Budaya Riset sebagai Solusi Kenakalan Remaja

Kegiatan riset remaja perlu terus didorong untuk membantu terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas dan menyiapkan remaja yang mampu berkompetisi secara global di masa yang akan datang. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Kepala Biro Kerjasama dan Pemasyarakatan IPTEK (BKPI) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono. Menurutnya, manfaat penelitian sangat penting bagi kalangan remaja. Remaja yang aktif melakukan kegiatan penelitian akan terbentuk pola pikir dan mentalnya, sehingga siap menjalankan profesi apapun dan terhindar dari problematika remaja. Karenanya, kegiatan riset remaja perlu terus didukung agar muncul manfaat dari inovasi yang mereka temukan.1) Sayangnya, riset remaja masih sangat minim.

Krisis minimnya riset, minat baca dan budaya tulis-menulis remaja, termasuk santri tentunya, pasti memiliki alasan. Minimnya budaya ini disebabkan banyaknya kendala, di antaranya sarana prasarana, khususnya perpustakaan umum, kelompok diskusi remaja dan lembaga pelatihan khusus. Sekolah/pesantren belakangan ini dinilai kurang memaksimalkan peranannya sebagai pengayom remaja dalam mengasah riset. Ini terlihat dari masih minimnya pengadaan referensi buku atau perpustakaan di sekolah/pesantren. Padahal, perpustakaan menjadi salah satu pengantar bagi para remaja untuk mengetahui dan menguasai dunia melalui riset, membaca dan menulis.

Kalau minat baca remaja sangat lemah, hampir dipastikan tradisi menulisnya pun akan minim, termasuk dalam melakukan riset. Dengan lain kata, kalau remaja malas membaca dan tak mampu menulis, hampir dipastikan remaja tidak bisa melakukan riset. Riset merupakan suatu kegiatan yang didasarkan pada objek pembahasan tertentu, kajian yang berlatar belakang keilmuan dari objek tersebut dan penggunaan fakta sebagai dasar kajian. Kegiatan riset biasanya meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif yang bertujuan untuk memecahkan suatu masalah, termasuk problematika remaja pada umumnya.

Saat riset yang dilakukan remaja berkaitan dengan problematikanya masih sangat langka, maka kiprah dan kontribusi sekolah/pesantren dalam menyediakan dan mendirikan rumah baca atau perpustakaan bagi remaja (siswa/santri), mengarahkan dan membentuk kelompok kajian/diskusi remaja dan memberikan pelatihan motivasi riset dan tulis-menulis menjadi sebuah keniscayaan yang perlu ditumbuh-kembangkan. Tujuannya agar kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi remaja di Indonesia dalam mencari solusi atas berbagai problematika yang mereka alami, menuju masa depan cemerlang.

Solusi Kenakalan Remaja

Saat berbicara remaja, kita tidak bisa melepaskan posisi santri sebagai bagian dari remaja yang memiliki usia 12-21 tahun. Berdasarkan informasi wikipedia.org, remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang luas mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Pada masa remaja, manusia tidak dapat disebut sudah dewasa, tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa.2)

Menurut disiplin psikologi,3) remaja adalah periode transisi dari masa awal anak anak hingga masa awal dewasa, yang dimasuki pada usia kira kira 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 22 tahun. Dilihat dari bahasa inggris teenager, remaja artinya manusia yang berusia belasan tahun, usia perkembangan untuk menjadi dewasa. Tentu saja termasuk di dalamnya santri. Remaja identik dengan kehidupan yang bebas, hura-hura dan sifat negatif lainnya. Kartini Kartono4) menjelaskan, kenakalan remaja atau juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Kenakalan remaja juga perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja. Adapun jenis-jenis kenakalan remaja misalnya penyalahgunaan narkoba, seks bebas, tawuran antar pelajar, mencuri dan sebagainya.

Kartini Kartono mengatakan, remaja yang nakal itu disebut sebagai anak cacat sosial.5) Mereka menderita cacat mental disebabkan pengaruh sosial yang ada di tengah masyarakat, sehingga perilaku mereka dinilai sebagai kelainan dan disebut kenakalan. Kartini pun menjelaskan Bakolak Inpres No: 6/1977 buku Pedoman 8, yang mengatakan bahwa kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku/tindakan remaja yang bersifat antisosial, melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Apa solusi untuk persoalan ini? Banyak solusi yang diberikan para ahli dalam menghadapi kenakalan remaja. Pada tulisan ini, penulis hanya menyoroti satu di antara solusinya, yaitu hendaknya orang tua mendukung hobi/bakat positif anak-anaknya. Misalnya dengan mengasah riset mereka. Jika ada dana, jangan ragu-ragu untuk memfasilitasi hobi mereka biar terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif.

Banyak penelitian menjelaskan problematika remaja kian tahun kian meningkat. Sehingga, upaya meminimalisasi kenakalan remaja sudah semestinya diarahkan pada kegiatan yang positif seperti menulis problematika yang mereka rasakan. Hal ini menjadi menarik, sebab solusi atas problem mereka bisa dari internal (para remaja sendiri) dan tidak hanya dari eksternal. Ide-ide cemerlang mereka bisa menjadi alternatif dalam menyelesaikan dan mengurai problematika mereka hadapi dengan membudayakan riset, belajar dan menulis. Tentunya, untuk mengarahkan remaja menjadi produktif dalam riset, strategi sekolah/pesantren tidak bisa dilepaskan sebagai bentuk upaya preventif dari pengaruh kenakalan remaja.6) Sekolah/pesantren memang diidealisasikan sebagai lembaga pendidikan yang dapat melindungi siswa/santri/anak-anak remaja dari pengaruh-pengaruh negatif.

Riset, Baca dan Tulis

Said Aqil Siradj7) dalam artikelnya Robohnya Peradaban Santri menjelaskan, tradisi riset, baca dan tulis di kalangan remaja/santri masa kini dinilai masih rendah. Rendahnya budaya literasi itu memicu minimnya karya-karya riset para remaja/siswa/santri di sekolah atau pesantren. Riset adalah suatu penyelidikan, pemeriksaan, pencermatan, percobaan yang  membutuhkan ketelitian dengan menggunakan metode/kaidah tertentu untuk memperoleh suatu hasil dengan tujuan tertentu. Kegiatan riset/research meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif yang bertujuan untuk memecahkan suatu masalah.

Ada manfaat yang didapatkan bagi remaja saat budaya riset, baca dan tulis menjadi kebiasaan. Remaja akan menjadi SDM yang handal dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan bisa bermanfaat ilmunya. Sebab, sebelum remaja-santri membuat karya tulis yang baik, tentu langkah awalnya mereka harus terlebih dahulu melakukan riset. Riset perlu budaya baca. Dengan baca kemudian bisa menorehkan karya tulis yang layak dibaca.

Kita bisa belajar dan menengok dalam rentangan sejarah keemasan Islam. Para ulama terkenal dan sukses karena buah karya tulis mereka yang fenomenal. Munculnya ulama-ulama dengan ribuan karya dalam bentuk tulisan mewarnai khazanah Islam. Sebut saja Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan kitab Hadisnya. Imam Syafi’i dengan al-Umm, Imam Malik dengan al-Muwaththa, Imam Nawawi dengan Riyadh al-Salihin dan banyak lagi ulama besar lainnya. Begitulah Islam merubah kebudayaan bertutur menjadi kebudayaan riset, membaca dan menulis, hingga mempengaruhi perkembangan dunia secara keseluruhan.

Menurut Murodi8) dalam Sejarah Islam: Tradisi Agama dalam Dialektika Kebudayaan menjelaskan, budaya tulis-menulis dalam Islam telah lahir sejak awal Islam. Semenjak Nabi Muhammad Saw diutus menjadi nabi sampai wafat, beliau gencar memerintahkan para sahabatnya untuk menulis setiap wahyu yang turun. Karena itu, beliau mempersiapkan 60 sekretaris pribadi. Dari 60 sekretaris tersebut, ada 40 sekretaris yang dimintanya untuk selalu siap setiap saat mencatat wahyu yang turun. Pada zaman sahabat, penulisan mushaf yang diwariskan Nabi ini terus berlangsung dengan model lain, yaitu menjadikan mushaf-mushaf yang dulunya benpencar-pencar di tangan para sekretaris menjadi satu. Mushaf itu disusun sedemikian rapi dan teratur, hingga terbentuklah Mushaf al-Imam (Usmani) yang beredar sampai sekarang. Dunia riset, baca dan tulis sangat marakpun pada masa setelahnya dan meninggalkan karangan-karangannya yang begitu fenomenal dan bermanfaat bagi kita hingga sekarang.

Demikian halnya ulama di Indonesia. Karya tulis mereka diakui dunia. Sebut saja Syeikh Nawawi al-Bantani, Syeikh Yasin al-Padangi, Syeikh Khatib Sambas dan Syeikh Mahfudh at-Turmusi. Yang lebih belakangan ada M. Hasyim Asyari, Buya Hamka, Bishri Mustofa, dll. Lalu ada Ali Mustafa Yaqub, M. Quraish Shihab, Ahmad Mostofa Bisri, Yusuf Mansur, Abdullah Gymnastiar, dan sebagainya. Mereka adalah penulis muslim Indonesia yang masih produktif dari beberapa penulis muslim Indonesia lainnya. Dengan demikian, dunia tulis-menulis yang diawali riset, baca dan tulis sejatinya adalah budaya Islam sejak dulu dan bukan merupakan hal yang baru. Dan sekarang, bagaimana cara kita tetap melestarikan dan mengembangkan budaya ini di kalangan remaja, sehingga karya tulis mereka layak dibaca dunia? Inilah yang harus terus dipikirkan.

Menelurkan Budaya Riset di Kalangan Remaja

Arief Furqan9) dalam penelitiannya menyimpulkan, penelitian/riset dalam dunia perguruan tinggi – termasuk sekolah dan pesantren – merupakan bagian yang sangat penting. Melalui riset, problem yang sedang dihadapi oleh masyarakat bisa dipecahkan. Sedangkan secara akademik, riset merupakan bagian dari pengembangan keilmuan, sehingga perguruan tinggi/sekolah/pesantren ilmunya semakin bermanfaat di tengah umat, di samping melatih para remaja/siswa/santri menjadi cerdas dan kreatif. Karenanya, tujuan didirikannya sekolah dan pesantren, tidak hanya menampung para remaja yang sedang belajar – baik sebagai siswa maupun santri – atau hanya sekedar belajar mengajar, namun juga dapat menelurkan dan menghasilkan lulusan yang bermutu dengan riset, belajar dan karya tulisnya yang berguna bagi masyarakat. Hal ini diharapkan menjadi kontribusi yang besar bagi remaja dalam menorehkan buah karya tulisnya terkait kenakalan remaja saat ini.  

Pimpinan sekolah dan pesantren diharapkan sudah mulai memperhatikan dan mencari solusi atas kenakalan dengan budaya riset, baca dan tulis. Melalui keberpihakan sekolah dan pesantren diharapkan bisa memberikan ruang bagi remaja (siswa/santri) untuk berkarya dalam tulis-menulis yang berbasis riset. Dukungan sekolah dan pesantren tersebut di antaranya dengan memfasilitasi kegiatan penelitian yang memadai, meliputi pelatihan komputer, internet, literatur dan fasilitas penunjang lainnya. Kegiatan penelitian di sekolah/pesantren diarahkan untuk menghasilkan penelitian yang bermutu secara ilmiah dan dapat memberikan sumbangan pada pemecahan masalah aktual di masyarakat atau kalangan remaja. Kiprah sekolah dan pesantren diharapkan bisa mendongkrak semangat/motivasi berkarya para remaja. Beberapa program yang bisa disusun, antara lain, pemberian intensif pada hasil riset yang baik seperti penghargaan/award untuk hasil penelitian terbaik dan membukukannya. Juga award untuk karya tulis terbaik atau artikel penelitian terbaik. Hal ini perlu dilakukan, sebab sekolah dan pesantren akan memiliki produk karya riset yang bermutu. Sedangkan pemeberian award dimaksudkan agar mereka giat dan terpacu dalam melakukan riset.

Semangat berjuanglah para remaja! Masa depanmu masihlah jauh. Sebab, kelak engkaulah yang menjadi pemimpin. Mulailah dan buatlah kegiatan-kegiatan yang positif saat remaja agar bisa terhindar dari problematika remaja yang sangat memilukan. Berkaryalah! Menuju karya tulis yang layak dibaca dunia. Semoga.[]

*Penulis adalah Wakil Pimred www.qothrotulfalah.com

DAFTAR PUSTAKA
1)    Bogie Soedjatmiko Eko Tjahjono, “Kegiatan Riset Remaja Perlu Terus Didukung”, http://sains.kompas.com/read/2013/11/15/2027011/Kegiatan.Riset.Remaja.Perlu.Terus.Didukung diakses tanggal 9 Februari 2014.
2)    http://id.m.wikipedia.org/wiki/Remaja diakses tanggal 8 Februari 2014.
3)    http://www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan-manusia/06511465
4)    Kartini Kartono, Patologi Sosial: Kenakalan Remaja (Jakarta: Rajawali Pers, 2008), 24.
5)    Kartini Kartono, Patologi Sosial: Kenakalan Remaja, 24.
6)    A. Haedari, Panorama Pesantren dalam Cakrawala Modern (Jakarta: Diva Pustaka, 2004), 6.
7)    Said Aqil Siradj, “Robohnya Peradaban Santri”, Jawa Pos, 08 Oktober 2013, 4.
8)    Murodi, Sejarah Islam: Tradisi Agama dalam Dialektika Kebudayaan (Semarang: PT Karya Thoha Putra, 1987), 7
9)    Arief Furqan, “Potret Penelitian di PTAI: Harapan Dan Kenyataan,” diakses tanggal 10 Februari 2014.