Siapa Bilang Santri Nggak Toleran?

KHUSUS di Indonesia, yuk coba deh kita simak perjalanan Buya Hamka dengan KH. Abdul Wahid Hasyim. Beliau-beliau ini adalah tokoh panutan Islam. Yang satu dari Muhammadiyah dan yang satu dari Nahdhatul Ulama (NU). Nah, suatu ketika keduanya ketemu dalam satu lokasi. Keluhuran ilmu yang disertai ketinggian akhlak kedua tokoh ini mesti kita follow. Saat Buya Hamka jadi imam shalat subuh, ia melakukan qunut buat ngehormatin sahabatnya yang dari NU, KH. Abdul Wahid Hasyim. Dan sebaliknya, saat KH. Abdul Wahid Hasyim jadi imam, ia nggak pakai qunut, semata-mata buat ngehormatin sahabatnya yang dari Muhammadiyah, Buya Hamka.1)

Ok, kira-kira hikmah apa yang bisa kita ambil dari cerita singkat tadi? Sip! Pastinya kita bisa ambil pelajaran soal gimana kita ngehormatin dan ngehargain perbedaan di sekeliling kita. Udah ngerasa ngelakuin hal itu belum? Jawabannya pasti ada yang udah ngelakonin dan ada juga yang belum mudeng dengan hal itu, sampai akhirnya terjadilah yang namanya konflik karena nggak bisa nerima ikhtilaf (perbedaan). Padahal yang namanya perbedaan, sampai hari kiamat juga nggak akan musnah. Wong semua itu sudah menjadi bagian dari kehidupan ini, kan? Perbedaan manusia satu sama lain dalam potensi, bahasa, serta warna kulit, itu nunjukin kemahakuasaan Allah Swt dalam menciptakan manusia.2) Keberagaman itulah yang bikin dunia ini begitu berwarna. Bukannya Rasulullah Saw mengatakan: “Ikhtilaf ummati rahmah/perbedaan di tengah umatku adalah rahmat”.3)

Kita juga mesti inget, perbedaan itu keniscayaan dalam kehidupan yang nggak bisa dihindari oleh manusia.4) Mau ngumpet dari perbedaan? Ya nggak mungkin bisalah! Bisa dibilang, andaikata mau lari ke kanan, kiri, belakang, depan pun, pasti ketemu yang namanya perbedaan. Tergantung gimana kita menyikapinya. Dan penting juga nih kita telaah apa yang dikatakan oleh Samuel Davies. Katanya: “Intoleransi selalu dikutuk pada setiap masa dan di setiap tempat”.5)

Ada yang nggak tau intoleransi itu apa? Ok, intoleransi itu kalau di pelajaran Bahasa Indonesia disebut sebagai antonim oder lawan katanya toleransi. Bisa kita pahami, orang yang intoleran adalah orang yang nggak toleransi. Ungkapan Samuel Davies tadi bisa jadi gambaran setiap manusia. Kalau kita nggak bisa toleran, kita nggak mungkin bisa diterima dan berinteraksi baik dengan setiap orang yang different diantara kita whenever and wherever it.

Tau Nggak Sih, Toleransi Itu Apa?
Kalau kita tengok kata tolerance dalam An English-Indonesian Dictionary, ia mempunyai arti sabar dan lapang dada. And then, kata sifatnya itu tolerant yang berarti sikap toleran atau sabar terhadap sesuatu.6) Nggak jauh beda juga dengan pendapat Abdul Malik Salman dalam buku al-Tasamuh Tijah al-Aqaliyyat Ka Dururatin li al-Nahdhah. Kata tolerance sendiri berasal dari Bahasa Latin tolerare yang berarti berusaha untuk tetap bertahan hidup, tinggal atau berinteraksi, dengan sesuatu yang sebenarnya nggak disukai.7)

Di zaman sekarang, kita ini hidup dengan kebutuhan yang tinggi akan persaudaraan. Bener nggak? Dalam hidup ini, kita selalu butuh tolong-menolong, kerjasama dalam hal positif, dan tentu saja ini nggak cuma antar sesama muslim atau satu ras, suku, dan satu hal yang sama lainnya, tapi juga dengan umat manusia secara umum, whatever  latar belakangnya. al-Qur’an udah dengan gamblang ngejelasin: “Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan ) kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu  kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. (Qs. al-Maidah [5]: 2. M. Quraish Shihab, dalam Tafsir al-Misbah ngejelasin, Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan, yakni segala bentuk dan macam hal yang membawa kemaslahatan duniawi dan atau ukhrawi. Dan demikian juga tolong-menolonglah dalam ketakwaan, yakni segala upaya yang dapat menghindarkan bencana dunia dan atau ukhrawi, walaupun dengan orang-orang yang tidak seiman dengan kamu.8)

Ada nggak diantara kita ini yang nggak butuh pertolongan orang lain? Dijamin 100% nggak ada satupun manusia yang bisa ngejalanin hidupnya seorang diri tanpa bantuan orang lain. Kalau udah begini, tentu penting banget buat kita menjaga, menghargai, dan menyayangi setiap manusia di sekeliling kita. Nggak usah liat dari mana asalnya atau agamanya terlebih dulu, karena sebenarnya kita ini semua sama, kita semua bersaudara dan berkeluarga. Rasulullah Saw bilang: “Semua makhluk adalah keluarga Allah. Makhluk Allah yang paling disayangi Allah adalah yang berbuat baik kepada keluarga-Nya.” (H.R. al-Baihaqi dari Anas bin Malik).9) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga bilang: “Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”10) Apalagi buat umat Islam, hal ini merupakan unsur dari kesempurnaan iman seorang muslim, sebagaimana Hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik. Ia berkata, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.11)

Toleransinya Santri
Kalau ngedenger kata santri, pasti fikiran kita langsung melayang ke sebuah tempat yang disebut pesantren. Ya, karena santri itu orang yang lagi nyantri di pesantren. Kebanyakan orang berfikir, pesantren itu tempat yang nge-boring-in, santrinya katro, ketinggalan zaman, peraturannya super ketat. Wis pokoknya pesantren itu kolot. Makanya banyak yang ngesinisin para santri dan pesantrennya. Tentu saja semua itu nggak bener. Pesantren itu tempat yang paling baik lho untuk pertumbuhan intelektualitas dan karakter keberagamaan kita.

Eitt, ada hal yang menarik lho! Misalnya, pesantren itu jadi tempat pembelajaran bagaimana santrinya bisa hidup toleran. Coba kita bayangin! Di pesantren tentu terdapat banyak keanekaragaman. Ada santri yang datang dari Aceh, Lampung, Sumatera, Banten, dan daerah lainnya. Sukunya beragam juga. Juga kebudayaannya. Itu menandakan beberapa perbedaan budaya berkumpul di pesantren. Selain itu, dari sekian ratus bahkan sekian ribu santri, tentu punya berbagai macam sifat, karakter dan warna kulit. But, bukan itu yang jadi intinya. Yang harus kita sadari yaitu bagaimana santri bisa hidup rukun di pesantren dengan berbagai perbedaan latar belakang itu. Dan bakalan repot deh, kalau di pesantren masih egois karena nggak mau bertoleran dengan semua orang di pesantren yang nota bene-nya berasal dari suku, budaya dan latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu, santri nggak pernah ngeliat dari mana ia berasal, kaya atau miskin, kulitnya putih atau hitam. Kalau udah jadi santri, satu pesantren, yo wis semuanya sama. Semuanya adalah keluarga. Nggak ada yang ngebeda-bedain antar satu dan yang lainnya. Mungkin semua itu terlihat sederhana. Tapi dari hal kecil inilah muncul jiwa toleran dalam diri santri. Se-nggak-nggak- nya udah nggak kaget dan bisa nerima perbedaan di sekitarnya.

Guru-guru di pesantren nggak pernah bosennya ngasih wejangan buat santri-santrinya agar bisa saling kerja-sama, menumbuhkan kasih sayang untuk sesama teman, adik kelas, kakak kelas, dan yang lainnya supaya saling mengenal satu dan lainnya. Pengajaran di pesantren juga banyak membahas hal ini. Baik dalam pengajian kitab kuning, sejarah Islam ataupun yang lainnya. Dalam pengajian Qs. al-Hujarat ayat 13, Allah SWT berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu”.

Selain pemahaman dari ayat-ayat al-Qur’an, terkadang nih, para santri sering ngedengerin lagu-lagu Islami yang mengandung pesan baik buat santri. Contohnya lagu nasyid miliknya Tazakka:

Allah Maha Pengasih ... dan Penyayang
Dijadikan-Nya manusia di dunia
Bersuku-suku dan berbangsa-bangsa
Agar kita saling mengenal satu dan lainnya

Nah, sama nggah isinya dengan apa yang ada dalam ayat al-Qur’an tadi? Isinya menjelaskan hal yang sama dengan Qs. al-Hujarat: 13. Sip! Barusan itu penggalan lirik lagu nasyid. Judulnya “Kemesraan”. Tapi kemesraan di sini tentu nggak buat orang pacaran atau suami istri. Yang dimaksud itu kemesraan kepada sesama, kepada seluruh manusia di dunia ini, dengan latar belakang yang berbeda.

Dan nggak cuma sampe situ lho toleransinya santri. Seiring zaman sekarang semakin modern, ternyata santri juga nggak seperti bayangan sebagian orang yang bilang santri itu katro atau kuno. Banyak kok buktinya kalau santri juga ngikutin perkembangan zaman yang positif. Kalau hobi buka-buka Mbah Google atau Youtube, di sana bisa diliat tuh hasil karya-karya santri baik berupa poto, artikel atau film dokumenter bertemakan antikekerasan, antiradikalisme dan petingnya toleransi. Beberapa pesantren yang bisa dijadikan sample, seperti santri dari Pondok Pesantren Qothrotul Falah Lebak banten, Pondok Pesantren As-Shiddiqiyyah Jakarta, Pondok Pesantren al-Muayyad Solo Jawa Tengah, Pondok Pesantren Sabilus Salam dan banyak lagi. Mereka bikin poto, film, dll, yang menyuarakan penghormatan pada perbedaan. Ini bukti kalau santri juga toleran, bahkan semangat banget menyuarakan perdamaian. Malah santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah bekerja sama dengan Search for Common Ground (SFCG) Jakarta punya kerjasama menyelenggarakan program Peace Leader untuk menebarkan kedamaian di kalangan remaja. Ini, seperti dikatakan Syarif Usman Yahya,  karena Islam yang damai harus diwujudkan dalam pikiran dan tindakan. Kita mesti berani berfikir buat perdamaian, juga berani buat bertindak damai. Kita perlu nyuarain dan nyebarin pikiran-pikiran kita.12)

Ketika Santri Say No to Kekerasan
Allah SWT berfirman: “Innama al-mu’minun ikhwah/Sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara”. (Qs. al-Hujurat ayat 10). Dari ayat ini, kita bisa ambil kesimpulan bahwa semua umat Islam di seluruh pelosok dunia itu bersaudara. Nggak semestinya saling mencibir, menghina, menyakiti, apalagi sampai membunuh. Dan Allah Swt juga nggak suka adanya permusuhan. Musuh satu itu banyak. Kawan seribu itu sedikit. Karena Islam itu agama penuh kedamaian yang menebar kasih sayang di muka bumi.13) Islam nggak pernah ngajarin terorisme. Kalau Islam dibilang penuh ajaran kekerasan atau teror, itu nggak ada dasarnya dan cuma misunderstanding.

Pemikiran yang oke buat hal ini, bahwa perbedaan adalah rahmat. Kalau kata Gus Dur sih, “Berbeda itu asyik”.14) Setuju nggak? Umat Islam nggak seharusnya cepat meradang cuma gara-gara ada orang yang berbeda agama. Wong Islam nggak pernah ngelarang apalagi ngehukum kita buat bergaul sama siapapun, non muslim, atau yang nggak punya agama sekalipun. Aasif Mandvi juga pernah bilang: “Menurutku, Islam telah dibajak oleh pemikiran bahwa semua muslim adalah teroris, Islam agama tentang kebencian, dan agama perang. Jihad, menurutku, pemikiran itu membajak spiritualitas dan keindahan yang ada di dalam Islam. Biarkan Islam terlihat dalam konteks dan secara utuh dan dinilai dari Islam yang sesungguhnya, bukan seperti yang kalian pikirkan”.15) Islam yang sesungguhnya adalah keselamatan dan kedamaian.

Jihad di masa kini udah bukan lagi harus dengan kekerasan, tapi jihad yang pas itu jihad dalam memberantas kebodohan. Semangat dalam belajar, baik ilmu agama maupun dunia. Dan justru pesantren jadi bukti real dari proses  akulturasi yang damai antar ajaran Islam dengan budaya setempat. Karena pesantren ngejalanin misi qur’ani. Berjihad nggak dalam bentuk kekerasan fisik, tapi jihad intelektual yang dikenal dengan istilah ijtihad.16)

Impian Perdamaian Santri
Muhammad Ali bilang: “Aku percaya agama Islam. Aku percaya Allah dan perdamaian”.17) Ya, perdamaian dan perdamaian. Rasanya bakalan adem ayem dan harmonis dunia ini. Nggak bakalan ada lagi teror-meneror. Nggak ada lagi suara ledakan bom. Nggak ada lagi jeritan-jeritan tangis karena pertumpahan darah. Tentu dong, itu semua harus diawali dengan sikap jujur, saling ngehormati, dan nggak ada lagi konflik atas perbedaan agama, bahasa, suku, ataupun budaya.

“Aku percaya pada manusia dan bahwa semua orang harus dihormati, apapun warna kulit mereka”. Kalimat inilah yang diungkapkan oleh Malcom X.18) Ini seirama dengan apa yang terdapat dalam kaidah ke-21 dalam buku The Great Wisdom from The Great Thinkers: “Kita semua diciptakan dalam citranya-Nya, namun kita masing-masing diciptakan berbeda dan satu-satunya. Tidak dua orang yang sama. Jika Tuhan menginginkan setiap orang sama, Ia akan membuatnya begitu. Karena itu, tidak menghormati perbedaan dan memaksakan gagasan pada orang lain setara tidak menghormati skema suci Tuhan”.19)

Yuk, kita nikmatin dan syukuri apa yang udah Allah Swt ciptakan dan apa yang udah Allah Swt suratkan. Mendingan kita tingkatin tali persaudaraan dan kerjasama diantara kita. Juga kita pupuk cinta kasih antar sesama. Hanum Salsabiela Rais aja bilang: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa. Pancarkan Islam. Tebarkan Islam. Sinarkan kedamaian”.20) Karena Allah Swt suka hamba yang berkasih sayang. Dan apa yang dikatakan oleh mereka, sejatinya sudah dicerminkan para santri sejak dini. So, siapa bilang, santri nggak toleran? Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 30 Oktober 2014

End Notes
*)Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com), Jum’at, 7 November 2014, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**)Aktivis Triple Ing Community (Triping.com), Aktivis Peace Leader Qothrotl Falah, Penyiar Radio Qi FM 107.70 dan Siswi Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah.
1)    http://www.iaic.ac.id/memilih-bahasa-cinta-ketika-berbeda
2)    Murni Djamal, Kesetaraan Hak-hak Non-Muslim dalam Perspektif al-Qur’an dan Hadis (Ciputat: PPB UIN, 2004), h. 6.
3)    Syarif Usman Yahya, Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan (Cirebon: Fahmina Institute, 2008), h. 35.
4)    Eka Saputra, dkk., Islam Rahmat Seluruh Umat (Jakarta: Lazuardi Biru, 2012), h. 19.
5)    Qitori, The Great Wisdom from The Great Thinkers (Depok: Edelweiss, 2013), h. 202.
6)    John M. Echols dan Hassan Shadily, An English-Indonesian Dictionary (Kamus Inggris Indonesia), (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003), h. 595.
7)    Abdul Malik Salman, al-Tasamuh Tijah al-‘Aqaliyyat Ka Daruratin li al-Nahdhah (Kairo: The International Institute Of Islamic Thought, T.Th.), h. 2.
8)    M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), III/13.
9)    http://ikromulmuslimin.blogspot.com/2009/09/semua-makhluk-adalah-keluarga-allah.html
10)    http://nasional.kompas.com/read/2009/12/30/22035589/pesan.gus.dur.berbuat.baik.apa.pun.suku.dan.agamamu dan http://filsafat.kompasiana.com/2013/04/07/apa-agamamu-tuhan-548648.html
11)    Yahya bin Syaraf al-Din al-Nawawi, al-Arbain al-Nawawiyyah (Surabaya: Maktabah Ahmad bin Sa’d Nabhan wa Awladih, T.Th.), h. 48. Hadis No. 13.
12)    Syarif Usman Yahya, Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan, h. xvi.
13)    Eka Saputra, dkk., Islam Rahmat Seluruh Umat, h. 1.
14)    Baca deh buku berjudul Gus Dur: Berbeda Itu Asyik, karya Iip D. Yahya (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2004).  
15)    Qitori, The Great Wisdom from The Great Thinkers, h. 210.
16)    http://www.baeritasatu.com/mobile/blog/nasional-international/1303-pesantren-dan-kekerasan.html.
17)    Qitori, The Great Wisdom from The Great Thinkers, h. 26.
18)    Qitori, The Great Wisdom from The Great Thinkers, h. 49.
19)    Qitori, The Great Wisdom from The Great Thinkers, h. 253.
20)    Hanum Salsabia Rais dan Rangga Almahendra, Bulan Terbelah di Langit Amerika (Jakarta: PT Gramedia Pustaka utama, 2014), h. 335.

Daftar Pustaka
1.    al-Qur’an dan Terjemahnya
2.    Djamal, Murni. Kesetaraan Hak-hak Non-Muslim dalam Perspektif al-Qur’an dan Hadis. Ciputat: PPB UIN, 2004.
3.    Echols, John M. Dan Hassan Shadily. An English-Indonesian Dictionary (Kamus Inggris Indonesia). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2003.
4.    al-Nawawi, Yahya bin Syaraf al-Din. al-Arbain al-Nawawiyyah. Surabaya: Maktabah Ahmad bin Sa’d Nabhan wa Awladih, T.Th.
5.    Qitori. The Great Wisdom from The Great Thinkers. Depok: Edelweiss, 2013.
6.    Rais, Hanum Salsabia. Dan Rangga Almahendra. Bulan Terbelah di Langit Amerika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2014.
7.    Salman, Abdul Malik. al-Tasamuh Tijah al-‘Aqaliyyat Ka Daruratin li al-Nahdhah.  Kairo: The International Institute of Islamic Thought, T.Th.
8.    Saputra, Eka. Dkk. Islam Rahmat Seluruh Umat. Jakarta: Lazuardi Biru, 2012.
9.    Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah.  Ciputat: Lentera Hati, 2002.
10.    Yahya, Syarif Usman. Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan. Cirebon: Fahmina Institute, 2008.
11.    http://www.baeritasatu.com/mobile/blog/nasional-international/1303-pesantren-dan-kekerasan.html.
12.    http://www.iaic.ac.id/memilih-bahasa-cinta-ketika-berbeda
13.    http://nasional.kompas.com/read/2009/12/30/22035589/pesan.gus.dur.berbuat.baik.apa.pun.suku.dan.agamamu
14.    http://filsafat.kompasiana.com/2013/04/07/apa-agamamu-tuhan-548648.html
15.    http://ikromulmuslimin.blogspot.com/2009/09/semua-makhluk-adalah-keluarga-allah.html