Menanamkan Rasa Syukur pada Remaja

RASULULLAH SAW pernah mengisahkan tiga orang Bani> Isra’i>l yang menderita penyakit belang, botak dan buta. Suatu ketika, Allah Swt menguji mereka dengan mengutus malaikat.

Mula-mula, malaikat datang kepada orang yang berpenyakit belang dan bertanya; “Apa yang paling kau dambakan di dunia ini?”

“Aku mendambakan paras yang tampan dan kulit yang bagus. Aku juga ingin penyakit yang membuat orang-orang jijik kepadaku ini hilang,” jawab Si Belang.

Malaikat lantas mengusap wajah Si Belang. Keajaiban terjadi. Penyakit yang menjijikkan itu seketika hilang. Paras Si Belang pun berubah tampan. Malaikat bertanya lagi; “Harta apa yang paling kau sukai?”

“Unta,” jawab Si Belang.

Malaikat lalu memberinya unta yang sedang bunting sepuluh bulan. “Semoga Allah memberi berkah atas apa yang kau dapatkan ini,” ujar maliakat sambil undur diri.

Selanjutnya, malaikat itu datang kepada Si Botak. “Apa yang paling kau inginkan selama in?” tanya malaikat.

“Aku ingin rambut yang bagus dan penyakit di kepalaku yang membuat orang-orang jijik ini hilang,” jawab Si Botak.

Malaikat lalu mengusap kepala Si Botak dan seketika hilanglah penyakitnya. Rambut yang indah pun tumbuh di kepalanya. Malaikat bertanya lagi; “Harta apa yang paling kau sukai?”

“Sapi,” jawab Si Botak.

Kemudian, ia  diberi sapi yang sedang bunting. Malaikat lalu undur diri dan berkata; “Semoga Allah memberi berkah atas apa yang kau dapatkan ini.”

Terakhir, malaikat itu datang kepada Si Buta dan bertanya; “Apa yang paling kau harapkan saat ini?”

“Aku ingin bisa melihat kembali,” jawab Si Buta.

Malaikat itu lalu mengusap mata Si Buta dan Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi; “Harta apa yang paling kau inginkan?”

“Kambing,” jawab Si Buta. Kemudian, ia diberi kambing yang sedang bunting.

Setelah beberapa lama, unta, sapi, dan kambing tersebut berkembang biak. Karena terus beranak-pinak, unta-unta Si Belang bahkan sampai memenuhi suatu lembah. Demikian pula sapi-sapi Si Botak dan kambing-kambing Si Buta.

Suatu hari, malaikat datang kembali menemui Si Belang dengan menyerupai orang yang berpenyakit belang, persis seperti keadaan Si Belang dulu. Malaikat ini berkata; “Aku adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah jalan. Tak ada yang mau menolongku kecuali Allah. Aku meminta kepadamu seekor unta untuk bekal perjalananku.’’

“Kewajiban yang harus kupenuhi masih banyak,’’ jawab Si Belang ketus.

Malaikat itu berkata lagi; “Kalau tidak salah, aku pernah melihatmu. Bukankah kau dulu orang yang juga berpenyakit belang dan orang lain jijik kepadamu? Bukankah kau dulu orang yang miskin kemudian Allah memberi kekayaan kepadamu?’’

Si Belang berkata; “Kekayaanku ini adalah warisan dari nenek moyangku.’’ Malaikat itu menjawab; “Jika kau berdusta, semoga Allah mengembalikan keadaanmu seperti dulu.’’

Malaikat itu lalu beranjak pergi dan mendatangi Si Botak serta menyampaikan maksud sebagaimana yang ia sampaikan kepada Si Belang. Si Botak ternyata memiliki jawaban yang sama dengan Si Belang. Malaikatpun berkata kepadanya; “Jika kau berdusta, semoga Allah mengembalikan keadaanmu seperti dulu.”

Terakhir, malaikat itu mendatangi Si Buta dan menyampaikan maksud yang sama. Mendengar kata-kata malaikat yang sedang menyerupai orang buta, Si Buta menjawab; “Dulu, aku juga buta. Namun, Allah mengembalikan penglihatanku. Ambillah apa yang kau inginkan. Demi Allah, aku tidak keberatan dengan apa yang kau ambil.”

Malaikat itu berkata; “Peliharalah harta kekeyaanmu. Sebenarnya kau sedang diuji dan Allah telah ridha kepadamu.”

Kisah di atas, yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, penulis nukil dari buku Sabar dan Syukur karya Yudy Effendy.1) Menurut Yudy, kisah ini menunjukkan kepada kita betapa manusia mudah lupa untuk bersyukur kepada Allah saat harta dan kebahagiaan ada di tangannya. Dari kisah ini, kita melihat bahwa Si Buta adalah satu-satunya orang yang bersyukur kepada Allah,2) dengan menyadari bahwa kesembuhannya datang dari Allah dan kekayaannya juga berkah rahmat-Nya.

Makna, Bentuk dan Cara Bersyukur pada Allah Swt
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, syukur adalah rasa terima kasih kepada Allah.3) Sedangkan menurut Ensiklopedi Tasawuf Imam al-Ghazali, syukur artinya ucapan, perbuatan dan sikap terima kasih atau al-h{amd; pujian.4) Dalam ilmu Tasawuf, syukur adalah  ucapan, sikap, perbuatan terima kasih kepada Allah Swt dan dan pengakuan tulus atas nikmat-Nya dan karunia yang telah diberikan oleh-Nya.5) Tetapi menurut Ahmad Ja’far as-Shadiq dalam buku Siapa Bilang Jadi Mukmin Gak Bisa Kaya, syukur itu tidak dapat didefinisikan dengan suatu kalimat yang dapat mencakup dan menyeluruh. Karena syukur tidak sekedar perbuatan fisik saja, melainkan juga amalan hati yang kompleks.6)

Pertanyaannya: bagaimana bentuk dan cara bersyukur? Seorang tokoh sufi ternama as-Siri mengatakan, bahwa syukur memiliki tiga bentuk syukur lisan, syukur badan dan syukur hati.7) Syukur lisan yakni dengan senantiasa mengucapkan al-hamdulillah. Syukur badan dengan tidak menggunakan anggota tubuh kita selain untuk menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Misalnya, jika seseorang memperoleh nikmat harta benda, ia menggunakan harta itu sesuai dengan ajaran agama dan menafkahkannya di jalan Allah Swt. Jika nikmat yang diperolehnya berupa ilmu pengetahuan, ia akan memanfaatkan ilmu itu untuk keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan manusia dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain; bukan sebaliknya. Syukur hati adalah mengetahui dan meyakini bahwa sesungguhnya seluruh nikmat berasal dari Allah Swt.8)

Dalam Qs. al-Zukhruf: 9-13, Allah Swt berfirman: “Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. Yang menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan Dia membuat jalan-jalan di atas bumi untuk kamu supaya kamu mendapat petunjuk. Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati. Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur). Dan yang menciptakan semua yang berpasang pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kau tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya, kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.”

Ayat diatas menjelaskan betapa banyak karunia Allah yang telah diberikan kepada umat manusia. Allah menurunkan hujan dari langit, sehingga bumi yang kering dan tandus menjadi subur. Selain itu, termasuk juga nikmat Allah bahwa semua makhluk diciptakan berpasang-pasangan, sehingga mereka dapat berkembang dan tidak membosankan bagi kehidupan manusia. Ada laki-laki dan perempuan, ada jantan dan ada betina, ada siang dan ada malam, ada pagi dan ada sore, ada musim penghujan dan ada kemarau, dan begitu seterusnya.9)

Betapa banyak nikmat Allah Swt yang wajib kita syukuri. Sebab itu, pada Qs. az-Zukhruf ayat 13 seperti disebut di atas, Allah Swt memerintahkan agar manusia selalu mengingat nikmat Allah kapanpun, di mana pun  dan dalam keadaan apapun. Setelah mengetahui betapa banyak nikmat Allah yang diberikan kepada manusia, hendaknya kita dapat mensyukurinya agar nikmat itu terus diberikan dan ditambah oleh Allah SWT. Untuk dapat mensyukuri nikamat Allah, kita harus memahami cara-caranya, sebagaimana yang terdapat dalam isi kandungan ayat di atas. Diantara cara-cara mensyukuri nikmat Allah itu adalah sebagai berikut:

a.    Selalu ingat bahwa nikmat itu datangnya dari Allah dan merupakan kasih saying-Nya. Dengan demikian, kita tidak akan lupa diri, meskipun sedang bergelimang kebahagiaan, melainkan tetap bersikap mawas diri, sebab suatu saat kenikmataan itu akan diambil yang punya.
b.    Menggunakan nikmat itu sesuai dengan perintah-Nya. Karena yang memberikan nikmat adalah Allah, maka harus digunakan sesuai dengan perintah-Nya. Sebaliknya, tidak dipakai untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan perintah-Nya, sehingga Allah murka dan mencabut nikmat-Nya itu.
c.    Menerima semua nikmat Allah dengan ikhlas dan ucapan puji syukur. Dalam menerima nikmat Allah, kita hendaknya dapat menerimanya dengan ikhlas. Apapun bentuknya nikmat itu dan bagaimana pun besar kecilnya harus diterima dengan ikhlas dan puji syukur. Dengan demikian, Allah akan senang kepada hamba-hamba-Nya.10)  

Fenomena Syukur di Kalangan Remaja
Perasaan tidak ingin ketinggalan zaman dan ketidakpuasan selalu ada pada diri remaja saat ini. Diantara sifat manusia adalah tidak pernah puas atas apa yang dimilikinya, karena kebutuhannya tidak terbatas. Salah satu faktor yang menyebabkan manusia kebutuhannya tidak terbatas adalah teknologi. Teknologi sangat mempengaruhi remaja saat ini, mulai dari merk HP, laptop, dll. Mereka selalu ingin memakai benda yang mahal dan yang lagi tren dan itu semua tidak ada habisnya, karena menurut penulis, teknologi yang semakin canggih akan terus berganti dan niscaya banyak yang ingin mengikutinya, sehingga lupa diri dan tak puas diri.

Selain teknologi, banyak kasus orang yang tidak lagi memiliki rasa syukur dengan apa yang telah dimilikinya seperti artis. Remaja dan masyarakat pun ikut-ikutan gaya artis favorit mereka. Para artis dan remaja sekarang ini sering mengubah apa yang telah Allah ciptakan bagi mereka. Misalnya, mengubah bentuk hidung, wajah, rambut, dll. Diantara yang sering terjadi di kalangan masyarakat adalah mengubah bentuk rambut. Ada yang mengubahnya dari yang keriting menjadi lurus ataupun sebaliknya, dari lurus menjadi keriting. Dan yang sering mereka ubah adalah rambut keriting menjadi lurus, yang dikenal dengan istilah ribonding. Padahal praktik ribonding itu banyak yang mengharamkan. Bahkan ketika penulis suatu ketika menyaksikan tayangan televise, para kiai Pondok Pesantren Modern Gontor dan santrinyapun sepakat menyatakan bahwa ribonding itu haram. Selain ribonding, ada juga yang menyambung rambut. Dalam bukunya, Wanita dan Jilbab, Ust. Baidlowi Syamsuri mengatakan, Allah mengutuk/melaknat perempuan yang suka menyambung rambutnya dengan rambut palsu, rambutnya sendiri, atau rambut suaminya, atau rambut perempuan lain. Termasuk juga yang mendapat laknat dari Allah adalah orang yang ikut membantu menyambungnya.11)

Sungguh apakah kita tidak takut dengan laknat Allah?  Kita diperintahkan untuk bersyukur, bukan untuk kufur atau ingkar kepada-Nya. Contoh-contoh ketidaksyukuran di atas merupakan bentuk ketidakpuasan yang ada pada diri mereka, sehingga mereka tidak lagi bsersyukur dengan apa yang mereka miliki. Sebaiknya kita syukuri nikmat Allah, jangan mengingkarinya, seperti dijelaskan Hadis berikut: “Menyebut-nyebut nikmat Allah merupakan (perbuatan) syukur dan meninggalkannya berarti kufur (ingkar kepada nikmat Allah). Barang siapa tidak mensyukuri nikmat yang sedikit, ia tdak pula akan mensyukuri nikmat yang banyak. Dan barang siapa tidak berterima kasih kepada orang lain, ia tidak akan berterima kasih pula kepada Allah.”12)

Yang dimaksud kufur dalam Hadis ini ialah ingkar terhadap nikmat Allah, bukan ingkar kepada-Nya. Barang siapa yang tidak bersyukur kepada Allah karena mendapat nikmat yang sedikit, berarti ia pun tidak akan bersyukur bila mendapat nikmat yang banyak. Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah. Orang yang bersifat demikian disebut orang yang ingkar terhadap nikmat Allah, dan ia berdosa karena perbuatannya itu.13) Allah Swt. berfirman “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim: 7).

Berhubungan dengan ayat di atas, di dalam buku Siapa Bilang Jadi Mu’min Gak Bisa Kaya!, Ahmad Jafar as-Shadiq mengatakan, Imam al-Qurtubi memaparkan banyak sekali riwayat yang menafsirkan ayat di atas. Dari sekian banyak riwayat penafsiran tersebut, hampir secara keseluruhan mengartikannya dengan taat kepada Allah Swt; ketaatan yang muncul dan dilandasi oleh rasa syukur.14)

Syukur dengan Apa yang Ada

Dalam kehidupan sosial, manusia memiliki banyak perbedaan, entah itu dari segi pendidikan, ekonomi, bahkan keadaan fisik. Tetapi Allah tidak melihat perbedaan semua itu, keculai taqwanya. Jadi, kaya atau miskin kita tetap syukuri. Fisik sempurna atau tidak, harus kita tetap syukuri, karena nikmat yang Allah berikan tidak terhingga jumlahnya dan kita tidak akan pernah mampu menghitungnya. Walupun saat ini banyak mesin canggih dan profesor, tapi nikmat Allah tidak akan mampu dihitung. Ini sesuai firman Allah SWT dalam Qs. An-Nahl: 18: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Jadi jelas sekali, ayat di atas menjelaskan bahwasanya kita tidak akan mampu menghitung jumlah nikmat Allah SWT. Subhanallah, dengan begitu apa yang harus kita lakukan selain bersyukur kepada-Nya? Dengan bersyukur, Allah akan mempermudah jalan bagi kita untuk meraih kesuksesan yang kita dambakan, selama syukur yang kita lakukan benar-benar karena Allah SWT. Nah, sering sekali kita lihat orang yang fisiknya kurang lengkap atau tidak sempurna lebih mampu mensyukuri nikmat yang Allah berikan, bahkan mereka bisa jauh lebih sukses dari orang yang fisiknya sempurna. Seperti diceritakan di dalam buku Heroes, kisah sukses pria yang bernama Sidik. Sidik adalah seorang pemuda lulusan SMA pada 1986. Dulu Sidik ingin merantau untuk mengadu nasib di ibu kota, namun saat itu ibunya mencegahnya, karena ibunya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dengan anak lelakinya yang tidak berkaki itu di ibu kota kelak. Sidik terus dibujuk ibunya agar membatalkan niat merantaunya. Dan sang ibu menyiapkan sebuah warung klontong untuk anaknya itu, tapi Sidik tetap bersikukuh dengan tekadnya. Ia sungguh-sungguh ingin meningkatkan taraf perekonomian keluarganya yang tergolong rendah. Meski lahir dengan kondisi fisik yang tidak sempurna, Sidik bisa menerima keadaannya dengan jiwa yang besar. “al-Hamdulillah, sejak lahir saya sudah begini”. Itulah kata-kata Sidik yang sering ia ungkapkan.

Melihat keinginan keras buah hatinya, sang ibupun rela dan membekalinya uang Rp. 10.000. Ia merantau ke Jakarta dan mengalungkan kertas di dadanya yang bertuliskan: “Mencari kerja”. Setelah lama mencari pekerjaan, Sidikpun mendapatkan pekerjaan, bahkan bekerja di perusahaan besar, dan sempat menjadi kebanggaan di perusahaan ini, karena sering mengerjakan proyek-proyek yang membangun perusahaan itu. Tetapi Sidik bekerja di perusahaan itu tidak lama, karena dia berfikir ingin mandiri alias punya perusahaan sendiri. Sidik lantas menjalankan usaha kerupuk singkong cap Ikan Gurame. Usahanya itupun berkembang pesat sampai bisa membuka peluang kerja bagi sesama penyandang cacat.15)

Itulah cerita yang bisa memotivasi kita menjadi lebih baik lagi. Ketika tampil di Kick Andy, Sidik mengatakan; “Kalau berusaha jangan loyo. Harus bersemangat, berjuang terus dan tidak boleh menyerah”. Jadi kita yang sempurna harus lebih bersemangat lagi dalam menjalankan kehidupan ini. Kita jangan terlalu banyak mengeluh dengan kehidupan yang kita jalani. Susah, senang, kaya atau pun miskin, mari kita jalani hidup ini dengan rasa syukur. Dalam Hadis Riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda: “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah darimu dan jangan melihat orang yang lebih atas darimu. Sebab yang demikian itu lebih baik agar kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepadamu.” (H.R. al-Bukhari).16)

Hadis di atas menjelaskan bahwasanya Rasulullah Saw mengingatkan pada kita semua agar dalam hal urusan duniawi, kita selalu melihat kepada orang yang keadaannya di bawah kita, seperti keadaan ekonominya, rumahnya, pakaiannya, kekayaannya dan sebagainya. Juga jangan sekali-kali melihat kepada orang yang keadaannya lebih tinggi dari kita. Hal itu supaya kita dapat merasakan betapa besar nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Sementara itu, masih ada orang lain yang keadaannya di bawah kita. Perasaan yang demikian itu, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bersyukur atas semua nikmat Allah Swt yang telah diterimanya.17) Sebagai remaja, kitapun harus mensyukuri nikmat Allah Swt yang telah diberikan-Nya kepada kita dengan mengoptimalkan kenikmatan itu di jalan kebaikan.

Sebagai penutup, penulis mengutip nasihat A’idh al-Qarni, yang menyatakan: “Tengoklah rumah sakit jiwa, agar Anda bisa melihat nikmat akal yang diberikan Allah kepada Anda. Tengoklah bangsal pasien, agar Anda bisa melihat nikmat kesehatan yang diberikan kepada Anda. Tengoklah penjara, agar Anda dapat menyaksikan nikmat kebebasan yang diberikan Allah kepada Anda. Lihatlah orang kafir, agar Anda bisa melihat nikmat Islam yang diberikan Allah kepada Anda. Lihatlah tempat kursi duduk orang lumpuh, agar Anda dapat melihat nikmat berjalah yang diberikan Allah kepada Anda. Pandanglah orang buta, agar Anda dapat melihat nikatmat penglihatan yang diberikan Allah kepada Anda. Perhatikanlah orang tuli, agar Anda dapat melihat nikmar pendengaran yang dikaruniakan Allah kepada Anda. Perhatikanlah orang bisu, agar Anda melihat nikmat bicara yang Allah karuniakan kepada Anda. Tataplah orang belang dan panuan, agar Anda tahu nikmat kulit indah yang diberikan kepada Anda.”18) Wa Allah a’lam.[]    

Cikulur, 24 Oktober 2013

END NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Remaja “Triple Ing Community” (Triping.Com), Jum’at, 25 Oktober  2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Penulis adalah Aktivis Halqah Remaja Triple Ing Community (Triping.Com), Penyiar Radio Qi FM 107.07 dan Siswi Kelas XI IPS SMA Qothrotul Falah.
1)    Yudy Effendy, Sabar & Syukur: Rahasia Meraih Hidup Supersukses (Jakarta: QultumMedia, 2013), 10-12.  
2)    Yudy Effendy, Sabar & Syukur: Rahasia Meraih Hidup Supersukses, 12.
3) Tim Penulis Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2005), 1115.
4) M. Abdul Mujieb, Syafiah dan Ahmad Ismail, Ensiklopedi Tasawuf Imam al-Ghazali (Bandung: Mizan Publika, 2009), 471.
5) M. Abdul Mujieb, Syafiah dan Ahmad Ismail, Ensiklopedi Tasawuf Imam al-Ghazali, 471.
6) Ahmad Ja’far as-Shadiq, Siapa Bilang Jadi Mukmin Gak Bisa Kaya (Jakarta: Alita Media, 2009), 47.
7) Ahmad Ja’far as-Shadiq, Siapa Bilang Jadi Mukmin Gak Bisa Kaya, 47.
8) M. Abdul Mujieb, Syafiah dan Ahmad Ismail, Ensiklopedi Tasawuf Imam al-Ghazali, 479.
9) Wahid Sy., al-Qur’an Hadis Madrasah Aliyah untuk Kelas XI (Bandung: Armico, 2008), 4.
10) Wahid Sy., al-Qur’an Hadis Madrasah Aliyah untuk Kelas XI, 4.
11) Baidlowi Syamsuri, Wanita dan Jilbab (Surabaya: CV Anugerah, 1993), 140-141.  
12) Sayid Ahmad al-Hasyimi, Syarah Mukhtaarul Ahaadiits (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2008), 381-382.
13) Sayid Ahmad al-Hasyimi, Syarah Mukhtaarul Ahaadiits, 382.
14) Ahmad Ja’far as-Shadiq, Siapa Bilang Jadi Mukmin Gak Bisa Kaya, 47.
15) Tim Kick Andy, Heroes (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2011), 3-12.  
16) Wahid Sy., al-Qur’an Hadis Madrasah Aliyah untuk Kelas XI, 13.     
17) Wahid Sy., al-Qur’an Hadis Madrasah Aliyah untuk Kelas XI, 13.     
18) A’idh al-Qarni, Menakjubkan! Potret Hidup Insan Beriman (Solo: Aqwam Media Profetika, 2007), 109-110.

DAFTAR PUSTAKA
1.    al-Qur’an al-Karim
2.    Effendy, Yudy. Sabar & Syukur: Rahasia Meraih Hidup Supersukses. Jakarta: QultumMedia, 2013.  
3.    al-Hasyimi, Sayid Ahmad. Syarah Mukhtaarul Ahaadiits. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2008.
4.    Ja’far as-Shadiq, Ahmad. Siapa Bilang Jadi Mukmin Gak Bisa Kaya. Jakarta: Alita Media, 2009.
5.    Mujieb, M. Abdul, Syafiah dan Ahmad Ismail.Ensiklopedi Tasawuf Imam al-Ghazali. Bandung: Mizan Publika, 2009.
6.    al-Qarni, A’idh. Menakjubkan! Potret Hidup Insan Beriman. Solo: Aqwam Media Profetika, 2007.
7.    Syamsuri, Baidlowi. Wanita dan Jilbab. Surabaya: CV Anugerah, 1993.  
8.    Tim Kick Andy. Heroes. Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2011.
9.    Tim Penulis Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2005.
10.    Wahid Sy. al-Qur’an Hadis Madrasah Aliyah untuk Kelas XI. Bandung: Armico, 2008.