bentuk berbeda) dalam “mendidik” siswanya. Cara-cara guru mendidik dengan kekerasan ini secara sadar atau tidak, nantinya akan ditiru oleh anak didiknya.

Keempat
, faktor lingkungan. Lingkungan diantara rumah dan sekolah yang sehari-hari remaja alami, juga membawa dampak terhadap munculnya kekerasan. Misalnya lingkungan rumah yang sempit dan kumuh atau angota lingkungan yang berperilaku buruk (misalnya narkoba, dll). Begitu pula sarana transportasi umum yang sering menomor-sekiankan pelajar. Juga lingkungan kota yang penuh kekerasan. Semua itu dapat merangsang remaja untuk belajar sesuatu dari lingkungannya dan kemudian reaksi emosional yang berkembang mendukung munculnya prilaku berkelahi.

Kekerasan Remaja Mengatasnamakan Agama

Banyak remaja yang terlibat dalam aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Semangat mereka yang tinggi untuk mendalami agama dan melaksanakan perintah agama sangat disayangkan berbelok arah hingga justru merusak citra agama itu sendiri. Apapun agamanya.

Agar kita semakin sadar terhadap kesesatan berpikir semacam itu, sebagai remaja kita perlu berhati-hati dan mempersiapkan diri agar terhindar dari ajaran-ajaran kekerasan, terutama terorisme yang berlatarbelakang agama. Untuk itu, menurut Eka Saputra dkk dalam buku Islam Rahmat Seluruh Umat, ada beberapa tindakan yang harus dilakukan, yakni:
1.    Intensif mengikuti kegiatan pendidikan keagamaan.
2.    Mendapat bimbingan dari guru/ustadz tentang tata cara beragama yang benar.
3.    Menggali ilmu dari berbagai sumber yang terpercaya.
4.    Bersikap tabayyun (check and recheck).
5.    Kritis/tidak taklid (ikut-ikutan).
6.    Banyak bertanya adalah kunci ilmu.
7.    Berbagi pengetahuan yang didapat kepada orang tua, guru, dan teman yang dipercaya.11)

Aksi Terorisme

Akhir-akhir ini, aksi terorisme di Indonesia semakin menjadi-jadi. Meskipun Polri telah menangkap para gembong teroris seperti Noordin M Top, Dr. Azhari, Umar Patek, Dulmatin dan lain-lain, namun sepertinya teroris di Indonesia hilang satu tumbuh seribu. Karena bagi mereka (teroris), hilangnya salah satu pimpinan teroris akan menimbulkan rasa dendam dan akan berusaha memperbanyak anggotanya. Seperti kasus yang terjadi di Aceh. Di pedalaman hutan Aceh terdapat tempat pelatihan teroris. Mereka dilatih layaknya tentara yang akan dikirim ke medan perang. Ini salah satu upaya yang dilakukan para teroris untuk menambah anggotanya. Dan sasaran empuk untuk dijadikan anggota kelompok mereka adalah orang-orang yang masih berusia muda atau remaja, karena remaja masih sangat labil dan mudah percaya pada hal-hal yang belum tentu benar. Juga mudah dipengaruhi oleh iming-iming yang menggiurkan, seperti kesyahidan atau surga.                

Hal seperti ini apabila terus dibiarkan tentu akan menimbulkan dampak negatif yang sangat besar bagi Negara Indonesia. Selain akan terus bertambah banyaknya jumlah teroris di Indonesia, juga akan merusak citra para generasi bangsa kita yang akan dicap oleh bangsa lain sebagai generasi teroris yang akan mengganggu dan merusak ketentraman dan kedamaian dunia. Hal-hal inilah yang sudah seharusnya dihindari oleh para remaja, sehingga mereka kelak menjadi remaja yang penuh manfaat nagi nusa dan bangsa.

Islam Menganjurkan Persaudaraan Bukan Kekerasan

Dalam Qs. al-Hujurat ayat 10, Allah SWT berfirman: “Innamal mu’minuna ikhwah/Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara”. Berdasarkan ayat ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia itu bersaudara yang diikat oleh tali agama. Sebagai saudara, tidak seharusnya mukmin yang satu menyakiti apalagi sampai membunuh mukmin lainnya. Dan Allah SWT tegas-tegas tidak menyukai permusuhan atau perpecahan, seperti dikatakan-Nya dalam Qs. Ali ‘Imran ayat 153: “Wa’tashimu bi habl Allah jami’an wa la tafarraqu/Berpeganglah kamu sekalian pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu berpecah-belah”.

Dalam Hadis juga dikatakan, bahwasannya “Orang mu’min dan mu’min lainnya itu bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain”. Hadis ini menerangkan bahwa umat muslim harus seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan. Ketika seseorang mu’min dalam keadaan lemah, maka mu’min yang lain harus membantu menguatkannya kembali. Begitu pula sebaliknya. Hal seperti ini di dalam Islam disebut juga ukhuwah islamiyah atau persaudaraan antara umat muslim. “Ukhuwah” itu sendiri berasal dari kata “akhu” yang berarti saudara, teman atau sahabat.

Menurut Thoyib I.M. dan Sugiyanto dalam buku Islam dan Pranata Sosial Kemasyarakatan, “ukhuwah” mempunyai pengertian persaudaraan atau pergaulan. Sedangkan “islamiyah” berasal dari kata “islam” yang dalam hal ini menjadi sifat dari “ukhuwah”, sehingga bermakna persaudaraan Islam atau pergaulan secara/menurut norma Islam.12) Pergaulan seperti inilah yang akan melahirkan kedamaian, bukannya kekerasan.

Pelaksanaan Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah islamiyah menjadi aktual, bila dihubungkan dengan masalah solidaritas sosial bagi umat Islam. Ukhuwah islamiyah adalah sesuatu yang masyru’, artinya diperintahkan oleh agama. Dengan ukhuwah islamiyah, kehidupan bersama menurut anggota masyarakat untuk melihat kepentingan bersama dan kepentingan bersama itu terbentuk karena menjunjung perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah sebuah prinsip yang sama. Maka ukhuwah seperti inilah yang memperkuat persatuan dan kesatuan yang menjelmakan kerukunan hidup umat dan bangsa juga untuk kemajuan agama, negara dan kemanusiaan.13)

Ukhuwah islamiyah bukan buatan manusia, tetapi ajaran al-Qur’an. Orang-orang yang mempunyai rasa ukhuwah islamiyah tinggi mampu menilai dan menghargai setiap pendirian dan dapat pula mempertimbangkan antara maslahat pribadi dan maslahat umum, maka berangsur-angsur anggota masyarakat diselamatkan dari sikap egoisme dan sifat-sifat negatif lainnya. Nah, sifat-sifat seperti inilah yang harus dimiliki oleh generasi bangsa kita, yakni rasa persaudaraan dalam hidup bermasyarakat.14)

Islam Cinta Damai, Islam Melarang Permusuhan

Fenomena semangat keagamaan di kalangan remaja, seperti disinyalir oleh Dr. Yusuf al-Qardhawi sebagaimana dikutip oleh Eka Saputra dkk, telah diwarnai oleh sikap berlebihan atau ekstrem (ghuluw). Tak ayal, tuduhan bahwa Islam menganjurkan kekerasan dan terorisme semakin melekat. Konsep menegakkan dan memberantas kemungkaran bagi sebagian kalangan menjadi dalih berbagai aksi kekerasan. Islam dan umatnya seakan tidak ramah lagi terhadap penganut agama lain, bahkan kepada sesama umat Islam. Padahal Islam sesungguhnya agama penuh kedamaian yang menebar kasih sayang di muka bumi.14) Dalam al-Qur’an ditegaskan; “Wa ma arsalka illa rahmatan lil ‘alamin/Dan tidaklah Kami utus engkau (Hai Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.” (Qs. al-Anbiya: 107).

Secara bahasa, Islam bermakna keselamatan (as-salamah) dan perdamamaian (as-salamu). Hal ini berarti Islam tidak dapat dipisahkan dari perdamain dan keselamatan. Umat Islam yang benar-benar memahami agamanya akan selalu mengutamakan sikap damai serta menentang kekerasan dan permusuhan. Dalam al-Qur’an disebutkan; “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan mencegah dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” Menurut Sahabat Abdullah bin Mas’ud, seperti dikutip Muhammad Ali al-Shabuni, ayat ini adalah ayat yang paling lengkap yang menyebutkan semua kebaikan dan larangan untuk menjauhi keburukan.15)

Setiap selesai shalat, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak do’a perdamaian: “Ya Allah, Engkau adalah kedamaian, dari Mu-lah kedamaian, dan kepada Mu-lah kembalinya kedamaian. Maka hidupkanlah kami, ya Tuhan kami dengan kedamaian dan masukkanlah kami ke dalam surga singgasana kedamain. Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau wahai Tuhan kami yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.”

Menilik keterangan-keterangan di atas, maka tidak selayakanya (dan karenanya sangat keliru) jika Islam diidentikkan dengan kekerasan atau terorisme. Bahwa ada segelintir umat Islam melakukan tindakan terorisme (sebagaimana juga terjadi pada penganut agama lain), itu harus diakui. Namun Islam mengajarkan terorisme, itu tidak ada dasarnya dan hanya kesalahpahaman. Itu sebabnya, dalam khutbah Idul Fitri 1423 H di Lapangan Olah Raga Rumah Susun Kebon Kacang Tanah Abang Jakarta Pusat, A.M. Fatwa mengatakan: “Pemberantasan teror akan gagal jika dilakukan dengan asumsi atau dalam praktiknya seperti masa lalu, yang menempatkan umat Islam sebagai sasaran atau obyek.”16)

Sikap-Sikap Yang Harus Dimiliki Generasi Muda

Atas dasar keterangan-keterangan di atas, sebagaimana dijelaskan dalam buku Islam Rahmat Seluruh Umat, maka sikap yang seharusnya dimiliki generasi muda, adalah: pertama, toleransi. Islam menuntun umatnya agar senantiasa bersikap toleran, baik terhadap mereka yang berbeda agama (antar agama), terlebih lagi terhadap mereka yang seagama (intra agama) mengingat perbedaan merupakan keniscayaan dalam kehidupan yang tidak bisa dihindari oleh manusia.17)

Kedua, cinta sesama. Kecintaan kepada sesama muslim bahkan merupakan unsur dari kesempurnaan iman seorang muslim. Jika sifat itu tidak ada pada diri seorang muslim, maka imannya kurang sempurna, sebagaimana Hadis yang diriwayatkan Anas RA, ia berkata bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.18)

Ketiga, sikap tolong-menolong dalam berbuat kebajikan. Tolong-menolong hanya bisa dilakukan dalam hal yang positif dan untuk kebaikan serta memperoleh kemaslahatan. Kerja sama ini tidak hanya antar sesama muslim, tetapi juga dengan umat manusia secara umum, apapun latar belakang agamanya.19) Dalam al-Qur’an dikatakan: “… dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya.” (Qs. al-Maidah: 2).

Apabila sifat-sifat di atas telah dimiliki oleh generasi muda bangsa ini, maka kekerasan dalam bentuk apapun tentu tidak akan terjadi. Karena itu, harus dilakukan teroboson-terobosan cerdas oleh kita semua, sehingga sifat-sifat ini bisa merasuk dalam diri generasi muda kita. Harapannya, mereka akan berhenti tawuran atau berbuat kekerasan lainnya, apalagi dengan mengatasnamakan agama, dan mewarnai kehidupannya dengan kedamaian dan persaudaraan. So, sudah seharusnya remaja yang positif lebih memilih persaudaran ketimbang permusuhan. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 6 Mei 2013

END NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 10 Mei 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Ketua Triple Ing Cummunity, Aktivis Pondok Baca Qi Falah dan Siswa Kelas XI-IPA SMA Qothrotul Falah asal Lebak Banten.
1) Lydia Harnila Martono dan Satya Joewana, Menangkal Narkoba dan Kekerasan: 7 Modul Perubahan Perilaku (Jakarta: Balai Pustaka, 2006), h. 50.
2) Tim Balai Pustakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 550.
3) Lydia Harnila Martono dan Satya Joewana, Menangkal Narkoba dan Kekerasan: 7 Modul Perubahan Perilaku, h. 51.
4) Lydia Harnila Martono dan Satya Joewana, Menangkal Narkoba dan Kekerasan: 7 Modul Perubahan Perilaku, h. 51.
5) www.google.com
6) www.google.com
7) www.google.com
8) www.google.com
9) www.google.com
10) Eka Saputra, dkk., Islam Rahmat Seluruh Umat (Jakarta: Lazuardi Biru, 2012), h. 64.
11) Menurut Thoyib I.M. dan Sugiyanto, Islam dan Pranata Sosial Kemasyarakatan (Bandug: Rosda, 2002), h. 171.
12) Menurut Thoyib I.M. dan Sugiyanto, Islam dan Pranata Sosial Kemasyarakatan, h. 172.
13) Menurut Thoyib I.M. dan Sugiyanto, Islam dan Pranata Sosial Kemasyarakatan, h. 172.
14) Eka Saputra, dkk., Islam Rahmat Seluruh Umat, h. 01.
15) Eka Saputra, dkk., Islam Rahmat Seluruh Umat, h. 29.
16) A.M. Fatwa, Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme (Jakarta: Blantika, 2007), h. 98.
17) Eka Saputra, dkk., Islam Rahmat Seluruh Umat, h. 16-19.
18) Eka Saputra, dkk., Islam Rahmat Seluruh Umat, h. 11-13.
19) Eka Saputra, dkk., Islam Rahmat Seluruh Umat, h. 61-62.

DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Qur’an al-Karim
2. A.M. Fatwa. Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme. Jakarta: Blantika, 2007.
3. Eka Saputra, dkk.. Islam Rahmat Seluruh Umat. Jakarta: Lazuardi Biru, 2012.
4. Lydia Harnila Martono dan Satya Joewana. Menangkal Narkoba dan Kekerasan: 7 Modul Perubahan Perilaku. Jakarta: Balai Pustaka, 2006.
5. Menurut Thoyib I.M. dan Sugiyanto. Islam dan Pranata Sosial Kemasyarakatan. Bandug: Rosda, 2002.
6. Tim Balai Pustakan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
7. www.google.com