Jebakan Bebeng Bengoeng

SEPERTI biasa, kegiatan kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Qothrotul Falah akan dimulai. Setelah beberapa menit kami melaksanakan jamaah shalat Dzuhur, tak lamapun bel makan siang terdengar nyaring. Waktu itu aku tidak ikut mengambil makan, karena aku rasa perutku masih kenyang. Aku lebih memilih merebahkan badan sejenak di kamar. Rasanya lelah sekali, setelah setengah harian aku bersekolah. Tak terasa, aku malah tertidur pulas di kamar.

Waktu itu cuaca sedang tidak mendukung untuk pengajian kitab. Terlihat sangat mendung dan bumipun akhirnya diguyur hujan yang sangat deras, yang membuat kami malas untuk keluar kamar, terlebih aku yang sedang asyik di atas kasur. Saat di tengah-tengah kenyenyakan tidurku, aku pun bangun sejenak karena teringat waktu untuk ngaji diniyah akan segera datang. Kubuka sedikit gorden jendela kamar, lalu aku lihat keluar. Ternyata cuaca masih tetap mendung, meskipun hujan sudah agak sedikit reda. Akupun memaksakan diri keluar kamar dan berniat mengaji diniyah.

Aku langkahkan kakiku sedikit demi sedikit. Aku lalui satu demi satu anak tangga dengan hati-hati, karena saat itu lantai terasa sangat licin terkena cipratan air hujan. Ditambah hawa kantukku yang masih terasa. Akhirnya sampai juga aku di bawah. Setelah aku sampai di bawah, tak banyak orang yang  aku lihat. Hanya beberapa orang saja, diantaranya Fitriyah dan Dede Munawaroh alias Demun. Mereka berdua adalah rekanku.

Kemudian aku lihat kamar yang di lantai bawah. Ternyata di kamar yang satu itu, santri-santri masih tertidur pulas. Di situ juga ada beberapa temanku yang lain. Pada akhirnya aku dan kedua temanku itu memilih untuk pergi duluan menuju Majelis Putera, karena bel masuk diniyah telah dibunyikan lima menit yang lalu oleh Fitri sebagai Qismut Ta’lim.

Waktu pun menunjukkan pukul 14.05 WIB. Dengan penuh harapan, semoga pada hari itu Ust. Syahroni atau Mang Oni datang untuk mengajar. Beliau tinggalnya tidak di lingkungan pondok, karena rumahnya sekitar empat kilo meter dari tempat kami mengaji. Waktu itu jadwal Mang Oni mengaji Kitab ‘Imrithi. Setelah sampai di Majelis Putera, kami langsung mengambil poisisi duduk sambil menunggu temen-temen yang lainnya. Di sana sudah ada anak putra, walaupun baru separuhnya. Salah satunya Matlubi, yang sering dipanggil Bebeng Bengoeng. Itu panggilan kebanggaannya semenjak dia masuk ke Pondok Pesantren Qothrotul Falah.

Kami menunggu kurang lebih 15 menitan. Teman-temanku yang lain belum juga datang, begitupun Mang Oni belum terlihat keberadaannya. Karena merasa agak boring, kamipun memulai pengajian itu dengan bersama-sama membaca nadhom ‘Imrithi yang sudah diajarkan Mang Oni sebelumnya. Yang memimpin nadhom kali ini Si Bebeng. Ia mulai memimpin nadhom ‘Imrithi itu tidak jauh beda sebagaimana Mang Oni saat mengajar. Dari mulai cara memegang rokok, namun rokok yang dipegang Bebeng hanyalah rokok bohongan yang terbuat dari kertas yang digulung. Kemudian cara duduknya, cara memimpin do’anya, serta cara berbicaranya pun sangat mirip.

Di majelis itu, aku dan teman-temanku pun tertawa sejadi-jadinya melihat perilaku lucu Bebeng. Kami juga sengaja mengeraskan suara agar bisa terdengar oleh teman-teman puteri yang masih tertidur di kamar bawah itu. Setelah terdengarnya suara kami oleh mereka, mereka pun segera bangkit dari tidurnya, karena mereka menyangka Mang Oni telah datang dan mulai mengajar. Terlihat olehku mereka membuka-buka jendela kamarnya, mengintip ke arah Majelis Putera untuk memastikan keberadaan Sang Ustadz. Dengan rasa sangat penasaran, akhirnya mereka pun tergesa-gesa untuk segera ganti pakaian dan bergegas keluar kamar. Mereka langsung menuju majelis.

Sesampai di majelis, satu-persatu dari mereka mulai masuk dengan posisi punggung yang dibongkokkan dan juga kepala yang menunduk. Gerak jalannya pun sangat perlahan-lahan penuh kesopanan. Kemudian mereka bersalaman layaknya terhadap gurunya sendiri. Namun tanpa mereka sadari, setelah melihat dan mengetahui orang yang disangka Mang Oni itu ternyata Bebeng Bengoeng, merekapun akhirnya tertawa terpingkal-pingkal. Bebeng hanya cengar-sengir saja. Karena terlanjur malu, mereka pun ikut menadhomkan ‘Imrithi itu dan akhirnya kami pun melanjutkan nadhoman bersama-sama dengan semangat dan kompak.

Setelah selesai bernadhoman, tak lama kamipun keluar dari Majelis Putera. Ada yang pergi ke Laboratorium Komputer, kantin, kamar, dan sebagian santri puteri menyerbu setrikaan. Aku sendiri lebih memilih pergi ke saung di depan pondok untuk menemui Mas Bakso (demikian santri-santri biasa memanggilnya), karena aku merasa lapar. Di sana aku ditemani Devi (temanku asal Sanding Cikulur). Kamipun mulai mengobrol, saling bercerita bersama Mas Bakso. Adzanpun lalu berkumandang. Aku segera meningalkan saung untuk mengambil air wudhu dan menunaikan shalat Ashar berjama’ah.[]

Cikulur, 23 Januari 2015

Moral of the Story:
Sahabat, walaupun suasana hujan deras atau panas gersang, baik ada guru maupun tak, lebih baik datang ke majelis duluan. Itulah kewajiban kita sebagai santri sekaligus bentuk latihan kedisiplinan. Lebih baiknya lagi kita yang menunggu guru bukan kita yang ditunggu. Ditunggu guru itu perilaku tidak baik. Belajar juga tidak harus disertai guru. Bersama-samapun kita bisa belajar dengan baik.


(Dinukil dari buku Rumah Kita: Catatan Santri Qothrotul Falah, 2015).


Profil Bihat


Nama        : SITI ROBIHAT
Sapaan        : Bihat
TTL         : Lebak, 05 Oktober 1997
Alamat     : Jl. Cibuah Km 03. Kp. Parage Lumbur, Ds. Sumurbandung
RT/RW  10/02, Kec. Cikulur, Kab. Lebak, Prop. Banten
No. HP.     : 087773556123
E-Mail     : Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
Facebook     : Siti robihat el anggara dimyati
BB         : -
Twitter     : -
Blog         : -
Hobi         : Cooking & writing
Aktivitas    : Pengurus OPPQ 2014-2015 dan Dewan Kerja Pramuka
Cita-cita     : Sekretaris & wanita karier
Motto     : Terus belajar, tak mengenal lelah. Berdo’a, ikhtiar & tawakkal. sing penting istiqomah.
Kesan     : Tak mudah melupakan kebersamaan dengan teman-teman. Lewat kebersamaan ini, aku menemukan banyak pelajaran dari berbagai karakteristik. Ini telah bisa merubah diriku menjadi lebih baik. Thanks for all.
Pesan     : Hargailah orang lain terlebih dahulu, jika kita ingin dihargai. Dan terapkanlah akhlak yang baik!