Kutemukan Cahaya di Qothrotul Falah

NGGAK pernah menyangka sebelumnya, aku bisa jadi bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Qothrotul Falah (QF). Ya, semuanya tentu sudah menjadi skenario Allah. Dulu kalau lagi bengong nggak jelas dan nggak ada kegiatan, terkadang aku suka mandangin sekeliling pondok sambil senyum-senyum sendiri sampe orang aneh melihatku.

“Kok bisa aku ada di sini? Mau ngapain aku di sini? Apa yang mesti aku dapetin dari sini?”. aku suka bertanya sendiri dalam hati.  

Dari situlah aku mulai semangat belajar di pesantren ini. Banyak banget pengalaman dan pengetahuan yang aku dapat. Kenangan suka dan duka terlukis manis. Dan cerita indah itu dimulai dari sini.

Qi FM 107,7
“Hello sahabat Qi FM! Kembali lagi bersama saya, Frisya. Kita masih di Radio Qi FM 107.7, yang punya moto khas ‘radio komunitas bikin warga jadi cerdas!’”

Frisya itu nama udaraku. Nggak tau dari mana awalnya, aku namain diri jadi Frisya. Aku juga bingung mengingatnya. Tapi lumayan oke juga sih! He..he.. Dulu sebelum masuk QF, bisa dibilang aku orang yang jarang banget dengerin radio. Malah sempet juga nyepelein yang namanya penyiar. Aku fikir kalau cuma ngobrol sana-sini, curhat colongan (curcol), terus muterin lagu, semua orang juga bisa. Tapi setelah aku masuk QF dan menjadi penyiar radio, aku jadi tau dan bisa merasakan menjadi seorang penyiar.

Ternyata jadi penyiar itu nggak semudah yang aku bayangkan. Semua acara yang disiarkan itu terprogram, serta topik-topiknya pun mempunyai tujuan dan sasaran tertentu. Jadi seorang penyiar menuntut aku lebih banyak membaca, supaya nggak kehabisan informasi dan pengetahuan. Beberapa kali aku dan kru radio yang lainnya mengikuti training radio yang diselenggarakan oleh Search for Commond Ground (SFCG) Indonesia. Ya, nggak lain supaya kita bisa menjadi penyiar yang baik. Kita belajar membuat program acara dan bagaimana caranya biar kalau lagi mengudara nggak kayak orang yang perutnya kembung masuk angin. A..eu… eu…eu… nggak jelas. He..he..

Nggak cuma itu. Selama menjadi penyiar, aku juga banyak mendapatkan pengalaman dan teman-teman yang beraneka ragam dari berbagai daerah di Indonesia. Aku termasuk salah satu santri yang terlibat dalam pembuatan film dokumenter santri. al-Hamdulillah, film dokumenter buatan kami yang berjudul Shalawat sudah bisa dilihat di Youtube. Film itu juga sudah diluncurkan dalam acara Festival Film Santri (FFS) di Festival Huis Kedutaan Belanda, Jl. HR Rasuna Said Kav. S-3 Kuningan Jakarta, Jum’at, 21 Juni 2013.

Momen itu menjadi kenangan pertama aku datang ke Kedutaan Belanda. Banyak pengalaman dan teman baru yang aku dapatkan. Aku bersyukur bisa terlibat dalam berbagai kegiatan itu. Karna aku tau, kalau di luaran sana, untuk mendapatkan ilmu serta pengalaman seperti itu tentu harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Tapi al-hamdulillah, aku bisa mendapatkannya dengan gratis. Dan aku bisa buktikan kepada semua orang, ternyata santri itu nggak katro dan ketinggalan zaman seperti yang dibayangkan banyak orang.

Triping.Com
Selain sebagai penyiar radio, di pesantren ini aku juga aktif di Triping.Com. Kalau di daerah perkotaan sana, mungkin triping itu istilah negatif buat ajep-ajep nggak jelas. Tapi beda kalau triping di pesantren ini. Triping adalah singkatan dari Triple Ing Community. Biar lebih ringkas, kita biasa menyingkatnya Triping. Ini adalah halqah santri yang fokus dalam tiga ing, yaitu reading, writing, dan speaking.

Kegiatan mingguan Triping itu membaca, berdiskusi dan membuat makalah sesuai ketentuan yang udah disepakati. Makalah yang dibuat harus berbasis pada referensi/bacaan, bukan hayalan. Dalam pembuatan makalah, kita juga harus memakai foot note/end note/kutipan, memperhatikan titik, koma, dll. Dan tentunya sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Yang lebih menariknya lagi nih, untuk periode ketiga ini, Triping menggunakan bahasa santai ala remaja umumnya dalam penulisan makalah-makalahnya. Berbeda dengan dua periode sebelumnya. Dan al-hamdulillah, bahkan makalah periode pertama telah diterbitkan oleh Pustaka Qi Falah menjadi buku berjudul Renungan Santri: Esai-esai Seputar Problematika Remaja (2014). Insya’a Allah, makalah periode kedua juga akan diterbitkan pada tahun 2015 ini. Mudah-mudahan juga menyusul makalah periode ketiga.

Dari Triping, aku mulai sadar akan pentingnya membaca. Karena kalau harus flashback, jujur aku nggak suka baca buku. Masuk ke perpustakaan pun aku jarang banget. Tapi semenjak Triping menjadi bagian dari hidupku, aku tersadarkan, bahwa tanpa membaca aku nggak akan bisa tau informasi dan pengetahuan. Dan tentu itu akan sangat menghambat kesuksesanku. Karena Triping juga, aku menjadi Pengurus Pondok Baca Qi Falah. Setiap hari ngurusin ribuan buku-buku, dengan judul dan tema yang beragam. Saking senengnya dengan buku, pernah suatu hari aku hampir nangis karena bukan aku yang dapat hadiah buku diantara kawan-kawan Triping yang lain. Oh ya.. Di setiap kegiatan Triping selalu ada pengundian buku. Di situlah kami sering berharap mendapatkannya. Dan sakiiiiiit banget rasanya jika justru orang lain yang memperolehnya. Sakitnya tuh di sini, kalau pakai bahasa Cita Chitata.

Di Triping, kami selalu berusaha memanfaatkan waktu kami dengan sebaik mungkin. Di saat masa-masa liburanpun, sering kami manfaatkan untuk rihlah, atau mengisinya dengan kegiatan yang positif lainnya. Pada Juni 2013 lalu misalnya, ketika dalam masa liburan semester, kami rihlah ke Ciputat dan Jakarta. Tujuan utama kami tadinya hanya mengunjungi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang terkenal itu, untuk mencari pengalaman dan menambah motivasi kami untuk kuliah. Namun nyatanya kami juga berkunjung ke Darus Sunah Institute for Hadits Science yang diasuh oleh Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub (Imam Besar Masjid Istiqlal), PBNU, Gramedia Matraman dan Perpustakaan Nasional. Kami ditemani oleh Ust. Nurul H. Ma’arif sebagai pembina Triping dalam kegiatan rihlah itu. Saat itu Ust. Nurul masih menyelesaikan S3-nya di SPs UIN Jakarta, sehingga sekalian ngurusin kuliahnya.

Pertama kali melihat gedung-gedung UIN Jakarta ketika masih dalam angkot S10, kami langsung merasa bahagia. Tak sabar rasanya kami ingin segera turun dari kendaraan itu untuk melihat-lihat dan merasakan suasana kampus yang tampak megah itu. Seturun dari angkot putih itu, tempat yang pertama kami datangi adalah Masjid Fathullah milik UIN Jakarta. Tepat berada di samping kiri jalan, seberang kampus. Selanjutnya kami menuju ke tempat masing-masing di masjid. Aku dan teman-teman perempuan yang lainnya langsung mencari tempat shalat untuk puteri. Di sana, kami melihat suasana yang sangat nyaman dan membuat kami tenang. Tampak beberapa mahasiswi yang sedang duduk khusyuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang memegang al-Qur’an dan terlihat sedang menghafalnya. Ada yang sedang membaca buku panduan bahasa asing dan mencoba mempraktikan cara bicaranya. Dan masih banyak lagi kegiatan yang mereka jalankan. Melihat suasana seperti itu, aku, Uyun (salah satu editor buku ini), Fitri, dan yang lainnya, berharap suatu saat kami pun bisa seperti itu.

“Nanti mah kita yang akan seperti itu,” kata Uyun memberi semangat kami.

Tanpa kami sadari, ternyata kami sudah cukup lama berada di masjid. Teman kami yang putera sudah mengontek kami untuk segera menuju ke seberang jalan. Mulailah kami menjelajah kampus UIN Jakarta. Dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Ushuludin dan yang lainnya. Kami juga sempat melihat-lihat beberapa tempat yang kami minati. Salah satunya adalah Gedung Teater, dan juga RDK 107.7 FM yang berada di Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi. Aku sebagai penyiar radio tentu sangat antusias mengetahui tempat mengudaranya penyiar mahasiswa/i jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) itu.

Awalnya kami berkeinginan untuk masuk ke perpustkaan utama UIN yang terdiri empat lantai itu. Tapi sayangnya, untuk masuk ke sana kami harus mempunyai kartu keanggotaan perpustakaan. Karena tidak mempunyai kartu, akhirnya kami hanya duduk santai di depan teranya, sambil sesekali selfi. Kalau Perpustakaan Fakultas Ushuluddin, kami sempat masuk dan membaca-baca beberapa buku di sana. Tempatnya sangat nyaman. Bahkan ada wifi-nya sebagai fasilitas mahasiswa dalam mencari info-info terkait materi perkuliahan. Pokoknya banyak hal yang membuat kami jadi semakin bersemangat untuk kuliah di sana. Ketika hendak meninggalkan kampus UIN pun, kami masing-masing berkata dalam hati: “Suatu saat, mudah-mudahan kami bisa kembali lagi ke kampus ini sebagai mahasiswa, bukan sebagai tamu”. Ya, itu harapan dan do’a kami.

Lepas menjelajah kampus UIN, kami melanjutkan perjalanan ke Darus- Sunah. Kebetulan tempatnya tak jauh dari UIN. Sekira satu kilo meter. Kami berjalan kaki ke sana. Sesampai di sana, kami mencoba melihat-lihat gedung-gedung dan juga tempat tinggal santri putera maupun puterinya. Ditemani oleh mahasantri Darus-Sunah, kami diantarkan ke rumah bertingkat salah satu ustadz. Kami pun menginap semalam.

Hari berikutnya, kami melanjutkan rihlah ke Jakarta. Kami ke PBNU, kemudian ke Gramedia Matraman untuk sekedar cuci muka dengan aneka buku yang bikin kami galau. Ya, galau karena kami tak punya cukup uang untuk membeli buku-buku yang sangat menarik itu. Harga-harganya tidak sesuai dengan kantong santri-santri seperti kami. Dan setelah masing-masing mendapatkan buku pilihannya, tentu sesuai bajetnya, kami bergegas menuju Perpustakaan Nasional untuk melihat keanggunan tempat koleksi ratusan ribu buku itu, sekaligus mengurus ISBN buku aktivis Triping yang berjudul Renungan Santri: Esai-esai Seputar Problematika Remaja. Kamipun kembali ke pesantren.

Setahun kemudian, persisnya Rabu, 4 Juni 2014, aku kembali lagi ke UIN Jakarta untuk kedua kalinya. Kali ini bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pembicara di acara bedah buku Renungan Santri yang ISBN-nya diurus saat rihlah itu. Kegiatan ini diadakan oleh Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, di Ruang Taeter. Aku dan Ka Andri Fauzi (sekarang Mahasiswa di IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang) sebagai pembicara mewakili Triping. Ust. Nurul H. Ma’arif (saat itu sudah menjadi doktor) sebagai Pembina Triping, dan juga dua pembedah lainnya, Dr. H. Muhammad Shofin Sugito (doktor lulusan Maroko) dan M. Fadhil Fauzulhaq, Ph.D. (doktor lulusan Rusia).

Menjadi pembicara pada kegiatan Triping di pondok sih sudah bukan hal yang asing bagiku. Tapi menjadi pembicara di hadapan ratusan mahasiswa, di kampus beken, bahkan dihadiri oleh beberapa doktor, ini menjadi pengalaman baru yang tak terlupakan. Sebuah tantangan maha berat bagiku, namun sekaligus sebagai kesempatanku untuk menguji mental dan kemampuan. Al-hamdulillah, semuanya berjalan dengan baik,  kendati rasa deg-degan itu nggak bisa disembunyikan dari dadaku. This is the important experience. Mudah-mudahan, kelak aku lebih sering lagi berbicara di tengah-tengah khalayak yang jauh lebih menantang lagi. Dan aku akan menyipkan semua ini dari sekarang, dengan sebaik-baiknya.

Pokoknya, Triping benar-benar telah membukakan fikiranku untuk terus berkembang maju. Triping juga udah menjadi jalan bagiku dalam memperoleh berbagai pengetahuan, pengalaman, dan teman. Terkadang aku berfikir, kenapa tidak dari dulu aku suka membaca? Mungkin hari ini pengetahuanku sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Namun aku tetap bersyukur atas apa yang terjadi padaku.

Bermula dari Triping juga, aku mulai belajar menulis. Al-hamdulillah satu diantara tulisanku tergabung dalam buku Renungan Santri itu. Dari situ, aku mulai keranjingan menulis. Bahkan aku bikin blog pribadi. Alamatnya www.cahyatish.blogspot.com. Yang lagi jalan-jalan di dunia maya, mampir ya. Di sana aku berupaya menuangkan beberapa pikiranku tentang apa saja. Tulisanku berjudul Kita Beda, Tapi Kita Kompak, bahkan rencananya akan diterbitkan oleh majalah sebuah Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Kebun Jeruk. Mudah-mudah terwujud. Duh senangnya hatiku.   

Semenjak gabung di Triping, aku selalu ingin berlomba mencari sebanyak-banyaknya pengalaman. Apalagi dengan rekan-rekan Triping dan juga Pembina Triping, Dr. Nurul H. Ma’arif, M.A., yang terus memberikan motivasi untuk kami. Ya, pengalaman itu harus terus kita cari. Dengan pengalaman kita bisa menambah pengetahuan, semangat dan juga bisa menjadikan diri kita lebih baik. Pengalaman memang guru terbaik.

Oh ya, ada pengalaman menarik lain yang penting aku kisahkan di sini. Bahkan bisa jadi ini yang paling mengesankan diantara yang mengesankan lainnya. Suatu ketika, aku mendapat telpon dari Asisten Pribadi Candra Malik. Gus Candra, demikian ia biasa disapa, adalah seorang penyair sufi yang cukup terkenal. Selain seorang penyanyi, ia juga seorang penulis. Diantara karyanya yang fenomenal adalah Makrifat Cinta.

Ketika menerima telpon dari asistennya, aku merasa terharu. Aku bahkan menitikkan air mata. Ternyata ia sangat mengapresiasi tulisanku yang berjudul Mendekati Ilahi Melalui Seni, yang dibacanya di internet. Aku memang mengutip beberapa komentarnya, namun aku jelas nggak pernah menyangka, dari sekian ribu bahkan jutaan tulisan di internet, tulisanku termasuk yang menjadi perhatiannya. Dan aku yakin, Allah telah mengatur semuanya. Dari situlah aku mengenal lebih dekat sosok Candra Malik, dan semoga kelak bisa menjadi mitranya. Lewat suratnya untukku via email pribadinya yang dikirim setibanya di Bandung untuk sebuah kegiatan, pada 25 November 2013, ia berpesan: “Menulislah, karena dengan itu engkau akan diabadikan dalam kata-kata dan dilestarikan dengan pendalaman makna-makna”. Hal serupa dikatakan Prof. Ali Mustafa Yaqub; “Jangan kalian mati sebelum menjadi penulis”. Ini menunjukkan menulis itu penting bagi eksistensi kita.

Triping mengajarkanku banyak hal. Mengajarkanku makna kehidupan yang sebenarnya. Bagaimana hidup dengan penuh kearifan dan juga kemanfaatan. Triping menguatkanku dalam setiap langkah kehidupan. Meskipun aku terbelenggu oleh segala keterbatasan, namun Triping selalu memberiku kekuatan dan semangat untuk terus berjalan dan berdiri kuat. Kalau harus berbicara tentang Triping, rasanya banyak hal yang tak mungkin aku ungkapkan di sini, karena banyak sekali yang mengesankan bagiku.

Buat Ust. Nurul H. Ma’arif sebagai pembimbing Triping, terima kasih tak terhingga aku ucapkan atas segala jasa, bimbingan, support, nasehat, motivasi dan kasih sayang yang sudah diberikan kepadaku. Apresiasi yang mendalam juga aku sampaikan buat sahabat-sahabat Triping yang lainnya. Semoga do’a dari semuanya mengantarkanku menuju gerbang kesuksesan. Dan semoga Allah membalas semua kebaikan itu.

Roisatun Nisa
Di pesantren ini, aku juga menjadi Roisatun Nisa atau Ketua Puteri Organisasi Pelajar Pesantren Qothrotul Falah (OPPQ) Periode 2014-2015. Pada 08 Februari 2013, bertepatan dengan hari ulang tahunku, malam itu juga aku dilantik. Aku sadar, ini bukanlah hal yang mudah. Ini amanah yang pesantren berikan kapadaku, yang mesti aku emban dengan baik. Al-hamdulillah, dengan iringan do’a Abi, kami memanggilnya demikian, atau KH. Achmad Syatibi Hambali (Pengasuh Pesantren), seluruh dewan asatidz wal asatidzah dan juga kerja sama sahabat-sahabat  mudabbiroh aku bisa menjalankan itu semua, kendati masih ada kekurangan di sana-sini.

Sebagai Roisatun Nisa, aku belajar banyak hal. Aku jadikan ini sebagai proses pendewasaan diriku. Aku belajar bagaimana ikhlas dalam segala sesuatu yang aku lakukan. Aku belajar bersabar dari setiap hal yang aku alami dan apapun kondisi yang aku jalani. Sebagai ketua, yang namanya cacian, makian, kritikan, cemoohan, dan cobaan tak jarang menghampiri. Tapi semua itu bukanlah penghalang langkahku untuk terus berkhidmat pada pesantren. Aku jadikan semua itu pembelajaran dan proses untuk menyiapkan diri menjadi orang yang berjiwa lapang dan sabar dalam mengahdapi kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya kelak. Aku selalu teringat dengan nasehat Abi; “Kalau kamu ingin sukses, maka kamu harus bisa jadi orang yang legowo”. Nyatanya memang tidak mudah mengurus manusia, namun bukan mustahil.

Terima kasih Qothrotul Falah. Atas jasamu, aku dan sahabat-sahabat pengurus lainnya tak bisa membalas dengan apapun. Aku hanya bisa berupaya semampuku melakukan yang terbaik. Aku selalu berdo’a untuk kejayaan pesantren ini ke depan. Satu hal yang juga selalu aku ingat dari perkataan Abi; “Apa yang kamu bisa lakukan untuk pondok, maka lakukanlah!” Harus jujur aku katakan, karenamu Qothrotul Falah, aku menemukan cahaya.[]

Cikulur, 4 Maret 2015

Moral of the Story:
Sahabat, lakukanlah yang terbaik di setiap kesempatan dan tempat. Dan temukanlah cahaya dari setiap peristiwa yang kita alami, karena hikmah tidak hanya didapat di bangku sekolah. Cahaya justru banyak ditemukan di kampus Allah yang begitu luas.

(Dinukil dari buku “Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah", 2015)

Profil Ayat

Nama        : CAHYATI
Sapaan      : Ayat
TTL           : Serang, 08 Februari 1996
Alamat      : Kp. Cibogo Des. Cilayang RT. 012 RW. 003
Kec. Cikeusal Kab.  Serang Prop. Banten
No. HP.     : 08561788547    
E-Mail       : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya./
Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook  : Cahyati
BB           : -
Twitter     : @cahyati08feb4
Blog         : www.cahyatish.blogspot.com
Hobi         : M3 (menyanyi, membaca dan menulis)
Aktivitas    : Penyiar Radio Qi FM 107.7, Aktivis Triping Community, Dewan Kerja Pramuka, Ketua OPPQ 2014-2015, Pengurus Pondok Baca Qi Falah,   Kru Film Dokumenter Santri, Grup Marawis dan tim www.qothrotulfalah.com
Cita-cita     : Motivator
Motto         : Berkarya, mencari dan terus berbagi
Kesan            : Saat aku dan Kru Film Dokumenter Santri mendapatkan training mengenai perfilman. Aku bisa kenal Mba Endah W. Sulistianti dan juga Mas Yopi Nugraha sebagai trainer kami. Waktu penggarapan film nggak kalah serunya. Sampai-sampai kami harus keluar pondok, menemui beberapa narasumber dan shooting langsung di sawah-sawah, kebun, bahkan jalan kereta api. Banyak kesan tersendiri dan juga hikmah yang kami dapat selama proses itu.
Pesan             : Menulislah!
Karya            : Film Shalawat (2013), buku Renungan Santri: Esai-esai seputar Problematika Remaja (Dkk, 2014).