Pesantren Sebagai Sistem Pendidikan Khas Indonesia

ARWANI KOHLEJO menuliskan, pesantren merupakan lembaga sekaligus sistem pendidikan tertua di Indonesia. Beberapa sejarawan ada yang menyebut, pesantren telah ada pada zaman Wali Songo. Bahkan ketika menginjakkan kakinya di Demak Jawa Tengah, yang pertama kali dilakukan Raden Fatah bukan mendirikan kerajaan, melainkan membangun lembaga pendidikan dengan sistem sebagaimana layaknya pesantren. Dalam perkembangannya, tentu saja banyak hal baru yang dilakukan oleh pesantren. Saat ini misalnya, hampir semua pesantren mempunyai madrasah. Madrasah mempunyai pola pendidikan yang mirip dengan sekolah. Karenanya, perlu dilakukan upaya yang sistematik untuk mempertahankan, membangkitkan dan mengembangkan pesantren sebagai sistem pendidikan.

Masih menurut Arwani, dalam berbagai kesempatan, KH. Sahal Mahfudh (Mantan Rais Amm PBNU dan Ketua Umum MUI) selalu menggarisbawahi perlunya memperjuangkan pesantren tidak sekedar diakui sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang beliau maksud adalah seluruh komponen pendidikan pesantren yang saling terkait terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan pesantren. Upaya perumusan sistem, pertama-tama dilakukan dengan mengidentifikasi tradisi dan nilai-nilai yang berlaku di pesantren.    Apabila sistem pendidikan pesantren ini telah dirumuskan dan diaplikasikan dengan baik, maka pesantren tidak lagi terombang-ambing dan didominasi oleh dinamika madrasah yang nota bene anak kandungnya sendiri. Tetapi justru bisa memberi kontribusi terhadap peningkatan madrasah sekaligus bisa berkembang sebagai sistem pendidikan alternatif.1)

Maka untuk itu, pesantren bukan lagi tempat bagi orang-orang yang menuntut ilmu agama semata, melainkan juga bisa memberikan pendidikan-pendidikan umum seperti sekolah pada umumnya. Ditambah lagi dengan adanya pesantren dengan model boarding school yang cukup menyita perhatian masyarakat terhadap pesantren, maka peran pesantren kian terlihat nyata. Mereka yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren kemudian juga belajar di berbagai lembaga pendidikan lainnya, baik di dalam maupun di luar negeri, pada umumnya memandang pesantren tetap memiliki tempat terhormat sebagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia yang dapat diruntut pertalian keilmuan dan kurikulumnya dengan pusat-pusat pembelajaran ilmu agama Islam di berbagai belahan dunia. Optimisme itu biasanya mendasarkan pada bukti-bukti bahwa pesantren masih tetap terselenggara sejak ratusan tahun yang lalu, lulusannya dapat memainkan peranan yang berharga di bidang keilmuan atau kepemimpinan, dan belum ada lembaga pendidikan yang berhasil melahirkan ulama dari generasi ke generasi dalam kapasitas sebagaimana yang diluluskan oleh pesantren.2)

Namun demikian diakui, pasang surut peran pesantren sempat terjadi baik karena faktor di dalam maupun di luarnya. Pesantren dari saat ke saat terus mengalami perubahan. Meskipun intensitas dan bentuknya tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya, perubahan itu dalam realitasnya berdampak jauh bagi keberadaan, peran dan pencapaian tujuan pesantren, serta pandangan masyarakat luas terhadap lembaga pendidikan ini. Ironisnya, tidak semua orang dan tokoh pesantren menyadari sepenuhnya seluk-beluk perubahan tersebut. Sebagian dari mereka menyadari dan merencanakan perubahan tersebut, tetapi belum mengantisipasi secara kritis dampaknya, baik bagi pesantren sendiri maupun masyarakat sebagai pemangku kepentingan utama bagi pesantren. Sedangkan sebagian lagi, ada yang terperangkap ke dalam perubahan tanpa didasari perencanaan apa pun selain hanya karena kuatnya tekanan dari luar. Dalam kondisi semacam itu, pendidikan di beberapa pesantren yang sering disebut sebagai pendidikan khas Indonesia, sampai batas tertentu, berbias menjadi pendidikan yang mengarah kepada formalism, sehingga keberartian peran luhur yang dulu pernah diembannya mulai dipertanyakan.3)

Pada intinya, pesantren sangat bisa menghasilkan pemimpin atau kepribadian yang kuat dalam beragama dan tidak tertinggal dalam bidang teknologi. Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Komarudin Hidayat menyatakan: “Justru sekarang sekolah-sekolah semakin mengarah ke model pesantren, padahal itu di luar negeri.”4) Ini bukti nyata bahwa pendidikan model pesantren tidak diragukan lagi dalam membentuk karakter anak didik. Kalau perlu, justru pendidikan model pesantren harus terus dikembangkan dan diperbanyak.

Apa Pondok Pesantren?
Menurut Amin Haedari dalam bukunya Masa Depan Pesantren, pesantren pada umumnya sering juga disebut sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional di mana seluruh siswa didik tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang kiai. Asrama para santri berada di lingkungan komplek pesantren, yang terdiri dari rumah kiai, masjid, ruang belajar, majlis mengaji, dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Pondok atau tempat tinggal para santri, merupakan ciri khas tradisi pesantren yang membedakannya dengan sistem pendidikan lainnya yang berkembang di kebanyakan wilayah Islam negara-negara lain. Bahkan, sistem pondok ini pula yang membedakan pesantren dengan sistem pendidikan surau di Minangkabau. Dalam kategori hampir serupa, di Afganistan, para murid dan guru yang belum menikah tinggal di masjid sekitar pesantren.5)

Setidaknya, menurut Amin Haedari, ada beberapa alasan mengapa pesantren harus menyediakan pondok (asrama) untuk tempat tinggal para santrinya. Pertama, kemasyhuran seorang kiai dan kedalaman pengetahuannya tentang Islam, merupakan daya tarik santri dari jauh untuk dapat menggali ilmu dari kiai tersebut secara terus-menerus dalam waktu yang sangat lama. Sehingga untuk keperluan itulah, seorang santri harus menetap bersama kiai. Kedua, hampir semua pesantren berada di desa-desa terpencil, jauh dari keramaian dan tidak tersedianya perumahan yang cukup untuk menampung para santri, yang karenanya diperlukan pondok khusus. Ketiga, adanya timbal-balik antara santri dan kiai, di mana para santri menganggap kiainya seolah-olah seperti bapaknya sendiri, sedangkan kiai memperlakukan santri seperti anaknya sendiri juga. Sikap timbal-balik ini menimbulkan suasana keakraban dan kebutuhan untuk saling berdekatan secara terus-menerus.6)

Menurut Ahmad Sumpeno dalam Pembelajaran Pesantren: Suatu Kajian Komparatif, selain beberapa alasan di atas, kedudukan pondok pesantren juga sangat besar manfaatnya. Dengan sistem pondok, santri dapat konsentrasi belajar sepanjang hari. Kehidupan dengan model pondok/asramajuga sangat mendukung bagi pembentukan kepribadian santri, baik dalam tata cara bergaul dan bermasyarakat dengan sesama santri lainnya. Pelajaran yang diperoleh di kelas, dapat sekaligus diimplementasikan dalam kehidupan pesantren. Alam lingkungan pondok inilah para santri tidak having, tetapi being terhadap ilmu.7)

Dikatakan Amin Haedari, pentingnya pondok sebagai asrama para santri tergantung juga pada jumlah santri yang datang dari daerah yang jauh. Untuk pesantren kecil, misalnya, para santri banyak pula yang tinggal di rumah-rumah penduduk di sekitar pondok. Para santri memanfaatkan pondok hanya untuk keperluan tertentu saja. Di pesantren yang tergolong besar, seperti Tebuireng Jombng Jawa Timur, para santri harus rela berjejalan dengan sepuluh atau lima belas santri dalam satu kamar. Di luar semua yang telah disebutkan di atas, ada yang khas dari pondok, yaitu adanya pemisahan antara tempat tinggal santri laki-laki dengan perempuan. Sekat pemisah itu biasanya berupa tempat rumah kiai dan keluarga, masjid maupun ruang kelas madrasah. Di sinilah letak pentingnya pondok sebagai elemen penting yang turut menopang keberlangsungan tradisi pesntren di Indonesia.8)

Geneologi Intelektual Pesantren
Dikatakan oleh Martin van Bruinessen, bahwa salah  satu tradisi agung di Indonesia adalah tradisi pengajaran agama Islam seperti yang muncul di pesantren Jawa dan lembaga-lembaga serupa di luar Jawa serta semenanjung Malaya. Alasan pokok munculnya pesantren ini adalah untuk mentransmisikan Islam tradisional sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad yang lalu. Kitab-kitab ini di Indonesia dikenal sebagai kitab kuning.9) Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis agama, pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyebaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak selalu mengakselerasikan mobilitas vertikal, tetapi juga mobilitas horizontal. Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan saja, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kekinian dalam masyarakat. Dengan demikian, pesantren tidak lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang hidup dan terus merespon persoalan masyarakat sekitar. Di sisi yang lain, blantika perkembangan pesantren belakangan ini ditandai dengan munculnya generasi baru pesantren. Generasi baru ini tetap mewarisi tradisi keilmuan pesantren sebelumnya, juga berhasil meng-creat tradisi yang sama sekali baru sekaligus berhasil mensinergikannya dengan perkembangan keilmuan mutakhir.10)

Model pendidikan yang dibawa oleh generasi baru ini dianggap sesuai dengan kultur pondok pesantren karena sifatnya yang fleksibel, telah menekankan kemandirian santri untuk belajar dengan mengalami sendiri (expreriental learning), dan lebih penting lagi tidak perlu mengubah pola dan sistem pendidikan pondok pesantren salafiyah yang berlaku sepanjang abad 19. Mencetak lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi yang setara dengan lembaga pendidikan lainnya. Namun, tetap mempertahankan nilai, tradisi dan sistem pendidikan yang ada. Bagi kalangan pondok pesantren salafiyah sesuai dengan kaidah ushul fiqih, al-muhafadah ‘ala al-qadim al-salih wa al-akhdh bi al-jadid al-aslah (menjaga nilai lama yang baik dan mengadopsi hal baru yang lebih baik).11)

Lagi-lagi generasi peneruslah yang harus bisa merubah pola pendidikan pesantren salafiyah menjadi pesantren yang modern. Namun, meskipun merubahnya menjadi kemodernan, tetapi tidak menghilangkan nilai kesalafiyahan yang sudah melekat sejak dulu, karena inilah geneologi inleketual pesantren sesungguhnya. Inilah tugas-tugas generasi selanjutnya untuk membangkitkan kembali semangat belajar para pelajar yang semakin menyusut dan yang hampir melupakan nilai-nilai keagamaan.

Metode Belajar di Pesantren
Dijelaskan dalam buku Pola Penyelenggaraan Pesantren Kilat, dalam tradisi pondok pesantren dikenal beberapa metode pengajaran, antara lain;  

1.    Bandongan atau Weton
Bandongan atau biasa disebut metode wetonan adalah cara penyampaian kitab kuning di mana seorang guru, kiai atau ustadz membacakan dan menjelaskan isi kitab kuning. Sementara santri, murid atau siswa mendengarkan, memberi makna dan menerima wejangan. Dalam metode ini, guru berperan aktif, sementara murid bersifat pasif. Metode bandongan atau weton dapat bermanfaat ketika jumlah murid cukup besar dan waktu yang tersedia relatif sedikit, sementara materi yang disampaikan cukup banyak.12) Sedangkan E. Shobirin Nadj, dalam artikelnya Perspektif Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bandongan adalah mengikuti dan memperhatikan. Proses pengajaran kiai membacakan kata-perkata atau kalimat-perkalimat dan menerjemahkan kemudian diterangkan arti maksudnya lebih jauh kepada para santri/murid.13)

2.    Sorogan
Sorogan adalah metode belajar yang berbeda dengan metode bandongan. Dalam metode sorogan, murid membaca kitab kuning dan memberi makna, sementara guru mendengarkan sambil memberi catatan, komentar atau bimbingan bila diperlukan. Akan tetapi dalam metode ini, dialog antara guru dengan murid belum atau tidak terjadi. Metode ini tepat bila diberikan kepada murid-murid seusia ibtidaiyah/dasar dan tsanawiyyah/menengah.14) E. Shobirin Nadj mengatakan, bahwa sorogan berasal dari kata sorog yang berarti mengajukan. Tata caranya adalah seorang santri menyodorkan sebuah kitab di hadapan kiai atau pembantu kiai, kemudian kiai memberikan tuntunan bagaimana cara membacanya dan menghafalkannya.15)

3.    Hafalan
Hafalan adalah sebuah metode pembelajaran yang mengharuskan murid mampu menghafal naskah atau syair-syair dengan tanpa melihat teks yang disaksikan oleh guru. Metode ini cukup relevan untuk diberikan kepada murid-murid usia anak-anak, tingkat dasar dan tingkat menengah.16) Karena menghafal sama dengan mengajak otak agar tetap bekerja. Jika diibaratkan pisau agar tidak cepat tumpul, maka harus sering diasah. Begitupun dengan otak manusia. Agar tidak mudah hilang hafalannya juga harus sering diasah.

4.    Diskusi (Muna>d}arah)
Metode ini sebagai penyajian bahan pelajaran dengan cara murid atau santri membahasnya bersama-sama melalui tukar pendapat tentang suatu topik atau masalah tertentu yang ada dalam kitab kuning atau pelajaran lainnya. Dalam metode ini, kiai atau guru bertindak sebagai moderator karena metode diskusi bertujuan agar murid atau santri aktif dalam belajar. Melalui diskusi ini, akan tumbuh dan berkembang pemikiran-pemikiran kritis, analitis dan logis.17)

Belajar untuk Berkarya
Pola pendidikan pondok pesantren yang merupakan sistem asrama (boarding house) mengajarkan pada para santri hidup secara mandiri, sederhana, kreatif dan berorientasi pada karya. Pola hidup khas pondok pesantren seperti ini memberikan dampak positif ketika para santri mengikuti pendidikan kesetaraan. Karena sistem metedeologi dan pendekatan yang digunakan pada pendidikan kesetaraan sepenuhnya sama dengan yang diterapkan pada pondok pesantren. Selain memberikan pengetahuan umum dan agama, pendidikan kesetaraan pondok pesantren memberikan bekal kepada para santri kecakapan hidup yang meliputi kecakapan pribadi, kecakapan intelektual, kecakapan sosial dan kecakapan vokasional. Sistem pembelajaran dirancang sedemikian rupa untuk mengembangkan kecakapan komprehensif, kompetitif dan mendorong agar para santri mampu mengimplementasikan pengetahuan dan kecakapannya dalam berkarya. Pembelajaran yang diimplementasikan dalam karya laksana buah dari “pohon ilmu”. al-‘Ilm bila> ‘amal ka al-shajar bila> thamar. Ilmu tak diiringi dengan karya, ibarat pohon yang tak menghasilkan buah.18)

Pendidikan yang memberi motivasi untuk berkarya akan memacu seseorang santri untuk belajar dan mereguk pengetahuan sebanyak mungkin. Karena dengan pembelajaran dan pengetahuan yang didapatkan, ia bisa membuat karya sebaik mungkin. Setiap santri akan memiliki sikap positif untuk berlomba-lomba memperoleh kesuksesan. Baik sukses secara materi maupun sukses secara spiritual agama. Maka, dengan sendirinya para santri tumbuh dengan memiliki jiwa achievement, yaitu mental untuk selalu mencapai prestasi tertinggi dengan memberikan karya terbaik.19)

Untuk memilliki suatu karya terbaik, tentu saja tidak mudah untuk meraihnya. Tentu memiliki pola pengembangan dalam belajar agar santri bisa berfikir secara rasional. Dan tentunya para santri harus memiliki semangat yang tinggi untuk menciptakan suatu karya yang terbaik. Para santri juga dididik agar menjadi seorang yang terampil, informal leader, berorientasi keahlian, inventif dan kreatif.

Dalam buku Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren dijelaskan, diantara beberapa skill penting yang harus dimiliki santri pondok pesantren, adalah:

1.    Terampil
Keterampilan adalah konsekuensi logis santri yang karena beberapa hal tidak dapat mengikuti pendidikan jalur formal. Pendidikan kesetaraan memberikan substansi praktikal yang relevan dengan kehidupan nyata. Karena itu pendidikan kesetaraan lebih menekankan aspek vokasional (keterampilan) tanpa mengabaikan aspek intelektual, emosional dan spiritual. Karena proses pembelajaran pada pendidikan kesetaraan di pondok pesantren lebih menitikberatkan pada mengasah keterampilan dengan mengenali permasalahan lingkungan serta cara berfikir secara kreatif untuk memecahkan permasalahan tersebut melalui pendekatan antara disiplin ilmu, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu keislaman yang digali dari telaah kitab-kitab kuning khazanah pondok pesantren.20)

2.    Informal Leader
Lulusan pondok pesantren lebih diproyeksikan sebagai para pemimpin informal yang berkiprah di tengah-tengah masyarakat secara fleksibel dan luwes. Yang dimaksud pemimpin informal adalah pemimpin yang mendedikasikan kemampuan dan keterampilannya kepada umat di luar jalur pemerintahan atau birokrasi. Seperti ulama, kiai, cendekiawan, tokoh masyarakat dan ketua adat. Menjadi pemimpin informal sangat ideal bagi lulusan pondok pesantren, karena pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat lebih bersifat pelayanan dan pengabdian dan pelayanan diberikan atas dasar tanggungjawab sosial kepada masyarakat dan demi meraih pahala dari Allah SWT. Hal ini sesuai karakter pendidikan pondok pesantren yang mengedepankan keikhlasan, ketekunan, kesabaran, kerja keras, kerja cerdas, tidak mudah menyerah, tawakkal dan keinginan menjadi manusia terbaik di hadapan Allah SWT dan masyarakat.21)

3.    Berorientasi Keahlian
Pendidikan pondok pesantren memberikan bekal kepada lulusannya keterampilan (vokasional) dan kemampuan menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan media dan keilmuan yang dimiliki. Kedua hal ini sangat berpengaruh untuk menumbuhkan (expertisement) lulusan, karena lulusan pesantren dituntut untuk menguasai spesialisasi tertentu sesuai karakter, bakat, potensi dan kompetensinya. Jika para santri lebih berbakat di bidang ilmu pengetahuan eksakta, maka ia didorong untuk menguasai matematika, fisika dan biologi. Sehingga kelak ia memiliki keahlian di bidang tersebut dengan dilengkapi pengetahuan keislaman yang mumpuni. Sebaliknya, para santri yang lebih tertarik dengan pengetahuan keislaman bisa diproyeksikan menjadi ulama yang ahli, tetapi mengetahui dan memahami pengetahuan lainnya.22)

4.    Inventif (Berdayacipta)
Ilmu pengetahuan yang didapatkan melalui pendidikan pondok pesantren bukanlah hasil yang didapatkan dari proses pembelajaran semata. Ilmu pengetahuan tersebut merupakan modal awal yang berguna bagi lulusannya untuk mengarungi pengetahuan yang lain dengan terus-menerus melakukan terobosan dalam penciptaan hal-hal baru yang baik dan konstruktif.     Aspek maslahat yang dijadikan batu pijakan dalam hukum Islam bisa jadi motivasi lulusan pondok pesantren menjadi manusia yang berjiwa inventif. Manusia inventif adalah orang-perorangan yang mampu memanfaatkan kemampuannya untuk menciptakan temuan-temuan baru yang berguna bagi umat manusia, disertai tanggungjawab sebagai makhluk Allah SWT. Melihat kondisi dunia yang semakin berkembang, dibutuhkan pemikiran-pemikiran baru yang dapat mendukung fenomena kemajuan dan legitimasi hukum keagamaan untuk menjelaskan perkembangan dunia. Lulusan pondok pesantren selain harus melibatkan diri dalam penemuan-penemuan keilmuan dan teknologi baru, juga harus mampu memberikan penjelasan hukum keislaman atas hal-hal baru yang ditemukan. Penguasaan literatur keagaman dan khazanah kitab kuning memungkinkan lulusan pondok pesantren menjawab tuntutan perkembangan zaman.23)

5.    Kreatif
Kemampuan inventif seyogyanya ditopang oleh jiwa kreatif. Pendidikan pondok pesantren diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki daya kreatif dan kemampuan inventif yang tinggi. Sebagaimana watak kreatifitas itu sendiri, daya kreatif yang dimiliki lulusan pondok pesantren juga dikembangkan secara luas tanpa batas. Kreatifitas dimanfaatkan pada setiap bidang keilmuan yang berguna dalam mengarungi kehidupan. Akan tetapi, daya kreatif dan inventif harus dikelola secara cerdas agar tidak disalahgunakan untuk melakukan eksperimentasi yang bersifat merusak dan menimbulkan mafsadat yang berdampak luas. Karena itu, kreatifitas dan inventifitas perlu dipagari dengan memperkuat keimanan, ketakwaan, akhlak mulia, budi pekerti, moralitas dan pribadi yang bertanggung jawab.24)

Peran Penting Pesantren
Menurut M. Dian Nafi’ dalam buku Praktis Pembelajaran Pesantren, pesantren mengemban beberapa peran, utamanya sebagai lembaga pendidikan. Jika ada lembaga pendidikan Islam yang sekaligus juga memainkan peran sebagai lembaga bimbingan keagamaan, keilmuan, kepelatihan, pengembangan masyarakat dan sekaligus menjadi simpul budaya,25) maka itulah pondok pesantren. Biasanya peran-peran itu tidak langsung terbentuk, melainkan melewati tahap demi tahap. Setelah sukses sebagai lembaga pendidikan, pesantren bisa pula menjadi lembaga keilmuan, kepelatihan dan pemerdayaan masyarakat. Keberhasilannya membangun integrasi dengan masyarakat barulah memberinya mandat sebagai lembaga bimbingan keagamaan dan simpul budaya.

1.     Lembaga Pendidikan
Pengembangan apapun yang dilakukan dan dijalani oleh pesantren tidak mengubah ciri pokoknya sebagai lembaga pendidikan dalam arti luas. Ciri inilah yang menjadikannya tetap dibutuhkan masyarakat. Disebut dalam arti luas, karena tidak semua pesantren menyelenggarakan madrasah, sekolah dan kursus seperti yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan di luarnya. Keteraturan pendidikan di dalamnya terbentuk karena pengajian yang bahannya diatur sesuai urutan penjenjangan kitab. Penjenjangan ini diterapkan turun-temurun membentuk tradisi kurikuler yang terlihat dari segi standar-standar isi, kualifikasi pengajar dan santri lulusannya.26)

2.    Lembaga Keilmuan
Pesantren juga punya peluang menghadirkan diri sebagai lembaga keilmuan. Modusnya adalah kitab-kitab produk para guru pesantren kemudian dipakai juga di pesantren lainnya. Luas-sempitnya pengakuan atas kitab-kitab itu bisa dilihat dari banyaknya pesantren yang ikut mempergunakannya. Jarang terjadi kritik terbuka atas suatu kitab seperti itu dalam bentuk pidato. Yang lebih sering terjadi adalah ketidaksetujuan akan dituangkan ke dalam bentuk buku juga. Dan akhirnya masyarakat akan ikut menilai bobot karya-karya itu. Dialog keilmuan itu berlangsung dalam ketenangan pasantren selama berabad-abad hingga tercatat karya-karya Syeikh Nawawi al-Bantani menjadi pegangan pembelajaran di Makkah dan Madinah. Demikian pula karya Syeikh Mahfudh at-Turmusi yang berjudul Manhaj Dzawi an-Nadhar yang menjadi kitab pegangan ilmu Hadis hingga sampai jenjang perguruan tinggi.27)

3.    Lembaga Pelatihan
Pelatihan awal yang dijalani para santri adalah mengelola kebutuhan diri santri sendiri. Mulai dari makan, minum, mandi, pengelolaan barang barang pribadi, sampai urusan merancang jadwal belajar dan mengatur hal-hal yang berpengaruh kepada pembelajaranya, seperti jadwal kunjungan kedua orang tua atau pulang menjenguk keluarga. Pada tahap ini kebutuhan pembelajarannya masih di bimbing oleh santri yang lebih senior sampai si santri mampu mengurusnya sendiri. Jika tahapan ini dapat dikuasai dengan baik, maka santri akan menjalani pelatihan berikutnya untuk dapat menjadi anggota komunitas yang aktif dalam rombongan belajarnya. Di situlah santri belajar bermusyawarah. Menyampaikan pidato, mengelola suara saat pemilihan organisasi santri, mengelola urusan operasional di pondok dan mengelola tugas membimbing santri juniornya. Pelatihan-pelatihan itu bisa berlanjut hingga santri dapat menjadi dirinya sendiri suatu hari nanti.28)

4.    Lembaga Pemberdayaan Masyarakat
Jarang pondok pesantren yang dapat berkembang dalam waktu yang sangat singkat dan langsung berskala besar, karena setiap tahapan dipahami sebagai membutuhkan penjiwaan. Kebesaran pesantren akan terwujud bersamaan dengan meningkatnya kapasitas pengola pesantren dan jangkauan programnya di masyarakat. Karakteristik inilah yang dapat dipakai untuk watak pesantren sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat.

Dalam melakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat itu pesantren benar-benar mandiri dan lebih selektif pada lembaga penyandang dana dari luar masyarakatnya sendiri. Inovasi teknis terjadi di banyak masyarakat pesantren, tetapi inovasi sosialnya tidaklah begitu memenuhi harapan. Pengalaman itu menjadi latar  belakang kritik atas wacana pengembangan masyarakat di pesantren. Jenis pengembangan masyarakat yang lebih menjadikan masyarakat pesantren sebagai pasar bagi produk asing menjadi sorotan tajam. Konsep pengembangan masyarakat pun diganti dengan pemberdayaan masyarakat. Dalam konsep ini termuat pendekatan yang lebih memampukan masyarakat, yaitu yang dapat memperbaiki tata usaha, tata kelola dan tata guna sumber daya yang ada masyarakat pesantren.29)

5.    Lembaga Bimbingan Keagamaan
Tidak jarang pula pesantren ditempatkan sebagai bagian dari lembaga bimbingan keagamaan oleh masyarakat. Setidaknya pesantren menjadi tempat bertanya masyarakat dalam hal keagamaan. Mandat pesantren dalam hal ini tampak sama kuatnya dengan mandat pesantren sebagai lembaga pendidikan. Di beberapa daerah, identifikasi lulusan pesantren pertama kali adalah kemampuannya menjadi pendamping masyarakat untuk urusan ritual keagamaan sebelum mandat lain yang berkaitan dengan keilmuan, kepelatihan dan pemberdayaan masyarakat. Dorongan keagamaan untuk peran ini antara lain adalah firman Allah SWT: “Hendaklah kalian berdakwah ke jalan Allah dengan hikmah, nasehat yang santun dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Tahu siapa diantara hamba-Nya yang sesat dari jalan-Nya dan Dia Maha Tahu atas orang-orang yang mendapatkan petunjuk”. (Qs. an-Nah}l: 125).30)  

6.    Simpul Budaya
Pesantren dan simpul budaya itu sudah seperti dua sisi dari mata uang yang sama. Bidang garapnya yang berada di tataran pandangan hidup dan penguatan nilai-nilai menempatkannya ke dalam peran itu, baik yang berada di daerah pengaruh kerajaan Islam maupun di luarnya. Pesantren berwatak tidak larut atau menentang budaya di sekitarnya. Yang jelas pesantren selalu kritis sekaligus membangun relasi harmonis dengan kehidupan di sekelilingnya. Pesantren hadir sebagai sebuah sub-kultur, budaya sandingan, yang bisa selaras dengan budaya setempat sekaligus tegas menyuarakan prinsip syari’at. Di situlah pesantren melaksanakan tugas dan memperoleh tempat.31)

Itulah peran-peran pesantren yang paling utama untuk menjadi lembaga pendidikan Islami, tapi juga memfasilitasi pendidikan umum lainnya agar para santrinya tidak tertinggal zaman. Meskipun zaman semakin canggih, tetapi kita tidak boleh melupakan peran-peran pondok pesantren untuk kita semua. Dan semoga kita para santri bisa meneruskan peran-peran pesantren bagi pengembangan masyarakat.

Dari Pesantren Membangun Bangsa
Setelah mengalami masa-masa sulit akibat bangsa penjajah, pesantren selanjutnya memasuki era pascakemerdekaan dan kiprah pesantren di zaman pembangunan. Terdapat bukti-bukti sejarah bahwa tidak sedikit putra terbaik bangsa ditempa di pesantren. Mereka tidak hanya terlibat dalam perjuangan fisik melawan bangsa penjajah, tetapi turut juga mengambil bagian dalam mendirikan bangsa, aktif dalam mempertahankan dan mengisi era kemerdekaan bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya. Sejalan dengan itu, tidak berlebihan seandainya pada periode tahun 1959-1965, pesantren disebut sebagai “alat revolusi” dan penjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. Pada era ini dikenal para tokoh nasional, seperti KH. Wahid Hasyim (salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia/PPKI) dan KH. Saifuddin Zuhri (Mentri Agama Era Orde Lama), yang dibesarkan melalui pesantren.32) Juga KH. Abdurrahman Wahid yang bahkan berhasil menduduki kursi Presiden RI ke-4; dan masih sangat banyak lagi yang lainnya.

Memasuki Orde Baru, tugas pokok pesantren dalam mendidik dan memberdayakan masyarakat tetap dijalankan. Indenpendensi yang selama ini dipertahankan agaknya menjadi faktor penting bagi tetap eksisnya pesantren sebagai media komunikasi efektif dalam jaringan masyarakat tradisional pedesaan. Bahkan, atas partisipasinya sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat, Dawam Rahardjo mengungkapkan bahwa pesantren memiliki peran penting sebagai agen pembaharuan sosial, khususnya dalam program transmigrasi, sosialisasi sistem keluarga berencana, gerakan sadar lingkungan atau pergerakan para santri dan masyarakat setempat dalam perbaikan prasarana fisik dan pembangunan masyarakat desa, penyelenggaraan poliklinik bagi anggota masyarakat sekitar dan sebagainya. Dari semua itu, yang paling menonjol adalah kemampuan pesantren dalam menyediakan sarana pendidikan relatif murah dan terjangkau oleh masyarakat.33)

Di samping sebagai lembaga pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, terhitung sejak dekade 70 hingga sekarang, sudah banyak pesantren yang dinilai berhasil membuka jaringan (networking) dan melakukan aliansi strategis dengan pihak-pihak di luar pesantren, seperti pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), maupun lembaga asing, guna merealisasikan program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat. Mengomentari fenomena ini, sosiolog Jerman yang pernah meneliti perkembangan pesantren di Indonesia, Manfred Ziemek mengungkapkan, bahwa pesantren telah berhasil melaksanakan proyek sinergis antara kerja dan pendidikan serta berhasil dalam membina lingkungan desa berdasarkan struktur budaya dan sosial. Demikianlah, pesantren terus berkembang mengikuti lintasan sejarah kehidupan dengan tetap mempertahankan indenpendensinya dan konsistensinya dalam memainkan peran sebagai lembaga pendidikan dan pemberdayaan sosial.34)

Tidak hanya itu, dalam tataran yang lebih luas, pesantren juga berperan sebagai benteng pengawal moral, khususnya berkenaan dengan terjaganya tradisi kepesantrenan yang luhur dengan nilai-nilai keteladanan, baik yang ditunjukkan oleh figur kiai maupun nilai-nilai agama yang diajarkan di pesantren. Peran seperti ini menempatkan pesantren sebagai kekuatan counter culture, demi tidak terjadinya alienasi budaya di tingkat lokal. Alhasil, semua penjelasan di atas dapat dikategorikan sebagai potensi pesantren yang bisa dikembangkan secara optimal, sehingga menjadi institusi yang berperan aktif dalam mamberdayakan masyarakat, khususnya dalam hal pendidikan masyarakat.35)

Sebagai generasi santri, maka jangan sampai kita kalah dengan para kiai terdahulu yang telah berhasil membangun bangsa ini melalui kiprahnya. Jika mereka saja bisa memajukan pesantren dengan semangat juang yang tinggi, sehingga bisa membangun bangsa ini menjadi lebih baik dari sebelumnya, kenapa kita tidak bisa melakukan hal yang lebih dari itu? Dengan semangat dan tekad yang kuat, kita pasti bisa membuat peradaban baru di dunia tanpa harus menghilangkan tradisi khas pesantren, karena sistem pendidikan di pesantren itulah yang akan menghantarkan kita sebagai bagian dari pembangunan dan kemajuan bangsa ini. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 27 November 2013

ENG NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com), Jum’at, 29 November 2013, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Penulis adalah Aktivis Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com), Aktivis Pondok Baca Qi Falah, dan Siswi Kelas XI IPS SMA Qothrotul Falah.
1)    Arwani Kohlejo, Pesantren sebagai Sistem Pendidikan, dalam Majalah Bina Pesantren, Edisi 1/2004, 19.
2) Arwani Kohlejo, Pesantren sebagai Sistem Pendidikan, dalam Majalah Bina Pesantren, Edisi 1/2004, 19.
3) M. Dian Nafi’, dkk, Praktis Pembelajaran Pesantren (Yogyakarta: Institute for Training and Development, 2007), 1.
4) Majalah Bina Pesantren, Edisi 1/2004, 20.
5) Amin Haedari, dkk., Masa Depan Pesantren (Jakarta: IRD Press, 2004), 31
6) Amin Haedari, dkk., Masa Depan Pesantren, 31-32.  
7) Ahmad Sumpeno, dkk., Pembelajaran Pesantren; Suatu Kajian Komparatif (Jakarta: Proyek Pekapontren Depag RI, T.Th.), 12.
8) Amin Haedari, dkk., Masa Depan Pesantren, 32.
9) Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat (Bandung: Mizan, 1995), 17.
10) Mastuki HS, dkk., Intelektualisme Pesantren (Seri 3) (Jakarta: Diva Pustaka, 2003), 1.
11) Tim Penulis, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren (Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2008), 39-40.
12) Tim Penulis, Pola Penyelenggaraan Pesantren Kilat (Jakarta: DitPeka Pontren Ditjen Kelembagaan Agama Islam Depag, 2003), 16-17.
13) E. Shobirin Nadj, “Perspektif Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren”, 118.
14) Tim Penulis, Pola Penyelenggaraan Pesantren Kilat, 17.
15) E. Shobirin Nadj, “Perspektif Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren”, dalam Dawam Rahardjo, Pergulatan Dunia Pesantren: Membangun dari Bawah (Jakarta: Media Pratama, 1985), 118.
16) Tim Penulis, Pola Penyelenggaraan Pesantren Kilat,18.
17) Tim Penulis, Pola Penyelenggaraan Pesantren Kilat, 19.
18) Tim Penulis, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren, 71-72.
19) Tim Penulis, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren, 72.
20) Tim Penulis, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren, 87.
21) Tim Penulis, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren, 89.
22) Tim Penulis, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren, 89.
23) Tim Penulis, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren, 90.
24) Tim Penulis, Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren, 90-91.
25) M. Dian Nafi’, dkk., Praktis Pembelajaran Pesantren, 11.
26) M. Dian Nafi’, dkk., Praktis Pembelajaran Pesantren, 12.
27) M. Dian Nafi’, dkk., Praktis Pembelajaran Pesantren, 14.
28) M. Dian Nafi’, dkk., Praktis Pembelajaran Pesantren, 16-17.
29) M. Dian Nafi’, dkk., Praktis Pembelajaran Pesantren, 17.
30) M. Dian Nafi’, dkk., Praktis Pembelajaran Pesantren, 20.
31) M. Dian Nafi’, dkk., Praktis Pembelajaran Pesantren, 27.
32) Amin Haedari, dkk., Masa Depan Pesantren, 11.
33) Amin Haedari, dkk., Masa Depan Pesantren, 11-12.
34) Amin Haedari, dkk., Masa Depan Pesantren, 12-13.
35) Amin Haedari, dkk., Masa Depan Pesantren, 13.

DAFTAR PUSTAKA
1)    Bruinessen, Martin van. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan, 1995.
2)    Haedari, Amin. Dkk. Masa Depan Pesantren. Jakarta: IRD Press, 2004.
3)    Kohlejo, Arwani. “Pesantren sebagai Sistem Pendidikan”. Dalam Majalah Bina Pesantren, Edisi 1/2004,  
4)    Mastuki HS. Dkk. Intelektualisme Pesantren (Seri 3). Jakarta: Diva Pustaka, 2003.
5)    Nadj, E. Shobirin. “Perspektif Kepemimpinan dan Manajemen Pesantren”. Dalam Dawam Rahardjo. Pergulatan Dunia Pesantren: Membangun dari Bawah. Jakarta: Media Pratama, 1985.
6)    Nafi’, M. Dian. Dkk. Praktis Pembelajaran Pesantren. Yogyakarta: Institute for Training and Development, 2007.
7)    Sumpeno, Ahmad. Dkk. Pembelajaran Pesantren; Suatu Kajian Komparatif. Jakarta: Proyek Pekapontren Depag RI, T.Th.
8)    Tim Penulis. Pengembangan Pendidikan Kesetaraan di Pondok Pesantren.  Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, 2008.
9)    Tim Penulis. Pola Penyelenggaraan Pesantren Kilat.  Jakarta: DitPeka Pontren Ditjen Kelembagaan Agama Islam Depag, 2003.