Menumbuhkan Ukhuwah Islamiah

INDONESIA merupakan negara yang memiliki kebudayaan beragam. Indonesia memiliki banyak suku, budaya dan bahasa. Jumlah penduduknya mencapai ratusan juta. Dari jutaan penduduk inilah banyak muncul konflik dengan berbagai sebabnya, termasuk yang terjadi di kalangan penerus bangsa ini, yaitu remaja.

Konflik yang terjadi di kalangan remaja ini, sesungguhnya tindakan yang  tidak patut dilakukan. Sebab, “majunya suatu bangsa tergantung pada para penerusnya.” Jika penerusnya berkonflik tiada henti, maka nasib bangsa ini di ujung tanduk. Yang pasti, di pundak kitalah (remaja) kemajuan bangsa ini dipanggul. Remajalah yang akan mengguncangkan dunia ini. Presiden Republik Indonesia (RI) Soekarno pernah berpidato: “Kirim aku sepuluh pemuda, maka akan aku goncang dunia.” Ini menunjukkan betapa vitalnya peran remaja bagi bangsa ini.

Saat menjadi Pembina Upacara di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Ade Bujhaerimi, Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Propinsi Banten mengatakan: “Negara Indonesia tidak akan maju kalau bukan orang Indonesia sendiri yang memajukannya.”1) Dengan demikian, menurut guru senior SMA qothrotul Falah ini, majunya Indonesia tergantung oleh orang Indonesia  sendiri. Persoalannya, apakah para remaja sudah siap memajukan bangsa ini?

Melihat perilaku remaja sekarang, yang secara umum gemar nongkrong dibanding belajar, menghabiskan waktu dengan bermain-main di jalanan, dan yang menjadikan keprihatinan lagi mereka lebih suka berkelahi (tawuran) dan tidak pernah berpikir bahwa semua manusia yang Allah ciptakan di jagat raya ini adalah saudara, maka kita patut prihatin. Ukhuwah Islamiah sekarang sudah tidak terdengar dan tidak dipedulikan lagi oleh para remaja. Tawuran antar pelajar sudah menjadi berita yang tidak asing lagi, baik melalui media televisi maupun media cetak. Kejadian-kejadian ini mengingatkan kita pada ucapan seorang kakek untuk cucunya: Tangan yang tidak mampu kamu lipat, maka jabatilah.” Ucapan hikmah yang dicatat oleh Hamba dalam Menikmati Hidup Cara Rasulullah ini maksudnya, menghindarlah dari perseteruan dan upayakan seoptimal mungkin untuk usahamu yang cendrung kepada mengalah dan berinteraksi sebaik mungkin.2)

Banyaknya konflik di kalangan remaja menjadi keprihatinan bagi kita semua, karena kita merupakan saudara. Rasanya para remaja sekarang sudah terhipnotis oleh permusuhan antar saudara. Untuk itu, sejak detik ini kita harus bisa membangun rasa peduli antar sesama manusia untuk kemajuan bangsa ini. Mulai saat ini mari kita tumbuhkan dan niatkan dalam hati kita untuk menjunjung tinggi Ukhuwah Islamiah.

Makna Ukhuwah Islamiah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti Ukhuwah itu sendiri adalah persaudaraan. Sedangkan Islamiah bermakna persaudaraan di (sesama, pen.) Islam.3) Dengan demikian, Ukhuwah Islamiah adalah persaudaran yang terjadi karena kesamaan sebagai pemeluk agama Islam. Dalam hal ini, Ustadz Maftuh Affandi, Guru di Pondok Pesantren Qothrotul Falah mengungkapkan, ukhuwah islamiah adalah persaudaran umat manusia yang berlandaskan agama Islam. Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur ini juga mengutarakan ungkapan hikmah agama yang berbunyi; “Jagalah pertemananmu, karena orang yang tidak memiliki teman sama dengan orang yang pergi perang tanpa membawa senjata.”4) Intinya, menjalin pertemanan itu penting, karena akan menolong kita dari kerasnya dunia di era globalisasi.

Sebagian orang mengatakan, banyak teman juga dapat memperbanyak pengalaman. Tapi ada juga pepatah yang mengatakan “musuh yang paling jahat adalah sahabat yang paling dekat.” Artinya, tidak semua sahabat itu baik, karena sahabat telah lama bersama kita dan sudah mengetahui betul karakter kita, bisa saja ia memanfaatkan kelemahan kita. Penulis masih ingat pesan yang disampaikan Motivator Moh. Najmi AF dari Menara Hati Internatioanal (MHI) Jakarta. Dikatakannya, ada dua ranjau yang tidak bisa kita tebak, yaitu sahabat dan pacaran.5) Sahabat disebut ranjau, karena tidak semua sahabat akhlaknya baik. Secara tidak langsung, kita bisa larut dalam keburukan sahabat kita, tanpa kita menyadarinya. Bisa jadi juga, sahabat mempunyai niat busuk menghancurkan kita, maka kita harus bagaimana? Rasulullah berpesan: Perlakukanlah temanmu secara biasa-biasa saja. Siapa tahu nanti ia akan menjadi musuhmu. Dan perlakukanlah musuhmu secara biasa-biasa saja. Siapa tahu nanti ia akan menjadi temanmu.6)

Kita adalah Saudara

Tidak dipungkiri lagi, bangsa ataupun agama manapun tidak pernah  mengajarkan kekerasan sekecil apapun. Dalam banyak keterangan, Rasulullah Saw tidak menyukai orang yang suka  mempermasalahkan suatu masalah dengan jalan kekerasan. Al-Qur’an sendiri menyebutkan bahwa kita semua adalah saudara. Allah Swt berfirman: inna’mal mu’minuna ikhwah/sesunguhnya orang-orang  mu’min itu bersaudara. (Qs. al-Hujurat:10).

Eka Saputra dkk. dalam bukunya Islam  Rahmat Seluruh Umat menjelaskan,  remaja yang merasa dirinya memiliki ukhwah islamiah akan menjunjung tinggi persaudaran antar manusia, akan bersikap tolong-menolong dan rukun dalam menjalankan kehidupanya.7)

Mulai saat ini, rasa ukhuwah islamiah harus benar-benar ditanamkan kepada para remaja sampai kapanpun, hatta sampai tua, mengingat sudah jarangnya orang yang menjunjung tinggi dan mengedepankan persaudaran. Ukhuwah islamiah hanya tinggal nama. Menjadi keprihatinan bagi kita andai para remaja sekarang enggan bersaudara dan tidak menjunjung tinggi ukhwah islamiah. Apa jadinya negara Indonesia ini? Yang ada tawuran dan adu domba. Akibatnya, bangsa ini akan hancur.

Ukhwah Islamiah Kian Menjauh di Kalangan Remaja

Akhir-akhir ini kejadian tawuran antar pelajar makin beringas dan sering dilakukan. Perbuatan ini tidak layak dilakukan oleh pelajar yang hampir setiap pagi datang ke sekolah untuk menuntut ilmu. Pertanyaannya, pelajaran apa sesungguhnya yang mereka dapatkan selama di sekolah? Penulis yakin, tak ada pelajaran sekolah yang mengarahkan anak didiknya untuk tawuran.

Namun nyatanya, fakta di lapangan banyak membuktikan, bahwa sudah menjadi kebiasan para remaja sepulang sekolah tak jarang dan tak afdhol rasanya jika mereka tidak  tawuran. Kadang mereka melakukannya di jam pelajaran. Merekapun bela-belain bolos hanya untuk ikut tawuran. Apa yang diinginkan oleh  para remaja yang digadang-gadang sebagai penerus bangsa? Wa Allah a’lam.

Dalam karyanya, Konsultasi Maya: 40 Tanya Jawab Agama, KH. Achmad Syatibi Hambali yang merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kab. Lebak Priode 2012-2017 menyatakan, tidak ada satu agamapun yang membenarkan apalagi mengajarkan tawuran umatnya melakukan tawuran yang merugikan banyak pihak.8) Lembaga apapun baik pesantren maupun sekolah, juga tidak ada yang mengajarkan atau sekedar membolehkan tawuran.

Pertanyaannya, apa dampak tawuran? Selain tempat kejadian yang rusak, tawuran juga dapat menimbulkan korban jiwa. Orang yang tidak bersalah pun kena imbasnya. Dampak kerugian material tidak lagi terhitung. Jiwa yang melayang sia-sia bukan cuma satu atau dua orang. Jika kita mati dengan cara seperti itu, rasanya rugi dan kalau kita hanya menghabiskan waktu kita untuk kegiatan ini, hanya kerugianlah yang kita dapatkan. Di dunia kita rugi dan di akhirat kita lebih rugi lagi. Semoga kita tidak termasuk orang yang menyia-nyiakan hidup kita yang telah diberikan oleh Allah Swt. Kata Nabi Muhammad Saw, kita harus ingat lima perkara sebelum datang lima perkara. Salah satunya “Jagalah masa mudamu sebelum datang masa tuamu.” Sekali lagi, rugilah jika kita menghabiskan waktu kita dengan hal seperti itu. Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan; “Waktu laksana pedang.” Tidak pandai kita mengunakannya, maka waktu akan membunuh kita. Prinsipnya, jangan waktu yang mempermainkan kita, tapi waktulah yang harus kita mainkan.

Kendati remaja kita banyak yang melakukan tawuran, namun sesungguhnya secara umum bangsa ini dikenal sebagai bangsa yang ramah. Cahyo Satria Wijaya, dalam karyanya 19 Menit Menaklukkan Orang-orang di Sekitar Anda, menyatakan Indonesia terkenal dengan bangsa yang ramah, menjunjung tinggi persaudaraan manusia. “Filosofinya” seperti kita menanamkan benih. Budi baik kepada semua orang dapat menumbuhkan pohon kedamaian yang kokoh dan menentramkan sebagian tempat berteduh.9) Kata bijak tersebut mengajarkan kepada para remaja bahwa kedamaian akan dapat tercapai jika diawali dengan sikap berbudi luhur terhadap makhluk yang lainnya, karena dengan budi luhurlah perselisihan antar pelajar dapat terhindarkan.

Kita Harus Bersatu

Dalam al-Qur’an, Allah Swt berfirmah: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah Swt ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesunguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. al-H{ujura>t [49]: 13).

Firman Allah Swt di atas mengisyaratkan kepada kita untuk saling mengenal satu sama lain, karena dengan saling mengenallah, persaudaraan antar manusia akan benar-benar tercipta. Walaupun kita diciptakan oleh Allah Swt berbangsa-bangsa, bersuku-suku, tapi menjalin persahabatan itu suatu keharusan, karena orang yang tidak memiliki teman sama dengan orang yang pergi berperang tanpa membawa senjata.

Dalam karyanya yang berjudul Membonsai Islam, Agus Mustofa menyatakan, mengungkapkan bahwa umat manusia di muka bumi ini sebenarnya  bersaudara. Satu keturunan. Berasal dari bapak dan ibu: yaitu Adam dan Hawa. Kemudian terpencar menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dengan budaya-budaya lokal yang beragam. Maka, kehidupan di muka bumipun menjadi demikian indah berwarna-warni. Karena masih bersaudara, maka sebenarnya kita memiliki sifat-sifat dasar yang sama, khas keluarga manusia. Budaya dan peradaban makhluk bumi, sehingga kita memiliki potensi untuk menciptakan suatu tatanan kehidupan yang harmonis dan saling membahagiakan. Bukan tata kehidupan yang saling menyakiti dan menyengsarakan apalagi saling menghancurkan.10)

Dengan demikian, semua manusia yang ada di muka bumi ini adalah saudara kita tanpa memandang dia golongan apa dan berasal dari keluarga apa, juga latar belakangnya apa. Akhir dari kesimpulan di atas, mari kita perlahan- lahan mulai mengembangkan tradisi ukhuwah Islamiah. Saatnya rasa solidaritas dalam kehidupan remaja harus mulai berkembang dan harus dijadikan motto hidup para remaja sekarang. Akhirnya, “Katakan tidak pada permusuhan, karena kami adalah saudara.” Saudara yang akan memajukan bangsa ini, karena di tangan kitalah maju mundurnya bangsa Indonesia. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 3 Oktober 2013

END NOTES

*)Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 4 Oktober 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.

**)Aktivis Triple Ing Cummunity dan Siswa Kelas XII-IPS SMA Qothrotul Falah asal Cikulur Lebak Banten.

1)        Sambutan Ade Bujhaerimi pada Upacara Hari Senin, 2 September 2013.

2)        Hamba, Menikmati Hidup Cara Rasulullah (Depok: Pustaka Ibnu Abas, 2010), 26.

3)        Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 1238.

4)        Wawancara dengan Maftuh Affandi, Guru Pondok Pesantren Qothrotul Falah, di Majlis Putra Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Rabu, 25 September 2013.

5)        Disampaikan oleh Moh. Najmi AF pada malam Penutupan Masa Bimbingan Santri (Mabis) 2013-2014 Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Sabtu, 6 Juli 2013.

6)        Hamba, Menikmati Hidup Cara Rasulullah, 162.

7)        Eka Saputra dkk, Islam Rahmat Seluruh Umat (Jakarta: Lazuardi Biru, 2012), 16-19.

8)        Achmad Syatibi Hambali, Konsultasi Maya: 40 Tanya Jawab Agama (Lebak: Pustaka Qi Falah, 2013), 211.

9)        Cahyo Satria Wijaya, 19 Menit Menaklukkan Orang-orang di Sekitar Anda (Yogyakarta: Immortal Publisher, 2013), 39.

10)    Agus Mustofa, Membonsai Islam (Surabaya: PADMA Press, T.Th.), 48-49.

 

DAFTAR PUSTAKA

1)        al-Qur’a>n al-Kari>m

2)        Ade Bujhaerimi, sambutan pada Upacara Hari Senin, 2 September 2013.

3)        Hamba. Menikmati Hidup Cara Rasulullah. Depok: Pustaka Ibnu Abas, 2010.

4)        Hambali, Achmad Syatibi. Konsultasi Maya: 40 Tanya Jawab Agama. Lebak: Pustaka Qi Falah, 2013.

5)        Moh. Najmi AF, pada malam Penutupan Masa Bimbingan Santri (Mabis) 2013-2014 Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Sabtu, 6 Juli 2013.

6)        Mustofa, Agus. Membonsai Islam. Surabaya: PADMA Press, T.Th.

7)        Saputra, Eka dkk. Islam Rahmat Seluruh Umat. Jakarta: Lazuardi Biru, 2012.

8)        Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.

9)        Wawancara dengan Maftuh Affandi, di Majlis Putra Pondok Pesantren Qothrotul Falah, Rabu, 25 September 2013.

10)    Wijaya, Cahyo Satria. 19 Menit Menaklukkan Orang-orang di Sekitar Anda. Yogyakarta: Immortal Publisher, 2013.