Muslim Yang Baik Pastinya Bertoleransi

SUATU KETIKA, istri Rasulullah Saw, Aisyah r.a. mengadakan selamatan. Seekor kambing gemuk dipilihnya sebagai menu utama. Oleh Aisyah r.a., daging kambing yang sudah digulai tersebut dibagi-bagikan pada tetangga-tetangga dekatnya. Hal tersebut adalah hal yang disenangi ‘Aisyah r.a., sebagai bentuk kepeduliannya pada orang-orang di sekelilingnya.

Melihat perilaku istri terkasihnya, Rasulullah Saw tentu saja senang. Namun demikian, beliau tetap harus mengabsen siapa saja yang telah diberi jatah gulai oleh isterinya. Pada ‘Aisyah, beliau menanyakan apakah semua tetangganya sudah diberikan bagiannya. Beliau khawatir jika ada satu diantara tetangganya yang terlewatkan, karena bisa saja memantik munculnya fitnah dan ketidakharmonisan diantara mereka.

Wahai isteriku, apakah Si Fulan juga telah Engkau beri jatah gulainya?” tanya Rasulullah Saw.

Belum! Dia itu Yahudi dan saya tidak akan mengiriminya gulai,” jawab ‘Aisyah.

Benar saja! Nyatanya masih ada tetangga dekatnya yang terlewatkan mendapat kiriman jatah gulai. Sesungguhnya bukan terlewatkan, namun sengaja dilewati untuk tidak diberi jatahnya, dengan alasan statusnya sebagai Yahudi.   

Mendengar jawaban istrinya, Rasulullah Saw terusik ketenangannya. Dengan penuh kelembutan, beliau menegur ‘Aisyah dan memintanya tidak memandang status agama atau keyakinan tetangganya. “Kirimilah! Walaupun Yahudi, ia adalah tetangga kita,” pintanya.

Beliau tetap meminta ‘Aisyah r.a. mengiriminya, tanpa memandang latar belakang agamanya. Siapapun dia. Apapun statusnya. Hubungan ketetanggaan menjadi alasan kuat bagi Rasulullah Saw untuk tetap memperhatikan Si Fulan. ‘Aisyah pun menuruti saran panutannya. Dan akhirnya ia memberikan jatah gulai pada tetangganya yang Yahudi.

Begitulah sifat luhur Rasulullah Saw dalam menjalin hubungan ketetanggaan yang harmonis. Tanpa terganggu oleh ruang-ruang perbedaan. Rasulullah Saw menghendaki tidak terjadi pilih-pilih dan pilah-pilah tetangga berdasarkan latar belakangnya. Bagi beliau, tetangga tetaplah tetangga yang harus diperhatikan dan dihormati sampai kapanpun. Tiada peduli latar belakang suku, agama, ras, dan golongannya. Karena itu, Rasulullah Saw senantiasa berpesan pada umatnya untuk menjaga perasaan para tetangga. Kebersamaan sebagai tetangga semestinya dikedepankan. Hilangkan sentimen.

Abu Dzar al-Ghifari, kawan dekat beliau, mendapat wasiat khusus untuk memedulikan tetangganya. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abdurrahman al-Darimi dalam Sunan al-Darimi (II/147), Rasulullah Saw mewasiati: “Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayuran, maka perbanyaklah kuahnya. Lalu, lihatlah tetangga-tetanggamu dan bagilah masakanmu buat mereka.” (HR. al-Darimi).

Melalui Hadis ini, Rasulullah Saw menyebutkan “tetangga”, bukan “tetangga muslim”. Dengan demikian, tidak ada yang harus dibedakan dari perintah Hadis tersebut. Begitulah junjungan umat Islam memberikan teladan luhur. Islam mengajarkan umatnya berbaur dengan siapapun, termasuk dengan tetangga yang berbeda keyakinan.1) Karena muslim yang baik itu adalah muslim yang mampu bertoleransi dan berdampingan dengan yang berbeda. Juga mampu bersosialisasi dan mewujudkan kedamaian bagi sekitarnya. Dan jika seorang muslim tidak mampu bertoleransi, itu berarti harus dipertanyakan keislamannya. Karena pada dasarnya, Islam itu indah dan damai.

Kenapa Harus Islam?

Di luar sana, Islam seringkali dituding sebagai agama yang tidak toleran. Padahal jika ada pemahaman tentang Islam secara gamblang, pastinya tidak akan ada tudingan-tudingan seperti itu. Karena itulah, pemahaman apapun sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial. Untuk itu, sebelum kita membahas lebih lanjut tentang ajaran toleransi dalam Islam, semestinya kita mengetahui terlebih dahulu apa pengertian Islam.

Islam menurut bahasa ialah tunduk, patuh, damai dan sejahtera. Karena itu, ungkapan assalamu’alaikum yang berarti “salam sejahtera untuk kamu sekalian” dimaksudkan agar kedamaian dan kesejahteraan menyertai kehidupan manusia. Makna-makna dari Islam tersebut memang terkandung dalam ajaran Islam. Tinggal bagaimana makna ketundukan atau komitmen terhadap perdamaian menjadi benar-benar nyata dalam kehidupan kita, umat Islam.2)

Hanum Salsabiela Rais menyebutkan dalam karyanya, Bulan Terbelah di Langit Amerika, bahwa setiap hari, berulang puluhan kali muslim yang baik dan bertoleransi akan mendoakan keselamatan bagi saudaranya, bahkan mereka yang berbeda keyakinan dengannya. Islam yang dimaknai sebagai “salam” yang berarti kedamaian, menyapa siapa saja dengan kedekatan dan kehangatan. Bahkan Hanum juga menyatakan: Dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian. Islam tanpa amalan adalah kehampaan. Amalan tanpa iman adalah kegelapan.3)

Kata-kata tersebut meyakinkan kita, khususnya umat muslim, untuk mampu mengamalkan Islam dengan ajaran-ajarannya dan mengimani ajaran-ajaran tersebut dengan lillahi ta’ala. Bukan malah sebaliknya mengimani Islam, namun tidak mengamalkan apa yang ada dalam ajaran Islam itu sendri. Dan tentunya, jangan salahkan Islam, jika ada orang yang mengaku muslim, tapi tidak bersikap toleran terhadap yang berbeda. Itu ciri-ciri muslim yang tidak mengamalkan ajaran Islam yang sesungguhnya. Pada dasarnya, Islam justru mengajarkan umat muslim untuk saling menghargai sesama maupun yang berbeda. Ajaran bertoleransi itu sendiri pastinya tidak hanya ada dalam Islam. Agama apapun pasti mengajarkan saling berdampingan dengan yang berbeda. Karena seringkali, dengan perbedaan orang merasa terganggu, baik berbeda bahasa, agama, negara, suku, pemikiran, pandangan hidup atau lembaga. Bahkan tidak sedikit, karena adanya perbedaan-perbedaan tersebut, mereka yang kurang faham itu merasa terancam.

Kenapa Harus Bertoleransi?
Pertanyaan di atas sangat mendasar untuk membangun sikap toleransi, karena ia sangat diperlukan bagi siapapun dan dari latar belakang apapun. Andai setiap agama tidak bertoleransi, apalagi di negara Indonesia yang banyak sekali keanekaragaman, tentu akan timbul diskriminasi kaum mayoritas terhadap minoritas. Kaum yang dianggap kecil akan ditindas baik secara fisik maupun non-fisik. Jika hal tersebut terus-menerus berlangsung, maka banyak hal buruk yang akan terjadi.

Karenanya, sekalipun di setiap agama toleransi itu sudah diajarkan, tapi masih seringkali terjadi konflik dalam masyarakat yang tidak bisa menerima perbedaan, yang seharusnya kita syukuri. Dan adanya perbedaan itu tentunya tidak perlu mengejutkan, sebab semua yang benar berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah Yang Maha Benar (al-Haqq). Dengan demikian, perbedaan itu tidaklah prinsipil.4)

Perbedaan-perbedaan yang Allah Swt ciptakan justru sangat unik dan cantik, yang tujuannya agar kita saling mengenal satu sama lain. Toh, di hadapan-Nya kita semua tetaplah sama. Yang membedakan kita cuma ketakwaan. Allah Swt berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu.” (Qs. al-Hujurat: 13).

Atas perbedaan itu, maka kita harus besikap toleran, yaitu bersikap menenggang (menghargai, membiarkan dan membolehkan) pendirian, pendapat dan kepercayaan yang berbeda atau bertentangan dengan diri sendiri. Toleransi itu sendiri adalah sifat atau sikap dua kelompok yang berbeda untuk saling berhubungan.5) Sikap seperti inilah yang semestinya ditunjukkan oleh seluruh lapisan umat muslim ketika menghadapi perbedaan.

Kenapa Masih Terjadi Konflik?
Seperti yang sudah kita bahas sepintas di atas, terjadinya konflik disebabkan oleh beberapa faktor yang belum bisa kita hindari. Apalagi di negara kita tercinta ini yang terdiri dari berbagai macam suku, agama dan kelompok, memiliki potensi yang besar terjadinya konflik, baik yang dilatarbelakangi persoalan agama maupun persoalan budaya dan etnik.

Padahal jika flashback ke belakang terhadap apa yang telah Rasulullah Saw ajarkan, justru beliau lebih mengedepankan rasa toleransinya terhadap siapapun, sebagaimana kisah beliau dengan tetangganya yang sudah ditulis di awal makalah ini. Islam memberikan keleluasaan bagi umatnya yang ingin bersahabat dengan siapapun,  tanpa memandang latar belakangnya, demi kedamaian dan keharmonisan. Hanya saja ada beberapa faktor yang menyebabkan konflik dan harus kita evaluasi bersama.

Pertama
, berbeda pandangan. Dalam berbeda pandangan, orang seringkali memaksakan kehendak dan menganggap pandangan yang dikemukakannya sebagai satu-satunya kebenaran yang dipaksakan kepada orang lain. Cara seperti ini tidaklah rasional, walaupun kandungan isinya sangat rasional. Sebaliknya, jika pandangan kita isinya irrasional tapi dapat ditawarkan kepada orang lain tanpa paksaan, maka kebenarannya baru akan terbukti jika hal-hal irrasional itu benar-benar terjadi dalam kehidupan.6)

Kedua
, provokasi. Terkadang oknum-oknum tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu, memanfaatkan keberagamaan umat beragama untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Karena itu, memprovokasi salah satu pihak dilakukan sehingga akan terjadi perdebatan dan menimbulkan pertikaian.7) Oknum inilah yang mengatasnamakan agama dalam perbuatan yang negatif. Sekalipun pikirnya dalam menegakkan kebaikan, tapi apabila dengan cara yang mungkar, maka itu tetap saja perbuatan mungkar. Karena akibatnya akan muncul jalan pintas berupa budaya kekerasan (culture of violence).

Ketiga
, salah tafsir. Banyak dan sering kali orang luar sana salah menafsirkan tentang Islam, karena kurangnya pemahaman tentang Islam itu sendiri. Kadang banyak yang tahu tentang Islam, tapi tidak menelaah dan mengkaji lebih dalam tentang ajarannya. Sementara itu, dalam menelaah nasib Islam di kemudian hari, kita akan sampai pada keharusan-keharusan rasional untuk dilaksanakan ataupun dijauhi, apabila memang ingin dianggap “muslim yang baik.”8) Keharusan-keharusan yang dimaksud dalam artian yaitu bertakwa dan mampu berdampingan dengan sesama maupun yang berbeda. Karena salah satu motto umat muslim itu juga terkandung dalam Qs. al-Imran: 103: Berpegang teguhlah pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu sekalian bercerai berai.” Melalui ayat ini kaum muslimin mendapatkan perintah untuk bernaung dan berpegang teguh pada Agama Allah. Maksudnya, kaum muslim harus menjadikan agama Allah sebagai pegangan hidup di dunia,9) termasuk sebagai pegangan dalam pergaulan dengan mereka yang berbeda. Karena itu, penafsiran yang baik penting dikedepankan terkait hal ini.

Supaya tidak salah tafsir atas ajaran Islam, tidak cukup hanya identitas yang tercantum di KTP bahwa kita beragama Islam, tapi juga harus benar-benar menjadikan agama Allah sebagai pedoman hidup. Ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an jelas menunjukkan jalan lurus untuk kita, berpegang teguhlah dan jangan kita bercerai-berai hanya karena perbedaan yang padahal sengaja Allah ciptakan untuk menyebarluaskan rahmat-Nya. Perbedaan itu rahmat. Inilah yang kita harapkan, bahwa umat Islam (khususnya) hendaknya berjuang untuk menciptakan persatuan di tengah mereka sendiri dan di tengah yang lainnya. Jika kita mampu berdampingan dengan yang berbeda keyakinan dari kita, maka Allah pasti akan mengirim rahmat-Nya kepada kita, umat Islam yang baik. Dan Allah, tentunya akan menunjukkan kepada kita jalan yang lurus, sehingga tidak melakukan hal-hal negatif yang mengatas namakan agama.

Perbedaan untuk Saling Mengenal

Seperti dijelaskan dalam Qs. al-Hujurat: 13 di atas, Allah menciptakan macam-macam kelompok manusia di dunia ini agar mereka saling mengenal satu sama lain. Dengan perbedaan, kita bisa menikmati keindahan dan keagungan ciptaan-Nya. Coba saja kita bayangkan, seandainya semua orang di dunia ini tingginya sama, jenis kelaminnya wanita semua, dan berbicara dalam satu bahasa, maka betapa tidak menariknya kehidupan di dunia ini. Tidak ada harapan untuk saling mencocokkan. Tapi, dengan keindahan yang membedakan satu sama lain, pasti membuat siapa saja tertarik akan keunikannya.

Contohnya bunga-bunga yang bertaburan di taman. Dengan warna yang berbeda-beda, jenis yang juga berbeda-beda, tapi ketika digabungkan, maka begitu indah dan cantiknya taman tersebut. Penuh warna dan keharuman, sampai membuat mata ini enggan untuk berpaling. Kenapa tidak dengan kita? Perbedaan ras, agama, dan karakter, tapi jika kita mampu berdampingan, itu pasti akan rukun dan damai. Ini seperti diiklankan oleh produk mie instan, di sebuah televisi: “Perbedaan itu bagaikan air dan minyak. Sulit untuk bersatu, namun bisa berdampingan.” Penganalogian yang sederhana ini menyimpan makna yang sangat dalam untuk direnungkan.

Lalu, Bagaimana Caranya Bertoleransi?

Sekarang  kita masuk pada bagian yang terpenting, yaitu memahami cara untuk bertoleransi. Setelah kita membahas beberapa hal di atas, rasanya kurang afdhal jika tidak disertai kiat-kiat dalam bertoleransi. Cara-cara bertoleransi itu sebagaimana yang tertulis dalam artikel karya Tomy Satriyadi, yaitu:

Pertama, menghormati saat umat lain beribadah. Menghormati dan menghargai saat teman atau tetanggamu sedang menjalankan tradisi ibadahnya, setidaknya jangan berisik dan tidak membuat keributan apalagi sampai merusak suasana beribadahnya. Berdoalah dengan cara kita sendiri, tanpa harus mengganggu peribadahan orang lain.

Kedua, menghormati acara umat lain. Di saat teman kita sedang menjalankan acara dalam tradisinya, usahakan jangan sampai kita membuatnya membatalkan acaranya. Hormati dia. Untuk itu harus dari sekarang kita belajar memahami tradisi umat yang lain.

Ketiga, tidak mengganggu. Cara yang terakhir ini termasuk ajakan dari kesimpulan cara-cara untuk menghormati ajaran-ajaran agama lain, maka setidaknya jangan mengganggu apalagi sampai mengusiknya dalam beribadah. Itu lebih baik dan merupakan sikap sederhana dalam menjaga hubungan umat beragama.10)

Inilah deretan cara sederhana yang pasti bisa kita coba untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, untuk mencoba menuju kepada jalan yang lebih baik juga menjadi muslim yang baik, agar terjalin hubungan yang rukun dan damai.  Secara biologis, sebenarnya jika perhatikan tidak ada yang berbeda diantara kita. Coba kita perhatikan diri kita dalam sebuah cermin. Semua yang ada dalam diri kita itu sama adanya dan berasal dari Dzat yang sama pula, yaitu Allah Swt, seperti digambarkan oleh Maher Zein dalam lagunya yang berjudul One Big Family.  

One Big Family

I wonder  why  you and me fight each other
don’t  you see the similerities between us
take a minute and see your self in the mirror
you look like me, those eyes, lips, you can’t deny
have  you thougt about
why we look the same?
why we feel the same ?
don’t tell it’s by chance
oh,.. you are my brother
you are my sister
we are one big family
just one big family
it’s dosen’t matter if your life for away from me
you  feel, i feel, you bleed, i bleed, you cry and i cry
we sleep and dream
some times we’re sad, some times we’re happy
you breath, i breath
we love, walk, talk and we smile
i care about you
and i wish you could realize
there’s no difference between us two
we’re part of one family
no matter how far you are
and even if we don’t know each other
oh, you and me, me and you we are one


Perhatikan lirik demi lirik lagu di atas! Ternyata mengandung makna yang dalam untuk yang merasa paling unggul dan berbeda dari yang lain. Kenapa kita masih mempermasalahkan perbedaan, padahal kita adalah satu keluarga besar. See your self in the mirror! Lihatlah dirimu di cermin. Mata ini, hidung dan seluruh anggota tubuh ini, semuanya sama. You and me, me and you, we are one. We are one big family, just one big family. Aku dan kamu, kamu dan aku, kita adalah satu, kita adalah keluarga besar. Masihkan kita ingin mempermasalahkan perbedaan? Wa Allah a’lam.[]

END NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com), Jum’at, 17 Oktober 2014, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Aktivis Triple Ing Community (Triping.Com), Aktivis Pondok Baca Qi Falah, Penyiar Radio Qi FM 107.07, Siswi Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah.
1)    www.qothrotulfalah.com/indeks-artikel-santri/110-rasulullah-dan-tetangga-nonmuslimnya.html
2)    KH. Syarif Usman Yahya, Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan (Jakarta: Fahmina Institute, 2008), 11.
3)    Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, Bulan Terbelah di Langit Amerika (Jakarta: PT. Gramedia, 2014), 334.
4)    Nurcholish Madjid, dkk. Dekonstruksi Islam Mazhab Ciputat (Bandung: Zaman, 1999 ), 28.
5)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 1204.
6)    Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), 67.
7)    www.tommysyatriadi.blogspot.com/2013/02/toleransi-umat-beragama.html
8)    Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, 67.
9)    Departemen Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Tafsirnya (Jakarta: Pustaka Lentera Abadi, 2009), II/13.
10)    www.tommysyatriadi.blogspot.com/2013/02/toleransi-umat-beragama.html

DAFTAR PUSTAKA

1.   al-Qur’an dan Terjemahnya
2.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
3.    Departemen Agama Republik Indonesia. al-Qur’an dan Tafsirnya. Jakarta: Pustaka Lentera Abadi, 2009.
4.    Madjid, Nurcholish. Dkk. Dekonstruksi Islam Mazhab Ciputat. Bandung: Zaman, 1999.
5.    Rais, Hanum Salsabiela. Dan Rangga Almahendra. Bulan Terbelah di Langit Amerika. Jakarta: PT. Gramedia, 2014.
6.    Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute, 2006.
7.    www.qothrotulfalah.com/indeks-artikel-santri/110-rasulullah-dan-tetangga-nonmuslimnya.html
8.    www.tommysyatriadi.blogspot.com/2013/02/toleransi-umat-beragama.html
9.    Yahya, KH. Syarif Usman. Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan. Jakarta: Fahmina Institute, 2008.