Yuk Kita Rayakan Perbedaan sebagai Anugerah!

SEORANG LAKI-LAKI yang lagi galau, Andre namanya, termenung di dalam kamarnya dan curhat  sama Tuhan. “Tuhan, mengapa Engkau menciptakan sebuah perbedaan diantara umat manusia? Bukankah Engkau hanya satu? Tuhan, mengapa Engkau menciptakan cinta diantara sebuah perbedaan? Bukankah cinta itu harus menyatu? Tuhan, jika Engkau Maha Tahu, berikan aku petunjuk-Mu!”

Dalam hari-harinya, dia terbayang-bayang dengan kegalauannya itu. Galau karena perbedaan, perbadaan keyakinan yang membuat hubungan Andre dan Asylfa nggak dapet dukungan dari orang tua dan temen-temennya. Andre beragama Islam, sedangkan kekasih hatinya, Asylfa, beragama Nashrani.

Karena Andre nggak tahan dengan tekanan-tekanan yang datang dari orang-orang di sekelilingnya, akhirnya Andre memutuskan untuk menjauh dari pacarnya itu dengan cara menjadi seorang yang dibenci di mata Asylfa. Meskipun hatinya perih waktu dia ngomong kasar ke Asylfa.

Hingga tiba-tiba. “Woi sob, apa kabar? Setiap ngeliat lo, perasaan lo lagi galau melulu nih! Kenapa sih?” suara misterius itu datang!

“Kali ini gue bener-bener bingung mau buat apa. Mustahil masalah gue kali ini ada jalan keluarnya,” dengan nada pesimis Andre jawab.

“Kenapa sih? Lo ada masalah apa lagi kali ini?”

“Kali ini masalah “perbedaan” Om! Kenapa perbedaan itu harus ada?! Gue masih nggak ngerti sampe sekarang!”

“Nak, nak. Masih aja galau, dengerin baik-baik ya! Ada sedih ada senang, ada malam ada siang. Semua di dunia ini diciptakan berbeda!”

“Tapi, kan, dengan adanya perbedaan kita malah dipaksa untuk saling bertentangan, Om! Kenapa nggak semuanya aja sama?!”

“Kalo semuanya sama, hanya ada matahari tanpa bulan, hanya ada siang tanpa malam, apakah indah kehidupan ini? Ingat! Perbedaan itu adalah anugerah.”

Andre hanya bisa terdiam dan termenung. Dan mencoba memahami petuah si Om misterius itu. Akhirnya pikiran Andre terbuka tentang sebuah “perbedaan”.

“Mungkin inilah jawaban Tuhan terhadap do’a gue sebelumnya. Sekarang gue ngerti kenapa Tuhan seakan nggak ngedenger pesan gue saat itu. Mungkin, Dia ingin gue belajar untuk “memilih” yang terbaik dan belajar mencintai tanpa melihat sebuah “perbedaan”.”1)

Dari cerita itu bisa dikatakan, bahwasanya cinta itu tulus, tak memaksa. Jika memang berpisah adalah jalan terbaik untuk dijalani, maka berpisah adalah wujud cinta itu sendiri.2) Dan Allah yang udah nyiptain beragam warna-warni kehidupan ini dengan gagah, kita bisa ngerasain kebahagiaan hidup seperti sekarang ini. Sungguh perbedaan itu anugerah dari Yang Maha Kuasa. Karena itu patut kita syukuri, jaga dan pelihara apa yang udah Allah berikan.3)  

Memaknai Perbedaan dengan Keindahan

Mungkin sebagian orang waktu ngedenger kata beda atau perbedaan, itu ngedengernya risih dan omongan mereka kebanyakan kaya gini nih; “Kok beda, kenapa sih harus berbeda, kan nggak asyik cuma bisanya nimbulin konflik doang”. Dan parahnya, mereka ngartiin perbedaan dengan permasalahan lah, permusuhan lah dan bahkan bencana buat mereka. Padahal, semua itu nggak kaya gitu loh. Coba dong buka mata kita, liat dunia ini yang wajib, bahkan harus kita katakan “woww..., amazing, subhanallah, Allah Maha Besar,” yang dengan kehendak-Nya Allah udah nyiptain dunia ini dengan penuh keanekaragaman dan keindahan.

Coba liat di malam hari ada bulan yang menyinari gelapnya malam. Pagi, siang, sore, ada matahari atau sunset di sore hari yang biasanya ada aja orang yang nebeng eksis, lalu diupload di face book. Nggak ketinggalan juga ada warna-warni di atas langit alias pelangi yang bikin anak kecil seneng ngeliatnya dan nggak ada bosennya deh, karena sangking indahnya dan jarang muncul juga. Pokoknya banyak deh perbedaan-perbedaan di dunia ini yang luar biasa indahnya. Itulah arti sederhana perbedaan.

Sekarang percaya kan perbedaan itu indah?? Apa masih nggak percaya?? Kalo masih kekeh nggak percaya, baca buku dong! Baca buku judulnya Islam, Pesantren dan Kemanusiaaan karyanya KH. Syarief Utsman Yahya misalnya. Di situ dijelasin tuh perbedaan dalam perspektif al-Qur’an; kenyataan dan ciptaan Allah SWT yang nggak mungkin deh bisa dihapus, dihindari, apalagi dihilangin dari kehidupan kita. Sekalipun ada orang pintar yang mau ngehapus perbedaan dengan cara semuanya disamakan (penyeragaman), pasti akan sia-sia. Karena walaupun persamaan itu ditemuin, pasti di dalamnya akan ada perbedaan-perbedaan lain yang belum kita tau.4) Selain itu, buka lagi yuk bukunya Badriyah Fayumi, et. All, yang berjudul Halaqah Islam: Mengkaji Perempuan, HAM, dan Demokrasi, biar kita tambah yakin gitu. Buku itu ngejelasin perbedaan itu sunnatullah, dan karena itu nggak bakal hilang sampe kapanpun, sekalipun sampe hari kiamat.5)

Gimana nih, udah jelas kan dengan indahnya perbedaan? Contoh udah, pengertian juga udah. Ehh.. forget nih, mau mengklarifikasi yang katanya berbeda itu nggak asyik dan cuma nimbulin konflik. Kata siapa? Wong Gus Dur bilang berbeda itu asyik. Nggak percaya?? Baca dong buku karya Iip D. Yahya, yang judulnya Gus Dur: Berbeda Itu Asyik. 6)

Melalui Perbedaan, Kita Saling Mengenal Loh
Siapa yang setuju perbedaan itu penting, bahkan dibutuhkan?? Nah, jawabannyapun pasti berbeda. Kalo yang ngejawab setuju, berarti kalian normal. Kenapa? Yuk kita renungin! Kalo di dunia ini cuma ada satu negara, satu budaya, satu bahasa, satu agama, satu jenis makhluk hidup, satu warna, bahkan kalo cuma ada satu nama (orang, benda, dll), wihhh.... gile apa nggak bingungnya tuh? Kita hidup penuh dengan kesamaan. Kalo kayak gitu, apa yang kita tau, apa yang kita kenal di dunia ini? Allah yang nyiptain perbedaan aja nggak sembarangan nyiptain. Allah punya maksud tertentu. Semua ini dijelasin dalam al-Quran: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu” (Qs. al-Hujurat: 13).

Nah, ayatnya jelas banget kan kalo Allah nyiptain perbedaan itu biiar kita saling kenal. Kalo kalian smart dalam memahami ayat itu, ayat itu nggak lagi tertuju ke orang-orang beriman aja, tapi ke seluruh manusia, friend. Jadi istilahnya nggak pandang bulu lah, mau itu Islam, Kristen, Budha, sama aja.7)

Kalian tau nggak sih, perbedaan itu ada yang alamiah dan ada juga yang non-alamiah? Jadi bukan obat aja ya yang alami, tapi perbedaan juga ada yang alami. Kaya gimana sih perbedaan alamiah dan non-alamiah itu? Perbedaan alamiah itu, perbedaan karena jenis kelamin, warna kulit, bahasa, latar belakang sejarah, identitas, cara dan gaya hidup, agama, dll. Kalo yang non-alamiah itu, karena kekayaan; ada si kaya dan ada si miskin, bisa juga karena kekuasaan; ada penguasa dan ada rakyat yang dikuasai.8) Tapi dengan adanya perbedaan-perbedaan itu, nggak boleh terjadi yang namanya dominasi mayoritas atas minoritas, karena semua manusia di mata Allah itu sama baik yang mayoritas maupun minoritas, baik dalam arti penganut agama seperti Islam, Kristen, Budha dan sebagainya. Harus kita tau juga, kita manusia itu berasal dari nenek dan kakek moyang yang sama.9)

And now, difference is very needed in our live. Apa tuh artinya? Yappss... betul banget, perbedaan sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita. Setuju nggak?? Yakin nggak perbedaan itu dibutuhin?? Kalo yang mau tetep bisa hidup sih pasti ngebutuhin. Tau nggak kenapa?? Yaa, kita baca lagi perbedaan yang non-alamiah. Di situ ada yang namanya si miskin dan si kaya. Kedua perbedaan itu sangat dibutuhin dalam kehidupan kita ini. Kalian inget nggak sih pelajaran sosiologi? Di situ kan kita udah belajar tuh. Kita ini adalah makhluk sosial. Makhluk sosial itu apa sih?? Makhluk sosial makhluk yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Jadi kita tuh nggak bisa hidup sendiri di dunia ini. Kita pasti membutuhkan orang lain,10) untuk bersosialisasi atau berinteraksi satu sama lain.

Dalam bidang profesi, kita juga butuh perbedaan. Kita butuh petani sebagai orang yang udah berjasa menanam padi, sehingga kita bisa makan nasi tanpa kita yang menanam. Nelayan juga orang yang udah berjasa, karenanya kita bisa enak makan ikan laut tanpa kita harus ngambil ke laut. Pemulung pun kita butuhin, karenanya sampah-sampah dijalanan nggak terlalu numpuk. Dokter orang yang berjasa, karenanya kita tau penyakit  yang kita derita dan ngebantuin kita kalo sakit. Guru orang yang sangat berjasa dalam kehidupan kita ini. Dia udah ngasih ilmunya, karenanya kita dikenalin rumus phytagoras, rotasi bumi, posting dan lain-lain. Pokoknya banyak lagi deh yang kita butuhin selain yang tadi itu. Hayoo.... siapa yang nggak butuh perbedaan?? Dijamin deh semuanya butuh perbedaan.

Mengelola Perbedaan Ada Caranya Loh
Hidup berdampingan dengan damai di tengah perbedaan bisa kok. al-Qur’an udah ngasih tau tuh tips dan cara praktis mengelola perbedaan. Kita bisa mengelola perbedaan, tapi nggak ngehilangin perbedaan-perbedaan itu. Inilah caranya yang ditulis oleh Badriyah Fayumi dalam bukunya Halqah Islam.

Pertama, kita ciptakan dan eratkan tali persaudaraan. Perintah Allah ini coba kita lihat dan baca lagi dalam ayat al-Qur’an yang menyebutkan bahwa; “Sesunggunya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Qs. al-Hujurat [49]: 10). Dalam ayat ini ada point penting loh. Tau nggak apa point penting itu?? Yapppss... Betul banget, bagi yang ngejawabnya gini nih. Kita ciptakan kehidupan yang damai friend. Nah, maksud kehidupan damai itu, kita semua harus merasa bersaudara. Kalian tau nggak sih semua manusia di kolong langit ini bersudara, baik persaudaraan dalam seagama, sebangsa maupun persaudaraan dalam sesama manusia? Kalo kita udah ngerasa sodara, kita harus punya tekad yang kuat untuk kita ciptakan kehidupan yang damai.

Kedua, kita nggak boleh mencela, mengolok-olok dan merendahkan orang lain. Kenapa begitu?? Karena perbuatan buruk ini bisa ngerusak kedamaian, ketenteraman, dan harmoni kehidupan masyarakat yang sangat  pluralistik, kayak negara Indonesia kita ini. Hal ini, kita diminta waspada dan hati-hati. Waspada dan hati-hati dalam hal apa?? Kita liat lagi yuk, ayat al-Qur’an lanjutan ayat tadi. “Hai orang-orang beriman, janganlah satu kaum mengolok-olok kaum lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita mengolok-olok wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.” (Qs. al-Hujurat [49]: 11).

Perlu kalian tau nih! Ayat al-Qur’an di atas mengandung isyarat loh, bahwa setiap manusia di bumi ini punya kelebihan dan kelemahan yang berbeda. Kayak perbedaan dalam potensi. Setiap orang pasti punya potensi kan? Dan kita harus sadari setiap potensi orang lain itu. Kenapa?? Agar nggak terjadi tuh yang namanya konflik, permusuhan, perkelahian dan lain sebagainya, yang bisa ngerusak hubungan antar manusia.

Dan ketiga, jauhi dan jangan menebar prasangka, nyari-nyari kesalahan orang dan menggunjing atau ngomongin kesalahan orang lain. Biasanya orang yang hobi ngomongin kesalahan orang lain tuh dialah yang pasti bersalah. Dan orang yang diomongin atau dicap salah belum tentu dia bersalah.11) Tau nggak sih kalian, orang yang suka ngomongin orang tuh sama aja makan bangkai sodaranya sendiri. Iihhhh.... Apa nggak jijik tuh? pastinya kalian ngerasa  jijik kan? Pernyataan ini tuh nggak boongan friend, wong al-Qur’an ngejelasinnya kayak gitu kok. Baca lagi aja terus lanjutan ayat tadi. “Hai orang-orang beriman, jauhilah banyak dugaan, sesungguhnya sebagian dugaan adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain serta jangan sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka kamu telah jijik kepadanya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. al-Hujurat [49]: 12).

Ayat di atas negesin kalo sebagian dugaan adalah dosa, yakni dugaan yang nggak mendasar. Biasanya, dugaan yang nggak mendasar yang mengakibatkan dosa itu adalah dugaan buruk ke orang lain. Lebih baik kita ngehindar dari dugaan dan prasangka buruk deh, supaya hidup kita tenang dan tentram.12)

LDR (Love in Different Religions)
Ngedenger atau baca kata LDR pasti nggak asing lagi di telinga remaja saat ini. Apalagi orang yang setia menunggu seseorang. Wahhhhh,,,,, Pasti ngerti dong. Dan ketika ada buku judulnya LDR pasti antusias pengen baca. Ya nggak? Hehe... Nah kalian sekarang juga lagi baca LDR nih. Eitss... Tapi LDR di sini beda loh. LDR di sini nggak lagi nyeritain sepasang kekasih yang galau karena LDR, patah hati atau diselingkuhin dan yang sejenisnya lah. LDR yang biasa singkatannya “Long Distance Relationship”, yang dalam bahasa Indonesia dimaknai “Panjang Jarak Hubungan” alias hubungan jarak jauh! Kini makalah ini ngartiin LDR dengan Love in Different Religions. Apa tuh artinya?? Betul, dalam bahasa Indonesia, artinya Cinta (dalam) Perbedaan Agama. Berarti kita harus mencintai orang lain yang berbeda agama dengan agama kita donk??? Iya, karena di dunia ini khsusnya di Indonesia ini, kita dianugerahi keragaman agama dan keyakinan.13) Keanekaragaman agama seperti Islam, Kristen, Budha dan sebagainya. Nah keanekaragaman itu ayo kita pahami dengan baik sehingga memunculkan kerukunan, bukannya permusuhan.14)

Kalian tau nggak sih, semua agama ngajarin pentingya hidup damai, dan sebaliknya agama nggak pernah ngajarin umatnya untuk saling membantai satu sama lain?15) LDR di sini juga bukan untuk ngelupain atau ninggalin keyakinan kita masing-masing, melainkan untuk saling menyayangi, mencintai, dan menghargai, entah itu menghargai keyakinan atupun pendapat. Karena sejatinya, Islam, Kristen atau agama yang lainnya mengajarkan pada umatnya untuk saling mencintai sesama manusia tanpa pandang bulu. Agama juga mempromosikan perdamaian dan toleransi. Nggak ketinggalan juga, agama ngelarang kekerasan.16) Kita hidup pastinya ingin ngerasa nyaman dan harmonis dengan yang berbeda dengan kita. Nah, senjata apa untuk membuat hidup kita nyaman?? Yappsss... Jawabannya adalah toleransi alias saling ngehargain satu sama lain. Karena toleransi adalah kemauan nyata untuk hidup berdampingan dengan mereka yang berbeda tanpa ngerasa terancam, dipaksa pindah agama/keyakinan, apalagi mengalami kekerasan.17)

Hal penting yang harus kita ingat adalah jangan sampe kita memaksa orang lain untuk masuk ke dalam agama kita. Karena Allahpun ngejanjiin kepada kita bahwa; “Tidak ada paksaan dalam beragama”. (Qs. al-Baqarah [2]: 256). Harus diakui juga, Islam agama yang bertoleransi, karena Islam hadir untuk “mem-persatu-kan” umat, dan bukan untuk “men-satu-kan” umat.18) Mempersatukan itu konotasinya saling berangkulan kendati dalam perbedaan. Kalo mensatukan, itu menjadikan atau memaksa yang berbeda-beda jadi satu atau sama. Jangan sampe karena perbedaan keyakinan atau pendapat, kita menjadi terpecah belah. Gus Dur pernah bilang; “Yang dilarang dalam Islam itu perpecahan bukan perbedaan pendapat”.19) Katanya juga, Islam itu agama yang ramah, bukan agama yang marah. Karena itu, bukankah perbedaan itu anugerah, sobat? Wa Allah a’lam. []

Cikulur, 25 November 2014

END NOTES

*)Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com), Jum’at, 28 November 2014, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**)Aktivis Triple Ing Community (Triping.Com),  Aktivis Peace Leader Qothrotul Falah, Penyiar Radio Qi FM 107.07, dan Siswi Kelas XII IPS SMA Qothrotul Falah.
1)    Andrean Frank, @Galau Bijak (Jakarta Selatan: PT Wahyu Media, 2013), h. 47-54.
2)    Andrean Frank, @Galau Bijak, h. 47-54.
3)    Edukasi.kompasiana.com/2012/04/04/menikmati-hidup-di-dalam-perbedaan 451777.html.
4)    Syarief Utsman Yahya, Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan (Cirebon: Fatmina Institute, 2008), h. 78.
5)    Badriyah Fayumi, et. all, Halaqah Islam: Mengkaji Perempuan, HAM, dan Demokrasi (Jakarta: Ushul Press, 2004), h. 64.
6)    Baca deh buku karya Iip D. Yahya, Gus Dur: Berbeda Itu Asyik (Yogyakarta: Penerbit Kanisus, 2004).
7)    M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an (Jakarta Pusat: Lentera Hati, 2009), XII/615.
8)    Irfan Abubakar dan Chaider S. Bamualim, Modul Resolusi Konflik Agama dan Etnis di Indonesia (Jakarta: PBB UIN, 2006), h.17.
9)    Murni Djamal, Kesetaraan Hak-Hak Non-Muslim dalam Perspektif al-Qur’an dan Hadits (Ciputat: PBB UIN, 2004), h. 6-7.
10)    Sri Sudarmi dan Waluyo, Galeri Pengetahuan Sosial Terpadu (Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 235.
11)    Badriyah Fayumi, Halaqah Islam: Mengkaji Perempuan, HAM, dan Demokrasi, h. 66-67.
12)    M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, XII/610.
13)    Iyan Fitriyana, Agama dan Negara: Bingkai Lokalitas Praktik Demokrasi (Jakarta Selatan: Qalam Media Pustaka, 2013), h. xvii.
14)    Murni Djamal, Kesetaraan Hak-Hak Non-Muslim dalam Perspektif al-Qur’an dan Hadits, h. 7.
15)    Irfan Abubakar dan Chaider S. Bamualim, Modul Resolusi Konflik Agama dan Etnis di Indonesia, h.17.
16)    Irfan Abubakar dan Chaider S. Bamualim, Modul Resolusi Konflik Agama dan Etnis di Indonesia, h.17.
17)    Iyan Fitriyana, Agama dan Negara: Bingkai Lokalitas Praktik Demokrasi, h. xviii.
18)    Irfan L. Sarhindi, Kun Fayakun Kun La Takun: Menyegarkan Kembali Gagasan Islam (Yoyakarta: PT Bentang Pustaka, 2013), h. 88.
19)    Irfan L. Sarhindi, Kun Fayakun Kun La Takun: Menyegarkan Kembali Gagasan Islam, h. 85.

DAFTAR PUSTAKA

1.   al-Qur’an dan Terjemahnya.
2.    Abubakar, Irfan. Dan Chaider S. Bamualim. Modul Resolusi Konflik Agama dan Etnis di Indonesia. Jakarta: PBB UIN, 2006.
3.    Djamal, Murni. Kesetaraan Hak-Hak Non-Muslim dalam Perspektif al-Qur’an dan Hadits. Ciputat: PBB UIN, 2004.
4.    Fayumi, Badriyah. Halaqah Islam: Mengkaji Perempuan, HAM, dan Demokrasi. Jakarta: Ushul Press, 2004.
5.    Fitriyana, Iyan. Agama dan Negara: Bingkai Lokalitas Praktik Demokrasi. Jakarta Selatan: Qalam Media Pustaka, 2013.
6.    Frank, Andrean. @Galau Bijak. Jakarta Selatan: PT Wahyu Media, 2013.
7.    Sarhindi, Irfan L. Kun Fayakun Kun La Takun: Menyegarkan Kembali Gagasan Islam. Yoyakarta: PT Bentang Pustaka, 2013.
8.    Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta Pusat: Lentera Hati, 2009.
9.    Sudarmi, Sri. Dan Waluyo. Galeri Pengetahuan Sosial Terpadu. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, 2008.
10.    Yahya, Iip D. Gus Dur: Berbeda Itu Asyik. Yogyakarta: Penerbit Kanisus, 2004.
11.    Yahya, Syarief Utsman. Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan. Cirebon: Fahmina Institute, 2008.
12.    Edukasi.kompasiana.com/2012/04/04/menikmati-hidup-di-dalam-perbedaan 451777.html.