Urgensi Kejujuran pada Remaja

SEORANG DOSEN di sebuah Fakultas Pertanian mendapat proyek senilai Rp. 2 milyar. Untuk melancarkan proyek tersebut, dosen itu membutuhkan seorang asisten. Maka dibuatlah pengumuman tentang penerimaan asisten. Seluruh mahasiswa tingkat akhir boleh mendaftarkan diri. Ternyata, peminat lowongan tersebut cukup banyak, sehingga perlu diadakan seleksi. Ada beberapa tahapan seleksi. Para peserta mulai gugur satu persatu hingga tersisa mahasiswa yang memeiliki kemampuan yang seimbang.

Sang dosen cukup bingung menentukan pilihannya. Akhirnya ia mengadakan seleksi terakhir. Seleksinya cukup unik. Ketiga mahasiswa diberi sebutir kacang yang harus ditanam di rumah masing-masing. Setelah dua minggu, hasil pembenihan harus diperlihatkan kepada sang dosen. Siapa yang hasilnya paling bagus, dialah yang berhak menjadi asisten.        

Hari-hari terus berganti dan tepat dua minggu kemudian, ketiga mahasiswa itu harus memperlihatkan hasil tanamannya. Dua orang mahasiswa dengan bangga membawa hasil tanamannya yang terlihat subur dan menghijau. Mereka sangat yakin bahwa salah satu dari merekalah yang akan diterima menjadi asisten. Sedangkan mahasiswa ketiga, dengan malu-malu menghadap dosennya dan tidak membawa apapun. Rupanya ia tidak berhasil menumbuhkan biji kacang itu. Dua temannya yang lain memandangnya dengan remeh. Akhirnya tibalah saatnya dosen memutuskan siapa yang berhak menjadi asistennya. Dengan tersenyum, ia memperhatikan ketiga mahasiswa itu. “Ketahuilah bahwa biji kacang yang kalian bawa itu adalah biji kacang yang sudah saya sterilkan. Tunasnya sudah dimatikan. Jadi dengan cara apapun, biji itu tidak akan pernah bisa tumbuh,’’ kata sang dosen.

Dua mahasiswa yang membawa hasil tanamannya tadi merasa malu mendengar keterangan dosen itu dan segera meninggalkan ruangan dosen. Sedangkan mahasiswa yang tidak berhasil tadi sekarang terlihat bergembira. “Selamat, kau berhak menjadi asistenku,” kata sang dosen menyalami mahasiswanya.

Kisah di atas diceritakan oleh Agus Susanto dalam karyanya yang berjudul Masuk Surga Tanpa Ibadah.1) Dari cerita di atas, kita bisa mengambil pelajaran, bahwasanya kejujuran itu akan selalu menghasilkan sebuah kenikmatan, meskipun awalnya pahit. Dikatakan, “Berkatalah dengan sebenar-benarnya (jujur) meskipun itu pahit”.2)

Arti Kejujuran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jujur adalah lurus hati atau tidak berbohong. Misalnya berkata apa adanya. Tidak curang. Misalnya dalam permainan dengan mengikuti aturan yang berlaku. Mereka itulah yang disegani, tulus dan ikhlas. Sedangkan kejujuran adalah sifat keadaan jujur ketulusan hati dan kelurusan hati yang dimiliki seseorang.3)

Kejujuran merupakan salah satu sifat unggul yang dimiliki manusia yang bersumber dari hati nurani yang paling dalam. Kejujuran juga merupakan salah satu bekal terpenting untuk mencapai kesuksesan hakiki. Pepatah Jawa mengatakan “sapa jujur bakal luhur”/siapa yang jujur dalam kehidupan ini maka ia akan mendapatkan kemuliaan hidup. Bahkan sebuah survei di Amerika Serikat tentang pemimpin ideal menunjukkan bahwa kriteria utama untuk menentukan seseorang pemimpin adalah kejujuran.4) Sifat seperti inilah yang harus dimiliki generasi muda kita yaitu kejujuran yang harus ditanamkan dan diamalkan di setiap roda kehidupannya.

Kejujuran Menurut Pandangan Islam
Dalam Islam, kejujuran merupakan salah satu ajaran terpenting. Dalam sebuah Hadis diriwayatkan, seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasu>lulla>h Saw. “Ya Rasu>lulla>h, terangkanlah tentang Islam dan aku tidak lagi bertanya-tanya kepada orang lain,” tanyanya. Rasu>lulla>h Saw menjawab: “Katakanlah aku beriman kepada Allah lalu bersikaplah lurus (jujur).” (H.R. Muslim).5)

Sudah jelas dikatakan oleh Rasu>lulla>h Saw dalam Hadis di atas bahwasanya kejujuran adalah sifat yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Hadis lain menyebutkan, pada suatu hari seorang sahabat bertanya pada Rasu>lulla>h Saw. “Apakah ada orang mukmin yang pengecut?” tanyanya. Rasu>lulla>h menjawab: “Ada.” Orang itu bertanya lagi: “Apakah ada orang mukmin yang kikir?” Beliau menjawab: “Ada”. Kemudian beliau ditanya lagi; “Apakah ada orang mukmin yang pembohong?” Beliau menjawab; “Tidak ada.” (H.R. Imam Malik).6)

Kedua Hadis di atas menerangkan bahwa karakter utama seorang mukmin sejati adalah jujur atau tidak berbohong. Seorang mukmin sejati mungkin mempunyai kelemehan-kelemahan dalam sifatnya, tetapi tidak ada tempat di hatinya untuk sifat bohong. Hal ini tercermin dalam kisah Syekh Abdul Qodir Jaelani. Beliau adalah seorang yang sangat mengutamakan kejujuran dalam kondisi apapun. Dikisahkan, saat beliau masih kanak-kanak, beliau hendak berangkat menuntut ilmu. Di perjalanan beliau dihadang oleh perampok yang menanyakan apakah beliau membawa harta atau uang. Lalu beliau pun berkata dengan sejujurnya bahwasanya beliau membawanya walaupun sedikit. Perampok itu pun terkejut dengan kejujuran yang dimilikinya. Meskipun dalam kondisi terjepit, beliau tetap berkata jujur. Akhirnya perampok itu bertaubat dan menjadi muridnya.7) Kisah ini sesuai Hadis Rasu>lulla>h Aaw: “Sesungguhnya kejujuran membawa pada kebajikan.”8)

Jujur juga adalah pangkal keimanan. Ibnul Qayyim al-Jauziyah menyatakan, iman asasnya kejujuran (kebenaran) dan nifaq asasnya kedustaan. Karena itu, semakin tinggi keimanan seseorang, ia senantiasa akan berusaha untuk berbuat kejujuran, karena hal tersebut akan membawa kebaikan, sebagaimana dinyatakan oleh Rasu>lulla>h Saw di atas.9)  

Kejujuran di Kalangan Remaja
Kejujuran di kalangan remaja merupakan suatu hal yang sangat langka. Kelangkaan ini disebabkan beberapa faktor. Apabila hal ini terus dibiarkan, maka akan menimbulkan efek negatif umumnya kepada kita dan khususnya kepada kehidupan remaja itu sendiri. Kejujuran bukanlah suatu benda yang bisa dilihat dan disentuh. Kejujuran tidak mudah digenggam erat sepanjang hidup, karena memang kita sering mengaggapnya sebagai suatu yang penuh resiko, sehingga muncul plesetan; “Siapa jujur bakal lebur” atau “Siapa yang jujur akan hancur”.10) Dalam praktik kehidupan, memang sulit menerapkan sifat jujur, karena lingkungan kita jarang mengajarkan kejujuran. Hal inilah yang membuat para remaja melakukan kebohongan atau ketidakjujuran.

Di sekeliling kita banyak orang yang menggunakan berbagai cara untuk mencapai apa yang diinginkannya, meski harus melepaskan kejujuran dari genggamannya. Mereka, terutama para remaja, rela berbohong kepada orang tua, guru, teman dan orang lain yang ada di sekelilingnya demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh remaja. Orang lain selain remaja pun banyak melakukannya, bahkan seorang pemimpin juga seringkali rela menggadaikan kejujuran demi mempertahankan kekuasaan dan menimbun kekayaan. Para pengusaha nakal melakukan kecurangan untuk mengeruk keuntungan. Para pencari kerja menyuap untuk diterima dan yang populer di kalangan remaja adalah para pelajar menyontek untuk mendapatkan nilai bagus. Padahal kecurangan atau ketidakjujuran yang dilakukan akan mendatangkan kecelakaan.11) Alla>h Swt berfirman: “Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang (tidak jujur).”(Qs. al-Mut}affifi>n; 1).

Alasan Remaja Tidak Jujur
Fenomena hilangnya kejujuran pada diri remaja bukan merupakan barang yang aneh lagi. Ketidakjujuran seakan menjadi hal yang biasa dan tidak perlu sipersoalankan. Pertanyaannya: apa sesungguhnya yang menjadikan mereka tidak jujur? Ada beberapa penyebab yang bisa menjadi jawabannya, sebagaimana dijelaskan oleh Amr Khalid dalam buku Buku Pintar Akhlak.12)

Pertama, sebab yang sangat umum, yaitu untuk keluar dari situasi sulit. Contohnya, seorang siswa yang tidak belajar atau gagal dalam ujian. Sekarang ia sedang melangkah maju mundur menuju rumah, hingga akhirnya menemukan jalan keluar. Ketika sang ayah bertanya kepadanya, ia menjawab: “Aku unggul. Aku termasuk peringkat atas.” Tiga tahun berikutnya, sang ayah benar-benar kaget.

Kedua, sebab yang menjurus pada kemunafikan, yaitu untuk mendapat keuntungan. Inilah sebab yang paling jelek dan lebih buruk dari sebab pertama. Remaja melakukannya demi mendapat keuntungan. Contohnya, pelajar melakukan kebohongan kepada gurunya demi mendapatkan nilai baik di sekolah.

Ketiga, sebab yang berbahaya, yaitu untuk menyakiti orang lain. Remaja melakukan kebohongan karena berniat untuk menyakiti orang lain atas dasar dengki dan iri. Membenci seseorang lalu berbohong agar orang yang dibenci tadi jatuh ke dalam problem dan kesulitan. Contohnya, remaja membenci seorang wanita, lalu merusak kehormatannya dengan berbohong.

Keempat, berbohong untuk sekedar berbohong. Ini merupakan sebab yang aneh dan lucu, karena remaja berbohong hanya sekedar berbohong sebagai hobi saja. Hal ini biasanya terjadi pada remaja yang mempunyai sifat buruk yaitu senang berbohong.

Mendidik Kejujuran pada Remaja
Bagaimana pun remaja adalah generasi bangsa yang akan meneruskan dan yang menentukan maju mundurnya bangsa ini. Itu sebabnya, sudah seharusnya remaja bersikap lurus dalam kehidupannya. Dan untuk mewujudkan semua itu, kita harus mendidik remaja agar bersikap jujur dalam segala tingkah kehidupannya. Dan berikut ini adalah cara-cara untuk mendidik remaja agar bersikap jujur, menurut Ahmad Turmudzi, S.Pd.I, seorang praktisi pendidikan di Pondok Pesantren Qothrotul Falah.13)

Pertama, memberikan tugas. Remaja harus dilatih mengemban tanggung jawab, diantaranya dengan diberikan tugas. Jika orang tua memberikan tugas dengan cara menyekolahkan atau memberikan tugas kepada anak untuk belajar di sekolah, maka seorang guru memberikan tugas dengan cara memberikan PR kepada anak agar belajar di rumah. Dengan cara inilah remaja dilatih bertanggungjawab. Semakin besar rasa tanggungjawab, maka akan semakin besar juga sifat kejujurannya.

Kedua, diberikan keteladanan oleh orang yang ada di sekelilingnya, baik keluarga maupun kawan-kawannya. Remaja itu sifatnya labil, yang sangat mudah terpengaruh oleh kondisi lingkungan sekelilingnya. Untuk itu, keteladanan akan menjadi kontrol yang baik baginya.Wa Alla>h a’lam.[]

Cikulur, 12 September 2013

END NOTES
*)Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 13 September 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**)Aktivis Halqah Remaja Triple Ing Community, Anggota OPPQ 2013-2014 dan siswa Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten.
1)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2012), 41-42.
2)    Disebutkan, Rasu>lulla>h Saw bersabda: “Aku mengatakan kebenaran dengan kebenaran, kendati pahit.” A.J. Wensink, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfa>z} al-H{adi>th al-Nabawi> (Leiden: Maktabah Breil: 1936), vi/185.  
3)    Tim Penulis, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 479.  
4)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah, 43.
5)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah, 43.
6)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah, 43.
7)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah, 68-69l.
8)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah, 58.
9)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah, 58.
10)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah, 53.
11)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah, 43.
12)    Lebih detailnya, lihat: Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak (Jakarta: Zaman, 2010), 93-100.
13)    Wawancara dengan Ahmad Turmudzi, S.Pd.I., Rabu, 11 September 2013, di Majelis Putera Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

DAFTAR PUSTAKA
1)    al-Qur’a>n al-Kari>m
2)    Susanto, Agus. Masuk Surga Tanpa Ibadah. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2012.
3)    Wensink, A.J. al-Mu’jam al-Mufahras li Alfa>z} al-H{adi>th al-Nabawi>. Leiden: Maktabah Breil: 1936.
4)    Tim Penulis. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.  
5)    Khaled, Amr. Buku Pintar Akhlak. Jakarta: Zaman, 2010.
6)    Wawancara dengan Ahmad Turmudzi, S.Pd.I., Rabu, 11 September 2013.