Menjadi Remaja yang Berilmu dan Berkarya

REMAJA pada zaman sekarang sangatlah berbeda dengan remaja pada zaman dahulu.Secara umum, remaja zaman dahulu akhaknya sangat terjaga.Sedangkan pada zaman sekarang,secara umum akhlak remaja mengalami penurunan. Bahkan orangtua sendiri yang melahirkannya dengan taruhan nyawa, terkadang tak dianggapnya sebagai orangyang berjasa bagi kehidupannya.

Untuk itu, tepat kiranya jika Nabi Muhammad Saw diutus kebumi oleh Allah Swt untuk menyempurnakan akhlak.Maka dari itu, kita sebagai remaja harus memiliki akhlak yang baik, apalagi kita berada di pondok pesantren.Sebagai santri, kita haruslah mencerminkan umat Muhammad yang sesungguhnya. Mudah-mudahan, kita semua sebagai santri khususnya dan remaja umumnya memliki akhlak yang baik.

Menjadi remaja yang baik, tentu saja tidak mudah, karena harus megalami proses yang panjang. Maka dari itu, remaja sekarang harus memiliki beberapa faktor penting, diantaranya mempunyai ilmu/berilmu dan berguna bagi masyarakat sekitar. Selain itu, sebagai remaja seharusnya kita berpikir perihal masa depan, bahwa zaman yang akan datang akan banyak perubahan. Misalnya, pergaulan, kecanggihan teknologi dan sebagainya.

Agar kita menjadi remaja yang berkualitas, untuk masa depan kita, kita harus belajar dengan sebaik-baiknya; dan tentu tanpa meninggalkan perintah Allah Swt dan tetap bekerja keras untuk menggapai cita-cita kita, serta dibarengi do’a, karena do’a adalah senjata bagi orang muslim. Do’a juga otaknya ibadah bagi yang melakukannnya, seperti dijelaskan dalam Kitab Lubab al-Hadits karya Jalal al-Din al-Suyuti. Rasulullah Saw bersabda: “Do’a itu otaknya ibadah.”(H.R. al-Tirmidzi dari Anas).1)

Jika hal ini kita sudah lakukan dengan sebaik-baiknya, maka insya Allah kita akan mudah menjawab pertanyaan kita tentang bagaimana masa depan kita nanti. Kita sebagai makhluk sosial pasti membutuhkan ilmu,karena Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang mengharapkan kehidupan dunia, maka hendaknya ia berilmu.Siapa yang mengharapkan kehidupan akhirat, maka hendaknya ia berilmu.Dan siapa yang mengharapkan kedua-duanya, maka hendaklah ia berilmu.”Inilah pentingnya ilmu sebagai alat utama untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat, yang saya dapat pada pelajaran Hadis yang dilaksanakan sepekan sekali di Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

Siapa Remaja yang Berkarya?

Ungkapan “remaja yang berkarya”terdiri dari dua kata, yaitu remaja dan (yang) berkarya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ukuran remaja itu sejak mulai dewasa dan umur yang bukan kanak-kanak lagi.2) Sedangkan berkarya, dari akar kata karya, itu bermakna hasil ciptaan yang bukan tiruan, cetakan segala sesuatu yang yang dicetak, rekaman hasil pekerjaan suara,seperti musik, tuturan, cerita, hasil sastra baik berupa puisi, prosa, maupun lakon, seni ciptaan yang dapat menimbulkan rasa indah bagi orang yang melihat, mendengar, ataupun yang merasakan dan sebagainya.3)

Saya sendiri memaknai remaja yang berkarya itu sebagai remaja yang didalam dirinya mengandung beberapa hal; memiliki ilmu atauberilmu dan bermanpaat bagi masyarakat sekitarnya. Berdasarkan hasil wawancara saya dengan Ketua Organisasi Pelajar Pondok Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Tahun2012-2013,Paiz Apipi, dia mengatakan bahwa remaja yang berkarya adalah remaja yang mendatangkan kebaikan bagi orang banyak (diri sendiri, masyarakat dan sebagainya).4)Sedangkan Fauzul Imam Muzayid, Ketua Dewan Kerja Pramuka Pondok Pesantren Qothrotul Falah Tahuun 2012-2013, dia mengatakan, bahwa remaja yang berkarya adalah yang kehidupannya sangat berarti, bermakna dan dibanggakan banyak oran.5)Untuk menjadi remaja yang bermanfaat kita dituntut memfokuskan rencana hidup kita untuk diwujudkan dalam potret diri kita sendiri. UstadzAhmad Hudaedi,seorang guru senior Pondok Pesantren Qothrotul Falah mengatakan, remaja yang bermanfaat adalah remaja yang bisa mengabdikan dirinya untuk orang banyak.6)

Itulah beberapa pemaknaan “remaja yang berkarya” menurut orang-orang yang berada disekitar kita.Pemaknaan ini, sesungguhnya sejalan dengan spirit Hadis “khairun al-nas anfa’uhum li al-nas/sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Mudah-mudahan kita semua ada di antara salah satu pemaknaan tersebut.Amin ya Allah ya Rabbal ‘alamin.

Selain bermanfaat dengan karyanya, remja juga harus memiliki keluasan ilmu. Dan apabila kita ingin menjadi orang yang berilmu, maka kita harus mempunyai dukungan dari beberapa orang. Seperti  perhatian dari orang tua, kepedulian seorang guru, serta pemerintah juga harus mendukung dan tak lupa dibarengi usaha dan do’a.7)

Perhatian Orang Tua
Orang tua adalah orang yang melahirkan kita.Mereka adalah yang membimbing kita dari kecil hingga besar.Tetapi apabila kita telah diberi amanah oleh orangtua untuk mencari ilmu di tempat yang jauh dari rumah, orang tua harus memperhatian (mengontrol) anaknya.Anak zaman sekarang, apabila tidak diperhatikan, kemungkunan besar akan menjadi anak yang nakal.Janganpun tidak diperhatikan, yang diperhatikanpun bisa menjadi anak yang nakal.Kita sebagai anak seharusnya banyak mengucapkan terima kasih kepada kedua orangtua, karena merekalah yang memperjuangkan kita bertahan hidup.

Kita miris melihat peristiwa-peristiwa tragis di luar sana. Diberitakan oleh televisi swasta beberapa waktu lalu, ada  seorang anak yang tega membunuh ibu kandungnya, bahkan sampai memakan hatinya.Itu perbuatan criminal, apalagi dilakukan kepada ibu yang telah melahirkan dan merawatnya tanpa lelah. Sebaliknya, tak sedikit pula orangtua yang membuat anaknya tersakiti.Kita semua sebagai santri khususnya dan remaja umumnya, marilah kita berbakti kepada orangtua.Kita minta kepada mereka untuk melimpahkan ridhonya bagi kita dalam menuntut ilmu, karena ridho Allah tergantung ridhoorangtua dan murka Allah tergantung murka orangtua pula.Maka dari itu, janganlah kita semua membuat kedua orangtua kecewa kepada kita.

Sebaliknya, jika anak-anaknya masih belum bisa mandiri secara ekonomi dan mereka tangah menjalani proses belajar, maka orang tua juga harus memperhatikan kebutuhan pendidikannya, sehingga anak tidak liar karena alasan mencari kecukupan kebutuhan pendidikannya. Banyak anak yang gagal studi karena orang tuanya tidak peduli dengan kebutuhan ekonomi anaknya.Untuk pendidikan anak-anaknya, orang tua perlu melakukan apa saja, sehingga mereka menginjak usia mandiri.

Namun demikian, kontrol orang tua terhadap anak-anaknya tetap harus diperhatikan; bisa dengan menjalin komunikasi melalui wali siswa, guru, kontrol langsung ke anak dan sebagainya. Jika hal-hal demikian tidak dilakukan, dan anak cenderung dibebaskan tanpa kontrol, tak mustahil orang tua akan ketinggalan mengikuti perkembangan pendidikan anak. Kalau perkembangan itu ke arah yang baik, tentu fine-fine saja. Namun bagaimana jika perkembangan itu ke arah sebaliknya? Orang tua tidak bisa menyalahkan guru dan lembaga sebagai tempat anak menjalani pendidikan, karena keberhasilan pendidikan anak tergantung pada guru, orang tua dan anak itu sendiri secara bersamaan.

Kepedulian Guru

Diceritkan dalam buku Laskar Pelangi the Phenomenon, Asrori S. Karni menuliskan semangat Bu Mus ketika mendidik anak muridnya dalam Film Laskar Pelangisebagai pelajaran moral penting bagi setiap pangajar atau guru. Tak banyak guru yang punya keikhlasan dan ketelatenan membimbing anak-anak yang mentalnya terbelakang. Bahkan, ada sekian guru yang melihat masuknya anak dengan kebutuhan khusus dengan khawatir, bahwa hal itu akan menurunkan reputasi dan peringkat sekolah. Ada pula yang menilai ketelatenan mengurus anak demikian sebagai buang-buang waktu.8)

Hal itu dialami Hasyim Wahid, guru Matematika di Madrasah Ibtidaiyah Banyuwangi, Jawa Timur. Ia mengabungkan metode inklusi dan ekslusi. Kalau diajar di kelas inklusi terus, bersama murid lainyang lebih pintar, nilai lebihnya hanya pada soal pembelajaran interaksi sosial.Namun dalam hal penguasaan materi cukup merepotkan.Kalau mengikuti standar pendidikan anak yang lebih pintar, anak yang terbelakang akan tertinggal. Sementara bila memakai standar pengajaran anak yang  tertinggal atau terbelakang, maka anak-anak yang pintar merasa terlalu ringan, sehingga kurang bersemangat dalam belajarnya serta meremehkan pelajaran tersebut.Atas dasar itu, maka Hasyim menambahkan jam belajarnya 15 menitan, khususnya untuk anak-anak terbelakang atau tertinggal, dengan cara pengajarannya perlahan-lahan.9)

Apa yang dilakukan Bu Mus dan Hasyim, merupakan sebentuk kepedulian guru pada anak dididiknya. Mereka begitu memperhatikan kebutuhan pendidikan anak didiknya, hingga yang berkebutuhan khusus sekalipun. Dalam hal lain, semisal memotivasi, mengarahkan, membangkitkansemangat belajar mereka dan semangat mengejar cita-citanya, tentu saja guru-guru seperti Bu Mus dan Hasyim Wahid akan lebih peduli lagi. Bahkan jika anak didiknya menghadapi problem pribadi atau keluarga, mereka juga berupaya mencarikan jalan tengahnya. Guru-guru seperti inilah yang akan mampu menghantarkan anak didiknya menjadi generasi yang cemerlang, yang memiliki manfaat banyak bagi masyarakat, nusa bangsa dan agamanya.

Bagaimana dengan kepedulian guru-guru pada umumnya? Televisi swasta memberitakan, di sebuah propinsi (penulis tidak ingin menyebutkan nama propinsinya) ribuan guru mogok mengajar hanya karena sertifikasinya belum turun. Padahal mereka juga sudah mendapatkan gaji bulanan. Aksinya pun lantas membuat anak didik terlantar. Berapa honor Bu Mus dan Hasyim Wahid? Toh mereka tidak pernah mengeluh apalagi mogok mengajar, hanya karena honor yang kecil atau sertifikasi yang tidak turun. Kepedulian dan keteladanan guru di hadapan anak didiknya menjadi lebih penting dari segalanya. Semoga saja Bu Mus dan Hasyim Wahid bisa menjadi inspirasi dan contoh hidup yang terus diteladani.

Dukungan Pemerintah

Untuk mewujudkan generasi emas, yang kelak akan memegang estafet pengelolaan bangsa ini, maka pemerintah harus ambil peran penting, mengingat pemerintah sebagai penyelenggara negara. Peran penting itu, antara lain, menyediakan fasilitas belajar-mengajar yang memadai baik di kota maupun di kampung-kampung, meminimalisir bahkan menggeratiskan biaya pendidikan minimal hingga tingkat SMA, memberikan peluang beasiswa baik di SMA/perguruan tinggi bagi seluruh warga (terutama dari kalangan miskin), memberikan banyak media pembelajaran di sekolah-sekolah swasta terutama dan negeri, menyiapkan lapangan pekerjaan yang memadai sehingga para lulusan memiliki arah yang jelas setelah menjalani musim pendidikan, mewujudkan kurikulum yang kreatif dan aktif bagi siswa, dan banyak lagi.

Selain itu, harus diakui sistem pembelajaran yang memungkinkan setiap orang menjadi manusia yang beradab, berbudi luhur,kreatif, mampu menggunakan hari, naluri dan nalarnya untuk kebaikan dan kesejahteraan di lingkungan sekitarnya di negeri ini belum menjadi kebijakan yang utamapemerintah.10) Dari anggaran yang disediakan, perekrutan guru, kesempatan beasiswa, juga masih menunjukkan bahwa belum adanya komitmen yang tinggi dan jelas,sehingga masih banyak rakyat miskin yang tidak mampu berpendidikan tinggi. Kasus-kasus yang menimpa bangsa kita menyangkut dunia pendidikan sangat berjibun. Mulai dari orang tua yang tidak sanggup menyekolahkan anaknya, gedung-gedung yang ambruk tidak terurus, sampai beberapa anak yang nekat bunuh diri karena iuran atau seragam yang tak mampu terbeli terbeli.11) Di sinilah pemerintah harus menampakkan kebijakannya.

Jika pemerintah tidak memainkan peranan penting dalam hal ini, dan hanya menjadikan anggaran pendidikan sebagai proyek basah layaknya kue untuk rebutan, maka harapan mewujudkan pendidikan yang baik di negeri ini mustahil akan terwujud. Pemerintah dengan kekuatan besarnya, baik kekuatan pendanaan maupun kekuatan kebijakan, harus memainkan peran ini secara memadai dan proporsional. Inilah dukungan yang terpenting, yang harus diberikan oleh pemerintah.Dan tentu saja, kebijakan ini harus didukung oleh semua komponen bangsa.

Bersahabat dengan Ulama
Hidup pasti membutuhkan tuntunan.Tanpa ada yang menuntun, kita akan tersesat di jalan. Kebenaran di dunia serba relatif. Karena itu, untuk mengetahui hakekat kebenaran, kita harus mengetahuinya ilmunya, karena ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan).12)

Menurut Yudy Effendy dalam karyanya Sabar dan Sukur,ilmu nyang benar adalah ilmu yang mempunyai keterkaitan dengan ajaran Allah Swt. Itu sebabnya, kita tidak boleh sembarangan menunutut ilmu. Kita tidak boleh sembarangan menjadikan seseorang atau sesuatu sebagai penuntun kita.13)Jika salah, bukannya kebenaran yang kita dapatkan, melainkan kesesatan. Dengan ilmu yang diajarkannya,kita akan kaya spiritual. Rasulallah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan ilmu dengan mencabutnya dari semua manusia, akan tetapi dengan menghilangkan ulama, sehingga ketika tidak ada lagi orang ‘alim, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin, yang ketika ditanya mereka akan memberi fatwa tanpa didasari ilmu, sehingga fatwa tersebut akan sesat dan menyesatkan”. (H.R. al-Bukhari).14)

Selain itu, remaja harus dekat dengan ulama dan memulikannya.Dalam Kitab Lubab al-Haditsdiriwayatkan, Rasulallah Saw bersabda:“Muliakanlah ulama, karena sesungguhnya mereka adalah pewaris-pewaris para nabi.Siapa memuliakan orang yang berilmu, maka dia sungguh memuliakanku.Siapa memuliakanku, maka sungguh dia memuliakan Allah.Siapa memuliakan Allah, maka tempat kembalinya surga.”15)SabdaNabi ini menunjukkan, memuliakan orang berilmu berarti memuliakan Nabi.Memuliakan Nabi maka akan menjadi kekasihnya. Dan memuliakan Nabi berarti memuliakan Allah, sebab Nabi adalah kekasih-Nya. Efeknya ia akan mendapat surga, karena surga itu tempatnya pada kekasih Allah. Dengan memulikan para ulama, mudah-mudahan kita menjadi umat Nabi Muhamad Saw yang mendapatkan syafa’atnya pada hari kiamat.

Berkarya di Luar Bangku Sekolah
Kendati pendidikan formal atau pendidikan di bangku sekolah itu sangat penting, sebagaimana telah diuraikan di atas, namun ternyata banyak remaja yang sukses dengan karyanya di luar bangku sekolah. Contoh kecil adalah penemu lampu pijar yaitu Thomas Alfa Edison.Dia adalah sang penemu yang karyanya sangat bermanfaat bagi semua manusia di muka bumi ini, apapun agama dan latar belakangnya. Dia orang yang memiliki karya besar, walaupun tidak berpendidikan formal memadai (sering tidak naik kelas).Apalagi kuliah, SD saja tidak tuntas. Namun dengan kejeniusannya, dia bisa mengubah dirinya sebagai manusia yang sangat berguna bagi dunia ini. Bahkan dengan kegagalannya hingga 999 kali, ia tetap tidak mengendurkan semangatnya untuk menemukan lampu pijar.

Bagaimana dengan remaja zaman sekarang?Banyak diantara kita yang berpendidikan formal memadai, namun banyak yang tidak memiliki karya bermanfaat bagi orang banyak. Tak jarang, mereka malah menjadi beban bagi bangsa, semisal pengangguran, korupsi, dan sebagaiya. Namun banyak pula yang sangat bermanfaat bagi orang banyak, kendati tidak memiliki pendidikan tinggi, seperti Almarhum UstadzJeffry al-Bukhori. Beliau menjadi dai yang ceramahnya banyak mewarnai kehidupan para remaja untuk menjadi lebih baik.

Langkah untuk Bangkit

Kesuksesan tidak selamanya menyertai perjalanan manusia. Ada kalanya kesuksesan itu mudah diraih. Ada seringnya kesuksesan itu sulit digapai. Dan tak jarang, kegagalan yang justru sering mewarnai perjalanan kita. Andaikan kegagalan yang kita hadapi, bagaimana cara membangkitkannya kembali, sehingga kegagalan itu menjadi kekuatan yang dahsyat?

Menurut Robert T. Kiyosaki dalam bukunya the Cashflow Quadrant, diantara hal-hal yang penting dilakukan saat diterpa kegagalan, adalah: pertama, jadikan kekecewaan menjadi kekuatan. Dituliskannya, mereka seringkali bertemu orang yang takut “mencoba” sesuatu yang baru, yang dalam banyak kasus penyebabnya adalah karena takut kecewa. Mereka khawatir akan melakukan kesalahan ataupun ditolak. Untuk itu, hendaklah jangan pernah takut kecewa dan jadikanlah kekecewaan itu sebagai kekuatan.

Kedua, bersiaplah untuk kecewa. Robert megingatkan,“daripada menghindarinya, persiapkanlah dirimu”. Rasa kecewa adalah bagian penting dalam proses belajar. Seperti halnya kita bisa belajar dari kesalahan, demikian juga kita bisa memperkuat karakterdengan kekecewaan.Hanya orang bodohlah yang berharap semua berjalan sesuai keinginnnya.

Dengan kemampuan membangkitkan diri dari kegagalan ini, insya Allah remaja bangsa ini akan menjadi remaja yang berilmu dan berkarya. Inilah remaja yang diidam-idamkan semua bangsa. Remaja yang di tangannyanasib bangsa ini digantungkan. Sudah siapkah kita menyambut amanah yang berat ini? Mari kita tingkatkan kadar belajar kita untuk menjadi alat menghasilkan karya yang bermanfaat bagi bangsa ini. Telah banyak yang diberikan bangsa ini. Apa balasan kita? Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 21 Mei 2013

FOOT NOTES
*)Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 24 Mei 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Aktivis Triple Ing Cummunity Siswa Kelas XI-IPS SMA Qothrotul Falah asal Lampung
1)    Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Hadits (Surabaya: Nurul Huda, T.Th.), h. 32.
2)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 944.
3)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 511.
4)    Wawancara dengan Paiz Apipi, di Asrama Putra Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Ahad, 19 Mei 2013.
5)    Wawancara dengan Fauzul Imam Muzayid, di Asrama Putra Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Ahad, 19 Mei 2013.
6)    Wawancara dengan Ahmad Hudaidi, di sela-sela istirahatnya di Kamar Pembimbing Santri, Ahad, 19 Mei 2013.
7)    Asrori S. Karni, Laskar Pelangi the Phenomenon (Jakarta: Mizan, 2008), h. 98.
8)    Asrori S. Karni, Laskar Pelangi the Phenomenon, h. 98.
9)    Asrori S. Karni, Laskar Pelangi the Phenomenon, h. 98-99.
10)    Faqihuddin Abdul Kodir, dkk, Bukan Kota Wali (Yogyakarta: Kutub Fahmina, 2006), h.153.
11)    Faqihuddin Abdul Kodir, dkk, Bukan Kota Wali, h.154.
12)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 422.
13)    Yudy Effendy, Sabar dan Syukur (Jakarta: Agra Media Pustaka, 2013), h. 84.
14)    Yudy Effendy, Sabar dan Syukur, h.85.
15)    Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Hadits, h. 8.
16)    Robert  T. Kiyosaki, the Cashflow Quadrant (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), h.310.

DAFTAR PUSTAKA
1.    Jalal al-Din al-Suyuti. Lubab al-Hadits. Surabaya: Nurul Huda, T.Th.
2.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
3.    Wawancara dengan Paiz Apipi, Ahad, 19 Mei 2013.
4.    Wawancara dengan Fauzul Imam Muzayid, Ahad, 19 Mei 2013.
5.    Wawancara dengan Ahmad Hudaidi, Ahad, 19 Mei 2013.
6.    Asrori S. Karni. Laskar Pelangi the Phenomenon. Jakarta: Mizan, 2008.
7.    Faqihuddin Abdul Kodir, dkk. Bukan Kota Wali. Yogyakarta: Kutub Fahmina, 2006.
8.    Yudy Effendy. Sabar dan Syukur. Jakarta: Agra Media Pustaka, 2013.
9.    Robert  T. Kiyosaki. the Cashflow Quadrant. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001.