Mendidik Kesabaran pada Remaja

Di satu sudut pekarangan rumah, seorang lelaki bertubuh tegap hendak mulai bekerja. Ia melepas bajunya. Tak lama ia mengambil alat pemecah batu. Ancang-ancang dilakukannya. Terpancar rasa optimis di wajahnya. Lalu ia mulai memukul batu di hadapannya dengan keras.

Suara pukulan pada batu memecah keheningan di waktu pagi. Satu kali, dua kali, sepuluh kali. Batu belum pecah. Ia memukul kembali. Dua puluh kali. Tiga puluh kali. Batu masih tetap utuh. Ia kembali memukul dengan keras. Empat puluh kali. Lima puluh kali. Batu belum juga pecah. Kali ini, ia memukul dengan lebih keras lagi. Tapi hingga seratus kali pukulan, batu belum pecah juga.

Sang lelaki nampaknya putus asa. Ia pun bersandar di batu tersebut. Nafasnya turun naik. Lelah menghampiri tubuhnya. Tiba-tiba dari arah depan, datang seorang lelaki kurus berbaju putih. Ia tampak seperti seorang sufi dan bermaksud membantu lelaki yang sedang kepayahan tersebut.

“Boleh saya bantu memecahkan batu itu?” tanya sang sufi.

Sang lelaki yang tampak kepayahan tadi nampaknya pesimis. Ia saja sudah seratus kali mencoba memecahkan batu, tetapi tetap gagal. Namun, ia mempersilahkan sang sufi itu mencobanya.

“Silahkan saja, saya sudah menyerah.” katanya.

Sang sufi pun lalu mengayunkan alat pemecah batu dan memukul batu yang belum pecah tersebut. Sekali, dua kali, tiga kali, hingga kali kelima pukulan yang diayunkan, batu itu akhirnya pecah juga. Lelaki dihadapannya yang menyaksikannya begitu keheranan sekaligus takjub.

“Luar biasa. Anda tentunya mempunyai ilmu khusus!” ujarnya penuh kekaguman.

“Tidak, tidak, aku tidak mempunyai ilmu apapun, aku sama seperti dirimu,” jawab sang sufi merendah. Ia melanjutkan, “Batu itu sebenarnya pecah pada hitungan ke seratus lima. Hanya saja Anda tidak sabar melakukannya.”

Perhatikan! Sering kali kita tidak sabar pada ‘detik-detik’ akhir dalam perjuangan yang kita lalui. Bisa jadi perjuangan itu sudah dekat di mata. Tapi, karena ketidaksabaran, kita sering gagal mencapai apa yang kita ingini.

Meraih cita-cita yang dituju, tak hanya membutuhkan kerja keras, tapi juga tingkat kesabaran yang tinggi. Sabar tanpa kerja keras merupakan omong kosong belaka. Sedangkan kerja keras tanpa kesabaran hanya menghasilkan kesia-siaan.1)

Dari cerita di atas kita dapat menyimpulkan, bahwa dengan kesabaran, kita bisa menyelesaikan setiap permasalahan. Dan untuk mencapai cita-cita itu tidak hanya kerja keras dan doa saja, tapi juga kesabaran yang kuat, karena usaha kita akan dilihat dari kesabarannya pula.

Makna Sabar

Kata sabar berasal dari Bahasa Arab, yaitu shabr yang artinya menahan atau mengekang. Imam al-Ghazali (w. 505 H) menuturkan: “Sabar adalah suatu kondisi psikologi tertentu, di mana hati digunakan untuk mengendalikan nafsu”. Pengendalian hati di sini adalah berdasarkan hukum keikhlasan menurut ajaran Islam.2)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Sabar dijelaskan, sabar mengandung arti tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati). Sedangkan kesabaran mengandung arti ketenangan hati dalam menghadapi cobaan.3) Yuddy Effendy dalam bukunya, Sabar dan Syukur, menjelaskan bahwa bersabar artinya menahan diri dari segala sesuatu yang disukai dan tidak disukai dengan tujuan mengharapkan ridha Allah SWT.4)

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa mendidik kesabaran berarti memberi latihan (ajaran, tuntunan) agar seseorang merasakan ketenangan hati dalam menghadapi cobaan. Para ulama berkata; “Sesungguhnya jiwa adalah kendaraan setap hamba. Dia akan menaikinya menuju surga atau neraka. Tali kekangnya adalah sabar. Jika Anda meninggalkan dan melepaskan tali kekangnya, maka jiwa Anda akan pergi berpetualang ke mana saja ia kehendaki.”5)

Dari ungkapan di atas, sabar itu diibaratkan pedal rem bagi setiap diri manusia. Jika diri kita hanya diserahkan pada jiwa yang sering meminta lebih, maka kita tidak akan bisa mengendalikan diri. Dengan rem (sabar), kita menata/mengarahkan diri kita. Sabar juga merupakan induk dari segala akhlak yang mulia. Mengapa? Karena sabar merupakan salah satu pondasi budi pekerti dalam ajaran agama kita yang lurus. Sifat mulia ini merasuk dalam setiap dinamika kehidupan umat manusia.6)

Sabar Mengendalikan Hawa Nafsu
Hawa nafsu merupakan kendaraan bagi kita. Jika kita tidak bisa mengendalikannya, maka jatuhlah kita pada jurang-jurang penyesalan. Kita tak mungkin menghilangkan hawa nafsu dalam diri kita, karena hawa nafsu adalah bagian dari diri kita. Tapi setidaknya, kita harus bisa mengendalikannya. Sabar adalah salah satu cara untuk mengendalikannya. Coba renungkan oleh kita; bagaimana jadinya bila hidup ini tanpa sifat sabar? Sesungguhnya, di zaman sekarang kebanyakan pergaulan remaja sudah tak terkontrol. Mereka bebas melakukan apapun. Misalnya pacaran. Itu karena mereka tak sabar memenuhi keinginan mereka. Padahal pacaran tak ada gunanya. Bukankah Allah SWT telah menciptakan setiap insan berpasang-pasangan? Saat remaja mendapat hasil belajar yang jelek/tidak lulus, mereka tidak bersabar. Mereka mengambil jalan yang salah seperti bunuh diri dan sebagainya. Padahal itu salah mereka sendiri, karena tidak mau belajar. Seharusnya mereka bersabar dan berpikir secara rasional, bahwa kegagalan bukan akhir segalanya.

Di zaman modern ini, pergaulan remaja sudah tak mengenal batas. Mereka membiarkan kendaraannya/hawa nafsunya membawa mereka ke manapun tanpa mereka rem saat kendaraannya itu berbelok ke jalan yang salah. Mereka membiarkannya hanya karena kenikmatan duniawi yang sesaat. Kebanyakan dari mereka tak memikirkan masa depannya. Padahal di dunia ini kita hanya sementara. Dunia ini diibaratkan tempat persinggahan, sebelum kita menuju akhirat yang abadi. Penjelasan ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang saya temukan dalam buku Mari Bersabar karya Amru Khalid. Beliau bersabda: “Apalah artinya dunia ini bagiku. Di dunia ini aku hanyalah seorang musafir yang bernaung di bawah pohon. Lalu dia beristirahat dan kemudian dia meninggalkannya”.7)

Wahai kaum muda, mari kita pikirkan masa depan kita. Turuti kata hati kecil kita bukan karena hawa nafsu. Allah Swt jelas-jelas memerintahkan umatnya agar bisa mengendalikan hawa nafsu, sebagaimana firman-Nya dalam Qs. An-Naziat ayat 37-41: “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”

Dari ayat di atas, sudah jelas bahwa Allah Swt tidak suka pada orang yang tidak mengendalikan hawa nafsunya, karena jika kita menuruti hawa nafsu, kita lebih banyak mendapat madharatnya dari pada manfaatnya. Dan karena itulah Allah Swt menyediakan neraka untuk orang yang tidak mengendalikan hawa nafsunya.

Syeikh Mustafa as-Siba’i berkata: “Apabila jiwamu mengajak bermaksiat,maka segeralah mengingat Allah. Apabila hati ini belum bisa kembali, maka ingatlah akhlak para ulama dan ingatlah seandainya aib itu diketahui orang lain. Dan jika belum kembali, maka ketahuilah sesungguhnya dirimu saat itu telah berubah menjadi hewan”.8) Berubah menjadi hewan di sini maksudnya bukan berubah wujudnya, tetapi berupah dalam artian ia tidak punya akal (tidak menggunakan akalnya). Hewan tidak punya akal. Apabila manusia yang mempunyai akal tapi tidak mempergunakan akalnya untuk mengendalikan hawa nafsu, berarti benar apa yang dikatakan Syeikh Mustafa as-Siba’i, bahwa manusia tak ada bedanya dengan hewan.

Kita harus sadar, bahwa selamanya ketika perdebatan, manipulasi pikiran, kontradiksi teori dan tabrakan dogma-dogma dalam pola pikir manusia terus berlangsung, maka jalan menuju insan yang sabar itu tidak mudah untuk ditempuh. Dengan kata lain, akan tersedia banyak tantangan dan godaan.9)

Saat hawa nafsu mulai mencengkrama diri kita, maka berpikirlah dua kali. Jangan tergesa-gesa karena sikap tergesa-gesa merupakan perilaku setan. Rasulullah Saw: “Sifat terburu-buru datang dari setan dan sifat berhati-hati datang dari Allah SWT”. (HR. al-Tirmidzi dan ia berkata ini Hadis hasan).10) Dari Hadis ini, sudah jelas bahwa kita diperintahkan untuk hati-hati dalam mengambil tindakan dan keputusan.

Setan akan terus menggoda kita sampai kita masuk perangkapnya. Dan kita harus sadar, bahwa setan itu musuh kita, sebagaimana firman Allah Swt: “Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Qs. Fathir: 6). Jadi, apabila kita mengikuti perintah setan, maka kita termasuk golongannya dan bersiaplah untuk menempati neraka yang menyala-nyala.

Ibnul Qayyim berkata; “Tiang penyangga segala urusan adalah cinta kepada Allah, mengharap dan mendekatkan diri kepadanya dengan berbagai macam (ibadah) dan rindu kepada-Nya untuk segera bertemu dengan-Nya. Apabila seseorang hamba tidak memiliki keinginan untuk itu, maka cintailah surga dan kenikmatannya serta apa yang dijanjikan Allah di dalamnya bagi seluruh wali-wali-Nya. Apabila seseorang hamba tidak juga memiliki keinginan untuk menempuhnya, maka takutlah kepada api neraka dan apa yang dijanjikan Allah bagi siapa saja yang bermaksiat kepada-Nya. Apabila hal itu belum juga menundukkan hatinya, maka ketahuilah bahwasanya dia diciptakan untuk menjadi penghuni neraka jahannam dan tidak untuk mendapatkan nikmat serta tidak akan mendapatkan ketentuan itu setelah takdir Allah dan taufik-Nya kecuali dengan mengingkari hawa nafsu.”11)

Sabar Ketika Menuntut Ilmu
Tak sedikit remaja zaman sekarang yang tak mau belajar atau yang belajar tapi tidak memaknai kata belajar itu dengan sesungguhnya. Mereka lebih akan rela jika waktu belajar digunakan untuk bermain dari pada waktu bermain digunakan untuk belajar. Padahal, menuntut ilmu adalah suatu kewajiban untuk setiap umat. Pada zaman modern ini banyak fakta membuktikan bahwa remaja yang masih diberi kemampuan untuk sekolah dengan sungguh-sungguh, mereka hanya bersekolah saja tanpa ada kesungguhan dan ada juga pelajar yang hidup di lingkungan pondok. Ujian dan cobaan untuk setiap insan yang menuntut ilmu pasti akan terus berlanjut sampai kapanpun itu. Misalnya, ujian dan cobaan di pondok, berupa tidak betah, belum mendapat kiriman uang, masalah teman dan sebagainya. Jika ujian ini tidak diantisipasi dengan sikap sabar, maka ilmu yang ada di pondok tak akan pernah kita dapatkan. Contohnya, andai saja saya dulu mengatakan; “Saya ingin pindah, karena tidak betah dan sebagainnya,” dan saya pindah saat itu, mungkin sekarang saya tak akan mempunyai pengalaman akan hal-hal yang ada di pondok. Malah mungkin hidup saya jika pindah keluar akan bebas. Tapi, karena diantisipasi dengan berusaha bersabar, kita semua bisa menjalaninya hingga detik ini. Saat menuntut ilmu kita harus sadar bahwa Allah akan terus menguji kita. Dan andai saja kita bisa melewatinya, maka kita akan bisa melewati yang lainnya. Anggaplah itu cobaan paling kecil dan masih akan ada cobaan yang lebih besar dari yang kita hadapi sekarang ini.

Dan setelah kita mendapatkan ilmu janganlah bangga. Kenapa? Karena kita belum selesai dalam menghadapi ujian. Jangan kira hanya saat mencari ilmu saja kita mendapat ujian. Tapi sesungguhnya, setelah memperoleh ilmu itupun kita masih diuji oleh Allah. Jangan pula disangka seseorang yang berilmu sudah otomatis terlindungi dari kebodohan dan terlepas dari godaan. Meskipun orang berilmu berada di tingkatan yang lebih tinggi daripada makhluk-makhluk lain, ia juga tetap menghadapi godaan yang tidak kalah besar. Bahkan godaan orang yang berilmu jauh lebih besar dibandingkan godaan orang-orang selainnya. Begitu pula dalam akibatnya. Bila ia berhasil, maka jadilah ia seorang yang paling takut (dekat) di sisi Allah. Firman-Nya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Qs. al-Fathir: 28). Sebaliknya, ketika ia gagal dalam menghadapi godaan, maka ia hanya menjadi penyebab kerusakan di muka bumi. Dia jugalah yang disinyalir oleh Rasulullah Saw sebagai manusia selain dajjal lebih ditakuti karena sangat halus geraknya daripada dajjal itu sendiri. Rasul  Saw ditanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah? Mereka adalah ulama-ulama yang jahat (‘ulama’ al-su’).” (HR. Muslim).”12)

Bagi orang yang berilmu, mempunyai ilmu bukanlah suatu kebanggaan tersendiri, karena menurut mereka ilmu itu adalah ujian, sebagaimana firman Allah; “Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanya karena kepintaranku. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahuinya.” (Qs al-Zumar: 49).

Bersabar Menghadapi Kemajuan Teknologi
Di zaman modern ini, yang namanya teknologi bukanlah hal yang sulit untuk kita jumpai. Di setiap penjuru wilayah, virus teknologi sudah tersebar. Kita sadar bahwa peran teknologi sangatlah penting untuk kehidupan kita. Dan akan sangat berbahaya apabila kita terjerumus ke dalamnya. Maksudnya kita diatur oleh teknologi, bukan kita yang mengatur teknologi.

Di dalam media massa, sebenarnya banyak hal positif yang bisa diambil, dan tidak sedikit pula hal negatif yang biasanya malah dicari oleh kaum remaja. Contohnya yang saat ini populer seperti facebook. Facebook sebenarnya bisa kita gunakan untuk hal yang lebih manfaat seperti membuat status yang ada hikmahnya (memotivasi, bermakna, dll). Pada faktanya, facebook malah digunakan untuk membuat status yang super galau, yang kata zaman anak sekarang yaitu galau tingkat dewa.

Betapa berbahaya kondisi media masa di negeri kita. Banyak sekali potensi dan harta yang dipersembahkan hanya untuk membangkitkan syahwat, mengumbarkan fitnah dan menyebarluaskan kehinaan.13) Dan faktanya, remaja zaman sekarang malah memilih jalan yang salah, padahal pilihan ada di tangan kita. Dan Allah telah memberikan jalan yang baik dan jalan yang buruk. Allah juga telah menerangkan jalan petunjuk dan jalan kesesatan. Allah SWT berfirman: “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Qs. al-Balad: 10). Maksud dari dua jalan dalam surat ini adalah jalan kebaikan dan kedamaian, serta jalan keburukan dan kerusakan. Dalam ayat inipun kita sudah dapat melihat, betapa Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah hingga jalan hidup inipun Allah memberi pilihan kepada umatnya. Subhanallah! Dengan kemajuan teknologi, apakah kita akan membiarkan diri kita terbawa arus negatif?

Coba kita renungkan dengan seksama. Jika masa mudamu berakhir, sementara anda jauh dari Allah, larut dalam kemaksiatan dan dosa, linglung dalam hidup dan tidak mempunyai tujuan yang jelas dan target yang besar, setelah itu berakhir, maka siapa lagi yang akan mengembalikan masa “emas” (muda) ini dalam hidupmu? Siapa yang akan mengembalikan sepertiga atau setengah kurang lebih dari usiamu? Sementara diantara sunnah (aturan) Allah yang berlaku di muka bumi, bahwasanya segala sesuatu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Lalu mengapa anda tidak memanfaatkan setiap detik dalam hidup dan setiap saat yang berlalu dalam hidup anda di muka bumi ini?14)

Dari pernyataan di atas sudah jelas, jika waktu kita dipergunakan untuk hal-hal yang tidak berguna seperti status di FB yang tidak bermakna, maka jadilah kita orang yang merugi. Andai saja kita berpikir secara rasional dan sabar atas segala masalah, maka kita tidak akan mengadu pada teknologi (FB, twitter, sms, dll). Kita seharusnya sadar bahwa hanya Allahlah yang setiap saat ada bersama kita; bahwa Allahlah yang siap mendengarkan keluhan/curhatan kita setiap jam, menit bahkan detik. Dan andai saja kita bisa menggunakan teknologi itu dengan semestinya, pasti kita bukan menjadi orang yang merugi, tapi malah kita bisa menjadi orang yang bahagia entah itu karena bermanfaat untuk orang lain dan sebagainya.

Mengapa Harus Bersabar?
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (Qs. az-Zumar [39]: 10). Rasulullah Saw juga bersabda: “Besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan dan kuatnya kesabaran”. (HR. al-Tirmidzi). Firman Allah dan Hadis Nabi ini merupakan penjelasan singkat tentang manfaat sabar, yaitu agar dikarunia pahala oleh Allah SWT.15) Dan coba kita renungkan, bagaimana jadinya bila hidup ini tanpa sifat sabar. Sesungguhnya, yang menjadikan seorang penzina melakukan perbuatan keji ini adalah karena ia tidak bersabar hingga ia menikah. Orang yang kecanduan narkoba dan minuman keras, apa yang membuatnya melakukan semua itu? Ya, karena ia tidak bersabar menghadapi musibah dan cobaan yang ditimpakan kepadanya atau karena ia tidak sabar terhadap waktu kosong yang dimilikinya.16) Dari pernyataan di atas sudah jelas bahwa sabar itu mencegah kita akan perbuatan buruk.

Jadi, alasan mengapa kita diperintahkan untuk besabar, diantaranya karena :
a.    Orang yang bersabar akan dikaruniai pahala, sebagaimana firman Allah dan Hadis Nabi di atas.
b.    Mencegah perbuatan buruk.
c.    Membuat kita tidak cepat marah, mengontrol emosi dan membuat kita dan orang di dekat kita merasa lebih bahagia.17)
d.    Menjadikan kita lebih menyatu dengan alam semesta dan akan didukung dengan hasil yang optimal.18)
e.    Kesabaran membuat kita mampu untuk berpikir lebih baik, bernegosiasi dan mengambil keputusan yang lebih sempurna.19)
f.    Kesabaran mendukung iman kita yang selalu penuh harap dan kasih.20)
g.    Kesabaran juga membuat kita memiliki hubungan lebih baik dengan sesama orang yang kita cintai, menjadi kawan, solmet, anak, orang tua yang bahagia. Kesabaran juga akan menjadikan lebih excellent dan akan banyak sekali kemurahan semesta dan Tuhan yang mengalir.21)
h.    Kesabaran dapat menolong (menyelesaikan) setiap permasalahan.22)
i.    Mengetahui bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan dan membuat kita dekat dengan Allah SWT.
j.    Sabar juga merupakan salah satu bagian dari terapi hati, yaitu dalam bentuk pengendalian hawa nafsu.23)
k.    Kesabaran adalah salah satu kunci penting untuk mencapai kesuksesan. “Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan dan tidak ada perjuangan tanpa kesabaran”.24)

Maka dari itu, mengapa kita dianjurkan untuk bersabar, karena sabar memiliki banyak manfaat seperti yang telah diuraikan di atas.

Tips Bersabar
Ada beberapa perangkat penting yang dapat membantu Anda untuk bersabar, diantaranya adalah:
a.    Menganggap bahwa dunia ini hina dan remeh. Maksudnya percaya bahwa setelah di dunia akan ada kehidupan yang lebih abadi (akhirat), dan yakin bahwa setiap masalah pasti ada penyelesaiannya.
b.    Sadarilah bahwa Anda milik Allah, dan kepada-Nya Anda akan kembali dan camkanlah selalu akan hal ini di dalam hati. Maksudnya kita ini hanya makhluk biasa yang dimiliki oleh Allah yang tak ada gunanya untuk menyombongkan diri, karena suatu saat nanti, entah besok, bahkan mungkin setelah ini kita akan diminta pertanggungjawaban.
c.    Ketahuilah bahwa tidak ada balasan yang sepadan untuk sabar selain surga.
d.    Anda senantiasa yakin bahwa jalan keluarnya pasti datang. Maksudnya, kita harus yakin bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, karena Allah tidak mungkin menguji suatu kaum di luar kemampuan kaum itu sendiri.25)
e.    Jangan putus asa. Maksudnya kita tidak boleh menyerah atas ujian yang Allah berikan, sebagaimana firman-Nya: “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir.” (Qs. Yusuf: 87).26) Dari ayat di atas juga disebutkan bahwa orang yang berputus asa adalah termasuk orang kafir.
f.    Selektiflah mencari teman. Kesabaran seseorang dilihat dari sifat temannya. Kenapa? Karena teman menggambarkan kepribadian teman yang satunya. Meskipun stamina keimananmu terasa sudah mantap, tetapi jika engkau bergaul dengan orang-orang yang tidak baik, hal tersebut akan mengembalikan kondisimu ke titik permulaan atau bisa jadi ke titik yang paling rendah. Pernyataan ini sesuai sabda Nabi: “Agama seseorang serupa/diukur dengan agama (kondisi) temannya. Hendaknya setiap kamu memperhatikan siapa temannya.” (HR. al-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).27)

Jadi sifat sabar kita dapat dilihat dengan siapa kita berteman sesuai dengan Nabi kita. Wahai kaum remaja, marilah kita bergaul dengan orang-orang yang membawa kepada hal positif. Marilah kita bentuk diri kita menjadi orang-orang yang bersabar atas ujian, perintah, dan larangan Allah. Tentunya tidak akan semudah kita membalikkan telapak tangan. Tapi dengan niat, doa dan usaha, pasti kita bisa melakukannya, yaitu menjadi orang-orang yang sabar di mata Allah SWT.

Janganlah kita terhanyut dalam masalah yang Allah berikan. Suatu masalah itu jika menyempit, maka tabiatnya ia akan meluas. Jika tali ditarik keras-keras, ia akan terputus. Jika malam semakin gelap, pertanda akan muncul fajar. Itulah sunah kehidupan yang sudah dan terus berlaku. Itulah hikmah yang pasti terjadi. Maka relakanlah jiwamu untuk meridhakan di sisinya. Karena setelah kehausan pasti ada air. Setelah musim semi akan ada musim penghujan.28) Pada intinya, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Tapi harus dengan kuncinya, yaitu doa usaha dan terus bersabar. Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 3 April 2014

END NOTE
*)Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community, di Pondok Baca Qi Falah, Jum’at, 4 April 2014.
*)Siti Robeah adalah Aktivis Halqah Santri Triple Ing Community, Siswi Kelas XI IPA SMA Qothrotul Falah, Pondok Baca Qi Falah, dan Pengurus OPPQ 2014-2015.
1) http://www.kisahpagi.com/sang-sufi-pemecah-batu/. Kisah ini juga bisa dibaca di http://www.liniberita.com/2013/12/sang-sufi-pemecah-batu/#.UzwzTKyVqeQ
2) Ahmad Hidayat, Dahsyatnya Sabar (Jakarta: Alita Aksara Media, 2010), 7.
3) Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 973.
4) Yuddy Effendy, Sabar dan Syukur (Jakarta: Redaksi Qultum Media, 2013), 6.
5) Amru Khalid, Mari Bersabar (Solo: Aqwam, T.Th.), 20-21.
6) Amru Khalid, Mari Bersabar, 17.
7) Amru Khalid, Mari Bersabar, 106.
8) Ahmad Farid, Hidup Mudah Bebas Masalah dengan Taqwa (Jateng: Inas Media,  2008), 71-72.
9) Ahmad Hidayat, Dahsyatnya Sabar, 9.
10) Ahmad Hidayat, Dahsyatnya Sabar, 17.
11) Ahmad Farid, Hidup Mudah Bebas Masalah dengan Taqwa, 72.
12) Syeikh Imaduddin al-Kludasly, Tiada Musibah Tanpa Hikmah (Jakarta: Pustaka Group, 2009), 58-59.
13) Raghib as-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman (Solo: Aqwam, T.Th.), 86.
14) Raghib as-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman, 69.
15) Yuddy Effendy, Sabar dan Syukur, 7.
16) Amru Khalid, Mari Bersabar, 19.
17) Stepanus Indriyana dan Goenardjoadi Goenawan, Best Life (Jakarta: PT Elexmedia Komputindo, 2007), 105-106.
18) Stepanus Indriyana dan Goenardjoadi Goenawan, Best Life, 105-106.
19) Stepanus Indriyana dan Goenardjoadi Goenawan, Best Life, 105-106.
20) Stepanus Indriyana dan Goenardjoadi Goenawan, Best Life, 105-106.
21) Stepanus Indriyana dan Goenardjoadi Goenawan, Best Life, 105-106.
22) Ahmad Wahid Sy, al-Qur’an Hadis (Bandung: CV Amirco, T.Th.), 82.
23) Ahmad Hidayat, Dahsyatnya Sabar, 7.
24) Aep Kusnawan Ash-Shiddiq, Doa-doa Sukses for Teens (Bandung: DAR! Mizan, 2007), 151.
25) Amru Khalid, Mari Bersabar, 115.
26) Ahmad Hidayat, Dahsyatnya Sabar, 54.
27) Raghib as-Sirjani, Menjadi Pemuda Peka Zaman, 107.
28) Imaduddin al-Kludasly, Tiada Musibah Tanpa Hikmah, 179.

DAFTAR PUSTAKA
1.    Ash-Shiddiq, Aep Kusnawan. Doa-doa Sukses for Teens. Bandung: DAR! Mizan, 2007.
2.    as-Sirjani, Raghib. Menjadi Pemuda Peka Zaman. Solo: Aqwam, T.Th.
3.    Effendy, Yuddy. Sabar dan Syukur. Jakarta: Redaksi Qultum Media, 2013.
4.    Farid, Ahmad. Hidup Mudah Bebas Masalah dengan Taqwa. Jateng: Inas Media,  2008.
5.    Hidayat, Ahmad. Dahsyatnya Sabar. Jakarta: Alita Aksara Media, 2010.
6.    http://www.kisahpagi.com/sang-sufi-pemecah-batu/
7.    http://www.liniberita.com/2013/12/sang-sufi-pemecah-batu/#.UzwzTKyVqeQ
8.    Imaduddin al-Kludasly, Syeikh. Tiada Musibah Tanpa Hikmah. Jakarta: Pustaka Group, 2009.
9.    Indriyana, Stepanus. Dan Goenardjoadi Goenawan. Best Life. Jakarta: PT Elexmedia Komputindo, 2007.
10.    Khalid, Amru. Mari Bersabar. Solo: Aqwam, T.Th.
11.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
12.    Wahid Sy, Ahmad. al-Qur’an Hadis. Bandung: CV Amirco, T.Th.