Say No To Islam Radikal!

AHMAD, at-Tirmidzi dan al-Hakim, meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad Saw pergi meninggalkan Mekah. Maka Abu Bakar berkata: “Mereka mengusir Nabi mereka, pasti mereka binasa!”

Maka Allah Swt menurunkan ayat: “Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh Allah Maha Kuasa menolong mereka.” (Qs. al-Hajj: 39).  

Abu Bakar berkata: “Aku sudah tahu bahwa nanti akhirnya terjadi perang”.1)

Apa Itu Radikal?
Sering kali kita mendengar kata radikal. Tapi apakah kita tahu, apa itu radikal? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), radikal yaitu (1) secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip); perubahan; (2) amat keras menuntut perubahan (UU, pemerintahan). Sedangkan radikalisme yaitu (1) paham atau aliran yang radikal di politik; (2) paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis; (3) sikap ekstrem di aliran politik.2)

Sebenarnya orang-orang yang radikal, mereka adalah orang yang ekstrim yang berada di ujung kesendirian, dan karena itu, mereka merasa tidak ada lagi ruang untuk berdialog, karena tidak ada orang yang mau diajak berdialog bagi mereka, sehingga akhirnya bahasa kekerasan yang dipakai.3) Jadi, radikal dalam konteks makalah ini adalah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang atau oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, entah itu karena kebodohan, kesalahpahaman dan sebagainya, yang amat merugikan pihak lain.

Kadang kita melihat bahwa bentuk kekerasan itu berupa rusaknya fisik seseorang atau suatu barang. Padahal dalam buku Modul Resolusi Konflik Agama & Etnis di Indonesia, ada tiga bentuk kekerasan; yaitu perilaku, sikap dan struktural. Kekerasan perilaku, yaitu kekerasan yang membuat fisik seseorang terluka, yang mungkin biasa kita bayangkan akan apa yang terjadi pada orang yang terkena bentuk kekerasan ini. Kekerasan sikap, yaitu “luka” dan “sakit” tapi dalam bentuk jiwa dan perasaannya. Semua proses mental ini memang bukan kekerasan dalam pengertian umum, tetapi bila itu dibiarkan, maka akan dengan mudah berubah menjadi kekerasan fisik. Kekerasan struktural, misalnya beberapa negara maju secara sengaja membuat negara miskin semakin menderita, yakni dengan cara menganjurkan negara-negara miskin untuk meminjam dana dalam jumlah besar. Namun, syarat- syarat untuk membayar hutang itu umumnya mengabaikan kebutuhan dasar sebagai rakyat miskin yang memerlukan pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Maka tak ayal, banyak kematian akibat kelaparan, kekurangan gizi, dsb., yang efek dominonya sama buruknya dengan akibat peperangan.4)

Jika Von Clausewitz menyatakan, perang adalah penerusan perundingan yang gagal, maka dapat kita katakan bahwa perundingan damai adalah penerusan dari peperangan yang tidak tercapai maksudnya.5) Dari ungkapan ini dapat kita artikan, bahwa peperangan sebenarnya bisa kita selesaikan dengan cara musyawarah, bukan dengan cara menghunuskan pedang kepada musuh. Karena jika itu yang dilakukan, maka masalah tidak akan selesai begitu saja. Yang ada rasa dendam yang terus- menerus tumbuh dari generasi ke generasi.

Faktor-faktor Penyebab Munculnya Islam Radikal
Tentu saja, keislaman yang radikal tidak muncul begitu saja, melainkan dilatarbelakangi oleh faktor-faktor tertentu. Apa saja faktor-faktor itu? Diantaranya, adalah:

1.    Salah Memahami Makna Jihad
Kadang kala, karena kurangnya pengetahuan, terutama pengetahuan tentang agama (yang memperbolehkan jihad), tindakan radikal yang dilakukan disamaartikan dengan jihad. Karena pada dasarnya, jihad tidak sama dengan radikal. Jihad bukanlah cara kekerasan, karena jihad sejatinya mempunyai makna dan implikasi mulia,yakni mewujudkan perbaikan dan pemberdayaan potensi umat.6)

2.    Kebodohan, Kemiskinan dan Rasa Kebencian (Anarkisme)
Kristen bukanlah musuh-musuh umat Islam. Demikian pula sebaliknya. Persoalan agama, bagi Said Nursi, bukanlah alasan untuk mengobarkan rasa permusuhan dan kebencian diantara umat beriman. Karena musuh sesungguhnya adalah kebodohan, kemiskinan dan rasa kebencian (anarkisme).7).

3.    Krisis Psikologis
Krisis psikologis cukup mendorong bagi lahirnya gerakan Islam radikal.8) Krisis psikologis timbul setelah apa yang terjadi (hal menyakitkan) di masa lampau yang pernah seseorang lihat terus menghantuinya dan menjadikan pribadi seseorang yang dendam.

4.    Rendahnya Tingkat Komunikasi dan Kooperasi Masyarakat.
Hal ini  juga akan memunculkan kekerasan komunal di tengah masyarakat.9) Kekerasan seringkali dianggap sebagai jawaban ketika saluran dialog dibungkam, suara-suara ketidakpuasan tidak digubris, atau tidak ada penegakan hukum terhadap setiap kezaliman.10)

5. Ideologi, Politik, Ekonomi, dan Sosial Budaya. Ini juga berpengaruh bagi tumbuhnya gerakan radikal dan manusia tak toleran.11)

Dalam hal ini, pemerintah harus peka terhadap permasalahan yang ada, agar tindakan kekerasan (atas nama apapun) sebagai rasa kekecewaan tidak dilakukan. Mengapa pemerintah harus ikut serta di dalamnya? Hal ini tak lain karena untuk mencapai kedamaian seluruh umat. Menurut Albert Einstein: “Damai bukan sekedar ketiadaan perang, tetapi adanya keadilan hukum dan ketertiban. Pendek kata, adanya pemerintahan”.12)

Dampak Radikalisme

Setara Institute melansir bahwa pada tahun 2007 terdapat 185 jenis tindakan kekerasan dalam 135 peristiwa; pada tahun 2008 terdapat 367 tindakan dalam 265 peristiwa, dan pada tahun 2009 terdapat 291 tindakan dalam 200 peristiwa. Selain itu, kasus Ciketing Bogor pada tahun 2010 menyebabkan pemerintah Bogor menghentikan ijin pendirian Gereja Kristen Protestan Batak atas desakan kelompok garis keras.13)

Data di atas menggambarkan bahwa tindakan kekerasan menyebabkan banyak kerugian. Banyak manusia yang dirugikan akibat dari faham radikal (radikalisme). Dari faham itulah tumbuh oknum-oknum radikal dan karena kesalahpahaman akan makna jihad, orang radikal berpikir bahwa perbuatan yang tak berperikemanusiaan yang mereka lakukan adalah jihad. Padahal jika jihad dimaksudkan untuk menendang golongan non-Islam dan ingin membersihkan mereka dari bumi Indonesia, sehingga akan didirikan negara Islam, maka jelas ini tidak dibenarkan.14)

Dan akibat tindakan radikal yang dilakukan oleh segelintir umat Islam, maka agama Islam dicap sebagai agama dan sistem nilai penyebab munculnya terorisme. Sebagaimana yang telah terjadi sejak peristiwa 911 (9 September), banyak umat Islam yang akhirnya menjadi sasaran kemarahan dan menjadi target operasi intelijen yang berlebihan.15) Dan semenjak peristiwa 911 di Amerika, imigrasi di Eropa dan Amerika menjadi hostik terhadap orang-orang yang mengenakan jilbab atau cadar. Mereka akan dicek lebih lama dari pada yang tidak mengenakan apapun di tempurung kepala mereka.16)

Peristiwa yang mengguncangkan dunia, tapi dilakukan oleh orang sebagian kecil itulah yang akhirnya sampai sekarang merusak citra Islam dan mempersulit kehidupan generasi-generasi selanjutnya, generasi yang selalu dicap sebagai teroris akibat peristiwa di masa lampau oleh orang-orang yang kadang kala tak mengetahui peristiwa sebenarnya. Kadang-kadang orang tak begitu arif untuk membedakan antara apa yang dilakukan oleh sekelompok kecil umat Islam dengan mainstream atau mayoritas Islam secara keseluruhan, sehingga dosa yang dilakukan oleh sekelompok itu harus ditanggung bersama oleh umat Islam.17)

Radikal: Mengatasnamakan Islam
Hasil dari aksi-aksi orang atau oknum tak bertanggungjawab, pada akhirnya Islam dicap sebagai agama yang radikal (radikalisme: berpaham keras), yang menghasilkan bibit- bibit teroris (sarang teroris). Tindakan-tindakan itulah yang merusak citra Islam sebagai agama yang rahmatan li al-‘alamin. Karena pemahaman atau cara pandang orang-orang yang hanya sebatas tahu akan Islam tanpa memahami Islam lebih dalam, maka mereka menjadikan dalil “jihad” untuk melaksanakan aksi radikalnya dengan mengatasnamakan agama (Islam). Bagi beberapa kelompok radikal, jihad menjadi dalil yang mudah digunakan untuk menjustifikasi gerakan bom bunuh diri, aksi teror, dan perbuatan makar.18)

Namun demikian, Said Nursi tidak menganggap ketegangan tersebut sebagai ketegangan yang diakibatkan agama, atau dengan kata lain, ketegangan antar agama. Sebab menurutnya, agama yang benar tidak mungkin mengajarkan invansi dan kekerasan. Said Nursi percaya bahwa ketegangan itu sebagai akibat mereka tidak memahami betul ajaran agamanya, dan diliputi tidak percaya, salah paham, ingin berkuasa, dendam dan sejenisnya.19) Dalam buku yang sama juga dikatakan, kekerasan sebenarnya “bukan konflik agama!”, “itu hanya ulah provokator!” atau bisa dibilang gara-gara oknum tertentu.20)

Berarti pada kenyataannya, Islam yang selama ini dianggap teroris dan pesantren sebagai bibit teroris, itu hanyalah hasil pemanfaatan agama oleh oknum- oknum tertentu. Tak bisa dipungkiri, dalam suatu kelompok selalu saja ada yang melenceng, entah itu karena tak memahami peraturan kelompok yang telah ditentukan dengan sebenarnya, begitupun dengan peraturan agama, entah karena menganggap bahwa ajarannyalah yang paling benar dan wajib diikuti. Jika di Indonesia mayoritas adalah muslim, akan ada kemungkinan adanya pembentukan kelompok kecil dari yang mayoritas tersebut dan membentuk Islam radikal. Tindakan para teroris itu – jika benar dilakukan oleh gerakan Islam – adalah sebuah penyimpangan kecil dari mayoritas gerakan Islam, yang terutama banyak dikuasai oleh NU (Nadhatul Ulama) dan Muhammadiyah.21)

Karena pada dasarnya Agama Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Islam sangat membenci kekerasan. Jika memang benar Islam membenci kekerasan, tapi mengapa Allah mengizinkan umatnya untuk berperang seperti dalam Qs. al-Hajj: 39  yang disebutkan di atas? Dalam ayat ini, Allah memang mengizinkan umatnya untuk perperang, lebih tepatnya mungkin melawan karena martabat atau harga dirinya digugat oleh orang lain. Bukankah dalam ayat tersebut sudah jelas seseorang diperbolehkan untuk berperang karena beberapa alasan, diantaranya karena mereka di perangi atau dizalimi? Sejarah tradisional menjelaskan, bahwa meskipun umat Islam pertama harus berjuang supaya bisa terus hidup, Muhammad tidak mencapai kemenangan dengan pedang, melainkan dengan menggunakan kebijakan anti-kekerasan yang kreatif dan jujur. al-Qur’an mengutuk semua peperangan sebagai hal menjijikkan dan hanya mengizinkan peperangan untuk mempertahankan diri.22)

Mengapa Islam Perlu Toleran?
“Orang Islam yang tidak toleran adalah orang Islam yang tidak tahu sejarah”, kata KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mengapa Gus Dur berkata demikian? Karena keadaan umat beragama sekarang sangat ironis. Hanya karena kesalahpahaman yang sebenarnya masih bisa dimusyawarahkan, tapi karena ego yang sama-sama besar akhirnya keduanya sama-sama ingin menang sendiri. Sebagai umat beragama harusnya kita sering menoleh ke belakang untuk pembelajaran. Sebagai umat Islam, kita harus ingat kembali, bukankah Nabi Muhammad pertama kali diketahui kenabiaannya oleh Pendeta Nasrani? Dari sini dapat kita simpulkan bahwa pemimpin kita zaman dahulu kala saja saling berdampingan dengan umat beragama yang lainnya. Mengapa kita tidak?

Kadang kala umat Islam tak pernah memahami ajarannya dengan baik. Dalam ajaran Islam, orang yang beragama Islam didoktrin untuk menjadi insan yang mulia atau bertaqwa. Tapi kadang kala yang menjalankan itu bukan umat Islam itu sendiri, melainkan malah umat yang beragama lain. Misalnya umat Islam diajarkan untuk menjaga kebersihan, karena kebersihan sebagian dari iman. Tapi yang menjalankan ajaran itu malah orang Jepang yang mayoritas agamanya bukan Islam. Begitupun dengan toleransi. Toleransi itu diwajibkan oleh umat Islam, tapi kadang kala umat yang sudah diajarkan untuk itu tidak menjalankannya, karena mereka lebih membenarkan apa yang mereka pahami, tanpa berpikir dengan cara pikir yang lebih obyektif.

Andai umat Islam tidak memiliki rasa toleransi yang tinggi, maka sungguh menyedihkan, karena dalam ajaran agama apapun kita diperintahkan untuk saling mengharagai, bahkan berlaku baik terhadap sesama walaupun itu orang yang berbeda. Dalam al-Qur’an dikatakan, yang artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adillah terhadap orang-orang (kafir) yang tidak mengusirmu dari negrimu atau membantu orang lain untuk mengusir kamu.”23)

Mengapa Islam harus toleran? Karena dengan toleran itulah kita akan hidup dengan damai dan tenteram, walau kita hidup dalam akidah yang berbeda. Bukankah kita masih bisa untuk saling melengkapi satu sama lain? Terus bagaimana cara agar kita bisa hidup berdampingan? Kita harus saling menghargai apa yang ada pada lingkungan kita, selama itu tidak mengganggu kita. Jangan langsung merasa paling benar. Redamlah rasa egois yang tinggi itu terlebih dahulu demi perdamaian yang diharapkan. Jangan memojokkan orang, bahwa ajaran yang lain itu salah dan harus dimusnahkan dari kehidupan ini. Untuk memperkuat tradisi menghargai perbedaan pemahaman dan pemikiran dalam proses dan produk penggalian hukum Islam, sebagaimana yang pernah juga diungkapkan Imam Malik, “Ra’yuna shawab yahtamil al khatha’ wa ra’yu ghairina khatha’ yahtamil al-shawab” (persepsi kami benar tetapi tetap memiliki kemungkinan keliru, dan persepsi orang lain keliru tetapi tetap memiliki kemungkinan benar) yang secara singkat sering diungkapkan sebagai mufakat dalam perbedaan (agree to disagree).24)

Dari ungkapan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa jangan pernah merasa benar dengan apa yang ada pada diri kita, karena bisa jadi yang selama ini kita agung-agungkan malah itu keliru, begitupun sebaliknya. Karena sesungguhnya hanya Allahlah yang mengetahui mana yang benar.

Hakikat Islam Sesungguhnya

Islam itu bukan hanya agama yang rahmatan lil’muslimin (rahmat bagi setiap muslim), tapi agama yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Jadi orang Islam yang benar-benar memahami ajaran Islam, ia akan memiliki sikap toleran yang tinggi terhadap sesama umat manusia. Karena Islam sesungguhnya yang digariskan al-Qur’an, Islam yang hanifiyyah samhah (Islam itu lembut, ramah, toleran).25)

Dari pernyataan di atas sangat jelas bahwa ajaran yang dibawa Islam bertujuan untuk perdamaian. Dan jika selama ini Islam disandarkan pada istilah radikal, teroris, dan lain-lain, itu hanyalah istilah-istilah yang diciptakan oleh orang-orang yang tidak mengetahui Islam sesungguhnya. Karena mereka hanya melihat dari sisi negatifnya (dari sekelompok kecil muslim) dan istilah itu ada dari hasil orang-orang atau oknum-oknum yang berbasis pandangan radikal. Sebab, agama Islam yang sesungguhnya tidak pernah mengajarkan kekerasan. Apapun tindakannya yang bertujuan untuk  mewujudkan kebaikan, tetapi dilakukan dengan cara kekerasan atau pemboman, jelas sangat ditolak dan Islam sendiri mengencam kekerasan.26)

Selain itu, sesungguhnya masa depan Islam juga akan ditentukan oleh seberapa besar dan benar pemahaman umat itu sendiri terhadap Islam yang hanif; yakni Islam yang lurus, toleran dan terbuka. Dan dengan begini misi Islam rahmatan lil ‘alamin akan tercapai. Sesunguhnya Islam selalu mengedepankan perintah untuk saling menghormati dan mengasihi tanpa melihat latar belakang keyakinan yang dianut seseorang, serta melarang para pemeluknya untuk memaksakan kehendak apalagi menggunakan jalan kekerasan dalam menyikapi suatu perbedaan keyakinan.27) Bagi Gus Dur, Islam tidak perlu dipertahankan dengan tindakan apapun, kecuali dengan melaksanakan cara hidup Islam itu sendiri. Sangat indah untuk diucapkan, namun sulit dilaksanakan bukan?28) Ini menunjukkan, bahwa hakikatnya setiap agama memang tidak membenarkan tindakan kekerasan, karena setiap agama menginginkan hidup yang sejahtera, tentram dan damai. Tidak ada satu agamapun yang membenarkan sikap sewenang-wenang dan tindakan kekerasan dalam rangka memonopoli kebenaran atas agama.29)

Bukan Agama Pedang

Anggapan orang bahwa Islam adalah agama pedang, itu kekeliruan semata. Mengapa mereka mengatakan seperti itu? Karena mereka tak mengetahui ajaran atau visi & misi Islam yang sesungguhnya, yakni rahmatan lil ‘alamin). Andai orang-orang yang selama ini menganggap Islam radikal berpandangan seperti pandangan orang-orang dalam budaya Jawa, maka dalam budaya Jawa penilaian kualitas manusia tidak didasarkan pada agama melainkan dari perilaku hidup kesehariannya.30) Jika orang-orang itu berpandangan sepeti uraian di atas, maka generasi Islam berikutnya tak akan mendapat tudingan dari orang yang tak memahami Islam sesungguhnya atas apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berpaham radikal.

Bagi orang Jawa, agama tidak untuk dibedakan, apalagi untuk dipertentangkan. Agama lebih diyakini sebagai pegangan hidup masing-masing orang untuk meningkatkan spritualitas sebagai hamba Tuhan di muka bumi.31) Dan agama adalah panutan untuk kita menuju dunia yang lebih kekal kelak, yakni alam akhirat. Jika selama ini agama hanya kita gunakan untuk pertikaian, terus apa yang kita persiapkan untuk bekal kita kelak? Apa tindakan radikal yang merugikan orang yang dianggap sebagai jihad itu yang akan menolong kita?

Setiap kehidupan pasti tak akan semulus seperti apa yang kita harapkan. Konflik akan terus ada dan agama yang akan menjadi bentengnya. Seperti diungkapkan dalam buku Islam Kebangsaan, bahwa agama itu diturunkan di muka bumi misi utamanya untuk menjadi “regulasi” yang mengatur potensi konflik yang menjadi pembawaan setiap manusia.32) Dalam buku yang sama juga dikatakan bahwa turunnya agama diharapkan menjadi “balance” atas posisi manusia sebagai mandataris (khalifah) Tuhan di satu pihak dan potensi manusia yang selalu berbuat kerusuhan dan pembunuhan di lain pihak. Karena itu, mereka yang mampu mengatur kehidupan secara “balance” akan tampil sebagai ahsan taqwim dan insan kamil (baca: manusia paripurna) yang mengungguli semua mahluk Tuhan,termasuk para malaikat.33)

Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa kejadian-kejadian kekerasan itu adalah pembelajaran untuk kita sebagai umat manusia. Andai tak pernah ada yang namanya konflik atau radikal, maka kita tak akan berpikir untuk menyelesaikan permasalahan yang ada, dan rasanya tak akan ada warna dalam hidup ini. Maka dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadilah kita dituntut untuk memahami arti kehidupan dan mengambil hikmah atas semua yang terjadi. Bukankah di setiap kejadian itu terselubung hikmah. Dan bahkan pepatah China mengatakan: “Jika Anda tidak pernah bertikai dengan orang lain, Anda tidak akan mengenal satu sama lain.”34)

Dengan demikian, sesungguhnya terjadinya konflik dalam kehidupan bermasyarakat itu hal yang wajar terjadi. Konflik ini sudah semestinya menjadi pembelajaran penting untuk menjalin kehidupan yang damai satu sama lain. Dan, tentu saja bukan konflik yang akibat fatalnya menghilangkan banyak nyawa tak bersalah dan berbagai kerusakan. So, say no to kekerasan, yang berdampak kerugian fisik maupun nyawa, lebih-lebih yang mengatasnamakan agama! Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 22 Oktober 2014

END NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com), Jum’at, 24 Oktober 2014, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Aktivis Triple Ing Community (Triping.com), Aktivis Pondok Baca Qi Falah, dan Siswi Kelas XII IPA SMA Qothrotul Falah.
1)    Jalaludin As-Suyuthi, Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an (Depok: Gema Insani, 2009), h. 380.
2)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 919.
3)    http://www.Islamlib.com/?site=1&aid=611&cat=content&title=wawancara
4)    Irfan Abubakar dan Chaider S. Bamualim, Modul Resolusi Konflik Agama & Etnis di Indonesia (Ciputat: PBB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2006), h. 35.
5)    Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), h. 368.
6)    http://teguhtimur.com/2006/06/30/ apa- yang - dimaksud - dengan – islam - radikal/
7)    Moh. Asror Yusuf, “Tiga Agenda Utama Kerjasama Islam-Kristen: Menengok Pemikiran Badiuzzaman Said Nursi (1876-1960)”, dalam Tashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan, Edisi No. 13 Tahun 2002, h. 136.
8)    Mujiburrahman, “Menakar Fenomena Fundamentalisme Islam”, dalam Tashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan, Edisi No. 13 Tahun 2002, h. 90.
9)    Solehudin A. Aziz, “Review Peran Media Merajut Integrasi Sosial: Studi Kasus Kalimantan dan Podo”, dalam Ade Armando, dkk., Media dan Integrasi Sosial (Jakarta: CSRC, 2011), h. 91.
10)    Irfan Abubakar dan Chaider S. Bamualim, Modul Resolusi Konflik Agama & Etnis di Indonesia, h. 18.
11)    http://www.crsc.or.id/berita-154-memotret-pemahaman-islam-radikal.html
12)    Irfan Abubakar dan Chaider S. Bamualim, Modul Resolusi Konflik Agama & Etnis di Indonesia, h. 21
13)    http://www.crsc.or.id/berita-154-memotret-pemahaman-islam-radikal.html
14)    Said Aqiel Siradj, Islam Kebangsaan: Fiqih Demokratik Kaum Santri (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999), h. 137.
15)    Muhammad Alfan Alfian M, “Dialog Masa Depan Islam-Barat Pasca Peristiwa 911”, dalam Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi (Jakarta: Spectrum, 2006), h. 215.
16)    Hanum Salsabila Rais, dkk, Berjalan di Atas Cahaya (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014), h. 84.
17)    http://www.islamlib.com/?site=1&aid=611&cat=content&title=wawancara.
18)    Iyan Fitriyana, Agama & Negara (Jakarta: Qalam Media Pustaka, 2013), h. 183.
19)    Moh. Asror Yusuf, “Tiga Agenda Utama Kerjasama Islam-Kristen: Menengok Pemikiran Badiuzzaman Said Nursi (1876-1960)”, h. 126.
20)    Trisno S. Sutanto, “Menyelamatkan Agama”, dalam Tashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan, Edisi No. 13 Tahun 2002, h. 139.
21)    Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita (Jakarta: The Wahid Institute, 2006), h. 341.
22)    Karen Armstrong, Berperang Demi Tuhan (Jakarta: Serambi, 2001), h. 385.
23)    Qs. al-Mumtahanah [60]: 8.
24)    Hasyim Muzadi, “Islam Moderat”, dalam Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi (Jakarta: Spectrum, 2006), h. 124.
25)    http://Teguhtimur.com/2006/06/30/apa-yang-dimaksud-dengan-islam-radikal/.
26)    http://Teguhtimur.com/2006/06/30/apa-yang-dimaksud-dengan-islam-radikal/.
27)    Hasyim Muzadi, “Islam Moderat”, h. 126.
28)    Abdurrahman Wahid, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, h. 309.
29)    Hasyim Muzadi, “Islam Moderat”, h. 125.
30)    Rumadi, dkk., Agama dan Kontestasi Ruang Publik: Islamisme, Konflik dan Demokrasi (Jakarta: The Wahid Institute, 2011), h. 230.
31)    Rumadi, dkk., Islamisme, Konflik dan Demokrasi, h. 230.
32)    Said Aqiel Siradj, Islam Kebangsaan: Fiqih Demokratik Kaum Santri, h. 182.
33)    Said Aqiel Siradj, Islam Kebangsaan: Fiqih Femokratik Kaum Santri, h. 204.
34)    Irfan Abubakar dan Chaider S. Bamualim, Modul Resolusi Konflik Agama & Etnis di Indonesia, h. 17.

DAFTAR PUSTAKA

1.    Abubakar, Irfan. Dan Chaider S. Bamualim. Modul Resolusi Konflik Agama & Etnis di Indonesia. Ciputat: PBB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2006.
2.    Alfian M, Muhammad Alfan. “Dialog Masa Depan Islam-Barat Pasca Peristiwa 911”. Dalam Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi. Jakarta: Spectrum, 2006.
3.    Armstrong, Karen. Berperang Demi Tuhan. Jakarta: Serambi, 2001.
4.    As-Suyuthi, Jalaludin. Sebab Turunnya Ayat al-Qur’an. Depok: Gema Insani, 2009.
5.    Aziz, Solehudin A. “Review Peran Media Merajut Integrasi Sosial: Studi Kasus Kalimantan dan Podo”. Dalam Ade Armando, dkk. Media dan Integrasi Sosial. Jakarta: CSRC, 2011.
6.    Fitriyana, Iyan. Agama & Negara. Jakarta: Qalam Media Pustaka, 2013.
7.    Mujiburrahman. “Menakar Fenomena Fundamentalisme Islam”. Dalam Tashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan. Edisi No. 13 Tahun 2002.
8.    Muzadi, Hasyim. “Islam Moderat”. Dalam Terorisme di Tengah Arus Global Demokrasi. Jakarta: Spectrum, 2006.
9.    Qs. al-Mumtahanah [60]: 8.
10.    Rais, Hanum Salsabila. Dkk. Berjalan di Atas Cahaya. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014.
11.    Rumadi. Dkk. Agama dan Kontestasi Ruang Publik: Islamisme, Konflik dan Demokrasi. Jakarta: The Wahid Institute, 2011.
12.    Siradj, Said Aqiel. Islam Kebangsaan: Fiqih Demokratik Kaum Santri. Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999.
13.    Sutanto, Trisno S. “Menyelamatkan Agama”. Dalam Tashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan. Edisi No. 13 Tahun 2002.
14.    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
15.    Wahid, Abdurrahman. Islamku, Islam Anda, Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute, 2006.
16.   Yusuf, Moh. Asror. “Tiga Agenda Utama Kerjasama Islam-Kristen: Menengok Pemikiran Badiuzzaman Said Nursi (1876-1960)”. Dalam Tashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran Keagamaan dan Kebudayaan. Edisi No. 13 Tahun 2002.
17.    http://Teguhtimur.com/2006/06/30/apa-yang-dimaksud-dengan-islam-radikal/.
18.    http://www.crsc.or.id/berita-154-memotret-pemahaman-islam-radikal.html
19.    http://www.Islamlib.com/?site=1&aid=611&cat=content&title=wawancara