Tugas Kekhalifahan = Tugas Membangun

SELAGI “hayat masih dikandung badan”, manusia akan terus mengikhtiarkan kebaikan bagi dirinya; baik yang bersifat batin maupun lahir. Apapun caranya, niscaya akan ditempuh. Secara teologis, inilah naluri dasar manusia, yang dicipta oleh Allah Swt untuk memakmurkan bumi melalui aksi-aksinya. Tujuannya semata untuk mengabdi kepada-Nya (Qs. al-Dhariyat [51]: 56). Hatta, dalam hal pembangunan lahir misalnya, andaipun besok ia ditakdirkan meninggal dunia, mak hari ini harus tetap berikhtiar menanam sebiji tetumbuhan, untuk kelangsungan hidup generasi berikutnya. Inilah manusia sebagai pemakmur bumi, sebagaimana diilustrasikan Nabi Muhammad, dalam sabdanya.        

Dua Potensi, Membangun sekaligus Merusak

Sudah dari “kanzun” Allah Swt, manusia ditakdir sebagai makluk dinamis yang akan terus memakmurkan bumi. Potensi ini sengaja disiapkan Allah SWT sebagai dinamisasi atas pergerakan bumi yang tiada pernah berhenti. Pesan inilah yang tertangkap dari untaian ayat al-Qur’a>n yang menceritakan “sisi demokratis”1) penciptaan manusia sebagai khalifah.

Allah Swt berfirman:  

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikah khalifah di bumi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. al-Baqarah [2]: 30).

Ayat di atas, oleh mufassir harakis semacam Sayid Qutb,2) disebut sebagai ayat yang berkisah perihal “parade kehidupan”,3) penyebutan yang mengandaikan bahwa ayat ini mengurai sejarah awal misi pemakmuran bumi. Bahkan Qutb menuliskan, melalui ayat ini, Allah Swt “hendak menyerahkan pengendalian bumi kepada makhluk yang baru,”4) yang dalam istilah Agus Mustofa disebut “manusia modern” (al-insan), lawan “manusia purba” (al-bashar).5) Manusia berpredikat al-insan al-kamil6) (manusia paripurna, superman) inilah yang dirasa paling tepat mengelola, memakmurkan dan membangun bumi ini,7) karena ia telah diberi banyak potensi; hati, perasaan, akal, fisik yang aktif, dll. Dan diantara hadiah terbesar yang Allah Swt berikan kepada “pengelola bumi” ini adalah bekal intelektual berupa 100 miliar neuron aktif serta 900 miliar neuron pendukung.8) Potensi yang hanya diberikan kepada manusia inilah yang akan menjadi mesin utama  penggerak pembangunan bumi, yang menjadikannya sebagai satu-satunya makhluk yang sanggup memikul amanah mengelola bumi.

Namun demikian, nyatanya selain terdapat potensi membangun, di dalam diri manusia juga tersimpan potensi merusak yang tak kalah hebatnya. Pesan ini tercermin dari drama negosiasi penciptaan khalifah yang terekam pada ayat di atas. Dan kekuatiran malaikat terbukti, pengrusakan – tepatnya pengaliran darah manusia, yang oleh malaikat dibahasakan dengan yasfik al-dima>’ – terjadi tak lama setelah Adam dan Hawa memiliki empat putera (Habil, Qabil, ‘Iqlima dan Labuda). Qabil yang seharusnya mulai meniti karir sebagai pembangun bumi, justru terlena oleh kemolekan tubuh wanita dan keindahan raut mukanya. Berawal dari penguasaan nafsu dunia sesaat,9) alih-alih menjalankan tugas utamanya membangun bumi dan mengkriya peradaban baru, ia justru menumpahkan darah saudara sesusunya. Inilah efek negatif jika amanah membangun bumi terkalahkan oleh kerakusan duniawi. Dari faktor inilah pangkal kerusakan terjadi, selain faktor kerakusan pada tahta dan harta.  

Diantara dua potensi membangun dan merusak ini, tentu saja potensi membangun harus dimenangkan, karena inilah mandat sejati kekhalifahan manusia di bumi. Soal pengrusakan, posisikan saja sebagai “dinamisasi” pembangunan yang tengah diselenggarakan. Tanpa pengrusakan, dunia akan senyap dan tiada hingar-bingar pembangunan. Dan memang, Allah Swt sengaja menempatkan manusia sebagai aktor utama pengelola bumi, lantaran sifatnya yang dinamis dan ambisius. Akan berbeda seumpama pengelolaan bumi diserahkan kepada malaikat yang berkarakter monoton dan nir-ambisi. Dikelola makhluk yang mengedepankan tasbih, tahmid dan taqdis (dalam bahasa mereka wa nahnu nusabbihu bi hamdika wa nuqaddisu laka) pada Allah Swt, maka dunia akan senyap dan hanya terisi dzikir-dzikir belaka. Di sinilah urgensi pengutusan makhluk yang dinamis untuk membangun peradaban bumi.

Dua Obyek Pembangunan, Lahir dan Batin
Sebagai khalifah Allah fi al-ard, apa saja obyek yang harus dibangun oleh manusia? Secara umum, setidaknya ada dua obyek penting yang menjadi sasaran: fisik (insfrastruktur) dan batin (sumber daya manusia). Pembangunan fisik sangat bergantung pada pembangunan SDM, lantaran pembangunan apapun tidak akan terlaksana secara baik dan maslahat tanpa topangan SDM yang mumpuni. SDM yang berkarakter ini diharapkan mampu mengelola potensi bumi seluas-luasnya untuk kepentingan kesejahteraan dan keadilan penghuninya yang berjumlah miliaran jiwa.

Secara lebih spesifik, pembangunan non-SDM menurut Ribut Lupiyanto meliputi pembangunan sosial-budaya, ekonomi, politik, hukum serta lingkungan.10) Di bidang ini, terdapat ahli-ahlinya. Sedang pembangunan SDM meliputi hal-hal yang terkait karakter manusianya itu sendiri. Untuk pembangunan dua obyek ini, telah disiapkan dua tipe khalifah Allah Swt, yang dalam istilah Muhy al-Din Ibn ‘Araby disebut khalifah zahiriyyah dan khalifah batiniyyah. Khalifah yang pertama hanya sibuk mengurus persoalan lahir dunia (pembangunan fisik) dan khalifah kedua mengurus wilayah batin manusia (pembangunan SDM). Kedua wilayah ini harus dipadukan secara seimbang.

Dan ternyata, jauh-jauh hari Rasulullah Saw sudah mengasumsikan adanya dua model kekhalifahan ini dan beliau membagi perannya masing-masing dengan sangat baik (pembagian ini tidak ada sangkut pautnya dengan konsep sekuler yang diwacakan pemikir-pemikir modern). Pengelolaan dan pembangunan fisik diurus khalifah non-warathah al-anbiya’ dengan teori-teori modern yang canggih, dan pengelolaan batin dikelola oleh khalifah warathah al-anbiya’11) melalui doktrin agama yang dibawa beliau. Itu sebabnya, Rasulullah Saw bersabda:

Kalian lebih mengerti urusan dunia kalian dan aku lebih mengerti urusan agama kalian.”12)

Jika terjadi kolaborasi apik pembangunan lahir dan batin, maka pembangunan apapun yang disenggarakan akan benar-benar berpihak pada kepentingan kemaslahatan manusia. Jika SDM yang berkarakter terbentuk, misalnya tidak rakus dunia, maka tidak akan terjadi penyimpangan pembangunan di negeri ini. Pun, jika pengelola bumi telah tertata spiritnya, maka bumi Indonesia yang dijuluki oleh Mahmud Syaltut sebagai qit’ah min al-jannah (serpihan surga) akan terekspolari sepenuhnya untuk kepentingan bangsa. Ini yang belum terjadi. Banyak pengelola bumi yang hanya mengedepankan kerasukan, yang dampak perilakunya justru merusak bumi dan merugikan manusia secara massal. Banyak kasus nyata yang mengabsahkan hal ini. Di sinilah para pewaris Nabi bertugas menginjeksikan nilai-nilai agama kepada pengelola bumi ini.   

Etika Pembangunan
Kendati manusia tercipta sebagai makluk dinamis dan memiliki mandat teologis pengelolaan bumi, bukan berarti ia bebas melakukan apapun yang disukai dan dimauinya. Dalam hal pembangunan fisik misalnya, Rasulu>llah Saw mengingatkan: “Setiap bangunan baru adalah beban bagi pemiliknya, kecuali bangunan yang benar-benar perlu”.13) Apa yang beliau sampaikan, tak lain karena apapun yang dilakukan manusia, niscaya berhubungan dengan pihak lain dan lingkungan sekitarnya. Jika hal-hal yang tidak perlu justru dilakukan, maka bisa berdampak negatif pada sisi sosial atau lingkungan. Akhirnya muncul “terorisme ekologi” lantaran ketidakramahan manusia pada alam. Inilah etika, yang menjadi konsen agama kala membangun jiwa pengelola bumi. Agama tidak bisa membiarkan pengelola bumi bertindak di luar norma-norma yang ditetapkan.

Terkait etika pembangunan fisik ini, Farid Esack yang dikenal sebagai “mufassir pembebas kaum tertindas” dari Afrika Selatan, menuliskan; suatu fatwa boleh jadi membolehkan didirikannya rumah-rumah mewah dengan karpet menghiasi dinding-dindingnya sementara 2/3 populasi dunia tidur dengan perut setengah terisi, namun ketakwaan melarangnya. Fatwa tidak mengharuskan merobohkan bangunan itu, namun ketakwaan mewajibkannya.14) Ini menunjukkan, pelaksanaan peran kekhalifahan untuk memakmurkan bumi harus dikontrol penuh olek ketakwaan, sehingga hasilnya benar-benar untuk kepentingan khalayak.15)

Untuk itu, yang seharusnya pantas mengelola bumi adalah hamba-hamba Allah Swt yang saleh, baik individual maupun sosial, yang hati dan pikirannya selalu berorientasi untuk kemaslahatan manusia, alam dan makhluk lainnya. Allah Swt berfirman:

Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam al-Dhikr (Lawh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-Ku yang saleh.” (Qs. al-Anbiya’ [21]: 105).

Yang pasti, perubahan harus diraih dengan usaha keras. Perubahan atau pembangunan bukanlah hadiah cuma-cuma yang tanpa usaha. Allah Swt akan mengubah nasib suatu kaum, jika ia sendiri mengubahnya dengan kesungguhan (Qs. al-Ra’d [13]: 11). Dan Allah Swt telah membekali manusia potensi dan alat-alat yang hebat. Wa Allah a’lam.[]

Ponpes Qothrotul Falah Cikulur,
Rabu, 24 Juli 2013/14 Ramadhan 1434 H
Pukul 00.55 WIB.

END NOTE
*) Catatan ringan disampaikan pada Halaqah Agama dan Pembangunan: Spirit Keagamaan sebagai Potensi Pembangunan, diselenggarakan oleh Lingkar Studi Islam dan Sosial (LsIS), Kamis, 25 Juli 2013, di Aula Gedung Sugri Rangkasbitung Lebak Banten.
**) Santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten. Website: www.qothrotulfalah.com, E-mail: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya..  
1)    Barangkali lebih tepat disebut “demokrasi terpimpin” a la Bung Karno. Kendati terjadi konsultasi publik dengan para malaikat, toh keputusan akhir sepenuhnya berada dalam genggaman-Nya.   
2)    Tentang Sayid Qutb sebagai “mufassir harakis”, lihat Nurul H. Maarif, “Ash-Shahid dan Nuansa Harakis Fi Zilal al-Qur’an” (Makalah Program Doktor pada Mata Kuliah “Metodologi Tafsir Timur Tengah Kontemporer”, SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin, 21 Maret 2011).
3)    Sayid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani Press, T.Th.), I/66. Perihal kisah negosiasi penciptaan khalifah, lihat juga: Abu al-Fida’ Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-Azim (Kairo: al-Maktab al-Thaqafi, 2001), I/72-75.  
4)    Sayid Qutb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, I/67.   
5)    Perihal pembedaan dan perbedaan al-insan dan al-bashar, lihat Agus Mustofa, Ternyata Adam Dilahirkan (Surabaya: Padang Makhsyar Press, 2007).  
6)    Agus Mustofa, Ternyata Adam Dilahirkan , 247-254.
7)    Tim Pentafsir Kementerian Agama RI menuliskan: Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi, berarti Allah menyerahkan pengelolaan dan pemakmuran bumi kepada manusia. Tim Pentafsir Kementerian Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Tafsirnya (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), 75.
8)    “Pengantar” dalam Ibn al-Jawzi, al-Haththu ‘ala Hifz} al-‘Ilm wa Dhikr Kibar al-Huffaz, diterjemahkan menjadi Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar (Solo: Pustaka Arafah, 2009), 5.
9)    Rasulullah Saw bersabda: “Manhumani la yashba’ani talib ‘ilm wa talib al-dunya (Dua golongan yang tak pernah kenyang: pencari ilmu dan pemburu dunia)”. Hadis ini penulis nukil dari Mukhtasar Ibn Kathir.
10)    Lebih detailnya, lihat: Ribut Lupiyanto, Teologi Pembangunan: Konsep dan Strategi Islam Mewujudkan Pembangunan yang Berkeadilan dan Berkelanjutan (Leutikia Prio; 2012).
11)    Para ulama adalah pewaris keilmuan agama Nabi Muhammad.
12)    Muhammad bin Muhammad, Kitab al-Taqrir wa al-Tahbir (Beyrut: Dar al-Fikr, 1996), III/155.
13)    Farid Esack, On Being A Muslim (Yogyakarta: Ircisod, 2003), 154.
14)    Farid Esack, On Being A Muslim, 155.  
15)    Kredo ushul fikih menyatakan: tas}arruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manut} bi al-maslahah (kebijakan penguasa diorientasikan untuk kemaslahatan rakyat). ‘Abd al-Hamid Hakim, Mabadi Awwaliyyah (Jakarta: Maktabah al-Sa’diyyah Putera, T.Th.), 39.  

BAHAN BACAAN
1.    al-Qur’an dan Terjemahnya
2.    Agus Mustofa. Ternyata Adam Dilahirkan. Surabaya: Padang Makhsyar Press, 2007.  
3.    Bin Muhammad, Muhammad. Kitab al-Taqrir wa al-Tahbir. Beyrut: Dar al-Fikr, 1996.
4.    Farid Esack. On Being A Muslim. Yogyakarta: Ircisod, 2003.
5.    Hakim, ‘Abd al-Hamid. Mabadi Awwaliyyah. Jakarta: Maktabah al-Sa’diyyah Putera, T.Th.  
6.    Ibn al-Jawzi. Hafalan Buyar Tanda Tak Pintar. Solo: Pustaka Arafah, 2009.
7.    Ibn Kathir, Abu al-Fida’. Tafsir al-Qur’an al-Azim. Kairo: al-Maktab al-Thaqafi, 2001.  
8.    Maarif, Nurul H. “Ash-Shahid dan Nuansa Harakis Fi Zilal al-Qur’an”. Makalah Program Doktor pada Mata Kuliah “Metodologi Tafsir Timur Tengah Kontemporer”, SPs UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Senin, 21 Maret 2011.
9.    Ribut Lupiyanto. Teologi Pembangunan: Konsep dan Strategi Islam Mewujudkan Pembangunan yang Berkeadilan dan Berkelanjutan. Leutikia Prio: 2012.
10.    Sayid Qutb. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Jakarta: Gema Insani Press, T.Th.
11.    Tim Pentafsir Kementerian Agama Republik Indonesia. al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Lentera Abadi, 2010.