Tanpa Karya, Kita Binasa

PENGALAMAN adalah guru terbaik. Kita sepakat pada papatah ini. So, kita tidak pernah lelah mengejar pengalaman sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Bisa lewat bangku sekolah, kobong pesantren, pergaulan remaja, dunia bisnis, jagat politik, dunia lawakan dan sebagainya. Makin kenyang makan pengalaman, kita makin dianggap dewasa dan matang. Yang dewasa dan matang, biasanya dianggap bijaksana. Memang benar, pengalaman akan menjadikan kita bijaksana.

Pengalaman memang penting bagi kehidupan kita. Tapi kalau pengalaman itu hanya dinikmati diri sendiri, tanpa dibagi, maka nilai kesempurnaannya serasa tidak utuh. Bagaimana caranya biar sempurna? Tidak ada jalan lain, kecuali membagi pengalaman itu pada sebanyak-banyak orang. Biar mereka bisa belajar dari pengalaman kita. Biar mereka bisa merenungi pahit-manis perjalanan kekhalifahan kita di muka bumi. Dan, membagi dengan ikhlas pengalaman kita pada siapapun, akan menjadikan hidup ini kian nikmat dan bermakna. Siapa yang tidak setuju?

Nah, siswa-siswi Kelas XII IPA/IPS SMA Qothrotul Falah Angkatan XVI yang tergabung dalam One Breath (konon filosofinya satu jiwa dalam dua badan, seperti ujaran yang bikin istilah, Kiai Chutay DesGraf), melalui buku mungil bertitel Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah, ini sedang ingin berbagi pengalaman itu pada semua orang. Pengalaman yang mereka gali dan dapati di Pondok Pesantren Qothrotul Falah Cikulur Lebak Banten, di bawah asuhan KH. Achmad Syatibi Hambali.

Di buku ini, pengalaman apa saja diceritakan (sekilas, mirip curhatan remaja pada umumnya). Pengalaman sebagai santri, siswa, pengurus perpustakaan, penyiar radio, pengkaji kitab kuning, aktivis Triping.Com, website, dan banyak lagi. Dari 39 penulisnya, pengalaman berbeda-beda mereka tampilkan. Bahkan ada yang menampilkan beberapa pengalaman. Kalau mau tahu isinya, tentu saja wajib punya buku ini. Tidak hanya punya, tapi juga wajib membacanya. Dijamin tidak rugi! Akan banyak pengalaman yang kita dapati; yang bisa kita jadikan modal bagi kehidupan kita ke depan.  

Ada yang bilang; our wisdom comes from our experience and our experience comes from our foolishness. Kebijaksanaan kita datang dari pengalaman dan pengalaman kita datang dari kebodohan. Dari tidak punya pengalaman, lalu punya pengalaman, lantas jadi bijaksana. Inilah proses menjadi matang dan dewasa. Dengan membaca karya kecil ini, insya Allah kita akan punya pengalaman baru dan kita akan menjadi lebih bijaksana menyikapi seluruh persoalan hidup yang kita hadapi.

Yang bikin saya senang dan bangga, baik selaku pribadi, guru, orang tua kedua – salah satu editor buku ini, Uyun Rika Uyuni, menyebutnya demikian di satu status face book-nya – maupun Kepala SMA Qothrotul Falah, kehadiran buku mungil ini menjadi bukti nyata bahwa 39 penulisnya memiliki kesadaran tinggi untuk menuliskan hidupnya. Bukan menulis semata untuk menulis, melainkan menulis untuk menebar pelajaran atau ‘ibrah bagi generasi setelahnya. Mereka juga menyadari, tanpa menuliskan pengalamannya, sisi-sisi kehidupan mereka akan habis ditelan zaman. Mereka tidak akan memiliki sejarah apapun tanpanya. Makanya banyak yang bilang, jika kita ingin dikenang, tulislah perjalanan hidup kita. Setelah itu, bolehlah kita meninggalkan dunia fana ini.

Memang betul, dengan menulis, kita akan hidup sepanjang zaman, kendati tubuh kita hancur lebur terkubur di kolong tanah. Orang bijak berujar, al-khathth yabqa zamanan ba’da shahibih wa katib al-khathth taht al-ardh madfun. Hanya dengan menulis, kita bisa eksis dan terus bermanfaat bagi alam raya ini. Inilah yang dijalani para ulama hebat: Abu Hanifah (w. 150 H), Malik bin Anas (w. 179 H), Muhammad bin Idris al-Syafii (w. 204 H), Ahmad bin Hanbal (w. 241 H), al-Bukhari, Muslim, al-Suyuti, dan banyak lagi. Kalaupun Muhammad Saw tidak menulis, maka ribuan cerdik pandai yang berebut menuliskan kehidupannya.  

Terkait kekurangan buku ini, baik dari sisi untaian kata, kedalaman materi ataupun kerunutan ide, itu bukan persoalan yang perlu dipusingkan. Petiklah hikmah yang bersinar di sana, kendati banyak lubang-lubang kelemahannya. Setidaknya mereka telah mengawali langkah dengan gagah; membuat tradisi baru yang belum ada preseden sebelumnya. Tradisi lama yang baik memang penting dirawat, namun tradisi baru yang lebih baik harus diutamakan. Inilah nilai moral al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdz bi al-jadid al-ashlah. Mereka – entah sadar atau tidak – sejatinya sedang mengembangkan paruh kedua tradisi ini; berwisuda sembari meluncurkan karya. Hal baru yang semoga akan dilanggengkan oleh generasi setelahnya. Buku kecil ini akan menjadi kenang-kenangan hebat bagi mereka.

Dan, sejujurnya, kesadaran inilah yang sungguh membuat saya haru. Tanpa dikomando, mereka sigap dan kompak menuliskan pengalamannya. Yang sudah terbiasa menulis, tentu ini pekerjaan menyenangkan dan mudah saja dijalani. Yang belum terbiasa, ini akan menjadi pekerjaan besar sekaligus langkah besar dalam rangka mendokumentasikan pengalaman hidupnya. Benar belaka, “tanpa karya, kita binasa”. Mereka sedang menjadikan hidupnya langgeng, ketika suatu saat fisiknya berhenti bergerak.

Selamat buat anak-anakku yang hebat; yang telah berhasil menorehkan karya nyata, bukan hanya wacana. Teruslah berkarya, dan teruslah hidup hingga akhir zaman. Untuk Cahyati, Uyun Rika Uyuni dan Anastasya Shofia, kalian sungguh luar biasa. Sebagai editor, kalian tak mengenal lelah. Siang malam kalian bekerja untuk menorehkan sejarah. Semoga saja, saya dan banyak mata yang lain kelak bisa melihat Rumah Kita terpajang elegan di rak-rak toko buku bergengsi, di seluruh negeri ini. Dan, sayapun berharap kelak bisa menyaksikan beberapa diantara kalian benar-benar menjadi penulis yang sesungguhnya. Amin![]

Cikulur, 28 Februari 2015

* Pengantar untuk Buku "Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah" karya siswa-siswi Kelas XII IPA/IPS SMA Qothrotul Falah, diterbitkan Pustaka Qi Falah 2015
** Kepala SMA Qothrotul Falah