Kesantunan dalam Berbicara

TAHUKAH kalian, siapa al-muflis (orang yang bangkrut) itu?” tanya Rasulullah Saw kepada para sahabat.

al-Muflis diantara kami, wahai Rasulullah Saw, adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak mempunyai harta benda,” jawab para sahabat.

al-Muflis dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat. Namun dia juga datang dengan dosa-dosa caci maki, menuduh, memakan harta (dengan jalan tidak halal), menumpahkan darah dan memfitnah. Maka (pada hari kiamat) kebaikannya diambil dan diberikan kepada orang yang disakiti. Ketika kebaikannya telah habis, sementara keburukannya masih tersisa, maka keburukan orang yang disakitinya ditumpahkan kepadanya dan iapun dijerumuskan ke dalam neraka,” terang Rasulullah Saw.

Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim1) dan Imam al-Tirmidhi2) dari Abu Hurairah ini menggambarkan, bahwa al-muflis menurut Rasulullah Saw. adalah  orang yang merugi akibat mulutnya. al-Muflis, adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa pahala ibadah, seperti shalat, puasa dan zakat, namun karena ia tidak mampu mengontrol ucapannya ketika di dunia (ia mencaci-maki, menuduh, memfitnah dan sebagainya), maka pahala ibadahnya akan diberikan kepada orang yang disakitinya. Ketika kebaikannya telah habis dan tidak mencukupi sebagai tebusan keburukannya, maka dosa-dosa orang yang disakiti akan diberikan kepadanya. Iapun merugi lantaran kebaikannya ludes dan keburukannya menumpuk. Nerakapun menjadi tempat yang paling pantas baginya.

Dalam kehidupan masyarakat sekarang, kesantunan atau etika3) dalam bertutur sudah kurang diindahkan. Caci-makian seakan menjadi menu sehari-hari. Ghibah juga menjadi kebiasaan yang tak terelakkan. Memfitnah juga menjadi bumbu obrolan yang dianggap biasa. Atas dasar inilah, melalui makalah sederhana ini penulis ingin mengulas perihal tata krama atau etika dalam berbicara, yang kian hari kian diacuhkan oleh kebanyakan kita. Penulis berupaya menulusuri dalil-dalil agama tentang ajaran berbicara yang santun, yang tidak menyakiti pihak lain.

Kemerosotan Moral dalam Berbicara
Gejala kemerosotan moral dewasa ini sudah kian mengkhawatirkan, dari kejujuran, fitnah, ghibah dan hal-hal maksiat lainnya. Belakangan ini, kita sering kali mendengar keluhan orang tua terhadap perilaku anak-anaknya, khususnya dari segi etika berbicara. Cara berbicara anak-anak sudah tidak mengindahkan kesantunan. Mereka berbicara bukan seperti anak-anak berbicara terhadap orang tuanya, melainkan seperti berbicara dengan teman sendiri. Bahkan dengan menggunakan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan, tak jarang anak-anak tega membuat sakit hati dan sedih orang tuanya. Padahal sesungguhnya, seorang anak diwajibkan berbakti terhadap orang tua sebagai wujud kesopanan. Allah Swt berfirman:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka jangan sekali-kali kamu mengatakan kepada mereka “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS.al-israa’[17]:23).

Ayat tersebut menjelaskan, berbakti kepada orang tua adalah perintah Allah Swt kepada kita semua untuk ditunaikan. Secara tersirat, perintah itu juga mengandung larangan kepada kita untuk bersikap kasar kepada mereka. Bahkan hanya mengucapkan “ah” saja sudah dianggap sebagai sikap kasar yang perlu kita jauhi dan hindari. Orang tua kita adalah sosok yang telah membesarkan kita dengan penuh kecintaan dan pengorbanan. Lahir dan batin, mereka curahkan untuk kita sepenuhnya. Sebagai bentuk bakti kita, maka keharusan kita menyampaikan ucapan yang lembut dan baik kepada mereka.

Jika dalam masalah yang sangat kecil saja (berkata “ah”) kita dilarang mengucapkannya, apalagi perkataan-perkataan lain yang jauh lebih kasar. Apa jadinya jika kita adalah orang tua dan melihat anaknya tumbuh menjadi pribadi lain yang selalu melawan dan bersikap kasar?4) Seharusnya, jika kita merasa sebagai anak yang berpendidikan, tidaklah layak bagi kita untuk berkata kasar terhadap siapapun, khususnya orang tua sendiri, karena mereka adalah “keramat” bagi kita.

Pertanyaannya: bagaimana bertutur kata yang santun kepada orang tua? Menurut Ahmad Jafar as-Shadiq dalam karyanya Siapa Bilang Jadi Mu’min Gak Bisa Kaya?!, contoh kesantunan dalam berbicara kepada orang tua adalah sebagai berikut:

1.    Berbicaralah kepada orang tua dengan gaya tutur yang baik dan sopan tanpa mengucapkan kata-kata kasar yang membentak, walaupun hanya sekedar “ah”.
2.    Sahutlah panggilannya dengan cepat dan wajah yang tersenyum seraya berucap “ya pak, ya bu.”
3.    Janganlah melawan mereka dan janganlah bersuara tinggi pada mereka dan diamlah saat mereka berbicara.
4.    Janganlah berbohong kepada mereka.
5.    Jika kita meminta sesuatu kepada mereka, hendaknya mintalah dengan cara yang baik dan lembut. Dan berterima kasihlah kepada mereka, jika dikabulkan dan jangan cerewet atau terus-menerus meminta sehingga membuat mereka kebingungan.5)

Dari mana mulanya kata-kata kotor yang keluar dari mulut? Dalam karyanya yang berjudul Bening Hati, Basyar Isya menjelaskan bahwa hati kotorlah yang akan melahirkan kalimat-kalimat yang tidak bermutu. Mengutip Ibn Ataillah al-Sakandari, Basyar juga menuliskan, lisan itu bisa diibaratkan teko. Jika teko itu berisikan air yang jernih, maka yang akan keluar adalah air yang jernih pula. Tapi jika teko itu berisikan kopi, maka yang akan keluarpun pastilah kopi. Menurut Basyar, keterangan ini bisa kita artikan bahwa terjadinya lisan yang menghamburkan kalimat-kalimat yang kasar, menyakitkan, jorok dan sia-sia, semua itu tidak bisa tidak bersumber dari hati yang tidak beres (berpenyakit).6) Apa saja yang terlihat di depan matanya niscaya akan membuat lidahnya gatal untuk segera berkomentar, terlepas komentarnya bermutu atau tidak, bermanfaat bagi dirinya atau tidak. Jelas takkan ia sadari bahwa perkataannya mungkin saja bisa sia-sia.7)

Lisan Bisa Membahayakan
Tidak jarang terjadi, ucapan yang muncul dari ketidaksadaran dan tidak bermutu akan membuat kita tergelincir kepada kemaksiatan, sehingga akhirnya menjadi aib yang memalukan. Misalnya, seperti dalam sebuah cerita nyata yang terjadi di daerah Penulis, ada seorang gadis yang amat rajin mengaji. Ia gadis pendiam, yang menjadi korban ucapan kotor ibunya yang berdampak menyakiti dan menghina seorang pemuda yang menaruh hati pada puterinya. Dengan ucapannya, si Ibu merendahkan si pemuda karena dianggap tidak akan mampu menghidupi puterinya. Pada akhirnya, pemuda tersebut merasa dendam, sehingga nekat mendatangi dukun untuk membantu membalaskan sakit hatinya. Pemuda itu diberi petunjuk untuk melaksanakan puasa selama tiga hari tiga malam. Puasa itu dijalaninya dengan harapan ia bisa berhubungan intim dengan anak gadisnya.

Tiga bulan kemudian hal keji tersebut terungkap karena kehamilan si gadis. Tidak disangka-sangka, gadis yang begitu alim pada akhirnya menjadi buah bibir masyarakat, bukan karena kealimannya, melainkan karena aib dari kehamilannya. Setelah diselidiki langsung dari sumbernya (pemuda), apa alasannya melakukan perbuatan keji itu dengan si gadis itu, ia pun menjawab dengan jujur bahwa itu dilakukannya bukan karena saling mencintai, melainkan semata karena dendam kesumatnya terhadap ibu si gadis yang telah menghinanya.

Cerita ini menunjukkan bahwa petaka sering kali berawal atau bersumber dari lisan. Nasi telah menjadi bubur. Ucapan tidak bisa ditarik kembali. Lidah memang tidak bertulang. Lisan begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata seperti apapun. Akan tetapi, apa dampaknya dan bagaimana akibatnya, itulah yang sering kali tidak kita sadari. Sepatah kata yang terucap sama sekali tidak akan membuat tubuh seorang terluka. Namun siapa yang tahu kalau justru hatinya yang tersayat-sayat. Atau sebaliknya sepatah kata yang terucap, justru malah menjadi penyebab si pengucap mendapat celaka, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Rasulullah Saw bersabda:

Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya (bukan memberi manfaat), kecuali kata-kata yang berupa amar ma’ruf nahi munkar dan dhikrullah azza wa jalla.” (HR. Imam al-Tirmidhi).8)

Dan ketika akibat buruk dari perkataan itu menimpa dirinya, maka yang tersisa hanya penyesalan. Memetik makna dari kisah tersebut, hendaknya kita berhati-hati dalam berbicara. Setiap kata yang hendak kita ucapkan, semestinya terlebih dahulu kita pikirkan masak-masak. Sekiranya yang terucap itu tidak ada manfaatnya, sebaiknya kita memilih diam. Rasulullah Saw bersabda:

Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).9)

Untuk itu, berbicaralah dengan seperlunya dan mulailah menata perkataan dengan sopan dan dimengerti, karena perkataan yang sopan dan lembut itu akan menjadi penjaga kita dalam hal-hal yang tidak kita inginkan. Coba kita perhatikan dan resapi kelemahlembutan tutur kata Rasulullah Saw. Anas bin Malik pun mengungkapkan: “Rasulullah Saw selalu berlaku dan berkata lemah-lembut kepada orang lain dan dengan sikap seperti itulah orang-orang menjadi segan serta hormat kepada beliau.”10)

Perilaku dan perkataanlah yang akan menjadi patokan orang sebagai penilaian terhadap diri kita. “Keutamaan seseorang bisa diketahui dari tutur katanya,” ujar ungkapan hikmah. Jika perkataan kita tidak sopan terhadap seseorang, maka tidak akan menutup kemungkinan orang akan menilai kita jelek. Sebaliknya, jika perkataan kita sopan, maka orang pun menilai kita lebih baik, bahkan akan lebih menghargai pendapat kita.

Adab Berbicara a la Rasulullah Saw
Dalam karyanya yang berjudul Rosul Juga Manusia, Mohammad Sondan memaparkan beberapa adab berbicara yang dicontohkan Rasulullah. Misalnya:

1.    Pikirlah terlebih dahulu sebelum berbicara dan berbicaralah selalu dalam hal kebaikan.
2.    Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Rasulullah Saw mengatakan: “Termasuk baiknya Islam seseorang, ia yang meninggalkan sesuatu tidak berguna baginya.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah). Untuk itu, maka berbicaralah secukupnya.
3.    Hindari perdebatan dan saling membantah, sekalipun berada di pihak yang benar. Dan menjauhi perkataan yang dusta sekalipun bercanda. Rasulullah Saw bersabda: “Aku menjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yang menghindari pedebatan, sekalipun dia benar dan menjamin istana di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda.” (HR. Abu Dawud).
4.    Hindari perkataan jorok (keji), karena itu bisa menyinggung hati dan perasaan seseorang. Rasul pun pernah bersabda: “Bukanlah seorang yang mukmin, jika ia pencela, pengutuk atau yang keji pembicaraannya.” (HR. al-Bukhari).11)  

Adab berbicara yang selalu Rasulullah contohkan inilah yang seharusnya menjadi pemicu untuk diri kita agar lebih hati-hati dalam berbicara. Kata-kata bijak menyebutkan: “Mulutmu harimaumu”. Dan dalam point terakhir pun itu dijelaskan, bahwa orang yang sering mengeluarkan kata-kata yang keji atau kotor, itu bukanlah termasuk orang yang mukmin atau beriman. Hanya orang yang berimanlah yang mampu mengontrol perkataannya dan dia lebih memilih diam dari pada mengumbar-umbar perkataan yang tidak seharusnya dia katakan, karena dia tahu bahwa hal tersebut sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya.

Tutur Kata yang Baik Bernilai Sedekah
Berpikirlah selalu sebelum berbicara. Berbicaralah selalu dalam hal kebaikan. Allah Swt berfirman:

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali orang yang memberi sedekah, makruf atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan menganugerahkan kepada mereka pahala yang besar.” (Qs. al-Nisa’: 114).

Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini menuntun kaum muslimin dan siapa saja yang menyangkut perbincangan dengan mengecam perbincangan yang selama ini banyak dilakukan oleh manusia, utamanya orang-orang munafik. Quraish menuliskan: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka yang melakukan (membicarakan) bisikan, siapapun mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh orang lain untuk berbuat kebaikan.”12)

Ayat tersebut juga berkaitan dengan Hadis Nabi yang memerintahkan kita untuk berbicara yang baik atau diam, yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Ayat tersebut juga merupakan pendidikan berharga bagi masyarakat muslim, yang mengharuskan kita untuk saling terbuka terhadap sesama, sehingga tidak menyebabkan ghibah dan menjaga kata-kata yang baik. Perkataan yang baik adalah sedekah.  

Vanny Carisma, dalam karyanya Perjalanan 1000 Mil; Mulai Dari Langkah Pertama, mengkisahkan bahwa ada seorang pelajar pada zaman dinasti yang bernama Wu He. Ibunya mendidiknya dengan disiplin yang ketat. Suatu hari, ibunya mendengar Wu He berbicara kepada seorang tamu tentang kesalahan orang lain. Setelah tamunya pulang, sang ibu memukulnya dengan cambukan sebanyak seratus kali.

Seorang famili mencoba untuk menenangkan ibunya dan berkata: “Membicarakan kehebatan atau kesalahan orang lain adalah hal yang umum di kalangan pelajar. Apa yang begitu salah tentang itu? Tidak perlu memukulnya seperti itu.”

Ibunya menghela napas dan berkata: “Ibu pernah mendengar bahwa jika orang tua yang benar-benar mencintai putri mereka, mereka akan bersikeras menikahkan putrinya dengan seorang pelajar yang berhati-hati dalam perkataannya.”13)

Dalam kisah ini sang ibu sangat bersikeras untuk mendidik anaknya, karena dampak dari perkataannya akan merugikan dirinya sendiri. Ibu dari seorang wanita yang baik hanya akan memilih laki-laki yang baik pula dalam perkataannya. Dan itulah ketakutan ibu dari Wu He, ketika perkataan yang keluar dari anaknya hanyalah kejelekan orang lain, maka bagaimana dengan jodohnya nanti?

Pelajaran moral kuno mengajarkan bahwa kita harus berhati-hati dengan perkataan. Komentar yang bersifat sembarangan akan menyakitkan hati orang lain, lebih sakit dari sebilah pisau maupun tembakan pistol. Terlebih lagi begitu kata-kata terucapkan, ia tidak bisa ditarik kembali. Ia dapat membuat kebencian dan karma bagi pembicaranya.14) Karena itu, seorang yang mempunyai prinsip akan sangat berhati-hati dalam memilih yang terbaik untuk anaknya dan pastinya yang pertama kali akan dilihat adalah perkataannya, karena perkataan merupakan cerminan bagi pengucapnya.

Siapakah sesungguhnya kita yang gemar bergunjing? Kita sering  menyadari jika kita sering kali tergoda untuk membicarakan orang lain. kita bahkan kerap berbisik-bisik menyingkapkan kelemahan orang. Tapi sadarkah kita ketika menceritakan aib seseorang pada hakikatnya kita telah mempertunjukkan keburukan diri kita sendiri?15)

Yakubus menuliskan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu berkuasa menjinakkan lidahnya. Kadang perkataan dapat membangun, tetapi juga dapat meruntuhkan. Dengan lidah, kita bisa memuji Tuhan, tapi juga bisa mengutuk seseorang. Itu sebabnya, Raja Daud pernah berseru pada Tuhannya untuk bisa mengawasi mulutnya dan berjaga pada pintu bibirnya. Dan tugas kita adalah menjaga hati agar memiliki penguasaan diri atas perkataan.16) Inilah cara kita bersedekah dengan lisan kita.

Kiat Menjaga Lisan
Menurut hemat penulis, ada beberapa kiat yang bisa kita jalankan untuk menjaga kualitas ucapan kita. Misalnya,

1.    Menahan emosi
Kuasai emosi biar menjadi lebih tenang, karena pada dasarnya perkataan yang kasar berawal dari emosi yang tidak stabil. Kalimat-kalimat yang kita keluarkan saat berbicara adalah cerminan perasaan kita.
2.    Mengingat-ingat efek perkataan-perkataan yang kasar
Hal ini harus kita tanamkan pada diri kita. Jika kita senantiasa teringat pada akibat dari perkataan yang kasar, maka kita akan terhindar darinya, karena hati nurani kita akan mencegahnya.
3.    Menghindari pembicaraan-pembicaraan yang kurang penting atau lebih tepatnya tidak membicarakan aib orang lain, karena hal ini akan memancing emosi kita untuk terus berkata yang negatif. Jika kita merasa materi pembicaraan rekan kita tidak penting, maka lebih baik menghindar dari mereka.
4.    Keimanan pada Allah dan hari akhir. Inilah sebenarnya cara terpenting yang harus kita tingkatkan dalam diri kita, karena dengan adanya keimanan, kita akan lebih menjaga perkataan kita. Kita akan lebih jujur dan sopan, karena kita senantiasa merasa diawasi oleh-Nya dan dampak perkataan buruk kita akan menjerumuskan kita pada neraka.

Dengan kiat-kiat di atas, setidaknya kita bisa sedikit mengatur hati kita dalam bertutur kata, agar tidak menghasilkan kata-kata yang kasar yang berakibat menyakitkan hati seseorang, karena lisan yang maslahat itu cerminan hati yang indah. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah Saw bersabda: “Tidak akan istikomah iman seseorang, sehingga hatinya istikomah. Dan tidak akan istikomah hati seseorang, sehingga lisannya istikomah.”17) Dengan demikian, kata Ahmad Farid dalam Tazkiyyah al-Nufus, istikomahnya iman tergantung pada istikomahnya hati dan istikomahnya hati tergantung pada istikomahnya lisan.18) Apakah kita masih akan bermain-main dengan lisan kita? Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 16 Oktober 2013
Pukul 01.13 WIB

END NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 18 Oktober  2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Penulis adalah Aktivis Halqah Remaja Triple Ing Community (Triping.Com), Aktivis Pondok Baca Qi Falah, Siswi Kelas XI IPS SMA Qothrotul Falah.
1) Muslim bin Hajjaj al-Qushairi al-Naisaburi, Sahih Muslim (T.Tp.: Shirkah Nur Asiya, T.Th.,), II/430.  
2) Abu ‘Isa al-Tirmidhi, Sunan al-Tirmidhi (Beyrut: Dar al-Fikr, 1994 M/1414 H), IV/189. No. Hadis 2426.
3) Secara kebahasaan, etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti watak, kesusilaan atau adat. Tim Penulis, Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik (Jakarta : Kementerian Agama Republik Indonesia, 2012), 10.
4) Ahmad Jafar as-Shadiq, Siapa Bilang Jadi Mu’min Gak Bisa Kaya?! (Jakarta: Alita Media, 2009), 89.
5) Ahmad Jafar as-Shadiq, Siapa Bilang Jadi Mu’min Gak Bisa Kaya?!, 92.
6) Menurut Ahmad Farid, hati terbagi menjadi tiga: al-qalb al-sahih aw al-Salim (hati yang sehat), al-qalb al-mayyit (hati yang mati) dan al-qalb al-marid (hati yang berpenyakit). Lebih detailnya, lihat: Ahmad Farid, Tazkiyyah al-Nufus (Beyrut: Dar al-Qalam, T.Th.), 25-33.
7) Basyar Isya, Bening Hati; Menjadikan Hidup Tentram, Nyaman dan Lapang (Bandung: MQS Pustaka Grafika, 2001), 81.
8) Basyar Isya, Bening Hati; Menjadikan Hidup Tentram, Nyaman dan Lapang, 84.
9) Yahya bin Sharaf al-Nawawi, Riyadh al-Salihin Min Kalam Sayyid al-Mursalin (T.Tp.: T>.Th.), 573.
10) Mohamad Sondan A, Rosul Juga Manusia (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2009), 205.
11) Mohamad Sondan A, Rosul Juga Manusia, 205.
12) M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah (Ciputat: Lentera Hati, 2009), II/713.
13) Vanny Crisma W., Perjalanan 1000 Mil (Jakarta: Buku Biru, T.Th.), 12.
14) Vanny Crisma W., Perjalanan 1000 Mil, 13.
15) Rudy Harapan, 40 Esei Kebeningan Hati Pejalan Ruhani (Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2004), 54.
16) Cahyo Satria Wijaya, 19 Menit Menaklukkan Orang di Sekitar Anda (Jakarta: Immortal Publisher, 2013), 110.
17) Ahmad Farid, Tazkiyyah al-Nufus, 33.
18) Ahmad Farid, Tazkiyyah al-Nufus, 33.

DAFTAR PUSTAKA
1)    al-Qur’an al-Karim
2)    Crisma W., Vanny. Perjalanan 1000 Mil. Jakarta: Buku Biru, T.Th.
3)    Farid, Ahmad. Tazkiyyah al-Nufus. Beyrut: Dar al-Qalam, T.Th
4)    Harapan, Rudy. 40 Esei Kebeningan Hati Pejalan Ruhani. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2004.
5)    Isya, Basyar. Bening Hati; Menjadikan Hidup Tentram, Nyaman dan Lapang. Bandung: MQS Pustaka Grafika, 2001.
6)    al-Naisaburi, Muslim bin Hajjaj al-Qushairi. Sahih Muslim. T.Tp.: Shirkah Nur Asiya, T.Th.
7)    al-Nawawi, Yahya bin Sharaf. Riyadh al-Salihin Min Kalam Sayyid al-Mursalan. T.Tp.: T>.Th.
8)    Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah. Ciputat: Lentera Hati, 2009.
9)    Sondan A, Mohamad. Rosul Juga Manusia. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2009.
10)    as-Shadiq, Ahmad Jafar. Siapa Bilang Jadi Mu’min Gak Bisa Kaya?! Jakarta: Alita Media, 2009.
11)    Tim Penulis. Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik. Jakarta : Kementerian Agama Republik Indonesia, 2012.
12)    al-Tirmidhi, Abu ‘Isa. Sunan al-Tirmidhi. Beyrut: Dar al-Fikr, 1994 M/1414 H.  
13)    Wijaya, Cahyo Satria. 19 Menit Menaklukkan Orang di Sekitar Anda. Jakarta: Immortal Publisher, 2013.