Hijrah dan Membangun Negeri

Makna Hijrah
Makna Hijrah, menurut Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah,  berasal dari kata kerja hajara yang berarti meninggalkan. Kata ini digunakan untuk menggambarkan “sikap meninggalkan sesuatu karena kebencian kepadanya”. Inilah yang dikenal hijrah fisik yakni meninggalkan kota mekkah menuju madinah.

Makna hijrak fisik inilah yang dipraktekkan Nabi dan para sahabat atas dasar ketidaksenangan terhadap sikap penduduknya yang melakukan kemusyrikan dan merendahkan kemanusiaan. Musyrikin Makkah telah melakukan pelbagai usaha menghalang dakwah Rasulullah S.A.W antaranya, tawaran untuk bergilir-gilir melaksanakan agama masing-masing, menawarkan pangkat, harta dan wanita kepada Rasulullah S.A.W, mengenakan embargo ekonomi terhadap orang Islam, Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutalib selama 3 tahun. Selain itu, mereka juga telah melakukan penyiksaan terhadap orang Islam dan membuat perancangan untuk membunuh Nabi, Sebagaimana firman Allah al-Anfal ayat 30:  “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Selain itu, hijrah juga dimaknai dengan non fisik, dalam penegrtian ini hijrah adalah meninggalkan sesuatu yang dilarang Allah menuju apa yang diperintahkan oleh-Nya. Hijrah dalam pengertian di ini, oleh para ulama diistilahkan dengan hijrah ma’nawiyyah (hijrah mental), atau bisa juga disebut hijrah hati.

Hijrah ini bersifat mutlak dan berlaku bagi setiap Muslim. Artinya, setiap muslim mesti melakukannya, karena untuk menjadi menjadi pribadi muslim yang kâffah harus didahului dengan hijrah ini. Apalagi dalam kondisi sekarang ini, di mana cara hidup masyarakat kebanyakan bertentangan dan jauh dari nilai-nilai Islam. Karenanya, hijrah ma’nawiyyah ini merupakan suatu keharusan. Dengan begitu, meski secara fisik tetap berada dilingkungannya, namun seorng Muslim secara maknawi dia meninggalkan seluruh pola kehidupan lingkungannya. Mereka berbaur tapi tidak terkontaminasi (yakhtalithuun walaakin yatamayyazuun).

Sebenarnya, perintah hijrah yang bermakna non-fisik telah diperintahkan kepada Nabi Muhammad di masa pertama kenabiannya. sebagaimana terekam dalam surat al-Muzammil [73]:10“Dan Bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik”.

Selain sabar hal yang terpenting dalam ayat ini adalah untuk menjauhi mereka yang melakukan ketidaka adilan. Ketidak adilan yang meliptui semua derivasinya baik intimidasi, pengekangan, sampai pada pembunuhan . Makna ini juga bisa dijabarkan sebagai perpindahan seorang Muslim dari kufur kepada iman, dari syirik kepada tauhid, dari kemunafikan kepada istiqamah, dari maksiat kepada taat, dari haram kepada halal, atau singkatnya, perpindahan total seorang Muslim dari kehidupan yang bernuansa jahiliyah menuju kehidupan yang serba islami. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan segala hal yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala ” (HR. Al Bukhari).

Problematika Bangsa

Indonesia adalah negeri yang gemah ripah loh jinawi, kaya akan sumber daya alam, yang andai saja dikeloala dengan baik akan menjadi negara yang kuat.  secara entitas adalah bangsa yang terdiri dari berbagai suku, agama, antar ras dan antar golongan dengan kata lain Indonesia adalah bangsa yang prural. Mengelola sebuah bangsa besar dan plural memang penuh tantangan. Harus ada political will bagi semua werga bangsa terutama para pejabat yang diberikan amanah untuk mempinpin dan mengelola negeri ini.

Mengelola bangsa yang besar berhadapan dengan berbagai problematika seperti problematika sosial seperti: persoalan kemiskinan dan pengangguran. Pada bulan September 2012, menurut badan pusat statistic jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,59 juta orang (11,66 persen). Begitu juga dengan jumlah pengangguran  Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran per Februari 2013 mencapai 7,17 juta orang atau 5,92 persen dari jumlah angkatan kerja di Indonesia sebesar 121,2 juta orang. Masalah sosial ini semakin kompleks kalau ditambahkan lagi dengan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) seperti: gelandangan, pengemis, wanita tuna susila, orang dengan kecacatan, orang dengan HIV/AIDS, komunitas adat terpencil, anak jalanan, pekerja anak, jompo telantar dan lain-lain.

Masalah lain yang seringkali terjadi adalah masih banyaknya kasus-kasus kriminal dan tindakan teror yang membuat masyarakat tidak nyaman. Padahal jaminan kemananan mutlak diperlukan untuk memperkuat roda perekonomian nasional. Perekonomian akan stagnan tatkala terjadi gangguan keamanan. Kita berharap dengan kewenangan yang telah diberikan negara, aparat keamanan bisa mencegah terjadinya berbagai gangguan keamanan. Sehingga masyarakat bisa menjalankan aktivitasnya dengan lancar.

Selain itu Di negeri ini, korupsi agaknya telah menjadi penyakit akut yang sulit untuk diberantas. Bahkan penyebaran korupsi semakin meluas dan sistemik. Korupsi yang meluas dengan gampang dapat kita jumpai pada hampir seluruh instasi baik pemerintah maupun swasta, bahkan di berbagai organisasi baik OKP, Ormas dan  LSM.

Transparency International (TI) baru saja merilis indeks persepsi korupsi untuk tahun 2012 (5/12). Indonesia menempati peringkat 118 dari 176 negara. Ini menunjukkan Indonesia masih butuh banyak perbaikan untuk membenahi sektor layanan publik yang dipersepsikan masih terjerat korupsi.

Selain itu kekerasan yang berlatar agama juga tidak kalah peliknya, masyarat dengan mudahnya membunuh  dengan  dalih agama, seperti yang terjadi di cikeusik-pandeglang, bom bunuh diri di berbagai daerah serta ormas-ormas Islam. Inilah gambaran dari problematika negeri yang harus segera diselesaikan tentunya dengan membangun sebuah komitmen bersama.

Peran Warga Membangun Negeri

Senin, 20 September 622M Nabi Muhammad SAW Hijrah, setelah Tiga belas tahun dimekkah  kemudian, Nabi dan para sahabat diperintahkan melakukan hijrah fisik demi menyelamatkan iman mereka dari gangguan masyarakat Mekkah.  Hijrah adalah sebuah tonggak sejarah besar dalam membangun sebuah negeri dengan peradaban. Inilah salah satu makna hijrah saat ini, dimana masyarkatanya dapat membangun negeri bersama-sama tentunya dengan potensi yang dimiliki masing-masing warganya.Membangun negeri tanggung jawab pemerintah dan segenap warganya.

Masyarakat tentu mempunyai beragam kepentingan, negara berfungsi mengatur dan mengorganisir kepentingan-kepentingan tersebut agar tercipta sebuah harmoni sosial. Warga negara berperan penting dalam membangun negara yang berkedaulatan, beradab dan negara yang damai dengan Setiap warga negara harus mengontrol setiap proses penyelenggaraan negara agar dapat terwujud kesejahteraan bersama oleh karenanya harus diciptkan suasana yang dapat mendukung bagi tercapaianya pembangunan.

Selain itu menjunjung tinggi toleransi. Toleransi, yaitu kesediaan individu untuk menerima pandangan-pandangan politik dan sikap sosial yang berbeda dalam masyarakat, sikap saling menghargai dan menghormati pendapat serta aktivitas yang dilakukan oleh orang/kelompok lain.Kemudian sikap lain yang dimiliki warga bangsa untuk membangun negeri mengakui  Pluralitas, yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan mayarakat yang majemuk disertai dengan sikap tulus, bahwa kemajemukan sebagai nilai positif dan merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal lain Partisipasi sosial, yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari rekayasa, intimidasi, ataupun intervensi penguasa/pihak lain, sehingga masyarakat memiliki kedewasaan dan kemandirian berpolitik yang bertanggungjawab.[]

*Makalah disampaikan pada Halqah Remaja Menyambut Tahun Baru Islam 1453 H bertema “Menggali Hikmah Hijrah Rasulillah”, Selasa, 5 November 2013 H/1 Muharram 1435 H, di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak Banten.
**Ketua GMNU Kab. Lebak, Ketua Pembina Majelis Tinggi DKM Masjid al-A’raf, dll.