Amanah Orang Tua Mendidik Kebaikan Pada Anaknya

DIKISAHKAN, ada seorang anak yang mempunyai kelakuan tidak baik dan tidak sopan pada tamu-tamu ayahnya. Air minum tamu-tamu ayahnya selalu diacak-acak dan ditumpah-tumpahkan dari gelas. Melihat kelakuan yang janggal ini, sang ayah yang seorang saleh itu bertanya pada istrinya; “Apa yang telah kamu lakukan pada saat kamu mengandung?”

“Saya tidak melakukan apa-apa,” jawab istrinya.

“Coba kamu ingat-ingat lagi, apa yang pernah kamu lakukan,” tanya suaminya lagi.

Istrinya pun lantas memutar memorinya saat mengandung. Rupanya semua berawal dari “ngidam”nya pada buah anggur yang ada di pekarangan tetangganya. “Saat mengandung, saya ngidam anggur tetangga sebelah. Saya tidak berani memintanya. Tanpa sepengetahuan yang punya anggur, sayapun lalu menusuk anggur itu dengan jarum dan saya menjilati jarum yang dialiri air anggur itu,” cerita istrinya. Mendengar cerita ini, sang suami langsung memahami, mengapa anaknya memiliki kelakuan yang tidak biasa.1)

Kisah di atas memberikan makna yang mendalam bagi kita. Jika kita ingin mendapatkan anak yang saleh lagi santun, maka apapun yang dilakukan orang tuanya akan sangat berpengaruh terhadap tingkah lakunya. Jika orang tuanya, misalnya saja, gemar memakan makanan yang tidak halal sebagaimana kisah di atas, maka hal itu akan berdampak buruk karakter anak yang dilahirkannya dan akan menjauhkannya dari jalan Allah Swt. Sebaliknya, makanan yang halal akan menggiring darah dan daging anak senantiasa dekat dengan Allah. Itu sebabnya, upaya menciptakan anak-anak yang saleh tidak bisa dilepaskan dari peran orang tuanya. Atas dasar inilah, makalah sederhana ini dibuat.

Makna Amanah

Dalam kitab Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq karangan Hafid Hasan al-Mas’udi, amanah diartikan sebagai menegakkan atau menjalankan hak-hak Allah SWT dan hak-hak hamba-Nya.2) Dengannya, agama menjadi sempurna dan terjaganya harga diri serta terjaganya harta, karena menjalankan hak-hak Allah SWT. Hal ini sama saja dengan menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan menegakkan hak-hak hamba Allah SWT itu sama dengan menyerahkan atau mengembalikan barang-barang titipan, menjauhi menyebarkan atau membuka rahasia dan kejelekan orang lain. Dan memilih untuk dirinya perkara-perkara yang bagus di dalam agama dan dunia.3)

Dalam Qs. an-Nisa’: 58, Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukam di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesunggunya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya padamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” Rasulullah Saw bersabda: “Tidak ada iman yang sempurna bagi orang yang tidak memegang amanah dan tidak sempurna agama bagi orang yang tidak menepati janji.”4)

Menurut al-Mas’udi, kebalikan dari amanah adalah khiyanah atau khianat, yaitu mencederai hak dengan merusak atau mengkhianati janji. Adapun bahaya khianat diantaranya:

1.    Pelaku khianat tersifati sebagai orang yang khianat.
2.    Berkurangnya agama.
3.    Hilangnnya budi pekerti
4.    Dibenci Allah SWT dan akan mendapat siksa-Nya, karena ia tidak menjaga perintah-Nya.5) Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu mengkhianati amanah yang diberikan kepada kamu, sedangkan kamu mengetahuinya.” (Qs. al-Anfal: 27)

Dalam hal ini, amanah, orang tua juga memiliki amanah atau tanggungjawan kepada anak-anaknya untuk memberikan bimbingan yang terbaik bagi mereka. Amanah ini dimandatkan berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an di atas. Dan diantara hal penting yang harus diberikan orang tua kepada anak-anaknya, adalah mengajarkan akhlak, menanamkan ketakwaan dan menumbuhkan kecintaan pada buku-buku bacaan.

Mengajarkan Akhlak
Diantara tugas penting dan pokok orang tua adalah mengajarkan akhlak kepada anak-anaknya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, akhlak adalah budi pekerti.6) al-Rafi’i menuturkan, seandainya aku diminta untuk merangkum filosofi seluruh ajaran agama Islam dalam dua kata, maka akan aku katakan: “Kukuhkan akhlak!” Seandainya filosof terbesar dunia diminta untuk meringkas solusi bagi seluruh umat manusia dalam dua kata, pastilah ia berkata sama: “Kukuhkan akhlak!” Andaikan ilmuan Eropa berkumpul untuk  mempelajari peradaban Eropa, lalu memutarkan apa yang betul, mereka akan berkata: “Kukuhkan akhlak.” Dan sekarang, marilah kita hiasi diri dan kehidupan kita dengan akhlak yang mulia.7)

Kenapa orang tua perlu mengajarkan akhlak pada anaknya? Karena akhlak merupakan tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw. Nabi Muhammad bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”8) Mungkin kita bertanya lagi, apakah sabda ini logis? Benarkah Nabi Muhammad diutus demi menata akhlak? Bacalah Hadis tersebut sekali lagi, lalu renungkanlah. Aku ingin bertanya kepadamu tentang satu hal; “Mengapa Nabi diutus?” Untuk menjawabnya, Allah Swt berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (Qs. al-Anbiya’: 107).

Coba kita renungkan ayat di atas. Seandainya kecurangan, tipu daya, penghianatan dan berbagai kejahatan merajalela dalam sebuah masyarakat, apakah mereka akan diliputi rahmat? Bayangkan sebuah keluarga diliputi rasa benci, dengki dan  dendam, maka di manakah rahmat itu berada?

Jelas ada sebuah kolerasi amat erat antara Hadis dan ayat di atas? Ketahuilah, tidak ada rahmat bagi alam semesta kecuali dengan akhlak. Orang terhormat harus mengajarkan kepada anaknya tentang akhlak. Di zaman sekarang yang moderen ini, banyak sekali para pemuda, remaja dan anak-anak yang minim sekali dengan akhlak.

Dalam Kitab Lubab al-Hadith, Imam Jalal al-Din as-Suyuti meriwayatkan Hadis Rasulullah Saw yang berbunyi: “Tidak ada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih utama selain akhlak yang baik.”9)

Semua orang tua menginginkan anaknya mempunyai akhlak atau tata krama yang baik. Orang tua tidak ingin anaknya berakhlak buruk (su’ul adab). Tetapi di zaman sekarang, banyak anak yang berani melawan/membantah kedua orang tuanya. Padahal Allah Swt berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia (Allah) dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu dan bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali kamu mengatakan kepada keduanya “AH” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Qs. al-Isra’: 23).

Selain itu juga, akhlaklah yang paling berat timbangannya di akhirat kelak. Rasulullah Saw bersapda: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat timbangannya dari pada akhlak” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).10)

Akhlak adalah nomor satu, karena akhlaklah yang paling berat timbangannya dibanding ibadah yang lain seperti shalat, zakat maupun puasa. Hal ini karena tujuan utama seluruh ibadah adalah memperbaiki akhlak. Kalau tidak, maka ibadah hanya akan menjadi semacam olah raga saja! Allah Swt berfirman: “Dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar”.

Siapa yang shalatnya tidak berdampak mencegah kelakuannya dari perbuatan keji dan mungkar, berarti shalatnya itu hanya beberapa gerakan olah raga. Ia mengerjakan shalat, tetapi akhlaknya tidak baik. Diriwayatkan, suatu ketika seorang utusan datang kepada Nabi Muhammad Saw. Mereka bertanya: “Wahai Rasullulah, siapa yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Mengajarkan Ketakwaan

Dalam kitab Taysir al-Khallaq dijelaskan, takwa adalah “Patuh pada perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya”.11) Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, takwa adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan-Nya.12) Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan agama Islam.” (Qs. Ali ‘Imran: 102). Dalam ayat ini dijelaskan, ketakwaan menjadi modal penting bagi umat manusia. Ketakwaan akan menjadi pengontrol manusia dalam menjalani kehidupannya. Untuk itu, tugas orang tua adalah menancapkan akar-akar ketakwaan ini ke dalam hati anak-anaknya.

Perihal urgensi ketakwaan ini, dalam buku Masuk Surga Tanpa Ibadah karya Agus Susanto dikisahkan, bahwa ‘Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa. Berkatalah Ubay kepada ‘Umar. “Pernahkah engkau melewati jalan yang penuh duri?,” tanya Ubay. “Ya, pernah,” jawab ‘Umar. Ubay bertanya lagi; “Apa yang engkau lakukan saat itu?” ‘Umar menjawab; “Saya akan berjalan dengan sungguh-sungguh dan berhati-hati sekali agar tak terkena duri itu.” Lalu Ubay berkata: “Itulah takwa.”13)

Orang tua harus nengajarkan ketakwaan kepada anaknya, dintaranya dengan memintanya menjalankan shalat, puasa, ngaji dan sebagainya, supaya anaknya menjadi anak yang bertakwa. Sayangnya, di zaman sekarang ini banyak orang tua yang sedikit sekali mengajarkan kepada anaknya mengenai ibadah kepada Allah, melainkan malah mengajarkan yang tidak benar kepada anaknya dan membiarkan anaknya melakukan hal-hal yang  tidak baik seperti bermain motor, nongkrong, tawuran dan perbuatan negatif lainnya.

Almarhum Dai Sejuta Umat, KH. Zainuddin MZ pernah bercerita. Seorang ibu yang taat kepada Allah Swt selalu beribadah, sedangkan anaknya selalu bermaksiat, seperti mabuk-mabukan, berzina, dan sebagainya. Oleh ibunya, apa yang dilakukan anaknya tidak pernah dilarang/dicegah dan dibiarkan saja anaknya bermaksiat. Tetapi, ketika di akhirat anaknya yang selalu bermaksiat itu masuk neraka, sedangkan ibunya masuk surga. Ketika anaknya mengetahui bahwa ibunya masuk surga, maka anak tersebut protes kepada Allah Swt. “Ya Allah, kenapa ibu saya masuk surga sedangkan saya masuk neraka?” Lalu ibunya ditanya oleh Allah Swt; “Apakah benar yang ada di neraka itu anak kamu?” Ibunya pun berkata; “Ya. Yang berada di neraka itu anak saya.” Allah Swt bertanya lagi: “Kenapa kamu masuk surga dan anakmu masuk neraka?” Ibunya pun berkata; “Karena saya selama di dunia tidak pernah melarang anak saya bermaksiat dan belum pernah mengajaknya untuk beribadah kepada Allah.” Karena hal ini, orang tuanya lantas  ditarik oleh anaknya ke neraka,14) sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah Swt: “Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu pada hari itu yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula menolong bapaknya sedikitpun.” (Qs. Luqman: 33).

Memperkenalkan Buku Pada Anak
Selain mengajarkan akhlak dan ketakwaan, orang tua juga harus memperkenalkan buku yang positif pada anak-anaknya, supaya anak tersebut gemar membaca buku. Allah Swt berfirman; “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Qs. al-‘Alaq: 1). Membaca adalah perintah Allah, yang karenanya mengabaikan membaca sama halnya mengabaikan kewwajiban yang Allah tetapkan.

Membaca buku adalah jantung pendidikan. Membaca buku juga kekuatan utama dalam pendidikan. Lewat membaca, kita memperoleh pengetahuan baru dan informasi, hiburan dan sebagainya. Sejak dulu sampai sekarang, membaca buku dianggap kegiatan yang sangat bermanfaat. Jauh lebih bermanfaat dari pada menonton televisi misalnya. Namun tidak dapat diingkari, kebanyakan anak sekarang lebih memilih menonton televisi dari pada membaca buku. Hal inilah yang membuat kalangan pendidik dn budayawan cemas.

Mary Leanhardt, sebagaimana dikutip oleh Joko D. Muktiono dalam karyanya Aku Cinta Buku mengatakan, “Anak-anak yang gemar membaca buku akan mampu mengembangkan pola berfikir kreatif dalam diri mereka.” Mereka tidak hanya mendengar informasi, tetapi juga belajar untuk mengikuti argumen-argumen yang kaya dan mengingat alur pemikiran yang beragam. Sebuah studi di Amerika Serikat menyebutkan, bahwa anak yang telah dikenalkan kepada buku dan kegiatan membaca memiliki tingkat kemajuan bahasa yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak membaca buku. Anak-anak yang gemar membaca buku akan berbicara, menulis dan memahami gagasan rumit secara lebih baik. Jika anak terbiasa membaca buku, anak akan mampu menyelesaikan pekerjaan sekolah dengan mudah.15)

Menurut Ahmad Sobari, bacaan adalah giji dan suplemen yang bagus buat anak. Dari buku diperoleh “gizi” yang diperlukan anak untuk tumbuhnya kepribadian anak yang sehat. J. Collier mengungkapan dalam kalimat indah berikut; “Seperti diharapkan agar tumbuh kuat dengan selalu makan, diharapkan pula tumbuh semakin bijaksana dengan selalu membaca.”16) Ini menunjukkan pentingnya membaca sebagai alat untuk meningkatkan kebijaksanaan bagi pembacanya.

Adapun langkah-langkah untuk membuat anak suka terhadap buku dan membaca:

1.    Sediakanlah selalu buku-buku di tempat anak-anak bermain.
2.    Membiasakan agar anak gemar membaca buku sejak sedini mungkin.
3.    Ceritakanlah dongeng-dongeng yang telah kita kenal sejak kecil.
4.    Janganlah bosan jika anak meminta untuk diceritakan atau dibacakan buku yang sama terus-menerus.
5.    Ceritakan dengan bahasa anak.
6.    Perankan tiap tokoh dengan baik.
7.    Jangan putus asa jika anak belum menunjukkan perhatian-perhatian terhadap buku atau cerita yang kita baca.
8.    Perlihatkan gambar-gambar yang penuh warna menarik pada saat membacakan buku.
9.    Janganlah menolak jika anak-anak meminta dibacakan buku atau dengarkan cerita.17)

Dengan menanamkan hal-hal di atas pada anak, insha Allah orangtua telah menyiapkan anak-anaknya menjadi anak yang berperilaku baik, sesuai tuntunan agama dan adat ketimuran. Kendati hal ini tidak mudah diselenggarakan, orang tua harus terus mengupayakannya, karena hal ini sebagai bentuk tanggungjawab terpenting bagi orang tua kepada anak-anaknya. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 11 Oktober 2013

END NOTES
*)Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 11 Oktober  2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**)Penulis adalah Aktivis Halqah Remaja Triple Ing Community (Triping.Com), Pasukan LKBB Ponpes Qothrotul Falah dan Siswa Kelas X-A SMA Qothrotul Falah.
1)    Kisah ini saya dengar dari salah satu guru di Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Ketika pada Rabu (9/10/2013) malam saya bertanya padanya tentang rujukan kitab kisah ini, beliau hanya menjawab: “Saya juga dari guru saya, guru yang mengajari saya tasawuf. Saya juga tidak tahu dari mana asal atau sumber cerita ini. Yang pasti, nilai hikmah sufistik di dalamnya tidak bisa diabaikan dan sudah semestinya menjadi pelajaran penting bagi kita semuanya.”  
2)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq (Surabaya: Maktabah Sa’d bin Nas}ir bin Nabhan, T.Th.), 18.
3)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq, 18.  
4)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq, 18.  
5)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq, 18-19.  
6)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 20.   
7)    Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak (Jakarta: Zaman, 2010), 3.
8)    Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak, 4.  
9)    Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Hadith (T.Tp.: T.Th.), 39.
10)    Amr Khaled, Buku Pintar Akhlak, 17. Hadis serupa juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu al-Darda’. Lihat: Ahmad al-Hashimi Beik, Mukhtar al-Ahadith al-Nabawiyyah (Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, T.Th.), 145.   
11)    Hafidh Hasan al-Mas’udi, Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq, 3.
12)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1126.
13)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2012), 82.
14)    Penulis mendengar penuturan Kiai Zainuddin ini di Kafe Ponpes Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten. Sayangnya, penulis tidak ingat persis kapan tepatnya rekaman itu penulis dengarkan.  
15)    Joko D. Muktiono, Aku Cinta Buku (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2003), 20-21.
16)    Joko D. Muktiono, Aku Cinta Buku, 22-23.
17)    Joko D. Muktiono, Aku Cinta Buku, 30-33.

DAFTAR PUSTAKA
1)    al-Qur’an al-Karim
2)    Agus Susanto. Masuk Surga Tanpa Ibadah. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2012.
3)    Ahmad al-Hashimi Beik. Mukhtar al-Ahadith al-Nabawiyyah. Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, T.Th.   
4)    Amr Khaled. Buku Pintar Akhlak. Jakarta: Zaman, 2010.
5)    Hafidh Hasan al-Mas’udi. Taysir al-Khallaq fi ‘Ilm al-Akhlaq. Surabaya: Maktabah Sa’d bin Nasir bin Nabhan, T.Th.  
6)    Jalal al-Din al-Suyuti. Lubab al-Hadith. T.Tp.: T.Th.
7)    Joko D. Muktiono. Aku Cinta Buku. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2003.
8)    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.