Perbedaan Umat Menjadi Rahmat

Diceritakan, seorang ulama sufi besar Abu Bakar As-Syibly (w. 334 H), konon beliau hadir dalam mimpi sahabatnya. Dalam mimpi itu, As-Syibly yang dijuluki majnun atau Si Gila ditanya perihal hidupnya setelah meninggal. Ia lantas menuturkan dialognya dengan Allah Swt.   

“Wahai Abu Bakar As-Syibly! Tahukah engkau atas dasar apa Aku mengampuni dosa- dosamu”? tanya Allah Swt.

Aku berkata: “Karena kesalehan amalku.”                 

Allah befirman: “Bukan!”                            

Aku berkata: “Karena ketulusan ibadahku.”                 

Allah berfirman: “Bukan!”                             

Aku berkata: “Karena hajiku, puasaku, dan shalatku.”

Allah berfirman: “Bukan!”

Aku berkata: “Karena hijrahku bersama orang-orang saleh dan karena pencarian ilmu yang aku jalani”.

Allah berfirman: “bukan!”

As-Syibly pun gamang. Ia telah berusaha menjawab atas dasar apa Allah mengampuninya. Namun segala amalan terbaik yang telah dipersembahkannya ternyata tidak menyebabkanya diampuni. Dalam penasarannya, ia menghiba untuk mendapatkan jawaban dari-Nya.     

“Tuhanku lantas karena apa?” tanya As-Syibly, tak mengerti.

“Ingatlah engkau, tatkala berjalan di tengah pedusunan desa, tepatnya di Bagdad, engkau mendapati seekor kucing kecil (hirroh shaghirah) yang lemah karena kedinginan. Kemudian engkau mengambilnya karena merasa kasihan dan meletakkannya di kantong karena kasih sayangmu dan melindunginya,” kata-Nya.

Aku berkata: “Benar, aku ingat!”

Lalu Allah berfirman: “Karena kasih sayangmu kepada kucing itulah, Aku merahmatimu”.1)

Kisah di atas yang sangat menggetarkan iman ini tercantum dalam Kitab Syarh Nashaih al-Ibad karya Muhammad Nawawi Umar al-Jawi (lebih populer dengan Syekh Nawawi Banten). Dari cerita tersebut kita bisa memahami, bahwa kita sebagai umat manusia tidak semestinya hanya peduli dan perhatian pada manusia, apalagi hanya seagama. Semua makhluk Allah harus kita sayangi. Kita tidak boleh memandang latar belakangnya; baik agama, status sosial, suku, ras, tumbuhan maupun hewan. Islam sendiri memandang kelebihan manusia bukan terletak pada sisi lahiriahnya, melainkan hati, ketakwaan dan perilakunya.

Selain itu, cerita ini juga sejalan dengan sabda Nabi Muhammad yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal dalam karyanya Musnad Ahmad bin Hambal. Beliau bersabda: “Orang-orang yang menyayangi akan disayangi oleh Tuhan Yang Maha Penyayang. Sayangilah penduduk bumi, maka kalian akan disayangi penduduk langit”.2) Dalam Hadis tersebut, terdapat lafal irhamu yang menunjukkan kata perintah (amr). Perintah itu kita harus laksanakan. Jika tidak, berarti berdosa. Kata irhamu ini ditujukan kepada makhluk yang di bumi. Bukan hanya manusia, akan tetapi semua makhluk hidup. Nah dari sekarang, yuk kita sayangi semua ciptaan Allah, seperti kita menyayangi kekasih kita. Karena kalau kita udah saling menyayangi, berarti kita udah dicap sebagai umat Muhammad yang sebenarnya. Mau gak? Karena misi Nabi Muhammad ini diutus bukan untuk membawa rahmat aja, melainkan juga untuk menjadi rahmat.3)

Makna Rahmat                 
Kita udah sering ngedenger kata rahmat, bukan? Karenanya, kita sering berdoa kepada Allah untuk dapetin rahmat. Nah, teman-teman dah tau belum apa itu rahmat? Kata rahmat, bentuk masdar dari akar kata rahima  yarhamu rahman rahmatan, yang artinya menaruh kasihan atau menyayangi. Dalam Ensiklopedi Islam, yang disusun oleh Azyumardi Azra dan kawan kawannya, rahmat ialah karunia Allah berupa kenikmatan rezeki, kebahagiaan hidup dan ketentraman yang diberikan kepada manusia selama hidupnya di dunia dan akhirat. Dalam al-Qur’an, banyak kata rahmat dalam berbagai kontek dan makna, terutama berkaitan dengan kebaikan Allah kepada manusia. Menurutnya juga, kata rahmat pada dasarnya memiliki dua pengertian, yaitu al-riqah (kasih sayang) dan al-ihsan (kebajikan). Rahmat berarti kasih sayang yang menuntut kebajikan terhadap yang dikasihi.4)

Kata rahmat, yang digunakan dalam ucapan salam dan jawabannya, assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh mengandung pengertian al- ihsan, karena kalimat tersebut mengandung suatu permohonan, agar Allah memberikan keselamatan dan kedamaian.5) Jadi, dalam pengertian tersebut berarti Allah memberikan rahmat dan kasih sayangnya meliputi segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi khususnya pada kita yang di bumi. Sebagai umat manusia, baik Islam maupun non-Islam kita harus menerapkan sifat Allah, yaitu Allah bersifat al-Rahman. Karena itu, kita sebagai umat Islam harus berdamai dan berbuat baik kepada umat yang lain walaupun kita berbeda agama.

Banyak orang yang memahami bahwa perbedaan itu hanya menimbulkan konflik saja. Namun di makalah ini, saya akan menerangkan bahwa di balik konflik itu ada sebuah rahmat. Diibaratkan, ada beberapa alat musik yang berbeda-beda. Misalnya marawis yang identiknya dengan musik Islam dan gitar yang identiknya dengan musik ke Barat-baratan. Apabila kita mainkan secara bersama-sama, maka kedengarannya itu bagus sekali.

Menurut M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah, rahmat Allah akan diberikan kepada seluruh umat manusia yang berbuat baik. Dalam Qs. al-A’raf: 56, yang artinya: “Sesungguhnya Rahmat Allah itu dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”6) Nah, maka dari itu kita harus berbuat baik kepada sesama makhluk Allah agar kehidupan yang ada di alam raya ini menjadi harmonis, serasi, dan tidak ada lagi yang namanya keributan. Jika kita berbuat baik, itu tidak ada ruginya, melainkan banyak manfaatnya. Toh kebaikan itu untuk kita dan kembalinya kepada kita sendiri kan?

Berbuat baik juga jangan pilah-pilah. Kepada siapa saja itu boleh, baik muslim maupun non-muslim atau kepada tumbuhan maupun hewan, karena rahmat Allah itu ada pada saat kita berbuat baik. Contohnya aja banyak loh. Salah satunya seorang pelacur yang berbuat baik kepada anjing, yang menurut agama Islam haram, itu dikasih rahmat. Subhanallah, maha suci Allah yang memberikan rahmat-Nya kepada kita. Mungkin kalau kita bayangin, itu tidak sejalan dengan pikiran kita. Masak pelacur dikasih rahmat gara-gara anjing? Meskipun begitu, kita jangan su’udzan kepada Allah. Na’udzubillah. Tetapi di balik itu pasti ada sebab kenapa Allah memberikan rahmat-Nya. Hanya saja kita tidak tau atau tidak ngerti. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kalian tidak ketahui” (Qs. al-Baqarah: 30). Sebab itu, mari kita berlomba-lomba untuk mendapatkan rahmat Allah, karena rahmat-Nya sangat luas seluas lautan. Kita berusaha dimulai dari hal yang terkecil. Apalagi kalau yang besar, misalnya ngehargain temen, tolong-menolong, dll.                            

Kenapa Ya, Rasul Diutus untuk Menjadi Rahmat?                      
Kita pasti sering bertanya, kenapa sih Rasul diutus untuk jadi rahmat? Ada yang tau gak bro? Allah Swt berfirman: “Dan tidaklah Kami mengutusmu Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (Qs. al-Anbiya: 107). Menurut M. Quraish Shihab, ayat ini ngejelasin tentang kenabian. Dan nama suratnya pun al-Anbiya yang menguraikan kisah dan keistimewaan enam belas orang diantara mereka, yang diakhiri dengan keistimewaan Nabi Isa AS dan ibunya. Sangat wajar pula bila keistimewaan nabi terakhir, Nabi Muhammad Saw. Dikemukakan juga nih, bahwa Nabi Muhammad Saw adalah salah satu yang mendapatkan rahmat dalam menyampaikan ajaran-ajaran yang diterapkan. Ayat ini juga singkat. Hanya lima kata dari dua puluh lima huruf, tapi mengandung makna yang sangat luas. Ayat ini menyebut empat hal pokok; 1) Rasul/utusan Allah dalam hal ini Nabi Muhammad Saw; 2) Yang mengutus beliau dalam hal ini Allah; 3) Yang diutus kepada mereka (al-‘alamin); serta 4) Risalah, yang kesemuanya mengisyaratkan sifat-sifatnya, yakni rahmat yang sifatnya sangat besar, sebagaimana dipahami dari bentuk nakirah/indifinite dari kata tersebut.7)

Nah sobat, sebetulnya juga sebelum Nabi Muhammad diutus, udah banyak di Arab bermacam-macam agama, yaitu paganisme, Kristen, Yahudi dan Majusi. Jika kita telusuri sobat, masyarakat Arab sebenarnya udah tau agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim semenjak dulu. Bekas-bekas agama Nabi itu masih tersisa ketika Islam dikenalin pada masyarakat Arab. Lihat dalam Qs. al-Hajj: 78. Allah Swt berfirman: “Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutillah) agama orang tuamu Ibrahim”.                        

Tapi sobat, pada saat datang Amr bin Luhayy, ia membuat beberapa syubuhat (penyimpangan) yang mengakibatkan rusaknya keyakinan bangsa Arab. Sesat dan menyesatkan, begitulah ajaran yang disampaikan Amr, meskipun tidak sampai keseluruhan. Na’udzubillah. Eiitt, tapi jangan khawatir dong, karena pada saat Rasul diutus, ia membawa misi meluruskan norma-norma yang tidak sesuai dengan agama hanifiyyah (agama tauhid yang dicondongi) dan tetap melestarikan budaya-budaya masyarakat Arab yang masih sejalan dengan nilai-nilai Islam.8)

Nah, jadi  nih, ada hal hal yang menarik lagi loh. Selain Rasul membawa rahmat, tapi Rasul juga mengemban misi-Nya. Selalu mengedepankan akhlak al-karimah. Bahkan ia sendiri yang menegaskannya; “Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Yo wis, yuk dari sekarang kita contoh akhlak Rasulullah. Misalnya Rasul selalu sabar dan menghargai atau menjaga betul perasaan masyarakat Arab dengan menjaga tradisi-tradisi walaupun tidak sesuai dengan masyarakat Islam. Wah, kalau zaman sekarang gak sabar, pasti rusuh atau asal ngebom aja. Waduh gimana ceritanya tuh? Wah, ini dia saya percaya, pasti kalian tidak mengamalkan Hadis Rasulullah yang artinya: “Iman yang paling utama ialah sabar dan toleransi.” (H.R. ad-Dailami). Dari sekarang, mumpung belum terlambat, yuk kita perbaiki iman kita, dan toleransi atau pun kesabaran kita. Rasulullah juga sangat menganjurkan umatnya untuk saling mencintai saudaranya, karena kasih-mengasihi adalah bagian dari keimanan. Yuk kita simak Hadis berikut yang saya ambil dari kitab Lubab al-Hadits, yang artinya: “Tidak beriman salah saorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”.9)        

Sebagai umat manusia, pasti kita membutuhkan bantuan orang lain, baik dengan menolong maupun menyayanginya. Bener nggak? Nah, jika kita membantu dengan cara menolong atau menyayangi, maka kita juga akan dibantu Allah sebagaimana diterangin dalam kitab Risalah al-Mu’awanah yang berbunyi: “Barang siapa yang membantu hajat saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dan Allah menolong hamba, selama hamba itu menolong saudaranya.”10) Karena bagaimanapun, kita adalah makhluk sosial yang tidak hidup individual. Tidak mungkin hidup sendirian dan pasti membutuhkan bantuan orang lain.

Gimana Sih Cara Nyikapin Perbedaan?
Di dunia ini kebanyakan orang seringkali merasa terganggu dengan orang lain yang berbeda,11) baik bahasa, negara, etnik, suku, jenis kelamin, pandangan hidup, agama, kelompok, golongan dan partai politik. Bahkan ada yang lebih miris lagi loh. Banyak orang yang justru terancam dengan adanya perbedaan-perbedaan itu. Orang lain yang dianggap berbeda dicurigai akan menguasai, memaksa dan merebut. Tidak sedikit yang menjadikan idelogi bahwa orang lain adalah musuh, sehingga harus proaktif merebut atau menguasai sebelum justru nanti akan direbut dan dikuasai. Kecurigaan ini yang menjadi awal dari segala jenis kekerasan, bahkan peperangan. Mungkin aja ada yang benar dari kecurigaan mereka, tetapi harus dilakukan dengan bentuk aturan-aturan relasi sosial yang transparan dan adil. Jika tidak, maka konflik ini tidak akan terselesaikan, sehingga kita akan hancur dan bangsa Indonesia yang besar ini, yang beragam etnik agama dan tradisi, akan hancur. Na’udzubillah.12)

Nah, mulai detik ini, yuk kita tanamkan jiwa ukhuwah kita karena Allah berfirman: “Sesungguhnya orang mu’min itu bersaudara.” (Qs. al-Hujurat: 10). San semua orang itu pastinya berbeda dari mulai fisiknya, maupun batinnya. Tetapi Allah membedakan dari sisi ketakwaannya. Ditegaskan dalam Qs. Hujurat: 13, Allah Swt berfirman: “Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan; dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa, dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesunggunya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Dalam tafsir monumentalnya, al-Razi menjelaskan, bahwa Allah memberikan redaksi khalaknakum dan ja’alnakum untuk menjelaskan bahwa segala macam di muka bumi ini semata-mata atas anugerah dan ciptaan-Nya. Ini memberikan pesan yang mendalam bahwa tidak sepantasnya orang yang diberi kelebihan tertentu meremehkan yang lain, karena pada hakikatnya kelebihan tersebut semata-mata hanya berkat pemberian-Nya.13) Ayat di atas juga ngejelasin bahwa kita udah dari sononya diciptakan berbeda untuk saling mengenal, karena kalau kita udah kenalan, maka akan timbul kasih sayang. Ada yang mengatakan, tak kenal, maka tak sayang. SoaL perbedaan ini tidak akan terhapuskan. Walaupun kita paksakan untuk melakukan penyeragaman, pasti sia-sia karena kalau persamaan itu udah terselesaikan, maka akan timbul perbedaan yang lain. Sekali lagi bahwa perbedaan ini adalah kekayaan yang tidak ternilai. Nah yang punya kewajiban ini adalah orang Islam sebelum orang lain dari komponen luar.

Misal, apa yang terjadi di Poso, ini karena adanya kekuatan-kekuatan luar, baik dari Islam maupun Kristen yang memaksa tradisi konflik mereka kepada orang-orang pribumi Poso, sehingga sengaja saya membuat makalah ini dengan tema perbedaan umat menjadi rahmat dan ini harus dicamkan oleh semua pihak agar setiap perbedaan tidak dibawa kepada konflik; dan tidak ada lagi permusuhan atau peperangan. Ini dimanfaatkan untuk kepentingan sesaat yang mencederai prinsip kemanusiaan dan keislaman.14)

Islam Agama Rahmat Semesta
Ya sobat, udah tau belum, bahwa Islam itu agama yang rahmat loh. Nah, yuk kita simak bareng-bareng. Tau nggak sih, Islam itu agama yang memproklamasikan dan mengamalkan rahmat bagi alam semesta. But, bumi dan seisinya tidak diciptakan untuk orang Islam saja, melainkan Allah menciptakannya untuk kepentingan semua makhluk yang ada di bumi, di dalam, dan di atas bumi. Islam ataupun non-Islam, hewan, tumbuhan. Tentunya kita sebagai makhluk sosial pasti terlibat untuk saling membantu, walaupun berbeda agama selama itu baik buat kita, karena Imam al-Ghazali  mengatakan: “Berbuat baik terhadap manusia adalah dengan tidak memaksakan mereka menuruti kehendakmu, bahkan harusnya kamu yang mengikuti arus mereka sepanjang tidak menyalahi aturan.”15)

Nah, kita sebagai umat muslim harus tau dong, bahwa membantu  terhadap sesama ikhwan (kaum muslimin) itu diharuskan dan ada tingkatannya juga loh sesuai yang dijelasin oleh Imam al-Ghazali ada tiga tingkatan; yaitu: 1. Yang paling rendah adalah membantu kebaikan saudaranya dengan kelebihan hartanya. 2. Tingkat menengah adalah memberikan sebagian pangkat yang ada pada diri kita dengan jalan melepaskan  separuh hartanya. 3. Lebih mementingkan saudaranya daripada dirinya sendiri  dengan jalan memberikan segala apa yang diperlukan saudaranya dari hartanya sendiri. Dan yang lebih tinggi derajatnya ialah ash-shadiqin dan ini pulalah yang diamalkan oleh para sahabat Nabi Muhammad Saw, yakni sahabat Anshar dan Muhajirin dalam kehidupan mereka.16) Allah juga ngejelasin di dalam firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (Qs. al-Hujurat: 10).

Ok, deh bro. Mau nggak dapet rahmat? Kalau mau, berdamai dong dan tingkatin takwa kita kepada Allah Swt. Kalo udah gitu akan timbul rasa kasih sayang yang sebenarnya dan perasaan ikhlas sejati. Bro, tau nggak sih, pintu surga itu dibukakan setiap dua hari dalam seminggu. Nah, pada saat pintu surga dibukain terdapat ampunan, karunia dan keselamatan. But, ada orang yang dilarang oleh Allah untuk dapat masuk ke surga. Siapakah orang itu? Mari kita simak Hadis qudsi di bawah ini!

Abu Hurairah menceritakan, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Setiap hari Senin dan Kamis, pintu surga dibuka. (Ketika itu) Allah mengampuni setiap orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kecuali orang yang bermusuhan dengan sudaranya. Allah berfirman kepada malaikat; jangan kalian hiraukan mereka berdua (wahai para malaikat), kecuali mereka berdamai.”17) Hadis ini ngejelasin supaya sebab-sebab yang nimbulin perpecahan dan kelemahan kaum muslimin terhindari. Dan Hadis ini juga nganjurin hidup damai dan rukun.     

Hikmah Rahmat atau Kasih Sayang
Rasulullah Saw bersabda: “Tidak akan masuk surga, kecuali orang yang penyayang.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulallah, bukankah kami ini penyayang?” Beliau menjawab: “Bukanlah orang penyayang itu, orang yang mencintai dirinya secara khusus (istimewa), tetapi orang penyayang ialah orang yang menyayangi diri sendiri dan yang lainnya.18) Kasih sayang itu indah, loh, karena dengan kasih sayang semuanya akan tentram dan Nabi Muhammad sendiri juga sangat menyayangi semua makhluk hidup, baik yang beragama islam maupun non-Islam. Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, maka dia tidak akan disayangi dan barang siapa yang tidak mau mengampuni, maka dia tidak akan diampuni.”

Wah, kalau kita udah saling menyayangi, gimana dong cara menyambungnya? Yaitu dengan cara silaturahim. Silaturahim mempunyai dua kata, yaitu silatu (menyambung) dan rahim (kasih sayang). Konon kasih sayang itu dapat membawa berkah, loh, dalam umur dan juga mendorong kita sukses di dunia dan akhirat. Abdurahman menceritakan, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Allah Swt berfirman: Aku adalah Yang Maha Penyayang. Aku ciptakan kasih sayang. Telah Ku petik untuk persaudaraan dan nama-Ku kepada orang yang menghubungkan kasih sayang (silaturahim) dan Aku akan memutuskan rahmat kepada orang yang memutuskan silaturahim.”

Ok teman-teman, mari kita berlomba-lomba untuk mendapat rahmat Allah dengan cara apa aja, termasuk dengan cara saling menghargai perbedaan dan menghormati keragaman. Makalah ini saya tutup dengan ngucapin: al-hamdulilah! Wa Allah a’lam.[]

Cikulur, 20 November 2014

END NOTES

*)Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com), Jum’at, 21 November 2014, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**)Aktivis Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com) dan Siswa Kelas XI IPA SMA Qothrotul Falah.
1)    Muhammad Nawawi Umar al-Jawi, Syarh Nashaih al-Ibad (Surabaya: Indonesia Darul Kitab al-Islami, T.Th.), h. 8.
2)    Muhammad Nawawi Umar al-Jawi, Syarh Nashaih al-Ibad, h. 3.
3)    M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 133.
4)    Azyumardi Azra, dkk., Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, T.Th.), h. 32.
5)    Azyumardi  Azra, dkk., Ensiklopedi Islam, h. 33.
6)    M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, h. 143.
7)    M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, h. 161.      
8)    M. Subhan, dkk., Tafsir al-Maqashidi (T.Tp.: Purna Siswa MHM,  2013), h. 92.  
9)    Jalal al-Din Abd al-Rahman bin Abu Bakar as-Suyuthi, Lubab al-Hadits (Surabaya: Nurul Huda, T.Th.), h. 13.   
10)    Abdullah bin Alawi al-Haddad, Risalah al-Mu’awanah (Semarang: Pustaka Alawiyah, T.Th.), h. 3.
11)    Perbedaan itu ada yang terjadi karena ras, yang bisa dibedakan dari dua sisi; fenotif (yang tampak luar, seperti berat badan, warna kulit, rambut, mata dll) dan genotif (bersifat genetis, yang tidak bisa diubah oleh apapun). E. Dede Suryaman, dkk., Buku Pendidikan Luar Sekolah Sosiologi (Bandung: Indah Jaya Pratama, 2005), h. 45.
12)    Syarief Utsman Yahya, Islam Pesantren dan Pesan Kemanusiaan (Cirebon: Fahmina Institute: 2008), h. 77.
13)    Azizi Hasbullah, Tafsir al-Maqashidi, h. 115.
14)    Syarif Usman Yahya, Islam Pesantren dan Pesan Kemanusiaan, h. 79.
15)    Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ayyuha al-Walad (Surabaya: al-Haramain, 2005), h .15.
16)    Wawan Susetya, Menyelami Samudra Ilmu Hikmah (Jakarta: Tugu Publisher: 2008), h.70.
17)    Majdi Fath as-Sayyid, Hadis Qudsi untuk Anak-anak (Jakarta: Hikmah, 2005), h. 152.
18)    Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Menyingkap Rahasia Qalbu (Surabaya: Amelia, T.Th.), h. 124.

DAFTAR PUSTAKA

1)    al-Qur’an dan Terjemahnya
2
)    al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Ayyuha al-Walad. Surabaya: al-Haramain, 2005.
3)    al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad. Menyingkap Rahasia Qalbu. Surabaya: Amelia, T.Th.
4)    al-Haddad, Abdullah bin Alawi. Risalah al-Mu’awanah. Semarang: Pustaka Alawiyah, T.Th.
5)    al-Jawi, Muhammad Nawawi Umar. Syarh Nashaih al-‘Ibad.  Surabaya: Indonesia Darul Kitab al-Islami, T.Th.
6)    as-Suyuthi, Jalal al-Din Abd al-Rahman bin Abu Bakar. Lubab al-Hadits.  Surabaya: Nurul Huda, T.Th.    
7)    as-Sayyid, Majdi Fath. Hadis Qudsi untuk Anak-anak. Jakarta: Hikmah, 2005.
8)    Azra, Azyumardi. Dkk. Ensiklopedi Islam. Jakarta: PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, T.Th.
9)    Hasbullah, Azizi. Tafsir al-Maqashidi. Kediri: Purna Siswa MHM, 2013.  
10)    Suryaman, E. Dede, dkk. Buku Pendidikan Luar Sekolah Sosiologi. Bandung: Indah Jaya Pratama, 2005.
11)    Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2002.
12)    Susetya, Wawan. Menyelami Samudra Ilmu Hikmah. Jakarta: Tugu Publisher: 2008.
13)    Yahya, Syarief Utsman. Islam Pesantren dan Pesan Kemanusiaan. Cirebon: Fahmina Institute: 2008.