Terorisme Sebagai Kejahatan Kemanusiaan

Akhir-akhir ini, aksi terorisme di Indonesia kembali bermunculan.Beberapa hari lalu misalnya, Densus 88 Anti Reror berhasil melumpuhkan jaringan terorisme di beberapa daerah, termasuk di Batang, Banten, dll.Namun nyatanya, tetap saja aksi terorisme masih belum bisa terselesaikan secara tuntas.Melihat fakta ini, penulis terinspirasi untuk membuat makalah yang berjudul Remaja Terancam Aksi Terorisme.Apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi hal ini?

Apa Terorisme?
Menurut Ridwan al-Makassary, dalam karyanya yang berjudul Terorisme Berjubah Agama, terorisme adalah tindakan seseorang untuk memberikan rasa takut karena tujuan-tujuan tertentu.Menurut Hoffman,dalam buku Inside Terrorism, terorisme adalahpenciptaan ekploitasi ketakutan yang dilakukan dengan sengaja melalui kekerasan atau ancaman kekerasan dalam rangka mencapai perubahan  politik(the deliberate creation and exploitation of fear trough violence or the threat of violence in the pursuit of political change).1)

Mengutip definisi yang diberikan oleh Departermen Pertahanan Amerika Serikat (1990), Ridwan al-Makassary menuliskan, terorisme adalah penggunaan kekuatan atau  kekerasan yang tidak berdasarkan hukum atau mengancam,yang menghancurkan individu dan harta benda untuk memaksa dan mengintimidasi pemerintah dan masyarakat,seringkali digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan politik agama atau ideologi.2)Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,terorisme adalah penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan (terutama tujuan politik) dengan praktik tindakan teror.3)

A.M. Fatwa dalam bukunya Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme,mengatakan bahwa terorisme adalah penggunaan kekerasan sebagai alat komunikasi pelaku kejahatan dengan sasaran (target) dimuka umum.4)Sedangkan menurut FBI (Biro Investigasi Federal Amerika Serikat), terorisme adalah tindakan kekerasan melawan hukum atau kejahatan melawan orang-orang atau perbuatan dengan mengintimidasi atau memaksa satu pemerintah, warga sipil dan unsur masyarakat lainnya, dengan tujuan mencapai target sosial politik tertentu. Menurut Perpu No. 1 tahun 2002 (UU No. 15 tahun 2003), tindak pidana terorisme mengandung unsur kejahatan, kekerasan atau ancaman kekerasan, korban kecelakaan, termasuk kerusakan dan kehancuran objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas  publik atau fasilitas internasional.5)

Majelis Ulama Indonesia (MUI)  dalam fatwanya tertanggal 22Syawal 1424 H/16 Desember 2003 M, menyatakan bahwa terorisme adalah tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban yang menimbulkan ancaman serius terhadap kedaulatan negara, bahaya terhadap keamanan, perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat. Terorisme adalah salah satu bentuk kejahatan yang diorganisasi dengan baik (well organized), bersifat transnasional dan digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (extra-ordinary crime) yang tak membeda-bedakan sasaran (indiscriminative).6)

Gerakan teror atau terorisme dapat dilakukan oleh perorangan dan atau korporasi, juga dapat dilakukan oleh negara. Terorisme yang dilakukan oleh bukan negara (non-state entities) biasanya dilakukan oleh berbagai gerakan yang berlandaskan semangat keagamaan, ideologi, politik, gerakan perlawanan terhadap pemerintah tiran, perjuangan kemerdekaan atau  separatisme. Berbeda denganteror lainnya, teror yang digunakan untukperjuangan kemerdekaan  yang ditujukan pada kaum penjajah haruslah dilihat sebagai bukan bagian dari terorisme yang kita musuhi selama ini.7)

Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas tersebut, sudah pasti bahwa aksi terorisme adalah tindakan yang merugikan baik segi metariil (keruskaan fasilitas umum, seperti gedung, jalan, kendaraan, dll) maupum imateriil (goncangan jiwa, ketakutan, trauma, dll).Itu sebabnya, terorisme menjadi musuh bersama yang harus dikikis habis.Apa saja faktor penyebab terjadinya aksi terorisme?  

Faktor Penyebab Aksi Terorisme

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan terjadinya aksi terorisme.8)

1.    Faktor Pemikiran
Rasulullah SAW sangat mewanti-wanti umat Islam untuk tidak terjebak pada tindakan ekstremisme (at-tatharruf al-dini) dan keras(al-tasyaddud).Ekstremisme pemikiran ini sangat berbahaya, karena akan menjadikan orang lain yang berbeda pandangan sebagai musuh yang layak dibasmi. Lantas, biasanya, akan dicari-cari kesempatan untuk membinasakannya dengan cara apapun.

2.    Faktor Ekonomi
William Nocek pengarang buku Perwajahan Dunia Barumengatakan, terorisme yang belakangan ini muncul merupakan reaksi dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di dunia, liberalisme ekonomi yang mengakibatkan perputaran modal hanya bergulir dan dirasakan bagi yang kaya saja,mengakibatkan jurang yang sangat curam pada yang miskin.

3.    Faktor Politik
Stabilitas politik yang diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan bagi rakyat adalah cita-cita semua negara. Kehadiran para pemimpin yang adil, bijaksana,berpihak pada rakyat,tidak hanya memperkaya diri dan menjamin hak-hak rakyat,tentu akan melahirkan kebanggaan dari anak negara untuk selalu membela dan memperjuangkannya. Sebaliknya jika politik yang dijalankannya adalah politik kotor, politik hanya berpihak pada pemilik modal kekuatan-kekuatan asing, bahkan politik pembudakan rakyat,maka kondisi ini lambat laun akan melahirkan tindakan skeptis masyarakat,yang akan menimbulkan mudahnya muncul kelompok-kelompok atas nama agama yang berbeda baik politik, agama maupun politik sosial yang mudah saling menghancurkan satu sama lainnya.

4.    Faktor Sosial     
Diantara faktor munculnya pemahaman banyaknya perkara-perkara yang menyedot perhatian masa yang berujung pada tindakan-tindakan anarkis,yang akhirnya melahirkan antipati sekelompok orang yang bersikap bercerai dengan masyarakat.Pada awalnya sikap berpisah dengan masyarakat ini diniatkan untuk menghindari kekacauan yang ada,namun lama kelamaan sikap ini berubah menjadi sikap antipati dan sikap memusuhi masyarakat itu sendiri.

5.    Faktor Psikologis
Faktor ini sangat terkait dengan pengalaman individual seseorang.Pengalaman dengan kepahitan hidupnya, lingkungannya, kegagalan karir pekerjaannya dapat saja mendorong seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang,bahkan anarkis. Jika halini terus berlangsung tanpa adanya pembinaan dan pembimbingan yang tepat, orang tersebut akan mengejutkan sebagai reaksi untuk sekedar menampakkan eksistensi dirinya. Dr.Abdurohman al-Almathrudi pernah menulis, sebagian besar orang yang bergabung pada kelompok garis keras adalah mereka yang secara pribadi mengalami kegagalan dalam hidup dan pendidikannya.Mereka inilah yang harus kita bina dan kita perhatikan.Sehingga mereka yang secara ekonomi memiliki nasib kurang beruntung, akan terhindar dari aksi-aksi yang merugikan.

6.    Faktor Pendidikan  
Sekalipun pendidikan bukanlah faktor langsung yang dapat menyebabkan munculnya gerakan terorisme, akan tetapi dampak yang dihasilkan dari suatu pendidikan yang kelirujuga sangat berbahaya. Pendidikan jika yang disuguhkan pada masyarakat lebih sering mengejek daripada mengajak, lebih sering memukul  daripada merangkul, lebih sering menghardik dari pada mendidik, maka akan menghasilkan generasi masyarakat yang merasa dirinyalah kelompok yang paling benar, sementara kelompok lain selalu salah. Maka yang harus diperangi adalah akibat dari sistem pendidikan kita yang salah.Sekolah-sekolah agama dipaksa untuk memasukkan kurikulum umum, sementara sekolah umum alergi memasukkan kurikulum agama. Akibatnya tidak sedikit orang yang terlibat aksi terorisme justru dari kalangan yang berlatar belakang pendidikan umum, seperti dokter, insinyur, ahli tehnik, ahli sains dan lain lain, namun hanya mempelajari ilmu agama sedikit dari luar sekolah.

Terorisme Ancaman Nyata Bagi Perdamaian
Dalam buku Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi,dijelaskan bahwa meskipun kampanye global melawan terorisme meningkat, tetapi ancaman terorisme tak surut bahkan semakin meningkat.Teknik serangan terorispun semakin canggih dengan efek yang sangat mengerikan. Penggunaan bom bunuh diri menjadi sering dilakukan seperti pada kasus Tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat yang menelan korban lebih dari 3000 jiwa,  TragediPengeboman 12 Oktober 2002 di Bali yang menelan korban sebanyak 202 jiwa, Tragedy 12 Mei 2003 Riyad Arab Saudi yang menelan korban 34 jiwa,Tragedi 15 Mei 2013 di Cassablangka,Maroko yang menelan korban 41 jiwa,Tragedi 5 Agustus 2003 di Hotel JW Marriot,Jakarta yang menelan korban 12 jiwa dan sebagainya.9)

Aksi terorisme yang lazim dilakukan adalah aksi pemboman, pembunuhan, penculikan, penyanderaan, pembajakan, serangan senjata dan pembakaran. Pemboman adalah cara yang paling sering digunakan dan paling disukai para teroris, karena biayanya yang murah, bahannya mudah didapat, mudah dirakit dan mudah digunakan serta akibatnya yang langsung menarik perhatian media massa. Penggunaan bom dapat mengakibatkan jatuhnya korban yang lebih banyak dan kerusakan fasilitas umum yang lebih besar.

Akhir-akhir ini terdapat kekhawatiran yang meningkat bahwa teroris akan menggunakan senjata-senjata pembunuh/penghancur masal yang terdiri dari senjata kimia, radio aktif, biologi dan nuklir dengan Weapons of Mass Destruction (WMD). Ambang kekhawatiran ini yaitu terjadi penyerangan yang menggunakan gas syaraf Sarin dikereta bawah tanah Tokyo pada tanggal 20 Maret 1995 yang telah menyebabkan 12 orang meninggal, dan melukai lebih dari 5000 orang. Dari beberapa hal diatas, sudah jelas bahwa teroris menjadi musuh kita yang sebenarnya, terutama teroris yang berjubahkan agama.10)

Dengan demikian, terorisme itu sangat mengancam perdamaian.Islam sebagai agama damai, tentu saja konsen dengan upaya penciptaan perdamaian dunia.Untuk itu, kegiatan terorisme yang berdampak perpecahan dunia dan hilangnya perdamaian sangat dikecam oleh Islam dan bahkan menjadi musuhnya. Musuh inilah yang semestinya diperangi oleh kaum muslim, terutama oleh remaja-remaja muslim.

Respon Terhadap Terorisme Global
Setelah Tragedi 11 September 2001, Amerika Serikat menggerakkan dunia untuk mendukung kampanye war on terrorism.Negara-negara didunia umumnya menyambut ajakan perang melawan terorisme yang dituntut Amerika Serikat. Negara-negara Islam, termasuk Indonesia, meski tampak ragu pada awalnya, akhirnya menyuarakan juga perang  terhadap terorisme.Negara-negara yang dituduh memfasilitasi teroris (exist of evil), dijadikan sasaran operasi militer seperti yang terjadi di Afganistan dan Irak. Sedangkan negara yang terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang menentang Amerika Serikat menjadi “transit” para teroris, maka Amerika Serikat akan memfasilitasi teknis dan memberikan bantuan keuangan, militer, agar membatasi ruang gerak danmenindak kelompok pembangkang tersebut.11)

Di Amerika Serikat sendiri, selain menghilangkan nyawa ribuan orang, paska Tragedi 9/11 kebebasan sipil tonggak kebanggaan Amerika Serikat menjadi korban bisu tragedi itu. Setelah 11 September, pemerintah George W. Bush mengatakan …”the war on terror will not be won on defensive. We must take the enemy, disturb his plans, and confront the wors threats before they emerge..”(Perang melawan teror tak dapat dimenangkan secara defensive.Kita harus membawa pertempuran kepada musuh, ganggu rencananya, dan hadapi tantangan terburuk sebelum ia menjelma).Kemudian Bush meluncurkan Undang-undang baru, seperti Patriot Act dan Homeland Scurity Act yang kontroversial.Undang-undang ini memungkinkan tersangka ditahan tanpa izin dan tanpa pembelaan yang memadai.  Mengenai hal ini Indonesia mengeluarkan dua Perpu, yaitu Perpu No. 1 Tahun 2000 dan Perpu No. 2 Tahun 2003yang kemudian disahkan menjadi UU No. 15 dan UU No. 16 tahun 2003.12)

Mencegah Terorisme Sebagai Kejahatan Kemanusiaan
Terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan dan peradaban serta merupakan satu ancaman kedaulatan negara, karena terorisme saat ini bersifat global yangmenimbulkan bahaya terhadap keamanan, perdamaian, menghalangi upaya menciptakan kesejahteraan masyarakat dan melanggar HAM.Karena itu, terorisme harus diberantas oleh semua pihak, termasuk dengan pengajaran akan pemahaman dan penghayatan terhadap agama yang utuh dan benar, agar tak mudah terpengaruh atau dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan tertentu.13)

Adanya umat Islam yang tersandung kasus terorisme bisa saja terjadi karena tidak mempelajari, memahami, menerapkan ajaran Islam yang utuh dan komprehensif.Namun, menuduh dan meyudutkan umat Islam sebagai penyebab terorisme merupakan propaganda hitam yang justru kontraproduktif dalam pemberantasan terorisme dan bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan HAM.Atas dasar hal tersebut, maka adanya wacana atau usaha mencampuri urusan internal kelembagaan Islam, seperti bujukan untuk merubah kurikulum lembaga pendidikan Islam dalam kaitan dengan isu terorisme, harus ditolak.Penolakan juga perlu dilakukan terhadap dorongan barat agar Indonesia mempunyai UU Antiterorisme yang melegitimasi langkah-langkah preventive sebagaimana berlaku di Australia yang sangat berbahaya bagi penyuburan demokrasi dan penegakan HAM di Indonesia yang sekarang masih labil.Karena itu, pemberantasan terorisme global harus tetap berpegang pada penghormatan terhadap agama, kedaulatan negara, serta penghargaan terhadap HAM dan demokrasi.

Selanjutnya untuk mencegah tanah air Indonesia menjadi ajang terorisme global, sebagaimana disarankan oleh Ronny R. Nitibaskara, maka negara adidaya Amerika Serikat “perlu dihimbau agar lebih mawas diri”. Sepanjang Amerika Serikat tak bersedia rendah hati dan mengubah kebijakan internasionalnya, khususnya yang berkaitan dengan Israel, sepanjang itu pula global terrorismakan mengarah kepadanya. Dalam kaitan itulah, sikap berlebihan Barat mendanai dan mensponsori pengembangan sekularisme dan liberalism Islam di Indonesia, jelas kontra produktif bagi usaha jangka panjang memerangi terorisme. Sekularisme adalah titik ekstrem dan akanmemunculkan titik ekstrem berikutnya: radikalisme-terorisme. Karena itu bagi bangsa Indonesia, usaha memerangi terorisme bisa dimulai dengan pengembangan dan penyemaian pemikiran-pemikiran keagamaan dan politik yang moderat(ummatan wasatan). Tidak sesungguh-sunguh menghilangkan akar terorisme, sama halnya memelihara kejahatan ini tumbuh laten.

Dengan demikian, usaha-usaha dalam memerangi terorisme dalam bentuk apapun seharusnya tidak ditempuh dengan cara-cara kekerasan pula, karena dapat menjadikan terorisme baru.Apa yang kita lihat dalam krisis Amerika Serikat, Afganistan, dll, memperlihatkan kecenderungan tersebut. Cara-cara kekerasan pada akhirnya hanya melahirkan “lingkaran setan” terorisme yang akan menumpulkan segala upaya untuk mengatasi terorisme secara komprehensif.

Kekerasan Tidak Identik dengan Islam
Disebabkan adanya segelintir Muslim yang menjadi pelaku terorisme global, maka islam diidentikan sebagai agama yang memberI legitimasi bagi tindakan terorisme. Akhirnya Islam ditunjuk sebagai musuh bagi Barat.Ini asumsi yang sangat keliru terhadap Islam.Didalam Islam, kedamaian tidak saja terekspresikan dalam ayat ataupun hadis, tetapi juga dalam kenyataan hidup yang sesungguhnya.Islam disebarkan melalui perdamaian, tidak melalui pemaksaan, apalagi dengnan pertumpahan darah danair mata.Terlihat jelas dalam al-Qur’an, bahwa Islam bukan agama yang memaksa, tetapi agama yang ingin menawarkan jalan terbaik dalam mengarungi hidupdi dunia maupun di akhirat nanti. Allah SWT berfirman: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama(Islam).Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yg sesat.” (Qs. al-Baqarah [2]:256).

Saat ini kita sebagai bangsa sedang dilanda masalah.Mulai krisis ekonomi, kesenjangan sosial, kemiskinan, merajalelanya tindak korupsi dan teror yang menghantui kita.Kenyataan ini merupakan cermin dari buramnya kehidupan bangsa yang mayoritas Islam.Kenyataan ini bisa merongrong kita sebagai bangsa yang santun, pemaaf dan mengedepankan keharmonisan.Kita harus kembali kepada ajaran Islam yang santun dan damai.

Banyak sekali ayat maupun Hadis Nabi yang menekankan pentingnya sopan santun atau keramahan pada seluruh makhluk Allah SWT. Misalnya, Allah SWT menegaskan bahwa Muhammad SAW tidak diutus kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta (wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin). Rasulullah SAW juga mengingatkan, sayangilah atau kasihilah penduduk bumi, maka kita akan dikasihi penduduk langit. Hadis kasih sayang kepada seluruh makhluk di bumi, tidak hanya manusia melainkan hewan dan tumbuh-tumbuhan, ini antara lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal.

Islam juga menganjurkan persaudaraan, bukannya permusuhan.Dalam Qs. al-Hujurat: 10, Allah SWT berfirman: “innamal mu’minuna ikhwah” (Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara).Berdasarkan hal ini, kita bisa mengambil pelajaran bahwa sesungguhnya seluruh umat Islam diseluruh penjuru dunia itubersaudara, yang terikat oleh tali agama.Tidak seharusnya sebagai saudara saling menyakiti. Dan Allah tegas-tegasnya tidak menyukai permusuhan atau perpecahan, seperti yang tertulis dalam Qs. Ali ‘Imran: 153; “Wa’tashimu bi habl Allah jami’an wa la tafarraqu” (berperanglah kamu sekalian pada tali ”agama” Allah dan janganlah engkau berpecah belah.” Dalam Hadispun dikatakan, bahwasanya ‘’Orang mu’min dan mu’min lainnya bagaikan satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain”. Hadits ini menerangkan bahwa umat muslim harus seperti sebuah bangunan yang saling menopang, yang ketika ada mu’min lain yang lemah, maka mu’min lainnya harus membantu menguatkannya kembali.

Karena pada umumnya pelaku tindak terorisme adalah kaum muda atau remaja, maka sudah semestinya mereka diperi pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam di atas yang sangat menekankan keramahan, perdamaian dan persaudaraan. Para remaja harus lebih giat lagi menggali doktrin agamanya, sehingga memiliki intelektualitas yang mapan yang karenanya tidak akan menjadi pemuda labil yang mudah dikendalikan orang-orang tertentu guna melakukan tindak kekerasan. Jihad yang sesungguhnya pada saat ini adalah menciptakan perdamaian dunia, bukan membunuh orang-orang yang tak bersalah dengan meledakkan bom.[]
Cikulur, 16 Mei 2013


FOOT NOTES
*)Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 17 Mei 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**)Aktivis Triple Ing Cummunity, Ketua PMR Qothrotul Falah dan Siswa Kelas X-A SMA Qothrotul Falah asal Cikulur Lebak Banten.
1.    Ridwan al-Makassary, Terorisme Berjubah Agama (Ciputat: PBB UIN-KAS, 2007), h. 9-10.
2.    Ridwan al-Makassary, Terorisme Berjubah Agama, h. 10.
3.    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 1185.
4.    A.M. Fatwa, Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme (Jakarta: Blantika, 2007), h. 60.
5.    A.M. Fatwa, Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme, h. 60-61.
6.    Majelis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (Jakarta: MUI, 2010), h. 725-726.
7.    www.google.com
8.    www.google.com
9.    Abdurrahman Wahid, dkk.,Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi (Jakarta: Spectrum, 2006) h. 21.
10.    Abdurrahman Wahid, dkk.,Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi, h. 21.
11.    A.M. Fatwa, Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme, h. 66
12.    A.M. Fatwa, Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme, h. 66
13.    A.M. Fatwa, Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme, h. 71    


1.    al-Qur’an al-Karim
2.    A.M. Fatwa. Menghadirkan Moderatisme Melawan Terorisme. Jakarta: Blantika, 2007.
3.    Abdurrahman Wahid, dkk. Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi. Jakarta: Spectrum, 2006.
4.    Majelis Ulama Indonesia. Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Jakarta: MUI, 2010.
5.    Ridwan al-Makassary. Terorisme Berjubah Agama. Ciputat: PBB UIN-KAS, 2007.
6.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
7.    www.google.com