Mau Hidup Damai? Yuk Bertoleransi!

Tau gak sih, dulu tuh ada kisah ‘Umar bin al-Khaththab dan ‘Amr bin al-‘Ash. ‘Umar adalah seorang khalifah yang hidupnya sangat sederhana. Beda lagi dengan ‘Amr. Walaupun hanya seorang gubernur, ‘Amr hidupnya melebihi khalifah. ‘Amr tinggal di istana yang sangat megah dan mewah. Suatu saat, ada satu hal yang membuat sang gubernur marah dan rishi. Kira-kira apa ya? Ternyata karena sebuah gubuk kecil milik seorang Yahudi.

Untuk itu, sang gubernur memanggil si Yahudi agar mau ngejual tanahnya, karena di kompleknya akan dibangun masjid. Si Yahudi tetap mempertahankan tanahnya. Bahkan ketika harganya dinaikkan hingga 15 kali lipatpun, ia tetep gak mau ngejual tanahnya. Bagi gubernur, itu hal yang sepele, yang gak akan bisa menghalangi niatnya. Kemudian secara paksa, gubernur merobohkan rumah si Yahudi. Si Yahudi hanya bisa diam, karena dia hanyalah orang kecil yang gak bisa mempertahankan haknya. Ngeliat kondisi rumahnya, si Yahudi hanya diam dan sedih meratapi nasibnya. Rasanya ingin sekali mengadu, tapi nggak tau harus mengadu pada siapa.

Dalam hatinya kemudian terbersit untuk melaporkan kesewenang-wenangan gubernur pada khalifah di Madinah. Dengan perasaan ragu, si Yahudi memberanikan diri pergi ke Madinah. Walaupun harus menempuh perjalanan jauh, ia tetep menjalaninya, hingga akhirnya ia sampai di tempat tujuan dan bertemu sang Khalifah. Awalnya si Yahudi berfikir, Khalifah Islam itu hidup di istana yang mewah dan megah. Eh, ternyata dugaannya salah.  Khalifah hidup sangat sederhana. Pakaiannya sangat sederhana pula. Bahkan ada tambalan di bajunya.

Gak nunggu lama-lama, si Yahudi pun melaporkan permasalahannya dengan detail, termasuk perjuangannya yang tidak mudah membangun rumah. Ngedenger penuturan itu, Khalifah sangat marah dengan kesewenang-wenangan gubernurnya, ‘Amr bin al-‘Ash. Kemudian sang Khalifah memerintahkan si Yahudi untuk ngambil tulang yang ada di sekitar tempat itu. Lah, kok tulang? Kendati si Yahudi ngerasa bingung, ia tetep nurutin perintahnya. Yang lebih bikin penasaran lagi, adalah saat Khalifah membuat garis lurus pada tulang itu dan menyuruh si Yahudi untuk memberikan tulang itu pada ‘Amr.

Ya, walaupun dengan rasa penasaran, maka si Yahudi nurutin perintah sang Khalifah dan bergegas menuju ke istana sang Gubernur. Setelah menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya ia sampai di istana Gubernur dengan sepotong tulang yang dibawanya. Ia langsunng memberikan tulang itu sesuai perintah Khalifah. Eit...eit.... Yang membuat si Yahudi lebih penasaran lagi, setelah melihat tulang itu, sang Gubernur terlihat ketakutan, bahkan mukanya merah padam segala lho. Kira-kira kenapa ya? Kedati belum menyampaikan sepatah katapun, si Yahudi ngelihat Gubernur langsung merobohkan masjid yang baru dibangunnya itu. Si Yahudi mencoba menahannya dan menanyakan hal tersebut.

“Maafkan Tuan Gubernur! Mohon jelaskan kepada saya perihal perkara ini dan apa keistimewaan tulang tersebut?” tanyanya. “Tulang itu sebenarnya tulang biasa. Namun karena diberikannya oleh Khalifah, tulang itu sangat berarti. Ketahuilah, tulang itu pemberitauan seberapa tinggi kekuasaan seseorang, ia akan jadi tulang akhirnya. Sementara garis lurus itu artinya kita harus adil dan menghargai sesama, baik itu orang besar maupun orang kecil. Dan bila saya tidak adil, Khalifah tidak segan-segan membunuh saya,” jelas sang Gubernur. Si Yahudi itu kemudian berkata: “Saya rela menyerahkan tanah dan gubuk saya.” Diapun menyatakan dirinya masuk Islam.1)

Nah, dari cerita di atas, kira-kira hikmah apa yang bisa kita petik? Tentunya cerita di atas ngajarin kita gimana kita bisa hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan. Perbedaan yang membuat hati dan pikiran bisa memahami kebesaran Allah. Allah itu Maha Esa, tapi di balik keesaan-Nya itu, muncullah berbagai perbedaan dan keragaman. Tua, muda, kaya, miskin, Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Konghucu, what ever dech. Semuanya sama di sisi Allah. Tak ada yang lebih unggul, kecuali ketaqwaannya (Qs. al-Hujurat: 13). Tak ada yang lebih kuat, kecuali yang kekuatannya mampu melindungi dan mengayomi orang yang lemah, walaupun yang lemah itu berbeda agama. Yaps.. Betul tuch!

Cerita di atas juga ngajarin kita untuk saling ngehargain. Aangan saling mencela, karena siapa tau suatu saat nanti orang yang kita cela adalah orang yang kita butuhkan. Dengan yang berbeda saja kita dilarang merendahkan, menghina, memusuhi, atau menyakiti, apalagi dengan sesama muslim. Bener nggak? Biar lebih percaya, coba kita lihat Hadis Nabi Muhammad berikut: “Perumpamaan orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota sakit maka seluruh tubuh ikut sakit.” (H.R. al-Bukhari dan Muslim).2) Nah, kalau ngeliat Hadis ini kita bisa nyimpulin bahwa kehidupan kita di dunia ini bagaikan satu tubuh, yang ngerasain sakit bila saudara kita sakit dan bahagia kalau saudara kita bahagia. Karena Islam itu rahmatan lil ‘alamin (Qs. al-Anbiya’: 107), maka kitapun harus menjadikan saudara-saudara kita baik yang muslim maupun yang non-muslim laksana tubuh kita sendiri.

Manusia Khalifah di Bumi
Kalau ngomong-ngomong soal khalifah, pasti yang terpikir oleh kita adalah para nabi dan rasul. Padahal kata khalifah merupakan bentuk keterangan masdar dari khalf yang diartikan sebagai sesuatu yang menempati bagian belakang. Artinya pengganti atau yang ada sesudahnya. Ketika yang satu hilang diganti oleh yang lainnya. Maka, peran manusia di sini menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya atau sebut saja dalam bahasa kitanya pemimpin.3) So, yang namanya pemimpin bukan hanya para nabi dan rasul, tapi kitapun sebagai manusia adalah pemimpin. Pemimpin diri sendiri dan saudara-saudara kita.

Apa saja sih unsur kekhalifahan? Menurut M. Quraish Shihab, unsur-unsurnya meliputi: 1) Manusia  yang dalam hal ini dinamai khalifah; (2) Alam raya; (3) Hubungan manusia dengan alam dan segala isinya.4) Nah, terpapar jelas, kan, bahwa manusia adalah khalifah di bumi yang punya tanggung jawab merawat alam dan segala isinya, termasuk etika berinteraksi dengan sesama agar terjalin hidup aman dan damai. Karena sebenarnya, sifat Islam itu ramah bukan marah. Bener gak? Yaps, bener banget tuch! Tapi jangan salah loh. Mentang-mentang pemimpin maunya menang sendiri, ngegunain  kekuasaan untuk kepuasan, ngejalanin amanah dalam keburukan. Misalnya, kepepet gak punya uang, pohonpun abis dibabat hanya untuk kepentingan pribadi. Wah, gak bener tuh! Kita kan manusia yang punya jiwa-jiwa toleransi, menempatkan hukum pada tempatnya, karena kita adalah sama-sama makhluk Allah. Langit dan bumi adalah maha karya Allah, kau dan aku adalah hasil ciptaan-Nya, kita semua adalah buah karya-Nya. Dan jika saja kita bisa memahaminya, maka kita akan sadar bahwa kita semua adalah saudara, saudara sesama ciptaan, sesama hasil karya-karya-Nya.5) Nah, pertanyaannya, gimana kita bisa memahami pentingnya persaudaraan? Jawabannya gak musti ribet kok, cukup toleransi aja sih!

Yuk Maknai Toleransi!
Kalau kita tengok arti toleransi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleransi memiliki arti sifat atau sikap toleran antara dua kelompok yang beda kebudayaan dan saling berhubungan dengan penuh.6) Nggak jauh beda juga dengan arti tolerasi dalam buku Jihad Tanpa Kekerasan. Di situ dikatakan bahwa toleransi (Arab: as-samahah) adalah konsep modern untuk mengembangkan sikap saling menghormati, bekerja sama diantara  kelompok masyarakat secara berbeda, baik etnis, bahasa, politik, budaya maupun agama.7) Ya, kiranya pengertian ini cukup nyadarin kita tentang pentingnya arti toleransi. Kita toleran, hidup akan damai. Kita gak toleran, gak ngejamin deh hidup adem ayem seperti halnya orang-orang yang udah ngamalin toleransi. Walaupun pada praktiknya rada-rada sulit, tapi itulah kenyataannya.

Hikmahnya, kalau kita pikir-pikir, kehidupan itu gak lepas dari persaudaraan dan saling ngehargain. Gak bisa dipungkiri bahwa Allah ngasih banyak perbedaan supaya kita saling mengenal (Qs. al-Hujurat: 13). Salah tuh, kalau kita memandang perbedaan itu sebagai sebab munculnya konflik. Walaupun kita beda agama, karakter bahasa dan yang lainnya, gak semestinya kita menghina, menyakiti, apalagi saling membunuh. Perbedaan itu bukan sekat hubungan diantara kita dan peperangan yang tak logis hanya dilakukan oleh orang-orang yang keras hatinya. Padahal ayat al-Qur’an ngejelasin bahwa Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yang serupa mutu ayat-ayatnya, lagi berulang gemetar karenanya kulit orang-orang  yang takut kepada Allah dan kemudian menjadi tenang hati dan kulit orang-orang yang mengingat Allah (Qs. al-Zumar: 23).8)

Ya, kalau ngeliat ayat ini, kita bisa nyimpulin bahwa orang yang lembut hati itu minimal gampang bergetar melihat ayat-ayat Allah. Sebaliknya, orang yang keras hati, minimal sikapnya gak menyenangkan, perangainya cenderung buruk, dan ini nih yang serem. Yang kelak diterima di surga, kan, orang yang hatinya penuh keselamatan, damai dan lembut. Istilahnya itu qalbun salim (Qs. al-Syu’ara: 88).9) Nah, sekarang kalau orang yang hatinya keras, gimana mau diterima di surga? Laah, kalau masalah ini kita gak bisa ngejamin, karena orang yang jelek di mata kita belum tentu jelek di hadapan Allah.

Oke, kembali ke persoalan toleransi. Toleransi nggak cukup tau artinya, tapi harus tau maknanya. Jangan sampai hanya numpang nama. KTP Islam kok gak toleran! Hal ini juga serupa dengan perkataan Guru Besar UIN Jakarta Prof. Dr. Kautsar Azhari Noer, bahwa “isi lebih toleran ketimbang kulit’’. Ajaran yang menekankan isi lebih toleran ketimbang yang mengedepankan kulit atau formalitas saja.10)

Lulu bagaimana seharusnya bertoleransi? Syeikh Salim bin Hilal menyebutkan, bahwa toleransi memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) Kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan; 2) Kelapangan dada karena kebersihan dan ketegasan; 3) Kelemahlembutan karena kemudahan; 4) Muka yang ceria karena kegembiraan; 5) Rendah diri di hadapan kaum muslimin bukan karena kehinaan; 6) Bersungguh-sungguh dalam berdakwah di jalan Allah tanpa basa-basi; 7) Terikat  dan tunduk pada agama Allah tanpa ada rasa keberatan.11)

Main Paksa? No Way!
Ngomong-ngomong main paksa, siapa sih yang mau dipaksa? Dari mulai tukang empe-empe sampe presidenpun pasti gak mau. Kenapa? Karena dipaksa itu gak enak. Bener gak? Yaps, bener sekali. Apalagi dipaksa untuk menganut agama tertentu. Allah Swt berfirman: la Ikraha fi al-din’ (Q.s. al-Baqaroh: 256).  Ayat ini ngejelasin tidak ada paksaan dalam beragama. Paksa artinya mengerjakan sesuatu yang diharuskan walaupun gak ada kerelaan dalam hati. Ini menyebabkan adanya ketidaksenangan hati ketika seseorang ngerjain sesuatu pekerjaan. Padahal Islam itu agama cinta. Dalam cinta terdapat dua unsur rahman dan rahim (kasih sayang), yang dengannya kita bisa saling merangkul tanpa memandang perbedaan yang ada. Yo wisss, aku ya aku, kamu ya kamu, tapi kita tetap saudara. Artinya biarlah kita berjalan di jalannya masing-masing tanpa ngelupain kepentingan bersama. Kenali dulu diri sendiri sebelum mengenali orang lain.

Kira-kira gimana nih caranya? Pertama, maknai syariat. Syariat adalah jalan. Setiap jalan adalah benar menurut pejalannya.13)  Allah udah nyediain jalan bagi setiap masing-masing pejalan. Ada banyak jalan yang bisa kita tempuh, tapi inget loh, jalan itu gak semuanya lurus, tapi banyak luka-likunya. Arah mana yang harus kita tuju tergantung gimana kita bisa memahami rambu-rambu lalu lintas. Begitupun hidup kita. Mau toleran atau nggak, shalat atau main, tergantung gimana kita bisa ngejalanin aturan-aturan Allah dengan sebaik-baiknya.

Kedua, maknai tarekat. Tarekat adalah cara berjalan.14) Ia yang berkendara mempunyai konsekuensi dan resiko, manfaat dan keburukan serta perjalanan dan pengalaman yang berbeda. Yang berkendara sepeda mungkin lebih lambat dibanding yang berkendara motor. Semua tarekat punya seni dan caranya masing-masing, karena itu kita gak boleh ngerasa yang paling bener dan paling baik. Toh yang paling mulia di sisi Allah itu yang bertaqwa, kan? Jadi, positive thinking aja dech. Yakin dengan seyakin-yakinnya semua manusia punya plan-nya masing-masing. Mau masuk surga ada jalannya. Masuk neraka apalagi. Karena hidup itu pilihan (live is choise). Soal apa yang kita kerjain saat ini adalah gambaran hidup kita ke depannya. Jadi gak usah deh kita memaksa orang lain seperti kita atau sebaliknya.

Ketiga, maknai hakikat. Hakikat adalah alamat perjalanan.15) Nah, udah dibahas, kan, bahwa apa yang kita lakuin saat ini nentuin tujuan kita. Saat ini kita gemar menulis, sudah bisa ditebak tuh cita-cita jadi penulisnya. Berarti hakikatnya adalah penulis. Contoh lain, anak-anak yang memakai asesoris seperti pemain bola, pasti apa-apa serba bola, bahkan gayanya pun udah ngikutin idola atau fansnya. Mulai dari celana, baju, model rambut dan yang lainnya. Itu hanya gambaran singkat soal hakikat. Penulis terkenal syariatnya baca, tulis dan diskusi. Jadi pemain bola syariatnya banyak belajar. Dan inget, kita gak bakalan nemuin hakikat sebelum tau syariatnya. Keempat, maknai makrifat. Makrifat adalah tujuan.16) Syaritat adalah jalan, sementara tarekat adalah cara berjalan, hakikat adalah alamat perjalanan dan terakhir adalah makrifat yaitu tujuan.

Sudah dijelasin di atas gambaran umum gimana kita bisa ngenalin diri kita sendiri. Setelah kita bisa ngenalin diri sendiri, barulah kita bisa ngenalin diri kita pada orang lain dengan sikap dan perilaku kita. Bahwa Islam itu damai dan nggak ada unsur paksaan, karena kita adalah cerminan ajaran kita. Dan ketika kita ingin ngajak orang lain dalam hal kebaikan, ajaklah dengan hikmah (al-hikmah), nasihat yang baik (al-mau’idhah al-hasanah), dan berdebat dengan cara yang baik (wa jadilhum bi allati hiya ahsan) (Qs. al-Nahl: 125).17) Nah, kalau kita udah ngajak dengan metode tersebut, tapi tidak ada respon yang baik, maka gugurlah kewajiban kita, karena Islam itu mudah, tapi inget loh, bukan untuk dimudah-mudahkan. Mudah artinya tidak memaksakan kehendak di luar batas kemampuan seseorang. Mampu atau gak mampu, Islam adalah agama yang welcome. Dan di balik ketidakmampuannya itu pasti ada hikmah tersendiri.

Nah, sobat-sobat, inilah jentelmennya jadi orang Islam. Menyeru ke jalan Allah saja musti pake hikmah dan pelajaran yang baik. Bahkan kalau berdebatpun disuruh pake cara yang baik. Main paksa? No way! Coba bayangin, keren gak tuh agama Islam?18)

Seragam Itu Tidak Menarik, Beda Itu Asyik
Kata Gus Dur, berbeda itu asyik.19) Itulah kata yang kiranya sedikit membuat kita berfikir. Seragam itu kurang menarik, kok bisa? Karena kebanyakan orang menginginkan keragaman dalam hidupnya. Tapi apakah gak bosen seandainya hidup itu seragam, tanpa adanya warna-warni? Sulit menerima kenyataan andaikan seluruh manusia berat dan tinggi badannya sama, berpakaian, berbahasa dan berperilaku sama. Andaikan kendaraan semuannya mobil, bisakah kita pergi ke pelosok dengan jalan yang becek dan sempit; dan bisakah kita terbang jauh ke angkasa selayaknya pesawat? Sungguh kurang menarik, bukan?

Beda lagi saat kita ngelihat ke angkasa. Begitu indah warnanya. Ia melenakan mata hati dan jiwa. Jiwa yang mencari arti ketenangan. Subhanallah, begitu indahnya maha karya Allah yang menciptakan berbagai warna dan dikemas dalam satu bentuk yang biasanya orang-orang menyebutnya pelangi. Nah, dari penjelasan ini teman-teman pasti udah tau betapa menariknya perbedaan. Kemudian sangat gak wajar kalau kita masih mempermasalahkan perbedaan-perbedaan yang ada, karena perbedaan itu gak bakalan ada ujungnya dan sudah menjadi sunnatullah.

Lebih jelasnya coba dech baca bukunya Badriyah Fayumi et al yang berjudul Halqah Islam; Mengkaji Perempuan, HAM dan Demokrasi. Di situ dijelasin perbedaan adalah sunnatullah, dan karena itu tidak bisa dihilangkan sampai kapanpun, sekalipun hingga akhir zaman.20) Nah, sudah jelas tuh kiranya perbedaan itu gak akan hilang. Yang penting bagi kita adalah saling ngehargain satu sama lainnya. Seperti yang dikatakan Kang Ayip dalam buku Islam, Pesantren, dan Pesan Kemanusiaan, bahwa pentingnya penghargaan terhadap perbedaan, tanpa harus menafikan pentingnya mencari kesamaan-kesamaan diantara perbedaan.21)

Membuat Password Toleransi
Kalau ngomong-ngomong password, jadi inget sama face book dech. Padahal bukan cuma face book  yang  punya password. Ternyata toleransi juga punya loh. Password adalah kata sandi yang  biasa digunain orang buat buka dokumen ataupun data pribadi. Itu kata sandi yang biasa digunain banyak orang. Tapi password di sini adalah suatu metode supaya kita bisa memahami apa itu toleransi. Kenapa dikatakan password? Karena supaya kita sadar akan pentingnya toleransi. Kita bayangkan saja saat kita lupa kata sandi, bisa gak kita buka face book? Pastinya gak kan? Karena kata sandi itu ibarat kunci. Kalau gak ada kunci, mana bisa kita masuk? Terus kalau gak bias buka face book gimana dong? Kalau bahasa remaja sekarang tuh gegana (gelisah, galau, merana). Waah, parah banget, kan?

Begitupun saat kita gak punya password toleransi, bisa gak kita bertoleransi? Kayaknya gak deh, karena biasanya orang yang gak toleran itu orang yang gak ngerti makna toleransi. Terus kalau gak toleran, apa kata dunia? Tapi mirisnya lagi, orang yang gak bisa face bookan karena lupa kata sandi biasanya banyak galaunya, tapi giliran sadar bahwa dirinya gak toleran, ia biasa aja dan nggak galau. Ampun deh! Sekarang yuk kita pikirkan dan buat kata sandinya.

Pertama, menumbuhkan kepekaan rasa. Kepekaan rasa yang dimaksud di sini adalah sopan-santun dan berinteraksi dengan orang lain yang muncul dari kemampuan meperkirakan nilai sebuah keindahan.22) Nah friend, pasti kalian paham maksud dari pengertian ini kan? Pengertian ini ngejelasin bahwa tutur kata yang baik dan kemampuan memahami orang lain adalah bagian dari kepekaan rasa. Misalnya saat kita ngeliat temen kita lagi melamun, kita harus deketin karena siapa tau teman kita lagi banyak masalah. Kemudian ketika ngeliat seseorang yang beda sama kita, maka kita jangan sampai membanding-bandingkannya. Cukup kita tau saja tentang kekurangan yang dimilikinya. Kepekaan rasa itu timbul dari hati dan jiwa yang jernih, yang terkadang meluluhkan kerasnya hati seseorang.

Tapi kira-kira orang yang seperti apa sih yang harus punya sifat  kepekaan rasa? Kalau mau tau, coba deh baca bukunya Amru Khaled berjudul Muslim Bukan Individualis. Di situ penulis mengirimkan surat tentang kepekaan rasa kepada empat golongan manusia yang terdapat di tengah-tengah komunitas masyarakat. Marilah kita bersiap-siap menerima surat. Sesungguhnya kita tau surat takkan sampai tanpa perangko. Golongan pertama, yang meyakini kepekaan terhadap lingkungan, etika, budi pekerti, norma dan peradaban, merupakan nilai yang muncul dari orang asing. Golongan kedua, yaitu golongan yang terbina dengan etika, norma luhur dan kepekaan rasa yang beranggapan bahwa ajaran Islam sangat bertentangan dengan hal itu. Golongan ketiga, yaitu orang yang beranggapan Islam hanya di dalam masjid. Golongan keempat, yaitu golongan pemuda mutadayyin yang memahami ajaran Islam hanya sebatas ibadah seperti shalat, puasa, dzikir, tasbih, khusu’ dan yang lainnya.23)

Kedua, rasa saling menyayangi. Kenapa sih kita harus saling menyayangi? Sebelum kita menjawabnya, mari kita merenung sejenak, tentang arti dari sebuah kehidupan yang penuh dengan warna-warni cerita. Hidup itu berpasangan. Ada malam, ada siang, ada perempuan ada lelaki, ada kawan dan ada lawan. Semuanya sudah ada yang mengatur, yaitu Allah. Skenario Allah tuh gak akan salah, karena hidup itu pilihan (live is choise). Di setiap pilihan, Allah udah ngasih pertimbangan baik-buruknya. Termasuk yang sedang kita bahas ini, kita harus menyayangi satu sama lainnya apalagi kita ini kan saudara. Saudara kok musuhan? Gak etis banget kan? Padahal pada dasarnya kita itu saudara sebapak seibu. Makanya jangan sampai ada dusta antara kita. Walaupun beda agama, ras, suku, bahasa dan lainnya, tapi pada dasarnya kita tuh makhluk Allah. Islam,  Kristen, Budha, Hindu, semuanya Allah izinkan eksis di muka bumi. Semuanya mengisi kehidupan ini dengan cinta dan berlomba-lomba menyuarakan perdamaian. Perbedaan antara sesama umat akan mendatangkan rahmat bila kita bisa merajut tali persaudaraan dengan jalan damai, bukan dengan mempertentangkan perbedaan. Ada konsep dalam budaya Sumbawa yang penting kita mengerti.

Saling dadu        = saling percaya
Saling tinggi        = saling menghormati
Saling satitang    = saling mengingatkan
Saling sakiki        = saling mengerti dan memperhatikan
Saling beme        = saling bimbing
Saling pendi        = saling mengasihi.23)

Kata ini emang udah gak asing dan udah populer, tapi sayangnya pengamalannya kurang. Maka dari itu, yuk kita berdamai dengan saling menyayangi, saling mempercayai ataupun yang lainnya seperti yang tertera di atas.

Ketiga, berpegang teguh pada agama. Kita tentunya sudah paham, bahwa agama adalah acuan atau dasar-dasar hidup kita. Dan sedih rasanya ketika ngedenger ataupun nyaksiin bom meledak di suatu tempat. Rasanya hati ini sakit, karena orang yang menjadi korban nggak semuanya salah. Ada orang-orang yang tak berdosa turut meregang nyawa atau cidera. Dan pilunya lagi, friend, kadang-kadang bom-bom itu selalu dikaitkan dengan agama, terutama Islam. Emang gak sepenuhnya salah juga sih ketika seseorang berbuat keliru, maka yang dilihat bukan orangnya, tapi dasar-dasar agama yang menjadi pedoman hidupnya. Padahal Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, yang ngajarin gimana hidup yang baik penuh dengan aroma keindahan dan kedamaian. Yang jadi masalah, adalah kurangnya pengamalan dari ajaran tersebut. Akhirnya banyak orang Islam yang mengalami degradasi moral, saling menyakiti, mencaci, ataupun yang lainnya. Padahal jika dijalanin sesuai ketentuan ajaran Islam, banyak manfaat dan hikmahnya. Tapi, kenyataannya gak kan? Malah justru Negara Jepang yang mayoritas penduduknya non-Islam, banyak mengamalkan ajaran Islam. Dikatakan A. Husni Tanra; “Di sanalah (Jepang) nanti kamu akan melihat Islam”.25)

Kata Tanra, kalimat ini ngingetin kita pada ucapan Syeikh Muhammad Abduh yang sangat terkenal, saat ia berada di Kota Paris. Katanya: “Aku menyaksikan nilai-nilai Islam tumbuh di negeri non-muslim, namun aku tidak melihat nilai-nilai Islam di negeri kaum muslim sendiri.” Sebelum menyaksikan sebagian fenomena di sana, lanjut Tanra, dirinya agak skeptis dengan statement tersebut. Apalagi Jepang katanya negara pure secular. Namun seketika saya tersentak dan terkesima ketika menyaksikan sebuah kehidupan di mana orang-orang di dalamnya menjunjung tinggi nilai-nilai kedisiplinan, kebersihan, tanggung-jawab, rasa malu, keramahan, kebersamaan, keamanan publik, ketertiban lalu lintas, kenyamanan lingkungan, kreativitas, kerja keras, kecintaan pada lingkungan alam, seni dan pengetahuan.26) Suatu nilai-nilai yang sesungguhnya didambakan semua manusia dan bersifat Islami yang sesungguhnya di negeri kita sendiri yang nota benenya negeri dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia. Nilai-nilai itu mulai memudar seiring berkembangnya zaman.

Penuturan A. Husni Tanra ini ngingetin kita, khususnya orang Islam, supaya lebih memaknai lagi apa itu Islam. Dari sini lah muncul rasa toleransi dan kebanggaan pada saudara-saudara kita. Karena itu tak salah kalau kita belajar mengelola seni kehidupan ini dari sebuah wilayah yang orang-orangnya berhasil mengisi gelas umur hidupnya sampai ke level optimal. Bukankah kata Ali bin Abi Thalib, “Hikmah merupakan kekayaan yang hilang dari kaum muslimin, maka pungutlah ia dimanapun kau temui’’.27) Nah, kata-kata ini nunjukin bahwa setiap agama dan negara ada kurang dan lebihnya, karena itu satu sama lainnya harus saling melengkapi dan saling menghargai.

Keempat, belajar dari kearifan alam. Semua yang ada di bumi ini mempunyai kearifan masing-masing. Nggak hanya manusia, tapi pohon, matahari, samudra, sampe nyamukpun punya kearifan tersendiri. Kadang kala manusia yang dibekali kelebihan akal, gak bisa nunjukin bahwa dalam dirinya terdapat potensi bahkan sangat-sangat mungkin untuk bersikap arif. Perilaku menebang pohon, merusak terumbu karang, membuang sampah sembarangan adalah bagian dari ketidakpedulian terhadap sesama ciptaan Allah. Padahal kalau kita pikir-pikir, banyak manfaat dari sebuah pohon yang nggak kita sadari. Pohon yang tumbuh tegak dan daunnya yang hijau memberi kesejukan/keteduhan bagi siapa saja yang berada di bawahnya. Siapa yang singgah di bawahnya, pasti akan ngerasain sejuknya udara dengan hembusan angin sepoi-sepoi. Tak memandang pejabat tinggi, staf biasa, majikan, buruh, pelacur, orang alim, bayi, guru, teman, semuanya diayomi tanpa dibeda-bedakan jabatan ataupun golongannya. Begitupun dengan matahari, yang ngajarin kita gimana caranya mencintai tanpa membedakan suku, agama, perbedaan warna kulit, kaya atau miskin, presiden ataupun anak jalanan.

Keduanya itu ngasih banyak pelajaran. Seandainya manusia memiliki jiwa dan sikap hidup berlandaskan pohon, disadari atau nggak, manusia sudah memiliki jiwa pengayom, pemberi kesejukan, kelestarian dan keindahan. Tanpa membeda-bedakan siapa saja yang datang dan minta perlindungan, semuanya diterima, diberi kebaikan, dibantu dengan tulus ikhlas.28) Ya, seandainya semua manusia bersifat demikian, gak kebayang deh hidup akan rukun dan damai, kayak bebek lagi jalan, langkah-demi langkah kakinya membuat orang yang memandangnya iri, terlena dan bangga melihat kekompakannya.

Itulah skenario Allah, nempatin uswah/teladan dari hal-hal kecil seperti bebek, agar kita nggak hanya melihat ke atas tapi sekali-kali perlu kita tengok ke bawah. Dalam bukunya Ngapain Sekolah Tinggi-tinggi Kalau Cuma Beternak Bebek, karangan M. Iqbal, di situ dikutip ayat: “Sesungguhnya pada binatang ternak ada pelajaran bagimu’.’ (Qs. an-Nahl : 66). Nah, sudah jelas, kan, bahwa dalam binatang ternak seperti bebek bisa kita ambil pelajaran,29) karena bebek adalah binatang ternak yang hidup rukun. Maknanya, ia ngajarin kita supaya hidup rukun, toleransi dan selalu dalam rel yang telah ditetapkan. Walaupun bebek itu binatang cuek, tapi itulah sifat bebek. Makanya kita sering denger istilah cuek-cuek bebek.

Nah sahabat, jika kita bisa ngamalin empat poin di atas, insya Allah kita akan lebih menghargai setiap kata yang kita ucapkan, setiap jejak yang kita langkahkan dan setiap amal yang kita lakukan. Diiringi dengan cinta akan menuju solidaritas bersama, menyuarakan perdamaian dan meraih hidup bahagia. Wa Allah a’lam.[]

END NOTES
*) Makalah disampaikan pada Halqah Santri Triple Ing Community (Triping.Com), Jum’at, 28 Februari 2015, di Pondok Baca Qi Falah Cikulur Lebak Banten.
**) Aktivis Triple Ing Community (Triping.Com) dan Siswi Kelas XII IPA SMA Qothrotul Falah.
1)    Agus Susanto, Masuk Surga Tanpa Ibadah (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2012), h. 99.
2)    Irfan L. Sarhindi, Kun Fayakun Kun La Takun (Yogyakarta: PT Benteng Pustaka, 2013), h. 2-3.
3)    Kementerian Agama Republik Indonesia, Pelestarian Lingkungan Hidup (Jakarta: Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, 2012), h. 1.
4)    Kementerian Agama Republik Indonesia, Pelestarian Lingkungan Hidup, h. 2-3.
5)    Fauzan Mukrim, dkk., Seribu Kebaikan Untukmu (Jakarta: Salsabila Pustaka Al-Kautsar, 2013), h. 131.
6)    Tim Balai Pustaka, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), h. 1204.
7)    Mudhopir Abdullah, Jihad Tanpa Kekerasan (Jakarta: Inti Media, 2009), h. 92.
8)    Irfan Hakim, Ngefriend Sama Islam (Bandung: DAAR! MIZAN, 2004), h. 92.
9)    Irfan Hakim, Ngefriend Sama Islam, h. 92.
10)    Nurul H. Maarif, dkk., Ragam Ekspresi Islam Nusantara (Jakarta: The Wahid Institute, 2008), h. 81.
11)    Mudhopir Abdullah, Jihad Tanpa Kekerasan, h. 96.
12)    Mudhopir Abdullah, Jihad Tanpa Kekerasan, h. 92.
13)    Candra Malik, Makrifat Cinta (Bandung: PT Mizan Publika, 2012), h. 136.
14)    Candra Malik, Makrifat Cinta, h.137.
15)    Candra Malik, Makrifat Cinta, h.138.
16)    Candra Malik, Makrifat Cinta, h.139.
17)    Syarief Utsman Yahya, Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan (Cirebon: Fahmina Institute, 2008), h. 29.
18)    Irfan Hakim, Ngefriend sama Islam, h. 111.
19)    Biar lebih jelas, baca aja deh buku karya Iip D. Yahya, Gus Dur, Berbeda Itu Asyik (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2004).
20)    Badriyah Fayumi, et al, Halqah Islam; Mengkaji Perempuan, HAM dan Demokrasi (Jakarta: Ushul Press 2004), h. 64.
21)    Syarief Utsman Yahya, Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaa, h. ix.
22)    Amru Khaled, Muslim Bukan Individualis (Solo: Aqwam, 2003), h. 54.
23)    Amru Khaled, Muslim Bukan Individualis, h. 56-57.
24)    Khamami Zada, dkk., Prakarsa Perdamaian: Pengalaman dari Berbagai Konflik (Jakarta: PP Lakpesdam NU, 2008), h. 88.
25)    Ade Hashman, Rasulullah Tidak Pernah Sakit (Jakarta Selatan: PT Mizan Publika, 2009), h. 243.
26)    Ade Hashman, Rasulullah Tidak Pernah Sakit, h. 243.
27)    Ade Hashman, Rasulullah Tidak Pernah Sakit, h. 242.
28)    Sri Muryanto, Islam Agama Cinta (Surabaya: Gema Gemilang, 2006), h. 212.
29)    M. Iqbal Dawami, Ngapain Sekolah Tinggi-Tinggi Jika Cuma Beternak Bebek?! (Yogyakarta: Diva Press, 2012), h. 222.

DAFTAR PUSTAKA
1)    al-Qur’an dan Terjemahnya
2)    Abdullah, Mudhopir. Jihad Tanpa Kekerasan. Jakarta: Inti Media, 2009.
3)    Dawami, M. Iqbal. Ngapain Sekolah Tinggi-Tinggi Jika Cuma Beternak Bebek?! Yogyakarta: Diva Press, 2012.
4)    Fayumi, Badriyah. Et al. Halqah Islam: Mengkaji Perempuan, HAM dan Demokrasi. Jakarta: Ushul Press 2004.
5)    Hakim, Irfan. Ngefriend Sama Islam. Bandung: DAAR! MIZAN, 2004.
6)    Hashman, Ade. Rasulullah Tidak Pernah Sakit. Jakarta Selatan: PT Mizan Publika, 2009.
7)    Kementerian Agama Republik Indonesia. Pelestarian Lingkungan Hidup. Jakarta: Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, 2012.
8)    Khaled, Amru. Muslim Bukan Individualis. Solo: Aqwam, 2003.
9)    Maarif, Nurul H. Dkk. Ragam Ekspresi Islam Nusantara. Jakarta: The Wahid Institute, 2008.
10)    Malik, Candra. Makrifat Cinta. Bandung: PT Mizan Publika, 2012.
11)    Mukrim, Fauzan. Dkk. Seribu Kebaikan Untukmu. Jakarta: Salsabila Pustaka Al-Kautsar, 2013.
12)    Muryanto, Sri. Islam Agama Cinta. Surabaya: Gema Gemilang, 2006.
13)    Sarhindi, Irfan L. Kun Fayakun Kun La Takun. Yogyakarta: PT Benteng Pustaka, 2013.
14)    Susanto, Agus. Masuk Surga Tanpa Ibadah. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2012.
15)    Tim Balai Pustaka. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2007.
16)    Yahya, Iip D. Gus Dur, Berbeda Itu Asyik. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2004.
17)    Yahya, Syarief Utsman. Islam, Pesantren dan Pesan Kemanusiaan. Cirebon: Fahmina Institute, 2008.
18)    Zada, Khamami. Dkk. Prakarsa Perdamaian: Pengalaman dari Berbagai Konflik. Jakarta: PP Lakpesdam NU, 2008.