Pemimpin Perubahan untuk Kebaikan Rakyat

Pada zaman dahulu kala, ada seorang kaisar bernama Yao. Demi agar kaisar Yao menunjukkan keperkasaannya sebagai kaisar dan juga demi untuk menyatakan rasa cinta dan hormat rakyat terhadapnya, para menteri ingin membangun sebuah istana untuknya. Bahkan mereka bermaksud membangun istana itu menggunakan emas sebagai lantai, batu glok sebagai undakan, batu kualam sebagai pondasi dan bahkan di bagian puncak harus ditatahkan matahari, bulan, dan bintang-bintang yang terbuat dari perak.

Ketika Yao mengetahuinya, ia mengatakan; “Istana memang harus dibangun. Namun mesti bagaimana model bangunannya, saya mempunyai pandangan sendiri”.

Lalu Yao memimpin para menterinya untuk mengerjakan sendiri, membawa batang kayu dan ilalang yang besar dari gunung, juga membangun beberapa pondok ilalang. Akhirnya selesailah istana peristirahatannya. Kemudian, mereka membangun lagi lebih dari 20 kamar yang berhubungan langsung dengan pondok ilalang besar. Akhirnya rampunglah pembangunan istana yang difungsikan untuk membicarakan urusan resmi dengan para menterinya.

Satu persatu para menteri menyampaikan pendapatnya. Sebagian mengatakan: “Paduka tinggal di pondok ilalang yang tidak ada bedanya dengan rakyat biasa. Lalu bagaimana Anda menunjukkan kewibawaan dan kemuliaan Anda paduka?”

Yao menjawab; “Rakyat jelata sekarang sangat menderita. Membangun istana mewah dengan menghabiskan uang dan tenaga kerja, lalu apa yang dibanggakan raja yang dapat menimbulkan penderitaan di dunia manusia? Memberikan bantuan atau perhatian untuk rakyat merupakan hal yang seyogyanya dilakukan oleh raja.”

Selesai berbicara, Yao membawa beberapa menterinya ke berbagai tempat untuk meninjau keadaan rakyat. Di hari pertama, Yao melihat seorang penduduk gunung terjatuh di pinggir jalan dan merintih. Dengan simpati, Yao bertanya: “Kamu kenapa?”

Dengan lemas, orang gunung itu berkata: “Lapar.”

Yao lalu mengeluarkan makanannya sendiri untuk diberikan kepadanya. “Makanlah! Sayalah yang telah membuatmu kelaparan,” katanya.

Saking terharunya, penduduk itu berlinangan air mata dan memakan makanan itu. Yao lalu berkata kepada menteri yang menyertainya: “Keluarkan sebagain dari ransum makanan saya dan bagikanlah kepada yang lapar”.

Lalu para menteri bertanya: “Bagaimana dengan Anda?”

Yao menjawab; “Saya makan sedikit yang encer (bubur). Makan agak banyak sayuran hutan. Itu sudah cukup.”

Pada hari kedua, Yao dan menteri-menteri yang menyertainya tiba lagi di depan sebuah gua, dengan maksud hendak meminum seteguk air di sana. Dari dalam goa terdengar sayup-sayup suara wanita; “Rumah kami tidak ada orang. Kalian jangan coba-coba masuk.”

Para menteri berkata; “Nona jangan takut. Raja telah datang. Cepat bukalah pintunya.”

Si wanita itu gelisah hingga hampir menangis: “Tidak! Tidak!”

Datanglah seorang kakek yang membawa kayu bakar dan menghampiri. Ia meletakkan kayu bakar, lalu dengan menyesal ia berkata; “Maaf, wanita di dalam gua itu putri saya. Si sulung ini tidak kecil lagi. Ia tidak ada celana untuk dipakainya.”

Begitu Yao mendengar kata-kata ini, bola matanya berkaca-kaca. Lalu segera ia mengeluarkan sepotong celana, diberikan kepada ayah si wanita. Si kakek menolak dengan mengatakan; “Bagaimana kami menerima celana anda?”

Dengan sedih Yao berkata; “Saya tidak mengurus negeri dengan baik, sehingga membuat putrimu tidak ada celana untuk dipakai dan saya sangat merasa berdosa kepada kalian!”.

Setelah Yao kembali dari peninjauan melihat keadaan rakyat, di dalam balairung besar pondok ilalang, ia berkata pada menteri-menterinya; “Ada orang yang menahan rasa lapar, ada orang yang tidak mempunyai pakaian, semua ini adalah kesalahan saya. Saya harus memaklumatkan kesalahan sendiri pada rakyat untuk memeriksa kesalahan saya. Mulai sekarang saya harus lebih teliti dan tekun untuk mengurus negeri ini.”

Dari sikap Yao yang peduli terhadap rakyatnya itu, rakyatnya pun terharu dan menangis. Akhirnya negeri itu aman dan tentram.1)

Dari cerita ini kita bisa menyimpulkan, bahwa seorang pemimpin harus peduli terhadap rakyatnya dan harus memiliki rasa kasih sayang yang tinggi terhadap mereka. Jika rakyat atau suatu negeri itu baik, berarti yang memimpin negeri itu baik pula, karena ia bisa membawa rakyatnya untuk maju. Begitu pula sebaliknya. Jika sebuah negeri itu tidak baik, itupun tergantung pemimpinnya. Maka dari itu, jadilah pemimpin yang bisa merubah suatu negara menjadi lebih baik.

Siapakah Pemimpin?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pemimpin adalah orang yang memimpin.2) Orang yang memimpin adalah orang yang selalu dikedepankan. Semua keputusan yang akan diambil oleh suatu organisasi harus melalui persetujuan seorang pemimpin. Pemimpin juga bisa disebut ketua, karena ketua adalah pemimpin jalannya suatu organisasi. Dalam buku Perjalanan 1000 Mil dituliskan, bahwa pemimpin harus mementingkan kehidupan rakyatnya.3) Namun bukan berarti hidupnya dan keluarganya ditelantarkan begitu saja. Seorang pemimpin harus bekerja untuk rakyat, karena jika tidak ada rakyat atau anggota, dia tidak akan menjadi seorang pemimpin dalam organisasi ataupun negeri. Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah, karena harus mengemban amanah dari rakyatnya. Mengemban amanah sangatlah berat dibandingkan membawa beban seberat apapun.

Menjadi Pemimpin Perubahan
Banyak penderitaan rakyat yang mereka alami, mulai dari bencana alam, kemacetan parah, gangguan keamanan, serta mahalnya biaya pengobatan dan pendidikan. Belum lagi kemiskinan yang mereka rasakan. Itu sebabnya, rakyat memerlukan hadirnya pemimpin yang benar-benar baru, bukan hanya sekedar figur yang memiliki semangat dan niat baru saja. Yang dibutuhkan rakyat adalah pemimpin yang bisa menggerakkan dan memberikan teladan terhadap rakyatnya.4) Juga bisa memberikan perubahan, kasih sayang, kepedulian, dan sering di lapangan bergabung bersama rakyat jelata, mendengarkan keluh kesah mereka dan memberikan solusinya dengan bebagai cara. Misalnya dengan cara menggeratiskan berobat bagi rakyat yang tidak mampu, menggeratiskan biaya pendidikan untuk rakyat yang mebutuhkan dan lain-lain. Tujuannya agar rakyat menjadi lebih sehat dan bisa mengenyam pendidikan yang layak.

Gubernur Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta Joko Widodo (Jokowi) pernah diwawancarai oleh HU Republika: “Apa saja prinsip Anda dalam melakukan perubahan untuk rakyat DKI?” Ia pun menjawab: “Secara prinsip saya hanya bekerja untuk rakyat dan memberikan yang terbaik untuk rakyat. Hanya itu.”5)

Kita memang membutuhkan pemimpin yang mampu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Perubahan itu sendiri akan terjadi karena dua faktor, yaitu dukungan rakyat dan sosok pemimpin yang akan merubah segalanya menjadi lebih baik. Dino Patti Djalal mengatakan dalam bukunya, Harus Bisa Memimpin ala SBY; “Saya sungguh percaya bahwa sehebat apapun SBY, tidak mungkin beliau mengubah nasib bangsa Indonesia seorang diri, kecuali dengan dukungan pemimpin-pemimpin handal di berbagai sektor dan tingkatan dan disertai oleh dukungan rakyat.”6) Karena itu, kita sebagai rakyat harus pintar memilih pemimpin yang baik, yang akan melakukan perubahan untuk negaranya. Dan kita pun sebagai rakyat harus mendukung program perubahan yang pemimpin kita buat untuk organisasi, lingkungan, dan negara.

Pilihlah pemimpin yang bekerja untuk rakyat dan jangan pernah memilih pemimpin yang menyusahkan rakyat; yang selalu menghabiskan uang negaranya sendiri, yang tak pernah peduli terhadap keluhan rakyat, yang tidak pernah peduli atas lingkungannya. Bukan pemimpin yang seharusnya menjadi pelindung rakyat. Kenyataannya, pemimpin sekarang selalu menghabiskan uang rakyat dengan cara korupsi besar-besaran untuk memperkaya dirinya sendiri, tanpa mempeduliakan rakyatnya yang kelaparan dan kesusahan di luaran sana dalam mencari sesuap nasi. Jika kita lihat, banyak sekali wakil rakyat yang bukannya melindungi rakyat, melainkan malah menghabiskan uang rakyat. Dari sini kita harus belajar memilih mana pemimpin yang baik dan mana yang tidak baik. Jangan pernah mau dibohongi oleh pemimpin yang yang sering berbohong, yang selalu bersilat lidah terhadap rakyatnya. Marilah kita belajar untuk menjadi pemimpin yang baik, yang selalu dibutuhkan rakyat, yang selalu ada untuk rakyat dan memberikan yang terbaik untuk rakyat. Tidak hanya itu, jika seorang pemimpin ingin merubah dunia, lakukanlah dari yang terkecil yaitu merubah diri sendiri. Jika diri kita sudah berubah menjadi lebih baik, barulah kita bisa mengubah orang lain. Jika kita sudah bisa merubah keduanya, maka kita akan bisa merubah dunia, karena suri tauladan lebih baik dari pada perintah.

Selain itu, yang disebut sebagai gerakan perubahan tidak cukup dengan pemimpin yang berkualitas. Lebih dari itu, diperlukan juga masyarakat yang bekualitas.7) Jadi, jika suatu organisasi atau negara ingin berubah menjadi lebih baik, maka kita sebagai anggota atau rakyat harus menjadi anggota atau rakyat yang berkualitas juga, karena agar suatu negara bisa maju maka dukungannya harus dari berbagai pihak. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri.” (Qs. al-Ra’d [13]: 11). Dengan demikian, kita bisa menyimpulkan, jika kita ingin merubah dunia atau negara, maka kita harus menjadi pemimpin dan masyarakat yang berkualitas.

Kriteria Pemimpin yang Baik

Yang rakyat inginkan dari seorang pemimpin adalah kesederhanaan, tidak terlalu menikmati jabatan dan kekuasaan yang dia punya,8) melainkan ia tidak membeda-bedakan jabatannya dan rakyat. Juga menganggap bahwa rakyat adalah orang-orang yang harus dihargai, menuruti apa yang mereka inginkan, dan mendengar keluh kesah mereka. Menjadi suri tauladan yang baik pun adalah salah satu contoh yang baik untuk rakyatnya, karena sesungguhnya pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu ada untuk rakyat dalam susah maupun senang, kasih sayang dan lemah lembut, juga adil dan bijaksana. Itu yang sangat rakyat inginkan dari seorang pemimpin.

Selain itu, pemimpin yang baik adalah pemimpang yang memiliki kreteria berikut ini.

Pertama, amanah. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya.” (Qs. an-Nisa [4]: 58).9) Ayat ini diturunkan oleh Allah SWT untuk para pemimpin umat agar mereka menunaikan hak-hak umat dengan baik, seperti pembagian jatah dan penyelesaian perkara rakyat yang diserahkan kepada mereka. Amanah diberikan oleh Allah kepada manusia atau pemimpin untuk dijalankan dengan sebaik-baiknya, dijaga dan disampaikan kepada yang berhak.

Kedua, adil. Allah Swt berfirman: “Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.” (Qs. an-Nisa [4]: 58).10) Kata dasar adil adalah ‘ain, dal dan lam yang berarti persamaan, lurus, tidak berat sebelah, kepatutan dan dugaan yang sama.11) Jadi, pemimpin yang adil tidak boleh memihak, selalu lurus dan tidak boleh membeda-bedakan (diskriminasi) rakyatnya sendiri.

Ketiga, taat pada Allah dan Rasul. Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, taatlilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (Qs. an-Nisa [4]: 58). Dari ayat ini kita bisa menyimpulkan, bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita dua perintah, yaitu taatilah Allah, taatilah Rasul-Nya dan pemimpin (ulul amri); dan menyelesaikan masalah yang diperselisihkan dengan mengembalikan langsung kepada Allah Swt.

Keempat, kembali kepada Allah dan Sunnah. Allah SWT berfirman: “Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunah) jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (Qs. an-Nisa [4]: 59).12) Maka dari itu, jika kita mempunyai masalah atau seorang pemimpin mempunyai masalah, maka kita lebih baik mengembalikannya kepada Allah Swt yaitu (al-Qur’an) dan Rasul (Hadis atau Sunah), karana sumber rujukan kehidupan umat Islam adalah keduanya.

Kelima, berkarya dan kreatif. Sesungguhnya pemimpin dituntut banyak melakukan aktivitas yang berguna dan bermanfaat untuk orang banyak dan masyarakat yang dipimpinnya. Maka dari itu, al-Qur’an memerintahkan untuk melakukan pekerjaan yang nyata, perbuatan yang berguna, produktif dalam aktivitasnya, yang menghasilkan karya, karena Allah Swt berfirman: “Dan katakanlah; bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui Yang Ghaib dan Yang Nyata. Lalu diberikannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Qs. at-Taubah [9]: 105). Ayat ini menjelaskan tiga pokok pikiran: perintah untuk bekerja, berkarya, dan beramal.13) Jadi, Allah Swt memerintahkan kepada kita selaku hamba-Nya agar bekerja, berkarya dan beramal. Seorang pemimpin harus bekerja, berkarya dan  beramal untuk rakyat.

Keenam, bersikap jujur. Kepemimpinan adalah amanat Allah yang harus merefleksikan sebuah tanggungjawab yang besar. Sebagai konsekuensi logis dari keimanan, seorang pemimpin seharusnya dan sewajarnya memiliki sikap jujur dan berkata yang benar apa adanya. Allah Swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Qs. al-Ahzab [33]: 70).14) Dalam ayat ini dikatakan kepada orang-orang yang beriman untuk berkata sejujur-jujurnya dan jangan pernah berkata bohong, supaya menjadi orang yang dipercayai karena kejujuran. Juga jangan pernah mengkhianati orang lain atau rakyat yang telah memberikan kepercayaan kepada kita untuk menjadi seorang pemimpin.

Tantangan Pemimpin untuk Perubahan

Masyarakat yang hanya peduli kepada sasaran-sasaran materi, tidak menganggap penting perubahan yang diperjuangkan, selama kepentingan materi mereka terpenuhi dan mereka sudah merasa cukup.15) Masyarakat yang seperti inilah yang tidak ingin perubahan untuk orang lain, apalagi negerinya. Masyarakat seperti inilah yang menjerumuskan negaranya ke kemiskinan. Masyarakat seperti inilah masyarakat yang egois, yang memikirkan dirinya sendiri, memikirkan materi yang harus ia dapatkan dari rakyat. Orang yang seperti inilah yang sama sekali tidak pantas menjadi seorang pemimpin. Tantangan inilah yang harus bisa membuat masyarakat atau rakyat yang tadinya tidak peduli terhadap orang lain, lingkungan sekitarnya, apalagi negaranya, kini harus dibasmi agar tidak ada lagi masyarakat atau rakyat yang memikirkan dirinya sendiri dan tidak pernah peduli terhadap lingkungannya.

Seorang pemimpin harusnya membuat rakyatnya kompak dan berkualitas agar bisa membangun bangsanya bersama-sama, karena dari kerjasama dan dukungan bersama, maka bangsa akan maju dan ikut bekerjasama dalam menjalankan visi dan misi perubahan negaranya. Seperti yang kita ketahui, sehebat apapun pemimpin, jika tidak dibantu oleh rakyatnya, maka ia tidak akan pernah berhasil membuat perubahan di negaranya.

Toynbee, seorang sarjana yang amat terkenal, membuat teori yang disebut dengan challenge and respond, yang berarti kualitas manusia itu ditentukan oleh tantangan dan bagaimana menjawabnya.16) Maka dari itu, sang pemimpin harus bisa menjawab dan menghadapi tantangan tersebut, karena semakin besar tantangan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita dan kita bisa mengatasinya, maka semakin baik pula kualitas hidup kita. Orang yang tidak pernah menemui tantangan dalam hidupnya, maka ia tidak akan kuat, karena sangat penting tantangan hidup itu dalam membentuk kualitas seseorang.17)

Jika kita ingin menjadi manusia atau seseorang yang berkualitas, maka kita harus berani mengalami tantangan dalam hidup kita. Begitu pula pemimpin. Jika pemimpin ingin rakyatnya makmur dan negaranya maju, maka harus belajar dari tantangan yang ia lalui dan yang akan menghadangnya. Tantangan jika sudah menjadi seorang pemimpin ada tiga, yaitu wanita, tahta, dan harta. Maka dari itu, seorang pemimpin harus menebalkan iman agar tidak terjerumus pada hal yang negatif dan merugikan diri sendiri begitu pula orang lain.

Menjadi Pemimpin yang Sukses

Seseorang akan sukses dalam kepemimpinannya, jika ia memiliki hal-hal berikut ini.

Pertama, keyakinan. Keyakinan adalah kepercayaan yang tertanam kuat dalam fikiran kita yang mendorong kita untuk melakukan tindakan. Jadikan keyakinan itu sikap yang selalu ada dalam diri kita. Jika kita yakin dengan apa yang kita jalani, maka dengan keyakinan itu kita akan berhasil. Begitu pula pemimpin. Jika seorang pemimpin yakin dia bisa menjadi pemimpin yang baik, yang amanah, yang selalu untuk rakyat dan ingin memajukan lingkungan atau negaranya, maka semua itu harus didasari dengan keyakinan.

Kedua, sikap (attitude). Attitude merupakan sikap seseorang memandang setiap hal dalam kehidupan yang merupakan pancaran dan fikiran dari hatinya.18) Jika kita ingin sukses, kita harus pintar-pintar dalam bersikap.19) Tentunya seorang pemimpin harus pintar dalam bersikap; pemimpin harus tahu bagaimana bersikap terhadap rakyatnya, terhadap keluarga, terhadap lingkungan, dan bagaimana bersikap sebagai pemimpin yang akan merubah bangsanya menjadi lebih baik.

Seorang yang memiliki attitude yang baik akan memandang sesuatu dari sisi positif.20) Dengan berfikir positif, maka kita tidak akan pernah berburuk sangka. Sebagai contoh, adalah keberhasilan Miss Universe 2005 yang ternyata sangat ditentukan oleh prinsip hidupnya yang selalu berfikiran positif.21) Ini terbukti saat juri bertanya; “Apa yang Anda anggap penting dalam hidup Anda?” Ia pun menjawab; “Saya selalu belajar dan selalu berfikir positif. Berfikiran positif akan memberikan dampak cukup kuat pada kedamaina dunia”. Ternyata jawaban itulah yang membuatnya terpilih.22) Berfikiran positif sangatlah penting dalam hidup kita. Maka dari itu, selalulah berfikir positif, karena ia memberikan dampak kuat pada kedamaina dunia. Ini harus menjadi sikap pemimpin. Ia harus selalu berfikiran positif dan tidak boleh berburuk sangka.

Ketiga, komitmen. Kesungguhan seseorang dalam melakukan sesuatu dapat dilihat dari seberapa besar komitmen yang diberikannya.23) Jika seorang pemimpin komitmen dengan apa yang ia rencanakan, maka ia telah menjadi pemimpin yang komit dan pemimpin seperti inilah calon pemimpin sukses.             Komitmen itu sendiri adalah tindakan nyata yang dilakukan setelah membulatkan keyakinan disertai positive attitude.24) Jika kita komitmen dengan apa yang kita kerjakan, maka harus disertai berfikiran positif.

Keempat, kerja keras dan cerdas. Seorang pemimpin harus bekerja keras untuk rakyatnya guna membangun negerinya menjadi lebih baik. Seorang pemimpin harus mempunyai kecerdasan, agar bisa menyusun perubahan dengan baik.

Kelima, fokus. Seorang oemimpin harus fokus untuk mengurus rakyatnya, tidak boleh hanya mementingkan dirinya sendiri. Diharapkan, pemimpin bisa fokus dalam bekerja agar semua yang direncanakan tidak melenceng dan bisa terlaksanakan dengan baik.

Keenam, pantang menyerah. Sikap pantang menyerah mutlak dimiliki oleh seseorang yang ingin menuai kesuksesan.25) Begitu juga seorang pemimpin harus memiliki sikap pantang menyerah untuk meraih kesuksesan bagi rakyat dan negaranya.

Ketujuh, adaptif. Ada ungkapan: “Orang yang paling tidak bahagia adalah mereka yang paling takut pada perubahan.”26) Maka dari itu, seorang pemimpin harus menyusun suatu program untuk kemajuan rakyat dan negerinya menjadi lebih baik.

***

Jadilah pemimpin yang sukses, yang membuat perubahan untuk rakyatnya. Jika rakyat dan negara bisa mengalami perubahan menjadi lebih baik, maka seorang pemimpin telah berhasil menjadi pemimpin yang sukses. Jika kita menjadi seorang pemimpin, maka harus tumbuh dalam diri kita rasa ingin merubah menjadi lebih baik, dengan keyakinan, sikap positif, komitmen, kerja keras dan cerdas, fokus, pantang menyerah dan disertai adaptif. Kita juga harus menjadi pemimpin yang selalu ada untuk rakyat, mendengar keluhan raktayat, bekerja untuk rakyat, adil, bijaksana dan tidak sombong, karena sesungguhnya itulah yang diinginkan masyarakat. Wa Allah a’lam.[]


END NOTE
*) Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community, di Pondok Baca Qi Falah, Jum’at, 2 Mei 2014.
**) Yulianingsih adalah Aktivis Halqah Santri Triple Ing Community, Siswi Kelas X-B SMA Qothrotul Falah, Pondok Baca Qi Falah, dan Radio Qi FM 107.07.
1) Vanny Crisma W, Perjalanan 1000 Mill (Yogyakarta: Buku Biru, 2011), 127.
2) Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 874.
3) Vanny Crisma W, Perjalananan 1000 Mill, 128.
4) Arif Supriyano, Jokowi Tokoh Perubahan (Jakarta: Republika, 2012), 118.
5) Arif Supriyono, Jokowi Tokoh Perubahan, 124.
6) Dino Patti Djalal, Harus Bisa Memimpin ala SBY (R3W), pengantar.
7) Saeful A. Iman, the Agent of Change (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2005), 81.
8) Kementerian Agama, Tafsir Tematik: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik (Jakarta: Sergi Pustaka Indonesia, 2007), 185.
9) Qs. ar-Ra’d [13]: 11.
10) Kementerian Agama, Tafsir Tematik: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik, 188.
11) Kementerian Agama, Tafsir Tematik: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik, 191.
12) Kementerian Agama, Tafsir Tematik: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik, 198.
13) Kementerian Agama, Tafsir Tematik: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik, 207.
14) Kementerian Agama, Tafsir Tematik: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik, 209.
15) Saeful A. Iman, the Agent of Change, 77.
16) M. Iqbal Dawami, Ngapain Sekolah Tinggi-tinggi Jika Cuma Berternak Bebek (Yogyakarta: Diva Press, 2012), 229.
17) M. Iqbal Dawami, Ngapain Sekolah Tinggi-tinggi Jika Cuma Berternak Bebek, 229.
18) Reni Amelia, Berani Sukses Berani Gagal (Palembang: Maxikom, 2009), 21.
19) Reni Amelia, Berani Sukses Berani Gagal, 24.
20) M. Iqbal Dawami, Ngapain Sekolah Tinggi-tinggi Jika Cuma Beternak Bebek, 35.
21) M. Iqbal Dawami, Ngapain Sekolah Tinggi-tinggi Jika Cuma Beternak Bebek, 35.
22) Reni Amelia, Berani Sukses Berani Gagal, 21.
23) Reni Amelia, Berani Sukses Berani Gagal, 27.
24) Reni Amelia, Berani Sukses Berani Gagal, 38.
25) Reni Amelia, Berani Sukses Berani Gagal, 43.
26) Reni Amelia, Berani Sukses Berani Gagal, 43.    

DAFTAR PUSTAKA
1.    al-Qur’an al-Karim
2.    Amelia, Reni. Berani Sukses Berani Gagal. Palembang: Maxikom, 2009.
3.    Crisma W, Vanny. Perjalanan 1000 Mill. Yogyakarta: Buku Biru, 2011.
4.    Dawami, M. Iqbal. Ngapain Sekolah Tinggi-tinggi Jika Cuma Berternak Bebek. Yogyakarta: Diva Press, 2012.
5.    Iman, Saeful A. the Agent of Change. Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2005.
6.    Kementerian Agama. Tafsir Tematik: Etika Berkeluarga, Bermasyarakat dan Berpolitik. Jakarta: Sergi Pustaka Indonesia, 2007.
7.    Supriyano, Arif. Jokowi Tokoh Perubahan. Jakarta: Republika, 2012.
8.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.