Aku Bangga Jadi Operator Warnet

Mungkin, sebagian pembaca pada heran sama isi ceritaku. Sebelum aku berkicau mengenai kisahku ini, mari aku kenalkan dulu para pembaca pada warung internet atau yang lebih populernya biasa kita sebut warnet yang ada di Pondok Pesantren Qothrotul Falah ini, pondok yang selama enam tahun aku tinggali sebagai ladangku untuk memenuhi kebutuhan rohani dan menuntut ilmu dunia plus akhirat.

Pondok ini sudah dua tahun terakhir memiliki akses jaringan internet menggunakan wifi dan ini sangat memungkinkan para santri untuk browsing informasi apapun untuk keperluan belajar mereka. Tempatnya di lantai dua samping ruang Kelas X IPA dan X IPS. Tempatnya cukup strategis. Ruangan seukuran 9 m x 9 m itu diisi 24 unit PC plus printer, earphone, scanner, projector, layar  dan mesin photo copy. Sebenarnya ini ruang Lab. Komputer yang biasa digunakan sebagai tempat KBM mata pelajaran TIK.

Namun akhirnya guru TIK kita ini, Ustadz Ahmad Turmudzi, mengambil inisiatif untuk menyulap ruang Lab. Komputer menjadi warnet, mengingat pentingnya teknologi bernama internet untuk kebutuhan santri. Selain itu  agar para santri bisa menikmati fasilitas internet dengan mudah dan meminimalisir santri keluar pondok, dengan alasan ingin mengakses internet karena ada tugas dari guru umpamanya.   

Nah, di sini aku juga bagian penting dari warnet. Siapakah aku? Ibaratnya perangkat dalam komputer, aku adalah brainware. Jika di area warnet, akulah operatornya. Di tulisan ini aku ingin bercerita kehidupanku sebagai penjaga warnet. Well, untuk pertamanya mendingan aku ngomongin asyiknya aja dulu deh, gimana rasanya menjadi operator warnet.

Apa saja asyiknya? Pertama, aku bisa internetan gratis, sebagai gaji mungkin. He.. Tapi yang lebih penting sih bukan hal itu, tapi manfaatnya. Aku bisa belajar komputer lebih dari teman-teman yang lain. Maksud aku “lebih” di sini, selain bisa internetan gratis, aku juga bisa sekalian belajar-belajar tentang ilmu komputer. Why? Karena sering mantengin komputer dan sering aku utak-atik tuh, jadi terbiasa deh mengoperasikannya. Hal itu tentunya bisa menambah pengetahuan kita tentang ilmu komputer yang mungkin sebelumnya belum diketahui.

Kedua, menambah teman/pergaulan. Menjadi seorang operator warnet secara tidak langsung juga bisa menambah teman. Sederhananya, jika kita belum mengenal santri Pondok Pesantren Qothrotul Falah sepenuhnya (biasanya awal tahun ajaran baru), ketika sudah menjadi operator warnet karena sering berjumpa dengan pelanggan dengan muka-muka baru secara nggak langsung, tanpa harus berkenalan pun kita bisa mengenalnya karena sering mengunjungi warnet. Dari situlah kita bisa mengenal satu sama lainnya.

Ketiga, manfaatnya yang terasa, yaitu jadi nggak banyak keluar pondok. Sebelum aku diangkat jadi operator warnet (ada SK-nya ngga ya? He.. ), aku sering banget yang namanya berhadapan dengan keamanan pondok untuk ijin keluar pondok. Tapi karena adanya kegiatan dan tanggungjawab ini, aku jadi nggak sering keluar pondok deh. Keempat, selain itu manfaatnya aku jadi lebih peduli terhadap lingkungan sekitar deh. Ya dari lingkup yang kecil dulu lah, misalnya peduli terhadap lingkungan sekitar warnet, karena aku sadar kenyamanan dan kerapihan harus dinomorsatukan, agar pelanggan nyaman dan betah berlama-lama di sana. Hi..hi..

Sekarang aku bakal cerita bagian  nggak enaknya nih, yang sebenarnya ini merupakan sebuah tuntutan bagi operator warnet. Pertama, harus sabar. Sabar dalam menghadapi santri yang cerewet, nggak sabaran, apalagi cewek kalau internetnya nggak lancar. Haduuuuh bikin puyeng. Nyebelin juga kadang-kadang.

Kedua, bad mood. Rasa boring sering datang begitu saja tanpa adanya angin ataupun hujan. Apalagi kalau kita dalam kondisi yang kurang fit. Waktu-waktu yang dilewati terasa lama banget. Otomatis waktu untuk closing warnet jadi kerasa lama. Ketiga, selain itu harus bisa melawan rasa kantuk. Apalagi aku sering banget kalau lagi tidur di hujroh, terus dibangunin minta untuk dibukakan warnet. Rasanya tuh pingin banget marah-marah sangking keselnya. Tapi aku segera ingat pada tanggung jawab dan seharusnya aku berterima kasih kepada yang sering membangunkanku. Mereka adalah pelanggan setia jasa internet. Dan ini adalah ladang amalku dengan memfasilitasi mereka untuk mencari informasi ataupun pengetahuan lainnya.

Nah, itu dia suka-dukaku selama jadi operator warnet Boyonet, biasanya santri-santri menyebut warnet ini demikian. Aku merasa beruntung karena diberi kepercayaan oleh manager warnet yaitu, Ust. Ahmad Turmudzi. Kendati beliau sibuk sebagai Mahasiswa S2 di Untirta Serang, beliau tetep meluangkan waktu untuk warnet ini. Dan tidak semua orang bisa sepertiku. Semua memang sudah menjadi tanggungjawabku, karena aku menyetujui komitmen yang sudah kubuat bersama beliau. Jadi aku nikmati saja profesiku ini.

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tidak lama lagi aku akan segera pensiun, karena batas kontrak sudah mau habis hingga setelah aku diwisuda Juni 2015 nanti. Nanti jabatanku akan diambilalih oleh santri lain, sesuai pilihan Ust. Turmudzi. Pasti aku akan merindukan masa-masa ini. Semoga operator selanjutnya bisa lebih mengerti pelanggan dan lebih baik dariku dalam hal apapun. Semoga terpilihnya operator baru nanti tidak mengurangi semangatnya dalam belajar, dan tidak lupa waktu karena disamping itu pondok punya aturan dan program yang harus dipatuhi.

Harapanku untuk para operator selanjutnya, bisa lebih baik serta tanggungjawab dalam menjalankan tugasnya. Nggak cuma memikirkan kepentingan pribadi, tapi juga memikirkan kepentingan orang lain. Karena manusia yang paling hebat ialah yang selalu memikirkan manusia yang lainnya. Kalimat tadi saya kutip dara perkataan Albert Enstein. Dan yang paling penting adalah bersabar, karena sabar akan membawa pada kesuksesan.

Intinya aku tidak ingin selalu dipandang sebelah mata. Aku ingin bermanfaat untuk siapapun. Hal apa saja akan aku lakukan, termasuk jadi operator warnet. Sekalipun aku harus merelakan waktuku habis untuk menjaga warnet, asalkan bisa membuat orang lain di sekitarku tersenyum bahagia, maka akan aku lakukan. Dan bisa menikmati fasilitas internet di dalam pondok yang dilengkapi dengan operator yang baik hati itu adalah sebuah anugerah. He.. he.. []

Cikulur, 10 Februari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, kendati waktu kita tersita habis, kalau itu manfaat untuk orang lain, maka lakukanlah setulus hati dan sebaik-baiknya. Tanggungjawab atas apa yang diamanahkan pada kita adalah segala-galanya, dari pada harus berhitung untuk kepentingan pribadi.


(Dikutip dari buku “Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah”, 2015)

Profil Rifki

Nama         : Muhamad Rifki
Sapaan        : Rifki
TTL        : Jakarta, 13 Oktober 1996
Alamat    : Kp. Lame Payung RT. 02 RW. 01 Ds. Muncang Kopong
Kec. Cikulur Kab. Lebak-Banten 42356
No. Hp        : 081280066396
E-Mail        : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook    : Muhamad Rifki
BB        : -
Twitter        : @rifkimuhamad
Blog        : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Hobi        : Berimajinasi dan mendisain gambar
Cita-cita    : Arsitek
Motto        : Setetes kejelekan bisa merubah kehidupan
Kesan    : Menjadi santri merupakan kebanggaan. Dan meninggalkan pondok ini itu suatu kesedihan. Yang amat tidak bisa aku lupakan ketika LPJ OPPQ. Banyak santri yang bertanya/protes pada program yang kami agendakan. Forum diskusi yang amat ramai...!!
Pesan        : Lakukanlah apa  yang seharusnya kamu lakukan!