Begini Rasanya Hidup Merantau

AKU tak pernah menyangka bisa berada di tempat nan jauh dari handai tolanku, yaitu Pondok Pesantren Qothrotul Falah. Lokasinya di Cikulur Lebak Banten. Aku meninggalkan orang terkasih (keluarga) demi melanjutkan pendidikan. Menjalani kehidupan tanpa keluarga. Entahlah, tapi aku menikmatinya. Hari begitu cepat berlalu. Kini, aku sudah hampir tiga tahun hidup di pondok, tempat aku menuntut ilmu dan tempat yang mengajarkanku banyak hal.

Teringat saat hari pertama masuk, tahun 2012, bertemu dengan banyak orang yang berbeda karakter, suku, budaya, dan bahasa. Aku yang masih polos waktu itu dan masih dengan logat Jawa yang kental di lidahku, hanya berdiam diri di balkon depan kamar. Menatap lalu-lalang orang-orang yang sedang sibuk menerima santri baru. Kebetulan, aku adalah santri baru yang datang lebih awal dari yang lainnya.

Malam pertama di pondok, aneh memang rasanya. Aku yang terbiasa menonton televisi setiap waktu, tapi tidak untuk di sini. Sepi! Aku duduk sendiri di bawah pohon mangga di depan asrama puteri. Entah apa yang aku pikirkan waktu itu. Aku hanya diam di sana. Tak terasa malam telah larut. Aku segera naik ke atas dan bergegas untuk tidur, karena esok harinya akan diadakan Masa Bimbingan Santri (MABIS).

Bel berbunyi pada pukul 03:30 WIB, menandakan semua aktivitas akan dimulai. Dingin menusuk tulang. Ingin rasanya aku menarik selimut dan kembali tertidur lelap. Tapi pengurus atau mudabbiroh mengajak kami agar segera bangun dan menunaikan shalat tahajud, yang sudah menjadi rutinitas di pondok. Tapi aku tak terbiasa dengan itu. Dan dengan berat hati aku mengganti baju tidurku dan segera turun ke majelis untuk menunaikan shalat tahajud.

Aku tak ingat betul bagaimana aku mengikuti kegiatan MABIS itu. Semuanya tak jelas dalam ingatanku. Waktu berjalan begitu cepat. Tahun pertama, adalah saat yang begitu menyenangkan. Tapi di tahun kedua, cobaan mulai menimpaku. Berbagai masalah yang membuatku menangis dalam kesendirianku, bahkan sampai nangis bareng teman-teman, mengharuskan kami mengadakan perkumpulan sampai malam untuk menyelesaikannya.

Apakah ini yang namanya sekolah? Begitu banyak masalah yang aku hadapi. Terkadang aku lelah dengan masalah–masalah yang datang, tapi aku juga bersyukur. Karena masalah-masalah itu membuatku semakin dewasa. Di samping itu, aku dan teman-temanku ditugaskan untuk menjadi pengurus, yaitu sebagai tangan kanan dari Ustadzah.

Memang, tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menjadi pengurus. Kita harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang udah ditentukan. Mulai dari menghafal surat pilihan, hadarat, amalan, juz ‘amma dan mengikuti beberapa tes. Lumayan, menguras tenaga dan fikiran. Tapi al-hamdulillah, kami mampu melewati itu semua. Masalah tidak berhenti di situ. Kami harus mengurus anggota/santri yang tidak semuanya bisa diatur.

Dan setiap anak juga mempunyai masalah yang berbeda. Entah itu dari teman atau tidak betah dan sebagainya. Itu tugas kami agar mereka betah. Meski itu tidaklah mudah. Terkadang, aku ingin menyerah dan berhenti. Aku merasa lelah dan capek hati dalam mengurus mereka. Mereka yang kadang tak mengerti kami sebagai pengurus. Mereka hanya berpikiran negative tentang kami. Apalagi berbuat salah, yang benar saja terkadang dianggap salah. Aku sempat lelah dengan semua itu, bahkan sempat menyesali mengapa aku berada di sini. Tapi dengan cepat aku menepis pikiran itu. Begitu egonya aku, tak mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan padaku. Memikirkan itu semua, membuatku teringat akan keluarga dan pengorbanan mereka selama ini. Aku merindukan mereka. Tak kuasa aku menahan rindu. Sebuah SMS akhirnya aku layangkan ke ayahku melalui HP ustadzah yang aku pinjam.

“Assalamu’alaikum. Ayah apa kabar?”

Aku tekan tombol send pada tombol yang ada di HP. Beberapa detik kemudian SMS itu terkirim. Aku menantikan balasan dari ayahku dengan gelisah. Tak lama kemudian, HP itu berdering. Ternyata sebuah panggilan masuk dari ayahku.

“Assalam’alaikum,” suara dari seberang sana terdengar jelas setelah aku menekan tombol yes.

“Wa’alaikumussalam. Ayah apa kabar?”

“Baik. Bagaimana dengan kamu, Nduk?”

“Aku juga baik-baik saja. Ayah aku ingin pulang,” tanpa basa-basi aku langsung mengatakan apa yang ada dalam hatiku.

“Buat apa kamu pulang?Bukannya sekarang belum waktunya libur?Nanti kamu ketinggalan pelajaran. Lagi pula jarak antara pondok dan rumah kita itu tidak dekat. Belajar saja yang benar, tak usah memikirkan yang di sini.”

“Baik ayah, mohon do’akan anakmu ini.”

“Tanpa kamu meminta, ayah selalu mendo’akanmu.”

“Terima kasih ayah.”

“Ya, sudah dulu ya. Jaga kesehatan, sekolah yang benar. Assalamu’alaikum.”

“Ayah juga, wa’alaikumussalam,” sambungan telepon itu akhirnya terputus.

Aku hanya bisa mendengar suaranya, tanpa bisa melihat wajahnya yang sangat kurindukan. Jarak yang memisahkan kami. Hatiku menangis. Begitu pun mataku. Meneteskan air mata menahan rindu pada keluarga tercinta. Aku hanya bisa berdo’a, di setiap sujudku. Semoga mereka selalu dalam lindungan-Nya.

Intinya, aku berharap semoga aku bisa membuat keluargaku bangga nantinya. Aku percaya, hidup di pondok itu untuk mendidikku agar lebih dewasa dan mandiri menghadapi masalah. Entah apapun itu masalahnya. Karena aku tau, setelah aku terjun ke masyarakat nanti, masalah-masalah itu akan lebih dari masalah yang ada di pondok. Dengan kenyakinan dan niat inilah, aku mampu bertahan di pondok yang jauh di seberang kotaku Brebes Jawa Tengah.Wallahu’alam []

Cikulur, 05 Februari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, aku percaya, hidup di pondok itu untuk mendidikku agar lebih dewasa dan mandiri menghadapi masalah. Setelah aku terjun ke masyarakat nanti, masalah-masalah itu akan lebih dari masalah yang ada di pondok.

(Dikutip dari buku “Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah”, 2015)


Profil Mbak

NAMA    : NURHAYATI
Sapaan    : Mbak
TTL    : Brebes, 14 Februari 1997
Alamat    : Temu Kerep RT 06/ RW 08 Kec. Larangan Kab. Brebes Jateng
No. Hp    : 081808202610
E-Mail    : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook: Salama Rofei
BB    : -
Twitter : -
Blog     : -
Hobi    : Baca Novel
Aktivitas: Dewan Kerja Pramuka, Pengurus OPPQ 2014-2015
Cita-cita: Direktur
Motto    : Selalu berpikir positif seburuk apapun orang lain menilai kita.
Kesan    : Kenangan yang takkan pernah terlupa saat aku dan teman-teman nangis bareng di kelas. Sedih, begitu yang kami rasakan ketika salah satu dari kita ada yang punya keinginan untuk meninggalkan podok ini. Kami mencoba membujuk dan menahannya agar tetap di pondok ini dengan air mata membasahi pipi kami.
Pesan    :  Ingatlah tujuan awal kamu dari rumah.