Meningkatkan Kepedulian Remaja pada Lingkungan

ALKISAH, seorang nenek dengan kondisi fisik yang kian lemah, setiap pagi pergi ke makam untuk membersihkan sampah-sampah dedaunan yang berserakan di sana. Meskipun sudah renta, ia tetap bersemangat menikmati kebiasaannya itu, yang dilakukannya terus-menerus tanpa mengenal lelah. Suatu hari, ada seseorang yang melihat nenek tua itu sedang menyapu makam. Orang itu nampaknya iba melihatnya. Ia yang seharusnya mendapat perhatian dari sanak saudaranya, malah bekerja keras menyapu sampah-sampah di makam. Merasa kasihan, keesokan harinya orang itu menggantikan nenek tua itu menyapu di makam. Kala pekerjaannya digantikan orang lain, nenek tua itu merasa sedih. Sebab, pekerjaan ini dijadikannya sebagai ladang amal untuk bekal di akhirat nanti. Menurut nenek itu, memungut satu sampah saja merupakan perbuatan yang sangat mulia. Bahkan ketika memungut setiap sampah, lidahnya tak berhenti berzikir.

Pelajaran apa yang bisa dipetik dari peristiwa di atas? Seharusnya kita bisa merenungkan, bahwa dari satu sampah saja jika dibiarkan terus-menerus, maka bisa menyebabkan banjir jika menyumbat selokan. Juga bisa bikin kotor dan tidak nyaman lingkungan. Melalui cerita di atas, masihkah kita diam melihat keadaan lingkungan yang sangat menghawatirkan? Masihkah kita tenang melihat sampah berserakan di mana-mana dan lingkungan kian rusak? Sedihnya lagi, di era sekarang ini semangat para remaja dan kepeduliannya terhadap lingkungan terus berkurang, karena beberapa faktor. Haruskah kita diam dan hanya mengandalkan orang tua untuk membawa perubahan lingkungan kita? Lantas, ke mana para remaja selama ini, yang konon menjadi generasi penerus bangsa?

Mengapa Harus Remaja?

Dikatakan, karakter seseorang tercermin dari kondisi lingkungan yang ditempatinya. Sebab, keadaan lingkungan adalah hasil buah tangan manusia. Apabila karakter seseorang itu baik, maka keadaan lingkungan akan mengikutinya. Manusia dengan lingkungan mempunyai ketergantungan yang sangat kuat. Manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan. Begitupun sebaliknya. Contohnya, manusia tidak bisa makan tanpa adanya padi, sayuran, dan lain-lainnya. Begitupun padi dan sayuran, tidak bisa tumbuh dengan subur tanpa adanya manusia yang merawatnya. Itulah hubungan timbal balik yang seharusnya menjadi perhatian banyak orang. Itu sebabnya, menjaga lingkungan adalah kewajiban setiap insan.

Menurut Hatta Rajasa, Indonesia dikenal sebagai zamrud katulistiwa yang kaya sumber daya alamnya dan menjadi magnet raksasa yang menarik bangsa-bangsa asing untuk datang ke tanah air.1) Kemakmuran bangsa Indonesia menjadi sorotan bangsa asing dan menyebabkan mereka berkeinginan memilikinya. Tapi kini, di zaman modern, kemakmuran itu sedikit demi sedikit berkurang karena ulah manusia yang tidak bertanggungjawab. Hutan-hutan yang hijau berubah menjadi gersang. Aliran sungai yang jernih berubah menjadi kotor dan hewan-hewan sudah mulai kehilangn habitat aslinya. Lantas, siapakah yanga harus merubah keadaan seperti ini? Jika ditanya siapa yang harus merubahnya, maka jawabannya adalah kita, warga negara Indonesia. Dan yang harus berperan aktif adalah remaja. Mengapa harus remaja? Karena remaja adalah generasi masa depan. Sebuah adagium populer Arab  mengatakan: Syubban al-yaum rijal al-ghad (Pemuda masa kini adalah pemimpin di waktu yang akan datang).2) Kiranya pepatah ini cukup relevan jika dikaitkan dengan konteks pembangunan remaja. Nasib sebuah bangsa apakah akan melangkah maju atau malah beringsut mundur di masa depan, memang sangat tergantung pada kondisi remajanya.3) Jika para generasi mudanya optimis, semangat dan bekerja keras, tentulah nasib bangsa akan cerah. Sebaliknya, jika para pemudanya loyo, psimis dan malas, maka tinggal tunggu saja kapan bangsa itu gulung tikar digerus perubahan zaman. Kehebatan pemuda juga diakui Bung Karno, yang mengatakan: “Beri aku seribu orang dan dengan mereka aku menggerakkan  gunung semeru. Beri aku sepuluh pemuda yang membara cintanya kepada tanah air, dan aku akan mengguncang dunia.”4) Dengan demikian, maka seharusnya remajalah yang menjadi motor penggerak perubahan, karena mereka mempunyai pola pikir yang kreatif dan aktif.

Pengertian Lingkungan
Manusia adalah makhluk sosial yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Dalam menjalankan hidup ini, manusia berinteraksi dengan hewan, tumbuhan dan jasad renik lainnya. Semuanya saling berinteraksi dan mempunyai rasa ketergantungan yang sangat kuat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian lingkungan adalah kondisi dan kekuatan sekitar yang mempengaruhi perkembangan dan tingkah laku organisme kesatuan ruang dengan semua benda daya, keadaan, dan makhluk hidup yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan serta makhluk hidup lainnya.5)

Sedangkan menurut Otto Soemarwata dalam buku Jelajah Bumi dan Alam Semesta, dalam Bahasa Inggris, lingkungan adalah environment yang berarti segala sesuatu yang berada pada setiap makhluk hidup atau organisme dan berpengaruh pada kehidupan.6) Contohnya Kelinci. Segala sesuatu yang berada di sekelilingnya dan berpengaruh pada hidupnya, maka itulah lingkungannya. Manusia membutuhkan padi untuk makan. Begitupun padi tidak akan tumbuh subur jika tidak ada perawatan dari manusia. Coba kita bayangkan jika hewan dan tumbuhan tidak ada, maka manusia akan kesulitan mendapatkan oksigen. Jadi kesimpulannya, lingkungan adalah segala sesuatu (benda, keadaan, dan sesuatu) yang berada di sekeliling makhluk hidup yang berpengaruh terhadap kehidupan (sifat, pertumbuhan, dan persebaran) makhluk hidup yang bersangkutan.

Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Lingkungan adalah tempat di mana makhluk Allah tinggal untuk menjalani kehidupannya, baik manusia, hewan, tumbuhan, jasad renik dan yang lainnya. Semua saling membutuhkan untuk mempertahankan hidupnya. Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai akal, yang diamanahi menjaga alam semesta. Dengan pikiran itu, manusia mempunyai kemampuan mengolah dan memanfaatkan alam semesta ini untuk dirinya dan bertanggungjawab di hadapan-Nya tentang bagaimana melaksanakan tugas suci kekhalifahannya, sebagaimana firman-Nya dalam Qs. al-Baqarah ayat 30: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat; “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”. Maka mereka berkata; “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu?” Allah berfirman: “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”7) Dalam ayat ini sudah jelas manusia diberi amanat untuk menjalankan perintah-Nya dan menegakkan kehendak-Nya. Maka dari itu, manusia harus memperbaiki amalnya agar menjadi lebih baik lagi.

Tapi kenyataannya, pencapaian dari tujuan kepemimpinan tidak ada. Banyak kerusakan lingkungan yang terjadi di sekitar kita. Ketika musim banjir terjadi, seringkali manusia menyalahkan hujan. Padahal di balik bencana itu tersimpan keserakahan manusia. Lingkungan yang dulu asri dan nyaman, kini terkikis oleh keegoisan manusia. Perusakan terumbu karang, penebangan pohon secara ilegal, tak lain  hanya untuk menghasilkan rupiah.  Apalah arti rupiah, jika kita mengorbankan beribu orang yang tidak bersalah. Karena kecerobohan manusia, nikmat yang diberikan Allah Swt untuk kesejahteraan mereka berubah menjadi bencana.

Renungkanlah kejadian pohon-pohon. Dalam setiap tahun, pohon-pohon berbuah dan berlaku selamanya ketika Tuhan mengizinkan untuk berbuah, maka ia menarik panas alam agar berbuahnya sesuai waktu yang telah ditentukan. Waktu itu laksana bunting dan waktu kejadian. Materi yang ada di dalamnya memulai bekerja dan memulai kehamilannya. Ketika waktu kehamilan telah siap, maka air akan mengalir kepadanya dan serat-serat menjadi lembut, kandungan itu kemudian bergerak, air mengalir dalam cabang-cabangnya, tesebar panas dan cabang-cabang panas. Apabila waktu melahirkan telah siap, maka pakaian yang meliputinya akan mengoyak, ketika buahnya mulai nampak, maka diketahui kemurahan dan kebaikan tumbuhan. Dia memberikan makanan pada buah yang masih kecil sebagaimana seorang ibu memberikan anak pada anak janinnya. Buah itu dilindungi oleh dedaunan dari panas matahari dan dingin. Ketika waktu itu telah datang dan waktu memetik telah tiba, maka cabang-cabang pohon menjulurkan buah itu kepadamu agar engkau dapat mengambilnya. Ketika engkau menerima buah-buah itu, engkau lihat cabang-cabang itu seolah memberikan anak-anaknya. Cabang-cabang itu menghormati dan memuliakanmu dengan memberikan buah-buahnya.  Begitupun bunga-bunga seolah-olah memberikan wangi-wanginya. Semua itu merupakan kemurahan dan kemuliaan bagi makhluk lainnya.8) Layakkah engkau dengan nikmat-nikmat itu melupakan Pemberi nikmat? Mengapa engkau menggunakan nikmat-nikmat itu untuk maksiat kepada-Nya, sehingga membuat-Nya murka? Mengapa engkau mengingkarinya? Mengapa engkau menganggap nikmat-nikmat itu bukan dari-Nya? Hujan yang diturunkan Allah untuk kesejahteraan manusia berubah menjadi bencana. Itulah akibat perbuatan manusia, seperti dikatakan Iwan Fals:

Raung buldozer gemuruh pohon tumbang
Berpadu dengan jerit isi rimba raya
Tawa kelakar badut-badut serakah
Tanpa HPH berbuat semaunya

Lestarikan alam hanya celoteh belaka
Lestarikan alam mengapa tidak dari dulu
Ohhhhh mengapa

Ohhh... Jelas kami kecewa
Menatap rimba yang dulu perkasa
Kini tinggal cerita
Pengantar lelap si buyung

Bencana erosi selalu datang menghantui
Tanah kering kerontang banjir datang itu pasti
Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi
Punah dengan sendirinya akibat rakus manusia

Lestarikan hutan hanya celoteh belaka
Lestarikan hutan mengapa tidak dari dulu saja
Ohhh jelas kami kecewa
Mendengar gergaji tak pernah berhenti
Demi kantong pribadi tak ingat rezeki generasi nanti


Syair lagu Iwan Fals di atas sungguh menyentuh hati. Ia mengritik begitu rakus dan egoisnya manusia yang merugikan banyak orang demi kepentingan pribadi. Padahal dalam Hadis dikatakan: “Siapa yang memotong pohon sidrah, maka itu akan menghadapkan kepalanya ke neraka.” (HR. Abu Daud).9) Pohon sidrah adalah pohon yang tumbuh di Padang Pasir yang tahan terhadap panas dan tidak membutuhkan banyak air.10) Hadis ini menjadi larangan dan kecaman terhadap para penebang pohon tanpa izin resmi yang biasa disebut illegal logging.11)

Pertanyaannya: bagaimana agar lingkungan kita menjadi makmur dan sejahtera? Yang pertama harus diubah adalah cara pandang dan pola interaksi antara orang-orang yang menempati lingkungan, terutama remaja, dengan lingkungan sekitar. Remaja seharusnya mencari jalan untuk perubahan yang lebih baik, bukan sebaliknya justru merusak dan hanya menikmati hasil alam  tanpa melakukan pembenahan sama sekali.

Andai Kita Bisa Mendengar
Andai saja kita bisa mendengar seluruh kalimat dzikir yang disuarakan alam kemudian terpadu dengan suara adzan yang terus bergema sambung-menyambung, kemudian terpadu dengan doa-doa ikhlas dan sabar yang dipanjatkan oleh orang yang sedang terkena musibah, kemudian terpadu dengan orang yang sedang memanjatkan puji syukurnya karena mendapatkan karunia Allah, subhanallah, mungkin inilah sebuah perpaduan yang luar biasa.12)  Andai saja kita bisa menilai bumi dan seluruh isinya berdzikir tanpa hentinya dengan cara dan gayanya masing-masing, niscaya ini menggetarkan.

Mustafa al-Maraghi membagi cara bertasbih makhluk menjadi dua: bagi mahluk berakal dan mukallaf, maka bertasbihnya terkadang dengan perkataan atau dengan keadaan perbuatan masing-masing yang menunjukkan keesaan Allah. Sedangkan yang tidak berakal, maka cara bertasbihnya adalah dengan  eksistensinya sebagai makhluk yang baru sebagaimana yang terdapat dalam Qs. al-Isra’ ayat 44: “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah dan tidak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”13)

Ayat di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa semua yang ada di bumi ini berdzikir/bertsbihh kepada Allah, dan melarang kita untuk merusaknya. Sebab kalau kita merusaknya, berarti kita telah memutuskan  tasbihnya kepada Allah. Secara logika memang tidak mudah mempercayai bahwa semua yang ada di bumi bertasbih mensucikan-Nya, karena bertasbihnya pepohonan ataupun hewan tidak nampak terlihat oleh mata. Tapi bagi orang-orang yang sering memperhatikan sekitarnya, misalnya mengapa pohon bisa tumbuh, berbuah dan bisa bergoyang-goyang di kala tertiup angin, maka itulah sesungguhnya tasbihnya kepada Allah. Andai saja kita bisa mendengar setiap tasbih yang dilantunkan oleh semua yang ada di bumi ini, niscaya kita akan menangis bahwa makhluk Allah yang tidak berakalpun mampu bertasbih mensucikan-Nya, sedangkan kita yang dijadikan oleh Allah sebagai makhluk yang berakal malah menyalahgunakan pola pikir yang diberikan-Nya.

Mengubah Persepsi Remaja terhadap Lingkungan

Banyak remaja yang berperan aktif untuk perubahan lingkungan, tapi tidak sedikit pula yang acuh. Kebanyakan remaja hanya berleha-leha menikmati masa remajanya dan tidak peduli terhadap lingkungannya. Remaja sekarang berbeda dengan remaja zaman dulu. Remaja sekarang lebih tinggi tingkat gengsinya, sehingga untuk memungut satu sampah saja tidak mau. Tidak mudah mengubah  ketidakpedulian itu. Tapi akan lebih sulit lagi jika kita tidak mencobanya. Di bawah ini beberapa cara agar remaja bisa peduli pada lingkungannya:

Pertama
, memperbaiki keimanan. Apa hubungan antara iman dan kepedulian? Jelas sangat berhubungan, karena menjaga lingkungan adalah perintah Allah yang harus kita jalankan. Orang yang merusak lingkungan pasti memiliki sifat tabdzir (menyia-nyiakan). Tabdzir adalah aspek lain dari perilaku buruk manusia saat ini ,yang terkesan sia-sia karena tidak banyak manfaatnya atau tidak digunakan sama sekali.14) Contohnya gaya hidup mewah-mewahan yang menyebabkan kerusakan lingkungan akibat orang-orang yang tidak berakhlak, yang penuh kehausan dunia. Contoh lain perilaku itraf (bermewah-mewahan), israf (berlebih-lebihan) dan yang lainnya. Karenanya, perlu ada peningkatan nilai-nilai relijius untuk memperkokoh keimanan seseorang, sehingga ia tidak berbuat menyimpang.

Kedua
, membiasakan membaca. Membaca adalah kewajiban sekaligus kebutuhan kita, karena dengan membaca kita bisa tahu apa yang sebelumnya tidak kita ketahui. Yang dimaksud membaca di sini adalah membaca alam raya, sebagaimana diisyaratkan Qs. al-‘Alaq ayat pertama; Iqra’ (bacalah). Itulah wahyu pertama yang disampaikan Allah pada Nabi Muhammad SAW. Dalam kegiatan membaca yang benar, otak kita diperintahkan untuk merenung, berfikir, membandingkan, menganalisa, dan membuat kesimpulan.15) Setiap saat kita juga diperintahkan membaca kitab agung bernama alam semesta.16) Alam semesta dan kehidupan ini adalah buku raksasa yang terbuka yang menunggu untuk dibaca oleh kita semua.17) Sekolah hanyalah sebagian kecil dari ruang kelas dan proses pembelajaran hidup. Sarjana agung dari universitas kehidupan adalah Muhamad itu sendiri dan tidak tumbuh dalam tradisi baca tulis buku-buku karya tulis manusia. Akan tetapi sungguh menarik untuk direnungkan, bagaimana jadinya jika air hujan yang berasal dari laut juga asin? Pasti sayur-sayur tak akan tumbuh. Atas kasih sayang Allah kepada manusia, matahari diperintahkan untuk membantu penguapan air laut agar unsur garamnya tertinggal. Ketika penguapan berlangsung, datanglah angin membantu membawanya ke wilayah daratan, sehingga terkumpul menjadi mendung. Namun kepedulian kasih sayang Allah kepada manusia belum berakhir. Andaikan gumpalan mendung yang beratnya berton-ton jatuh seketika, pasti berbagai bangunan akan rusak dan penduduk bumi akan sengsara. Sulit membanyangkan jika ada pemimpin bangsa yang tidak peduli pada lingkungan. Di kala mata hati dan pikirannya tidak mampu membaca jejak-jejak Allah yang Maha Pengasih, pembacaan pada alam ini bisa diperpanjang lagi. Bahkan sampai umur kita habispun kitab semesta yang sangat menarik dibaca tidak akan habis lembarannya.18)

Ketiga, menanamkan sikap rasa memiliki. Memiliki akan lingkungan kita memang sangat penting. Memiliki di sini bukan berarti melakukan semaunya apa yang kita inginkan. Tapi memiliki di sini adalah menggunakan segala hasil alam dengan sebaik-baiknya. Karena biasanya ketika sesuatu yang kita miliki rusak, maka kita akan merasa sedih. Begitupun jika kita sudah merasa memiliki pada lingkungan kita, maka kita akan sangat miris melihat lingkungan yang diperlakukan secara tidak adil. Adil merupakan sifat sekaligus ajaran Allah yang memberikan pesan pada manusia supaya adil terhadap lingkungannya.19) Karena jika kita adil dan mampu memelihara lingkungan, maka kita akan merasakan kemanfaatannya dan menjadi amal ibadah bagi kita, sebagaimana Hadis yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dari Anas r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim bercocok tanam atau menanam sebuah tanaman kemudian hasil tanaman itu dimakan oleh burung, manusia atau hewan, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.”20)

Empat, membuat suatu organisasi GAUL (Gerakan Aksi untuk Lingkungan). Organisasi ini bersifat umum. Bisa saja di dalamnya terdiri dari kumpulan remaja-remaja yang siap mengabdikan dirinya pada lingkungan. Dengan adanya organisasi ini, remaja diajarkan bagaimana caranya mengolah alam ini menjadi lebih indah dan menghasilkan remaja-remaja yang produktif. Contohnya mengadakan kegiatan Go Green atau penghijauan. Dengan organisasi ini, remaja akan merasakan hasil dari penghijauan yang mereka lakukan dan mengetahui arti penting sebuah kepedulian. “Siapa yang menanam pasti akan menuai”.

Untuk menjalankan hal-hal di atas, maka rumusnya adalah 3D; yaitu dimulai dari hati kita, dimulai dengan usaha dan dimulailah dari sekarang. Dengan rumus ini, diharapkan para remaja kian peduli pada lingkungan dan tidak terbersit sedikitpun untuk merusak lingkungan, karena betapa bergantungnya kita pada lingkungan sekitar kita. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 18 Maret 2014

END NOTE
*Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community, di Pondok Baca Qi Falah, Jum’at, 21 Maret 2014.
**Fitri Aryanti adalah Aktivis Triple Ing Community, Siswi Kelas XI IPA SMA Qothrotul Falah, Pondok Baca Qi Falah, dan Pengurus OPPQ 2014-2015.
1)    Hatta Rajasa, Kaum Muda Membaca Indonesia (Jakarta: DCSC Publishing, T.Th.), 125.
2)    Hatta Rajasa, Kaum Muda Membaca Indonesia, i.
3)    Hatta Rajasa, Kaum Muda Membaca Indonesia, i.
4)    Hatta Rajasa, Kaum Muda Membaca Indonesia, i.
5)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, T.Th.), 675.
6)    Hartono, Jelajah Bumi dan Alam Semesta (Jakarta: Pusat Perbukuan, T.Th.), 98.  
7)    Tim Penulis, Tafsir al-Qur’an Tematik: Pelestarian Lingkungan Hidup (Jakarta: Kementerian Agama RI, 2012), 2.
8)    Khalid bin Ibrahim, Keajaiban Penciptaan Makhluk (Jakarta: Qisthi Press, 2006), 97-98.
9)    Zakky Mubarok, Menjadi Cendekiawan Muslim (Jakarta: PT Magenta Bhakti Guna, 2007), 276.
10)    Zakky Mubarok, Menjadi Cendekiawan Muslim, 276.
11)    Zakky Mubarok, Menjadi Cendekiawan Muslim, 276.
12)    Taufik Djafri, Langit Bertasbih Bumi Berzikir (Surabaya: PADMA Press, T.Th.), 93-94.
13)    Tim Penulis, Tafsir al-Qur’an Tematik: Pelestarian Lingkungan Hidup, 159.
14)    Tim Penulis, Tafsir al-Qur’an Tematik: Pelestarian Lingkungan Hidup, 94.
15)    Tim Penulis, Tafsir al-Qur’an Tematik: Pelestarian Lingkungan Hidup, 18.
16)    Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama (Jakarta: Hikmah, 2006), 168.
17)    Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, 168.
18)    Komaruddin Hidayat, Psikologi Beragama, 168.
19)    Iyan Fitriyana, Negara dan Agama (Jakarta: Kala Media Pustaka, 2013), 140.
20)    Zakky Mubarok, Menjadi Cendekiawan Muslim, 277.

DAFTAR PUSTAKA
1.    Bin Ibrahim, Khalid. Keajaiban Penciptaan Makhluk. Jakarta: Qisthi Press, 2006.
2.    Djafri, Taufik. Langit Bertasbih Bumi Berzikir. Surabaya: PADMA Press, T.Th.
3.    Fitriyana, Iyan. Negara dan Agama. Jakarta: Kala Media Pustaka, 2013.
4.    Hartono. Jelajah Bumi dan Alam Semesta. Jakarta: Pusat Perbukuan, T.Th.   
5.    Hidayat, Komaruddin. Psikologi Beragama. Jakarta: Hikmah, 2006.
6.    Mubarok, Zakky. Menjadi Cendekiawan Muslim. Jakarta: PT Magenta Bhakti Guna, 2007.
7.    Rajasa, Hatta. Kaum Muda Membaca Indonesia. Jakarta: DCSC Publishing, T.Th.
8.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, T.Th.
9.    Tim Penulis. Tafsir al-Qur’an Tematik: Pelestarian Lingkungan Hidup. Jakarta: Kementerian Agama RI, 2012.