Aku yang Terpilih

SAAT aku lulus SMP, perasaan bahagia dan bangga kurasakan. Tapi rasa bahagia itu nggak lama datangnya. Kenapa? Karena saat itu, orang tuaku menginginkan aku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Melanjutkannya sih nggak masalah, tapi saat itu orang tuaku ingin aku melanjutkan sekolah ke pondok pesantren. Padahal, mendengar nama pesantren saja aku udah bisa membayangkan nggak enaknya dunia santri itu. Apalagi aku suka ngedenger dari temen-temenku yang di pondok, bahwa di pondok itu nggak enak karena banyaknya aturan-aturan yang harus dilaksanakan dan adanya hukuman-hukuman yang harus dijalani.

Pada 1 Juli 2012, aku dengan terpaksa nurut sama orang tua untuk masuk pondok pesantren. Dalam hati sebenarnya ingin berontak dan karena ajakan temen-temen waktu SMP juga sih untuk masuk ke pondok. Dan kebetulan rumahku deket dengan salah satu pondok pesantren di Banten, yaitu Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Pondok ini tepatnya terletak di Jln. Sampay-Cileles Km 05 Kampung Sarian Desa SumurBandung Kec. Cikulur Kab. Lebak Prop. Banten.

Pada saat aku di pondok pesantren, rasanya nggak betah dan nggak nyaman. Karena bener kata temen-temenku, di pondok itu banyak aturan dan hukuman yang harus aku jalani. Saat-saat seperti itulah aku banyak mengeluh pada kedua orang tua. Aku bener-bener nggak betah, tapi tetap saja orang tuaku nggak menghiraukan keluh kesahku.

Hari demi hari aku lewati, meski dengan keterpurukan akan banyaknya masalah yang datang dan seakan-akan masalah itu tak ada habisnya. Namun meski begitu, aku lewati masalah yang ada dengan senyuman dan kesabaran. Karena sebenarnya, masalah itu datang karena kesalahan yang aku perbuat sendiri.

Setahun kemudian, tepatnya saat aku menginjakkan kaki di Kelas XI SMA, sebenarnya saat itu temen-temenku yang di pondok, lagi berjuang untuk menjadi Calon Bantara (CABA). Aku sendiri nggak ikutan. Aku lebih memilih di rumah dan masih kekeh dengan nafsuku untuk pindah. Dan saat itu, kedua orang tuaku mendengarkan keluh kesah anaknya ini dan pastinya aku ngerasa seneng, karena keinginanku untuk pindah dari pondok sebentar lagi akan terwujud. Aku bisa pindah ke sekolah umum.

Tapi ternyata, setelah orang tuaku datang dari pondok setelah dipanggil pengelola pondok, mereka berkata: “Kamu nggak jadi pindah, karena pondok nggak memberikan surat pindah.” Dengan terpaksa aku balik lagi ke pondok dengan hati yang bimbang dan bingung. Kenapa aku susah banget buat pindah? Padahal banyak temen-temenku yang lain, bisa pindah dengan mudah.

Semenjak itu aku berpikir, mungkin inilah kehendak Allah. Dari situ aku mulai biasa di pondok, walaupun berat untuk dijalani. Tapi karena banyak orang di sekelilingku yang terus memberikan nasehat dan terus memotivasiku, kini aku bisa dengan ikhlas dan bahagia menjalani kehidupanku di pondok. Kebanyakan dari mereka sering berkata: “Orang-orang yang tinggal di pondok pesantren adalah orang-orang pilihan”.

Dengan berjalannya waktu, aku merasa bangga tinggal di pondok pesantren. Banyak temen-temenku yang gugur sebelum waktunya dengan mudah, tapi aku pingin pindah saja susahnya minta ampun. Dan aku yakin ini adalah skenario Allah yang benar-benar indah pada waktunya. Dan mungkin sekarang Allah memilih aku dan sebagian temen-temenku untuk tetap di pondok. Sekarang baru bisa aku rasakan. Ternyata di pondok itu nyaman dan di pondok juga aku bisa mengikuti kegiatan yang belum tentu anak-anak di luaran sana mengikutinya. Di pondok aku diajarkan untuk disiplin dan diajarkan tentang kebaikan-kebaikan. Dan aku nggak bisa ngebayangin, kalau hari ini aku sekolah di luar dengan pergaulan bebas. Thanks to Allah, karena Engkau telah memilih diriku untuk tetap di pondok.

Selama ini aku salah menilai pondok pesantren. Ternyata tinggal di pondok tak semuanya diatur, lagi pula hidup di manapun itu pasti akan ada aturannya. Dan kalau masalah hukuman, sebenarnya hukuman nggak akan ada kalau aku nggak melanggar aturan yang ada. Dan jika kita menjalankan aturan-aturan itu dengan ikhlas, insyaAllah itu akan mengasyikkan dan indah, bisa membantu mewarnai kehidupan kita.

Cikulur, 05 Februari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, apa yang kita inginkan dan anggap baik, belum tentu di mata Allah. Allah lebih tahu mana yang terbaik buat hamba-Nya, karena itu syukurilah apa yang menjadi ketentuan-Nya. Menjadi santri termasuk ketentuan-Nya yang sungguh membanggakan.

(Dinukil dari buku Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah, Pustaka Qi Falah 2015)

Profil Hendi

Nama        : MUHENDI
Sapaan        : Hendi
TTL         : Lebak, 19 Agustus 1996
Alamat     : Kp. Sarian Des. Sumurbandung Kec.Cikulur Kab. Lebak-Banten.
No. Hp     : -
E-Mail     : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook     : Hendi Ajala
BB         : -
Twitter     : -
Blog         : -
Hobi         : main volly dan futsal
Aktivitas    : Dewan Kerja Pramuka, Pengurus OPPQ 2014-2015
Cita-cita     : Atlit Nasional
Motto         : Hidup sekali tapi berarti
Kesan     : Salah satu kesan ane selama di pondok sama temen ane. Pas kami kabur, ternyata ketauan juga. Sudah jelas, pas dateng lagi ke pondok, kami dipanggil dan diinterogasi sama pihak keamanan. Mau nggak mau, kami harus terima hukuman. Akhirnya kami dibotak dan juga dipejeng di lapangan. Kejadian itu cukup memberikanku pelajaran.
Pesan     : Teruslah berusaha menjadi yang terbaik untuk orang-orang di        sekelilingmu.