Air Keran Serasa Teh Botol

14 JULI 2012 adalah awal aku masuk Pondok Pesantren Qothrotul Falah, yang beralamat di Cikulur Lebak Banten. Awal melangkahkan kaki untuk menghilangkan kebodohan. Aku gadis kelahiran Lebak yang mempunyai tekad kuat untuk mengejar impian dan mengharumkan kampung tercinta, Jaraja Cikulur.

Ketika awal aku menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Qothrotul Falah, seakan-akan semua berubah. Apa yang kulihat, yang kudengar dan kurasakan, begitu berbeda. Kulihat wanita cantik yang berbusana rapih nan anggun, bersikap ramah dan santun. Hati ini berkata: “Ingin rasanya seperti mereka.” Namun menurutku, itu hanyalah efek dari apa yang aku pikirkan mengenai perbedaan kampungku dengan di sini.

Waktu terus bergerak. Matahari sudah berjalan ke ufuk barat. Tak terasa, ternyata sudah hampir tiga tahun aku tinggal di pondok pesantren ini. Waktu yang begitu singkat, namun mengajarkan makna yang begitu besar. Pondok pesantren adalah gudangnya ilmu. Apapun ada di sini.

Ngomong-ngomong soal ilmu agama dan umum, mungkin sudah gak heran kan? Tapi ilmu yang ini beda. Terkadang pelajar di luar Pondok Pesantren Qothrotul Falah tahu, tapi belum tentu sudah merasakannya atau sama-sama tahu dan belum pernah merasakannya. Tau sih tau, tapi nggak paham dengan apa yang dilakukannya. Awas! Jangan sampai terjebak rutinitas loh! Ilmu di sini adalah ilmu yang mengajarkan bagaimana kita bisa menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.

Sahabat.. Ternyata hidup itu nggak gampang. Tak semudah membalikkan telapak tangan. Tak semudah meminta uang jajan lalu menghabiskannya dalam lima menit. Hidup itu butuh perjuangan, berlatih bersabar, menghargai sesama, dan satu lagi pastinya, yaitu bersyukur. Kenapa harus sabar? Kenapa harus bersyukur? Bagaimana tidak harus sabar, ketika “tettttt…tetttt…tetttt” bel tahajud pun berbunyi, aku bergegas bangun untuk mengambil air wudhu setiba di kamar mandi. Aku berdiri di depan pintu, menunggu giliran masuk. Setengah jam kemudian, terdengar punya “kreeeeettt”. Suara pintu dibuka. Hatipun senang. Akhirnya aku pun bisa cepat mandi dan nggak ketinggalan sekolah.

Eh, tiba-tiba Dede Munawaroh alias Demun datang, menyerobot masuk. “Eh Roh, kok gitu sih? Maen masuk aja!” aku sedikit kesal.  

“Maaf ya, aku udah mesen duluan,” jawabnya.

“Bener Vi?” tanyaku kembali.   

“Iya,” jawab Ivi.

Ya Allah, sakit hati rasanya. Setelah setengah jam menunggu, ternyata udah ada yang mesen duluan. Nasib… Nasib... Terpaksa deh, aku harus nyari tempat yang lain. Itulah salahnya aku kenapa nggak sigap mesen duluan. Tapi untungnya masih ada orang baik hati yang mempersilahkan aku masuk kamar mandi.

“Tetttt…tetttt…tetttt,” bel makanpun berbunyi. Aku masih di kamar mandi. Sedangkan yang lain udah bergegas membawa piring menuju dapur.

“Yang ngambil makan cepetan!” suara mudabbiroh pun terdengar.

Aku bergegas menuju dapur. Sesampai di dapur, ternyata antriannya panjang sekali. Kayak yang mau ngambil sembako. Ya maklumlah, pesantren itu tiada hari tanpa ngantri. Aku pun menghela nafas.

“Kalau nggak dapet paling banyak, pasti nggak kebagian,” fikirku saat itu.

Tiga orang terakhir nasi masih agak banyak. Dua orang terakhir semakin berkurang. Kini giliranku hanya dapat nasi ujung setengah centong. Benar dugaanku. Pasti nggak bakalan kebagian. Berontak dalam hati, karena nasinya sedikit banget. Rasanya pingin menjerit. Coba kalau di rumah, pasti makan enak. Karna lapar, walaupun sedikit, tetap dimakan aja. Itung-itung buat ganjal perut, dari pada nggak makan sama sekali. Bener gak?

Perut kenyang, hati senang, belajar tenang. Siap berangkat sekolah, belajar bareng temen-temen. Pokoknya seru deh! Apalagi kalau udah ngeliat Ikrom (Kelas XII IPA SMA Qothrotul Falah) kumat. Semuanya dibanting karena lebay gitu.

Kutengok jam dinding di depan. Tenyata sudah menunjukkan pukul 12.20 WIB. “Tenoneng…noneng…nenong.” Aku, termasuk semua santriawati dan santriawan pulang ke kobongnya masing-masing. Shalat Dhuhur, makan siang dan istirahat. Pukul 14.00 waktunya sekolah Diniyah. Ngaji kitab bareng temen-temen, walaupun kadang-kadang ngantuk, tapi seru aja. So pasti, yang ngajarnya Ustadz Sofiyan Sadeli al-Batawi (alumni Ponpes Lirboyo Kediri Jawa Timur). Biasanya, kami memanggilnya Engkong. Dari pengajian itu banyak pelajaran yang kami dapat, terutama bagaimana jadi anak yang baik.

Tak terasa sudah pukul 15.00 WIB. Waktunya kami pulang dari sekolah Diniyah, istirahat sejenak, kemudian wudhu untuk shalat Ashar berjama’ah. Setelah shalat Ashar, santri-santri sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang main, mandi, ke perpustakaan, les bahasa, siaran radio, marawis dan lain-lain. Hemmm, kira-kira aku ngapain ya?

Kebetulan hari ini adalah hari Jum’at. Hari libur sekolah. Biasanya kalau hari libur aku sama Uyun, Ayat, Nufus, Fitriyah, Khoir dan lain-lain, duduk-duduk di bawah pohon Mangga di tengah lapangan sambil menikmati angin sore yang terasa sepoy-sepoy. Bercanda-tawa, berbincang-bincang dan lain-lain. Dari kejauhan tiba-tiba aku melihat petugas Gerakan Disiplin Santri (GDS) berjalan terburu-buru menuju majlis.

“Shuuuutttt….shuuuttttt….shuuutttt,” sahutku. “Jangan berisik!,” sambungku.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yu’lan ila ukhtina Titi Safitri, untudhirat fi kuhin halan (diberitahukan kepada Sdr. Titi Safitri, ditunggu kehadirannya di saung sekarang juga),” demikian pengumuman yang kami dengar dari petugas GDS.

Aku dan teman-teman bersorak ramai melihat Titi (santri asal Cileles Lebak) lari kegirangan dijenguk keluarganya. Aku jadi sedih. “Ya Allah kaifa hadza? Umi wa abi lama ja’aa ila huna. Ma ‘indi fulus.” Ya Allah, gimana nih? Ibu dan ayahku belum ke pondok juga, padahal aku nggak punya uang lagi.

Nah, ketika Titi lewat nih. “Man ba’da mudif thab’an katsir al-tha’am. Athlub dong!” (Siapa yang dijenguk pasti banyak makan, minta dong!),” nyanyian yang berupa sindiran tadi kami pakai ketika melihat siapa saja diantara teman kami yang dijenguk. Itulah kebiasaan santri. Kalo ada yang dijenguk, kita ngeledek-ngeledek pengen dijenguk gitu.

Tak terasa haripun semakin sore. Matahari berjalan ke ufuk barat. Waktunya aku mandi, ngambil makan, dan masuk majlis, kemudian shalat maghrib berjama’ah. Setelah shalat berjama’ah, dilanjut dengan amalan Maghrib. Dan di penghujung amalan, biasanya do’a berjama’ah dipimpin oleh teteh mudabbiroh. “Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadin fi al-awwalin wa al-akhirin, wa barik wa sallim wa radhiya Allah Ta’ala ‘an shahabati Rasulillah SAW ajma’in. Amin 3x…..”

Baru juga awal do’a, entah kenapa mata terasa berat. Serasa ada yang loncat-loncat di atas mata ini. Waduh, udah nggak jauh nih, pasti ngantuk lagi. Subhanallah, begitu besarnya godaan ngantuk itu. Udah kayak orang yang dengki aja. Datangnya itu loh, di saat belajar saja. Walaupun ngantuk-ngantuk, akhirnya do’a pun selesai. Tinggal sorogan al-Qur’an, shalat ‘Isya, kemudian ngaji Awamil.

Ba’da ngaji, rutinitas santri berkumpul di aula. Ngomong-ngomong kumpul, for what? Ya seperti biasa, Pondok Pesantren Qothrotul Falah adalah lembaga yang siap mencetak santri-santrinya yang disiplin tinggi, berakhlakul karimah dan berukhuwwah Islamiyah. Jadi, setiap gerak-gerik yang kami lakukan pasti serba diatur. Mulai dari bangun tidur, makan, shalat, mandi, hubungan sosial, dll. Dan di malam harinya akan diadakan pemanggilan bagi siapa saja yang melanggar. Ya, resikonya harus kena punishment deh!

Untuk malam ini, al-hamdulillah aku, Robeah dan Bihat adalah tiga orang dari sekian banyak yang tidak mendapat punishment. Kami duduk-duduk santai di depan Majelis Pembimbing Santri (MPS). Malam itu adalah malam yang berbeda dari malam sebelumnya. Hawanya dingin, lapar dan haus sekali. Sedangkan saat itu kami lagi nggak punya uang, apalagi makanan. Nggak ada sedikitpun buat ngeganjel perut. Mata ini ditidurkan juga nggak bisa. Ya, kalau lagi lapar, mana bisa tidur lelap?

Duh, haus banget! Mau ngambil minum kejauhan, gimana nih? Berfikir dan terus berfikir mencari solusinya. Akhirnya mataku tertuju pada sebuah botol Aqua kosong yang tergeletak. Aku dan teman-teman berniat mengisinya dengan air keran yang ada di depan MPS. Awalnya kami ragu. Maklum, masih anak baru. Apa-apa serba takut. Takut airnya kotor lah. Takut nggak sehatlah, dan sebagainya.

Dari pada kami kehausan, apa boleh buat? Kami meminum air keran itu. Glek… glek… glek… al-Hamdulillah serasa beban ini hilang. Meskipun air kran, tapi serasa teh botol. Segeeerrrrrr…. Mungkin karena kehausan, sampai-sampai air yang tawar pun bisa jadi manis. Setelah perut terisi, kami pun masuk kobong masing-masing dan tidur. Tapi aku belum bisa tidur juga. Aku merenung sejak kejadian tadi sore. Aku mulai berfikir, setawar-tawarnya air, kalau kita lagi kehausan seakan-akan  seperti teh botol.

Itulah salah satu nikmat Allah dan itu patut disyukuri. Walaupun terkadang apa-apa serba ngantri, apa-apa serba diatur, tapi itulah yang dinamakan budaya hidup antri. Terkadang banyak orang yang pintar, tapi ketika dihadapkan dengan permasalahan seperti ini, ia tidak bisa menerapkannya. Ini semua aku jadikan sebagai pelajaran bagaimana bisa mengatur waktu, mendidik kita agar tidak malas-malasan.

Ngomong-ngomong soal malas, aku teringat Ibu Evi Supriawati (guruku di SMP). Beliau pernah mengatakan; “Malas kan tergilas, mundur kan hancur, lambat kan terbabat, berhenti mati”. Motivasi ini memberikan cerminan bahwa waktu sangat penting begi kehidupan kita.

Sahabat, itulah barakahnya hidup di pondok pesantren. Suka-duka selalu bersama. Suka-duka sebagai pelajaran. Wa Allah a’lam[]

Cikulur, 5 Maret 2015

Moral of the Story:
Sahabat, hiduplah penuh keprihatinan, bukan kemewahan. Dan jadilah orang yang tangguh menghadapi segala ujian. Di situlah aneka pelajaran dan keberkahan akan kita dapatkan.


(Dinukil dari buku "Rumah Kita", 2015)


Profil Fitri

Nama        : FITRI ARYANTI
Sapaan        : Fitri
TTL        : Lebak, 12 April 1996
Alamat        : Kp. Jaraja Ds. Anggalan Kec.Cikulur Kab. Lebak Prop. Banten
No. Hp        : 087781943401
E-Mail        : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook     : Fitri Aryanti
BB        : -
Twitter     : -
Blog         : -
Hobi        : Baca buku dan main volley
Ativitas    : Ativis Triping Community, Pondok Baca Qi Falah, Dewan Kerja Pramuka, Pengurus OPPQ 2014-2015, tim www.qothrotulfalah.com
Cita-cita    : Penulis terkenal
Motto         : Hidup sekali berkarya selamanya
Kesan        : Saat menangis bareng teman-teman. Berawal dari nyanyian, ternyata jadi  tangisan.
Pesan    : Ketika sudah berbuat kebaikan janganlah puas. Karena orang yang baik itu tidak pernah puas dengan satu atau dua kebaikan.
Karya    : Buku Renungan Santri: Esai-esai seputar Problematika Remaja (Dkk, 2014).